Author POV
==========
10 Tahun Silam....
Mencari Bangkai Cocobell?
1. Cocobell ada di sekitar sekolah
2. Cocobell tertancap duri pagar
3. Cocobell berdarah
3. Cocobell mati
Begitulah pesan yang tercetak di selembar kertas yang ditujukan pada Christa. Anak ini langsung menangis begitu membaca kata 'Mati' karena tidak mau anjing peliharaannya yang sudah hilang seharian itu 'Mati beneran'. Dia merengek sejadi-jadinya agar orangtuanya mencarinya di sekitar sekolah sesuai petunjuk yang diberikan.
Dia terus menarik jas papanya agar mau dikasih mengelilingi pagar sekolah lagi, "Nggak mau! Coco nggak mati! Ayo cari lagi Pa!"
"Sayang, sudah ya, nanti biar dicari lagi sama Om Johan, Papa harus pulang. Kita pulang ya," kata Papanya sampai harus menggendongnya agar mau diajak pulang.
Christa menjambak rambut pendek papanya, "COCOBELL!!"
"Nggak ada, Coco nggak ada disini."
"Ada! Cari dong!"
"Sayang, ini mau sore.. pulang aja," kata Papanya langsung memasukkan anak perempuan itu ke dalam mobil secara paksa, "mamamu nanti marah kalau kita kelamaan disini."
Christa kian menjerit, "NGGAK MAU!!"
•••
Mencari Bangkai Kitty?
1. Tubuh Kitty ada di sekitar sekolah
2. Tubuh Kitty tidak bisa bergerak
3. Tubuh Kitty kedinginan
4. Tubuh Kitty mati
Itu adalah pesan tercetak di kertas yang diterima oleh Ben kecil keesokan harinya. Sudah seharian, kucing mamanya menghilang begitu saja. Meskipun sang mama tidak terlalu peduli karena mengira ini masa kawin, tapi bagi Ben, pesan itu terlihat serius. Anak ini pun mulai menyusuri sekolah dasarnya selepas pulang.
"Kitty!" Panggilnya sambil menyusuri pagar sekolahnya yang sudah sepi. Tidak ada seorang pun yang ada disana, kecuali sekelompok anak yang berdatangan untuk bermain bola di lapangan.
Dia terus menjelajah ke kebun kebelakang gedung sekolah, "Kitty! Kitty! Kitty! Kemari Kitty?"
Kedinginan?, Pikirnya bingung. Dia pun menghampiri sungai terdekat untuk memastikan bahwa kucing mamanya tidak tenggelam.
Tapi tidak ada apapun.
Seorang wanita paruh baya menghampirinya. Dia berpakaian ala seragam guru. Dengan wajah heran, dia memanggil anak itu, "Ben? Benedict? Ngapain disini?"
Ben menoleh, "Bu guru."
"Aduh, jangan kesini kalau sudah pulang, Ben," kata wanita itu bersuara lembut sambil mengajak anak lelaki itu, "ayo, ayo ke depan ya. Kalau mau main sama teman, jangan sendirian."
"Saya nyari kucing mama saya, Bu guru," sahut Ben masih mengedarkan pandangan ke seluruh arah.
Bu guru itu heran, "Kucing mama kamu kabur kemari?"
"Iya, katanya. Tapi nggak ketemu."
"Biar nanti Bu guru suruh Pak Rio nyari ya, kamu jangan keluyuran sendirian, bahaya, ayo pulang! Nanti kalau sudah ketemu, biar Pak Rio hubungi mama kamu."
"Beneran, Bu?"
"Iya, ayo pulang saja."
°°°°
Christa tidak mau sekolah selama seminggu karena sedih anjing tidak ditemukan, bahkan kelincinya juga ditemukan dalam kondisi terbakar di depan rumah. Dia masih tidak mau sekolah sampai akhirnya dibujuk Ben. Mereka sangat akrab semenjak bayi, itulah mengapa, ketimbang permintaan Papanya sendiri, ucapan Ben malah lebih dituruti.
Saat di sekolah, anak perempuan itu kembali menangis karena teringat pesan aneh yang mengatakan anjingnya mati di sekolah. Tapi tidak ada jejak dimanapun.
Lalu dimana Coco?
"Nggak ketemu ya? Kasihan," ucap Shua kecil yang duduk di kursi belakangnya. Dia baru bicara setelah sang guru keluar kelas. Di saat teman-temannya berlarian dan bermain, dia malah memasang wajah datar dengan senyuman bahagia memandangi kesedihan Christa.
Christa membentaknya, "Diam!"
"Cocobell-mu sudah mati, kamu tidak bisa menemukannya. Kasihan," ucap Shua semakin lirih.
"Coco hanya hilang! Ini baru sebulan, Papa akan menemukannya! Surat aneh itu bohong!"
"Oh, itu beneran kok. Kan aku yang nulis."
Christa terkejut bukan main, "Mana Coco!"
"Nggak tahu."
"Ben! Dia bilang dia yang nulis surat aneh itu!" Christa menoleh pada Ben yang duduk di bangku depan kelas, "Ben!"
Karena rengekan itu, Ben berjalan mendekati mereka, "Ada apa sih?"
Christa mengerutkan dahinya sambil menuding Shua, "Dia bilang dia yang nulis pesan aneh itu! Kucing mamamu juga dapat pesan'kan?"
Ben memberikan Shua tatapan kaget, "Joshua?"
Shua hanya tersenyum.
"Shua! Dimana Kitty?" Tanya Ben panik.
"Sudah mati semuanya," jawab Shua santai.
Christa menggeleng, "Nggak mungkin. Mana Coco?"
Shua menatap Christa dengan datar, "Kelincimu juga sudah mati'kan?" Lalu beralih pada Ben, "berarti tinggal burung kakak tua ya?"
"Shua?" Ben menjadi takut.
"Akan kuadukan pada Bu guru!" Bentak Christa, tapi dia terlalu marah, alhasil malah menyerang Shua, "KEMBALIKAN COCO!"
Shua tidak melawan meskipun tubuhnya digoyang-goyangkan, bahkan Christa memukulinya. Dia hanya memberikan senyuman kecil seolah menikmati semuanya.
"Kalian terlalu bahagia, ini tidak adil. Jadi aku hanya menyeimbangkannya. Tidak ada yang boleh bahagia terus menerus, semuanya harus merasakan kesedihan juga," bisiknya tepat di wajah Christa.
"CHRISTA! CHRISTA!!" Teman-temannya malah bersorak gembira saat kedua anak itu berseteru.
Ben melerai, "Jangan, jangan, nanti Bu guru marah!"
"Coco!" Bentak Christa tidak bisa menahan diri.
Dia terus memukuli Shua hingga suara sorakan itu terdengar ke telinga para guru. Mereka yang panik, langsung melerai kedua anak tersebut, lebih tepatnya, membawanya keluar kelas menuju ke ruang guru.
Shua ataupun Christa duduk berdua di depan meja guru. Diam begitu terus sampai kedua wali mereka datang. Meskipun seorang pak guru sudah menasehati mereka dengan lembut dan penuh kesabaran, tapi tatapan mata Christa masih diliputi kebencian, sedangkan Shua masih datar-datar saja.
"Maafkan putri saya. Dia hanya sedikit kesal karena anjingnya tidak pulang," ucap papa Christa sambil menyentuh bahu putrinya itu.
"Papa! Shua membunuh Coco!" Christa menuding Shua.
Ayah Shua tampak tersenyum kecil melihat tingkah anak perempuan itu. Lalu menekan bahu putranya, "Kamu melakukannya?"
Shua menjawab santai, "Enggak lah. Aku'kan alergi bulu binatang, aku tidak suka anjing, kenapa aku harus berdekatan dengan anjing?"
Papa Christa paham dan kelihatan malu kepada ayah Shua, "Pak, saya minta maaf. Christa biasanya tidak begini."
"Tidak masalah, anak saya juga sama saja," kata ayah Shua masih tersenyum ramah.
"Bapak harap, kalian berdua, jangan berkelahi lagi di kelas ya!" Pinta Pak guru serius.
Shua mengerutkan dahi, "Kenapa itu disebut berkelahi? Aku tidak melawannya'kan? Dia yang memukuliku. Harusnya dia saja yang berada disini."
Christa menjadi kesal, "Papa, dia membunuh Coco!"
"Sudah, sudah, ayo pulang saja kalau kamu masih gini," tegas sang papa menggandeng putrinya, lalu berpamitan dengan pak guru, "maaf, Pak, untuk hari ini, saya mengajak Christa pulang dulu."
"Iya, silakan, Pak," ucap Pak Guru mengangguk setuju.
Ayah Shua juga memohon diri, "Saya pamit juga, Pak, saya masih ada pekerjaan. Tolong hukum saja Joshua agar tidak menyebabkan masalah," lalu pergi begitu saja meninggalkan putranya.
Pak guru itu menjadi kaget. Dia pun bertanya pada Shua, "Kamu di rumah, baik-baik saja'kan, Shua? Kalau ada masalah, omongin sama bapak atau ibu guru ya?"
"Eh?" Shua heran, dia menoleh pada ayahnya yang sudah keluar ruangan, "maksudnya, pak guru khawatir pada saya karena sikap ayah saya yang menyebalkan itu?"
Dia mengenbangkan senyuman lebar yang terlihat aneh bagi anak seusianya. Lalu menambahkan, "Santai saja, Pak, saya bahagia kok."
"Shua.." pak gurunya malah kelihatan semakin cemas.
•°•°•°•°•°•°•°•°•°