Author POV
=========
10 Tahun Silam..
kejadiannya sekitar sepuluh tahun silam, sekitar tahun itulah kisah ini dimulai. Iya ketika itu, Shua masih sangat kecil, dia hanya anak biasa yang seharusnya bisa tumbk biasa. namun memang takdir berkata lain. dia tidak tumbuh sebagaimana anak lainnya.
Seorang anak laki-laki berseragam putih merah berjongkok sendirian di bawah pohon mangga depan ruang ruang kelasnya. Dia mengambil sebuah ranting kayu, lalu menggambar sesuatu di atas permukaan tanah. Bentuknya tidak jelas, berawal dari bulatan biasa, lalu ada semacam mata, tapi juga ada tanduk sekaligus kumis seperti kucing. Wajahnya sangat murung, tapi bibirnya malah tersungging senyuman lebar.
"Kak Jimmy!" Panggilnya semangat.
Mendadak keasyikannya menggambar makhluk aneh diganggu oleh langkah kaki sepatu pria dewasa. Paman itu pun menyapa agar mendapatkan perhatiannya, "Joshua, apa kabar?"
Anak itu mendongak sekilas, "Oh."
"Ayo duduk di sini, jangan jongkok-jongkok sendirian," ucap pria itu mengajaknya duduk di kursi kayu bawah pohon. Tapi ucapannya dihiraukan oleh Joshua.
Malahan anak ini masih senyum-senyum sendiri memandangi wajah aneh di atas tanah buatannya itu. Bahkan sesekali tertawa lirih seolah sedang bercanda dengan sesuatu.
"Shua? Joshua, kenapa kok tidak main sama yang lain?" Tanya pria itu menuding beberapa kelompok anak yang sedang bermain di lapangan.
Shua kecil masih membisu.
"Oh! Itu paman Dodi!" Seru seorang anak laki-laki yang langsung berlari mendekat begitu mengenali wajah pria itu, "Paman, Paman, cerita lagi dong.."
"Oh, Benedict, gimana kabarnya?" Tanya pria itu memperbolehkan agar si anak menyalimi telapak tangan kanannya.
"Baik dong, Paman. Paman gimana?"
Pria tersebut tertawa ramah, "Sehat selalu! Apalagi kalau ketemu bocah-bocah sepertimu disini."
Seorang anak perempuan ikut menghampiri mereka, "Om Dodi! Christa mau denger cerita Om! Ceritain tentang Elang lagi ya."
"Joshua juga mau dengar tidak?" Tanya pria bernama Dodi ini, "ayo dekat-dekat sini, duduk dulu.."
Ben dan Christa menurutinya tanpa banyak bicara. Tapi Shua tetap pada posisinya, menggambar sosok lain lagi. Kali ini lebih aneh, dia membuat bulatan lagi dimana bagian tengahnya dia corat-coret. Sekilas gambarannya itu ibarat sebuah kepala dimana pikirannya sedang kalut.
"Tidak. Membosankan," sahut Shua lemas.
Paman Dodi tertawa lirih, "Tuh dengerin, Ben sama Christa, ceritanya membosankan. Kita cari.."
Ben memotong ucapannya, "Yang bosenin'kan Shua, bukan ceritanya!"
"Shua ngapain sih disini, pergi sana!" Kata Christa melirik benci pada Shua, "anak aneh. Anak aneh, pulang saja sana!"
"Hei, hei, Christabella cantik, hayo.. jangan jahat begitu ah, nanti Om nggak bakalan kemari lagi. Om nggak suka kalau sama-sama anak nakal," kata Paman Dodi sedikit bernada kecewa.
"Maaf."
"Maafnya sama Shua."
"Maaf Joshua."
Shua hanya menoleh dengan tatapan datar. Tidak ada keinginan sedikitpun untuk menjawabnya. Bahkan dia merencanakan sesuatu untuk anak perempuan itu. Dengan anehnya, dia malah bertanya, "Kau punya anjing' kan?"
"Apa urusanmu?"
"Aku tidak suka anjing."
"Hah? Tuh, Om, dia aneh! Aku minta maaf kok dia malah bahas anjing?"
Paman Dodi menghela napas panjang pertanda lelah, "Sudah, sudah, gimana kalau kita tebak-tebakan?"
"Boleh!" Ben langsung setuju.
"Suatu hari, Tuan Elang sedang dikejar-kejar penjahat. Dia pun sembunyi ke rumahnya, lalu mengunci diri ke kamar di lantai dua. Nah di kamarnya ada ponsel, ada jendela terbuka, menurut kalian bagaimana cara Tuan Elang menyelamatkan diri?" Tanya Paman Dodi dengan nada jenaka ala pendongeng anak-anak.
Christa menjawabnya spontan, "Ah! Ponsel! Telepon mama!"
"Mendingan keluar jendela deh.." kata Ben berpikir keras.
"Tapi lantai dua, Ben!"
"Oh iya ya. Loh, kan bisa pakai tali!"
"Om Dodi tidak bilang ada tali kok!"
"Ya harus ada!"
"Telepon saja!"
"Siapa tahu pulsanya habis. Iya'kan Paman?"
Paman Dodi malah tertawa mendengar perdebatan lucu keduanya. Dia menggelengkan kepala, "Pulsanya masih ada kok, Ben."
"Tuh dengerin!" Christa mendongakkan wajah dengan sombong pertanda dia pasti menang.
"Kalau kamu gimana, Joshua? Ponsel atau keluar lewat jendela hayo?" Tanya Paman Dodi selembut mungkin saat berinteraksi dengan Shua.
Shua meliriknya sekilas untuk menjelaskan pendapatnya, "Kalau aku jadi Tuan Elang, aku hanya harus bersembunyi di balik pintu, lalu membukanya, jadi penjahatnya masuk. Terus pukul kepalanya sampai mati."
"Serem banget!" Ben kaget.
Christa juga ngeri, "Iih, dasar aneh! Aku aduin Bu guru nanti!"
Paman Dodi melerai mereka bertiga, "Stop, stop, ingat, jangan saling menghina dong, nanti Om Dodi beneran nggak akan cerita lagi."
"Jadi jawabannya apa, Paman?" Tanya Ben penasaran.
"Christa benar, pakai ponsel untuk menghubungi keluarga. Kalau melompat dari lantai dua, nanti bahaya. Jadi ingat kalian, kalau ada orang jahat, segera lapor loh jangan dihadapi sendiri," sahut Paman Dodi tersenyum senang.
"Siap!" Christa puas pada dirinya sendiri.
Shua malah menggumam pelan, "Membosankan."
Ben maupun Christa kompak berkata, "Lagi dong lagi!"
Paman Dodi mengangguk, "Oke, Om Dodi baca-baca kemarin, ada tebak-tebakan lagi yang seru. Ada dua gadis kakak beradik yang pergi ke pemakaman ibunya. Lalu sang adik menghampiri seorang laki-laki tampan yang ternyata ikut hadir untuk mengucapkan bela sungkawa. Nah, apa yang dilakukan sang adik untuk bisa bertemu lagi dengan laki-laki itu?"
"Ngikutin deh, biar tahu rumahnya," jawab Ben kebingungan.
Christa berpikir sejenak, "Tentu saja berkenalan. Mama bilang kalau berkenalan itu biar kita tahu orangnya terus bisa ketemu lagi deh."
"Jawaban yang bagus, Christa!" Kata Paman Dodi mengacak lembut rambut anak itu.
Shua mulai ikut memberikan pendapat, "Kalau aku jadi adiknya, aku akan membunuh kakakku, jadi aku pasti bertemu dengannya lagi di pemakaman."
"Itu.. jawaban yang sedikit jahat, Joshua," kata Paman Dodi mengerutkan dahi, "kita tidak perlu melakukan itu hanya untuk bertemu orang."
"Tapi memang itu jawabannya'kan? Tebakan pasaran, banyak itu di internet, membosankan," kata Shua membuang rantingnya sambil berjalan menjauh.
Paman Dodi khawatir, "Joshua mau kemana?"
Shua menjawabnya dengan dingin "Aku tidak mau diam dan mendengarkan dosen yang mengoceh hal-hal aneh. Membosankan."
"Dosen, apa itu?" Tanya Christa seperti kenal.
"Yang ngajarin kakak kamu kalau lagi kuliah itu loh," jawab Paman Dodi dengan senyuman.
"Oh, guru. Jadi Om Dodi guru ya?"
"Iya."
"Oh. Begitu."
"Iya, memang seorang guru, itulah aku. memangnya ada aapa? kamu ingin menjadi seorang guru juga?"
"iya."
"Kenapa?"
"Aku ingin seperti Om Doi."
Mendengar itu, Paman Dodi hanya tertegun sejenak sambil tersenyum. Dia bahagia sekali mendengar hal tersebut, sangat bahagia karena anak manis ini mau jadi seperti dirinya. Dia hanya mengelus rambut Christa dengan penuh sayang. "Anak pintar. Christa memang anak pintar."
•°•°•°•°•°•°