10

1695 Kata
Artemis keluar dari kamar setelah mengakhir sabungan video call dengan Angkasa dan memutuskan untuk bertemu. Dia memakai sweater merah dipadu dengan celana jins ripped hitam. Untuk malam ini Artemis melupakan betapa dia mencintai heels, kakinya hanya dihiasi mobel sandal t-strap hitam. Seluruh penampilan Artemis dipermanis dengan quilted bag warna merah. Awalnya dia melangkah terburu-buru menuju tangga, tapi saat melewati kamar Bellva... dia berhenti sejenak. Artemis menarik napas tajam, meletakkan tangan kirinya di pintu. "Gue pergi dulu, Bel. Jaga Mama," ucap Artemis pelan. Dia tidak berharap Bellva mau menjawab, dia hanya mau Bellva mendengar apa yang dia harapkan. Walaupun dia sendiri ragu Bellva mau mendengarkannya, sudah sejak lama Bellva menutup kupingnya untuk setiap perkataan dari Artemis. Artemis menarik mundur tanganya lalu turun ke lantai satu, sebenarnya dia ingin segera keluar. Tapi ucapan Mbok Luh tentang Mama mengganggu ketenangan hati Artemis, dia memutuskan untuk mengunjungi kamar sang Mama.  Artemis membuka pintu kamar dengan perlahan, takut kalau di dalam sana sang Mama sudah tertidur. Setelah pintu sedikit terbuka, hal pertama yang dilihat oleh Artemis adalah Suster Rena. "Mama?" Artemis bertanya tanpa suara. Suster Rena mengedikkan dagunya, ke sisi kamar yang masih terhalangi oleh pintu. Artemis membuka pintu semakin lebar. Di sana, di salah sudut kamar... dia melihat sang Mama tengah duduk di depan sebuah meja kayu jati cokelat, di atas meja itu ada sebuah kertas berukuran A4 dan juga pensil warna yang berserakan. Artemis tidak langsung menghampiri Ibu paruh baya itu, dia memperhatikan setiap gerakan tangan dan ekspresi wajah sang Mama dengan serius. Perasaan hangat menyelusup masuk ke dalam hatinya, semakin dalam, lalu berubah menjadi perasaan rindu yang sangat besar. Seperti baru saja bertemu kembali dengan seseorang setelah sekian lama tidak pernah berjumpa. Artemis melangkah dengan hati-hati, begitu sampai di samping Mama. Artemis memosisikan dirinya berlutut, meletakkan dagunya di atas meja, tepat di samping siku sang Mama. Untuk persekian detik, ingatan Artemis tertarik mundur ke masa dia kecil. Dia sering diam-diam masuk ke sebuah ruangan yang dulu disebut studio oleh Mama, tidak melakukan apa-apa, hanya memperhatikan Mama dengan wajah bahagia menciptakan sebuah gambar yang mengagumkan. Di studio itu untuk pertama kalinya dia menemukan dunia baru yang bisa diciptakan hanya dengan sebuah kertas dan pensil. Di studio itu pertama kalinya dia tahu kalau percampuran warna bisa menciptakan sebuah keindahan tak terduga.  Di studio itu juga dia melihat Mama kehilangan pengharapan untuk hidup. "Bagaimana hasil gambar Mama? Lebih bagus punya Mama atau kamu?" Mama bertanya secara tiba-tiba, memaksa Artemis berhenti mengenang kejadian yang telah lama berlalu. "Mama ngerasa ini aneh... kamu ngerasa seperti itu juga, nggak?" tanya Mama lagi tanpa memandang Artemis. Beliau terlalu fokus menorehkan warna, sesekali tersenyum tipis dan mengerutkan kening secara bergantian. Artemis melingkarkan tangannya pada lengan kanan Mama. "Bagus punya Mama dong! Aku kan masih pemula, Mama udah pakarnya. Dan ini, nggak aneh... ini tuh bagus banget." Mama menghentikan kegiatan mewarnainya, melirik Artemis, dan tersenyum tipis. "Sasi ... Sasi... kalau kamu udah muji kayak gini, pasti habis buat salah.." Mama meletakkan pensil warna di atas kertas secara hati-hati, membetulkan posisi duduknya agar bisa memandangi Artemis dengan nyaman. Setelah mendapatkan posisi terbaik, Mama membelai wajah Artemis. "Kamu buat ulah apa lagi si sekolah? Atau kamu lagi berusaha merayu Mama, supaya Mama mau memberikan izin kamu pergi malam?" Artemis merasa hatinya mulai terasa ngilu, tapi dia tetap berusaha tersenyum. "Kamu mau ke mana lagi? Lihat Bellva, setelah pulang sekolah dia jarang keluar rumah. Kamu kan tahu, Papa nggak suka anak-anak gadisnya keluar malam. Hari ini nggak usah pergi ya? Mama nggak mau kamu diomelin Papa." Kedua tangan Mama merengkuh wajah Artemis. "Belajar sama Bellva aja ya... sebentar lagi kan kamu ujian. Oke, Artemis Sasikirana?" Artemis mengangguk. Dia sama sekali tidak berniat membantah perkataan Mama, apa pun perkataan dari Mama akan dia terima dengan senang hati. Asal itu mampu membuat Mama tetap tenang. Dia pun tidak peduli di dalam ingatan sang Mama dia berumur berapa, seperti apa gambaran sifat yang dia punya, atau seberapa nakal dirinya dalam ingatan Mama... asal tetap ada dia dalam ingatan sang Mama, itu sudah cukup bagi Artemis. Mama melepaskan rengkuhan pada wajah Artemis lalu kembali menyelesaikan gambarnya, bersikap seolah-olah Artemis sudah pergi dari sampingnya. Artemis berdiri, mendaratkan sebuah ciuman singkat pada pipi Mama. "Ma, ini Sasi. Sasi sayang banget sama Mama, semua akan baik-baik saja. Mama, aku, Bellva-kita akan baik-baik saja," bisik Artemis dengan suara sedikit serak. Biasanya Mama selalu tahu kapan Artemis ingin menangis, beliau akan cepat-cepat memeluk Artemis dan membisikkan: 'Sasi, ini Mama. Mama sayang banget sama Sasi, semua akan baik-baik saja. Kamu, Mama, Bellva-kita akan baik-baik saja.' Setelah memastikan semua beres, Artemis keluar dari kamar. Menahan segenggam rasa sakit yang berusaha dia lepaskan. Sepanjang jalan dari kamar Mama menuju ke pintu rumah, Artemis terus menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskannya perlahan. Dia terus melakukan itu secara berulang. Artemis membuka pintu rumah, cukup terkejut melihat satu mobil Pajero Sport Dakar sudah terparkir di depan gerbang rumahnya. Artemis buru-buru mengambil iPhone dari dalam tasnya, melihat sederet pemberitahuan panggilan dari Angkasa dan juga pesan singkat yang berisi: aku udah di depan rumah kamu. Artemis menggeleng jengkel, menyesali keputusannya memberitahu alamat rumah pada Angkasa. Seharusnya dia tidak mudah percaya kalau Angkasa bertanya tentang alamat rumah tanpa maksud apa pun. Artemis berlari secepat mungkin menuju gerbang rumahnya. Seperti tahu jika Artemis terburu-buru, Pak Mamad-satpam rumah Artemis membuka pintu gerbang dengan cepat. Artemis tersenyum sebagai ucapan terima kasih. Angkasa membuka jendela mobilnya, melemparkan senyum polos pada Artemis. "Surprise!!!" seru Angkasa dengan wajah riang serta kedua tangan di angkat ke atas. "Jangan marah! Cantiknya berkurang 99%." Artemis memutar kedua bola matanya lalu masuk ke dalam mobil. "Jangan datang ke rumah tanpa pemberitahuan lagi." "Memang kenapa?" "Karena rumahku itu isinya vampire semua, nggak kuat sama bau darah manusia. Aku nggak mau aja nanti kamu digigit, terus berubah jadi vampire." Angkasa memperhatikan Artemis, tersenyum miring lalu bersiap untuk menjalankan mobilnya. Lagi pula, Angkasa sudah tidak sabar untuk sampai di gallery milik Artemis. Dia ingin melihat seperti apa penampakan tempat yang katanya; sebagian dari hidup Artemis itu. "Ih, tatutt!!!" ucap Angkasa sebelum akhirnya menjalankan mobil. "Tapi aku ikhlas kok kalau kamu yang gigit kamu, mau di mana aja, aku rela." Artemis menoleh ke Angkasa. Entah karena dia gemas karena Angkasa datang tanpa pemberitahuan atau gemas karena kalimat yang menjurus, tapi yang pasti Angkasa harus meringis akibat Artemis mendaratkan sebuah tepukan nyaring pada lengannya. "Kamu mukulnya pedas banget, kayak si Bibi di rumah aku." "Kamu nyamain aku sama pengurus rumah?" Artemis bertanya dengan wajah terluka. Angkasa tidak perlu menoleh untuk memastikan seperti apa raut wajah Artmeis setelah mengucapkan kalimat itu, dia sudah bisa menebak selucu apa ekspresi Artemis. Tapi Angkasa masih memilih untuk menahan tawanya, pura-pura terlihat serius memperhatikan jalan. "Terus kamu mau bilang juga kalau aku bawel kayak Bibi di rumah kamu? Iya? Gitu?" Artemis seperti tidak puas sebelum mendengar jawaban Angkasa dan kali ini Angkasa tidak kuasa menahan tawanya. Tawa ringan dengan suara berat ciri khas pria pada umumnya memenuhi mobil, bersahutan dengan lagu Anne Marie. "Ternyata kamu tuh multi talent banget, Sas. Selain jago gambar, kamu juga jago ngelawak!" Angkasa masih tertawa. Artemis tidak ikut tertawa, dia memilih jadi penonton. Mengamati cara Angkasa tertawa dan segala perubahan yang terjadi pada wajah Angkasa seperti; muncul tiga garis pada ujung mata, lesung pipit di pipi, mata yang menyipit, rona merah yang menghiasi pipi. Bukan hanya itu. Artemis juga menikmati suara tawa Angkasa, bagaikan dia sedang mendengar sebuah alunan lagu romatis menyentuh kalbu. Di saat Artemis tengah sibuk dengan semua hal itu, tiba-tiba Angkasa berhenti tertawa. Raut wajahnya pun berubah serius. Kebetulan mobil yang mereka kendarai sedang berhenti akibat lampu merah, Angkasa menoleh ke Artemis. "Kamu tahu nggak sih, selain jago dua hal itu. Kamu juga jago hal yang lain," kata Angkasa. Dia menjaga keseriusan pada wajahnya tetap terjaga, walaupun sebenarnya ujung bibirnya sudah berkedut untuk menciptakan garis lengkung. "Oh ya?" "Iya. Kamu jago merebut hati aku, perhatian aku..." Hening. Seperti ada sistem pause, mendadak semua suara dan aktivitas terhenti untuk beberapa detik. Keduanya hanya saling menatap, kedutan pada ujung bibir Angkasa menghilang. Dia tidak lagi mencoba serius, tapi dia memang sudah serius. Semua yang diucapkan adalah sebuah kebenaran. Dua minggu dia kehilangan minat bertemu dengan wanita lain, dia hanya memikirkan bayang-bayang wanita satu malamnya yang menggangumkan. Dan baru dua hari dia bertemu wanita itu, dia bukan hanya kehilangan minat dengan wanita lain, dia juga menemukan fakta bahwa untuk pertama kalinya seluruh perhatiannya tersedot hanya untuk satu wanita. Dia ingin tahu alasan apa yang membuat si wanita tertawa, dia ingin tahu alasan apa yang membuat si wanita menangis. Intinya, dia ingin tahu semua tentang si wanita. Sifat baik bahkan buruk si wanita. Ya, mendadak seluruh dunia Angkasa hanya bepusat pada satu orang, Artemis Sasikirana. Artemis memalingkan pandangannya ke depan, dia nenepuk lengan Angkasa lembut. "Jalan, lampunya sudah hijau." Artemis tidak menanggapi perkataan Angkasa. Angkasa tidak punya pilihan lain, dia menjalankan mobilnya. Jarak antara rumah dan gallery Artemis tidak butuh waktu berjam-jam, hanya perlu satu jam saat siang hari dan tiga puluh menit saat malam hari. Angkasa celingak-celinguk di sepanjang jalan, mencoba untuk menemukan sendiri gallery Artemis. "Kita sudah sampai." Perkataan Artemis berhasil membuat Angkasa menginjak rem secara mendadak. Alih-alih marah Artemis justru tertawa geli, karena dilihat darimana pun, Angkasa seperti pria gugup. Angkasa memajukan tubuhnya, memeluk kemudi mobil, dan kepala terjulur. Dia berusaha melihat papan nama di depan sana. "Sasi Gallery? Ih, kamu narsis ya?" "Ayo, turun..." Suasana canggung yang terjadi di antara mereka berdua lenyap tak tersisa. Keduanya turun dari mobil setelah Angkasa memosisikan mobilnya dengan baik pada lahan parkir. Keduanya berjalan beriringan menuju pintu masuk berwarna cokelat dengan kaca yang membuat orang leluasa melihat keadaan di dalam sana. Hampir keduanya mencapai pintu, tapi langkah Artemis membeku secara mendadak. Pintu cokelat terbuka, seorang pria tinggi bertubuh atletis keluar dan berwajah oriental keluar denganamembawa dua lukisan. Dua-duanya lukisan seorang wanita dengan wajah sendu dan berkacamata. Lukisan pertama, menggambarkan wanita itu duduk di tengah ilalang sambil membaca buku. Lukisan dua, menggambarkan wanita yang sama bersandar pada pohon besar dan sibuk mendengarkan earphone. Artemis dan si pria saling pandang, lalu Artemis melengos. Dia menghampiri si pria, merebut paksa dua lukisan itu dari tangan si pria. "Saya lebih rela lukisan ini tidak bertuan selamanya." Artemis mengucapkan kata demi kata dengan intonasi pelan, dingin, dan penuh penekanan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN