•Part 22•

817 Kata
Joselin POV ========== Sudah sejam aku berdiam diri di sofa ruang tamu rumah ini. Tempatnya lumayan besar dan luas, seluruh perabotannya juga keliatan mahal. Christa ini jelas orang kaya. Dia mengobati seluruh luka di tanganku dengan cepat. Sebenarnya mereka menyarankanku agar tidur sejenak, tapi mataku mana bisa terpejam saat ini bisa saja seseorang mencelakaiku. Sekalipun wajah Ben dan Christa cukup meyakinkan, tapi aku masih tidak mau percaya begitu saja. Aku sudah lelah dibius sana-sini... Mereka pikir rasanya tidak sakit! SAKIT! SAKIT SEKALI KEPALAKU! Rasanya semakin sering aku diperlakukan begini, kewarasanku semakin menipis. Aku tidak tahu lagi batas kenormalan itu bagaimana. Semuanya, Elvan, Gavin, Shua, semuanya membuatku muak. Ben datang membawakan minuman. Lalu Christa membawakan beberapa kue kering di piring. Mereka menaruhnya di atas meja. Lalu mempersilakanku agar makan sedikit untuk memulihkan diri. Pandangan mereka seperti tengah mengasihani seorang pengemis yang berperekat dimana-mana. "Aku tidak mau, aku bingung," ucapku memalingkan pandangan. Ben duduk di salah satu sofa, "Kamu beneran pacarnya atau cuma.." "Pasti paksaanlah," sela Christa ikut duduk di dekatku, kemudian melirikku, "Ya'kan? Berita kalian.. sampai kelas sore rame." "Tapi kamu tidak diapa-apain Shua'kan? Apa yang terjadi? Lebih cepat cerita, kami bisa bantu. Dia sedikit beda loh, hati-hati.." tambah Ben, "disini saja dulu, aman." "Bukan beda lagi, dia gila!" sergah Christa. Aku memberikan mereka berdua tatapan menyelidik, "Kenapa aku harus cerita pada kalian?" "Kami bukan polisi kok, jadi terserah kamu juga. Intinya, jauhi saja Shua, percayalah. Dia dari dulu memang aneh. Bahkan aku mulai percaya ucapan mendiang papaku, dia pernah curiga kalau Shua itu suatu hari nanti pasti jadi iblis,  terbukti.. sekarang," jelas Ben menelan ludah. Dia tertegun sesaat berpikir sesuatu, "Mendadak keluarganya menghilang.. lalu kejadian-kejadian 'surat jimmy' ini muncul lagi. Rasanya nostalgia." "Bukan berarti kami kurang kerjaan mencari tahu tentangnya, tapi ya, kami sedikit mencari tahu kehidupannya saat pindah ke sini lagi, terus keluarganya hilang, kata warga, keluarga Shua memang meninggalkannya untuk ke desa." "Aku.. aku tidak tahu," aku masih berusaha untuk menyimpan rahasia ini. Takut rasanya seperti menayangkan dia datang dan membunuhku karena membocorkan rahasianya. Christa malah bertanya hal yang membelalakkan mataku, "Dimana mayat mereka? Apa ada bukti? Kamu tinggal dengannya'kan? Kamu hanya pacar paksaan, kerjasama saja dengan kami!" Dia terdengar memaksa.. dendam sekali.. Aku takut, "Mayat apa?" "Dia pasti sudah membunuh keluarganya'kan? Shua itu gila. Cepat atau lambat, pasti dia melakukan pembunuhan pada orang. Dari kecil dia sudah membantai binatang. Aku yakin ayahnya, kakaknya, suami kakaknya sudah ada di alam baka, bukan pindah ke desa." Ben melirik Christa yang kelihatannya makin menggebu-gebu mencari bukti kerjaan Shua, "Ta, Christa, Christabella, udah deh!" Aku mengerutkan dahi, "Kalian sangat mengenali Shua? Kalian bilang dia pindah 'kesini lagi'? Apa itu artinya dia bukan dari kota lain?" "Bukan. Dia lahir disini. Sudah kami bilang, dia teman SD. Dulu sempat pindah ke kota lain, tapi sekarang sudah kembali kesini lagi, kuliah disini. Satu kampus dengannya membuat kami pindah jam sore," kata Christa menghela napas panjang. Akhirnya dia tenang juga. Aku semakin penasaran dengan Joshua, "Berarti kalian tahu masa lalunya?" Ben mengulangnya, "Masa lalu? Ya sebatas masa kecil doang. Kenapa?" "Dia kasar. Jadi kurasa mungkin ada perlakuan abuse.. atau semacamnya yang dia terima semasa kecil," kataku ragu-ragu. Tentu saja aku mengatakan itu karena teringat bentuk aneh di punggung Shua. "Abuse ya? Malah dia yang sering jahatin orang, kayaknya dia lahir dari benih iblis," ucap Christa kembali terpancing untuk menghina Shua. Ben melirik Christa yang cemberut, "Tapi mungkin karena dia sudah kehilangan mamanya dari bayi.. jadi dia sedikit kasar, itu ada ilmu'kan? Tolong Ta, jangan terbawa emosi.." Christa tampak naik pitam lagi, "Benci banget sama Shua, pokoknya pengen kupukul! Dendam masa kecilku masih belum sirna sampai sekarang! Dia membunuh anjingku, lalu membakar kelinciku! Argh!!" Dia menatapku tajam, "Tadi aku sempat ingin menabraknya saja! Setiap aku berpapasan dengannya, rasanya marah!" "Sudah, sudah.. maklumin ya, Selin," kata Ben tersenyum padaku, "Shua emang biadab, dulu dia hobi membunuh binatang peliharaan kami dengan modus mengajak kami bermain." "Mengajak bermain?" "Ya, ya.. itu sebabnya kukatakan, insiden di kampus tadi, membuat kami teringat kejadian yang lalu," terang Ben mengangguk lesuh, "dia sekelas dengan kami saat SD, dia sangat penyendiri, benci apapun, dan sering menangkap binatang peliharaan kami, lalu menyembunyikannya di suatu tempat." Christa menambahkan, "Masalahnya, dia hanya mau memberikan petunjuk aneh, seperti tips-tips cara menemukannya. Tapi pada akhirnya..." "Tidak pernah ditemukan.." lanjut Ben sedih, "intinya binatang itu sudah mati dan sampai sekarang, aku bahkan tidak tahu dimana kucing kesayangan mamaku dan burung kakatuaku disembunyikan." "Emang sialan." "Itulah sebabnya dia sangat dibenci. Tapi tidak kusangka, bahkan sampai kuliah pun semua juga membencinya. Dia memang berbakat dalam membuat orang lain marah." Entah mengapa aku malah merasa ada sesuatu tentang Shua. Dia pasti memiliki alasan atau setidaknya masa lalu yang cukup menyakitkan sampai dia sepeti ini. Bahkan menciptakan seorang "Jimmy" agar tidak merasa kesepian. Aku membencinya, tentu saja, tapi.. ..terkadang.. Saat dia menolongku, memelukku saat aku ketakutan, atau membuatkanku s**u coklat kemarin.. dia tidak terlahir dari iblis. Dia hanya kurang.. .. sesuatu.. Aku tidak mengerti sampai dia sendiri yang menceritakannya. Meskipun begitu, aku tidak bisa memaafkannya yang mmberbuat kasar padaku. Kalau dia memang peduli padaku, dia tidak seharusnya menyakitiku secara fisik. Rasa sakit hanya membuatku semakin gila. Atau dia sengaja membuatku menjadi sepertinya? Aku mulai gila? Ha, aku mulai gila.. •°•°•°•°•°•°•°•
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN