Joshua POV
==========
Aku melihat jemari tangan kananku gemetaran. Apa ini karena aku terlalu lama berbaring di atas lantai kamarku? Apakah karena hal lain? Entahlah. Tapi rasanya ada beban yang sangat berat menimpa dadaku saat ini.
Kenapa aku masih gelisah? Padahal aku sudah merobek seluruh foto Selin sampai berserakan di sekitarku. Ah, aku dibanjiri oleh sobekan foto kekasihku tercinta. Apa yang bisa kuperhatikan, dia tidak ada disini, jadi aku memutilasi fotonya saja.
Bukan, bukan.. aku tidak berniat merobeknya lalu menghempaskannya ke udara berkali-kali begini. Aku hanya berniat menghilangkan wajahnya saja. Tapi dia tidak mau hilang dimana-mana.
Aku bangun dan memeriksa sobekan yang masih terdapat wajahnya. Saat kutemukan, langsung kugores lagi, tepat di kedua mata indah itu. Indah sekali. Padahal aku mengoleksi ribuan fotonya ini untuk kepentingan pribadi. Tapi sekarang, malah sengaja menghancurkannya.
Apa yang sudah kulakukan?
Sekalipun aku sangat sedih, aku malah semakin menggores wajahnya sampai kertasnya mengelupas. Setelah foto ini tidak berbentuk, tadinya aku berpikir, dia menghilang dari pikiranku. Tapi ternyata yang salah bukan ribuan foto ini, tapi isi kepalaku.
Tega sekali dia meninggalkanku? aku hanya berniat melindunginya, aku juga sudah tidak ingin melukainya, aku menyingkirkan orang itu, aku melakukan semua kegilaan ini untuknya. Ini permainan untuknya agar dia tidak sedih.
"Ah, ah, sampai kapan kau berdiam diri seperti pecundang disini? Kalau sudah bosan hidup, biar kutelepon polisi saja, ayo mati berdua!" Bentak Jimmy.
Aku merengek padanya, "Jimmy, dia meninggalkan kita."
"Itu karena kau bodoh, kalau aku jadi dia, aku meninggalkanmu lebih cepat."
"Apa salahku?"
"Salahmu adalah berpikir bahwa dia akan ikut bermain bersama kita begitu saja."
"Tapi ini.. seru."
"Dia tidak paham, Bodoh."
"Apa yang harus kulakukan? Aku mulai menginginkannya. Di saat aku tidak mau membunuhnya, dia malah pergi."
"Bunuh saja dia."
"Tidak mau."
"Sisakan kepalanya, lalu peluk itu kalau malam."
"Tidak mau! Aku mau Selin-ku kembali kemari."
"Kalau begitu potong kakinya!"
"Aku tidak mau! Kakinya bagus!"
"Kau makin bodoh ya? Ah, bagus sekali, Shua mulai kembali ke masa kegelapan. Sebentar lagi, kau akan hilang kendali karena tidak mendengarkanku. Biar kutebak, tujuan akhirmu kalau bukan penjara ya alam baka."
"Apa maksudmu.."
"Kau bodoh kalau terlalu nafsu membantai. Kau pasti tidak peduli keamanan dirimu dan asal bunuh. Kita mainnya bersih, Shua. Tenangkan pikiranmu, aku tahu isi kepalamu sekarang.."
"Tetap saja ayo bunuh mereka, Kita ambil Selin lagi. Aku punya rantai baru di gudang, dan sebaiknya kita pasang jeruji jendela kamar ini juga, ya.." pintaku sambil menuding jendela kamarku yang pecah dan sebagian masih terdapat darah kering Selin
Dia berpikir sejenak, "Oke, biar kususun rencana. Kau ingat tidak kuis psikologi yang pernah ditanyakan pada kita."
"Kuis?" Ulangku mengingat-ingat, "banyak sekali, yang mana?"
"Yang itu, dua gadis kakak beradik yang pergi ke pemakaman ibunya. Lalu sang adik menghampiri seorang laki-laki tampan yang ternyata ikut hadir untuk mengucapkan bela sungkawa. Nah, kau jelas tahu apa yang dilakukan sang adik untuk bisa bertemu lagi dengan laki-laki itu?"
Yang dilakukan sang adik ya?
Butuh waktu lama untuk mengingat kapan aku mendapatkan kuis itu. Tapi untuk menentukan jawabannya sebenarnya cukup mudah. Aku ingat. Kisah yang sederhana tapi patut kucontoh caranya.
Senyuman puasku mulai terbentuk sempurna. Jimmy benar, si adik membunuh kakaknya agar bisa bertemu kembali dengan laki-laki itu di pemakaman. Begitu ya.
Jimmy sangat cepat saat merencanakan sesuatu. Aku semakin bergantung pada kejeniusannya. Dia selalu berusaha membuatku berjalan di jalan yang aman.
"Iya, kita tidak perlu mencari Selin, dia yang akan mencari kita. Ide bagus, Jim. Kita bunuh saja seseorang. Lalu dia akan pulang dan merengek padaku, 'Shua, maafkan aku, tolong hentikan'," Kataku tertawa terbahak-bahak sambil membayangkan pacarku pulang.
Kutepuk daguku, kuremas rambutku karena saking bahagianya. Rencana ini pasti berhasil. Aku berseru, "Dia akan pulang dengan mata sayunya lagi! Lalu menuruti kata-kataku lagi!"
"Oke, rileks, brader, kau butuh air kalau sedang over-obsesi begini, risih aku dengernya," Jimmy tersenyum lebar melihatku.
Aku berdiri sambil mengangguk-anggukkan kepala. Kemudian segera kupakai jaket biru tuaku yang ada di gantungan balik pintu.
Jimmy akhirnya tertawa, "Untuk membuat Selin bertekuk lutut padamu lagi, dibutuhkan perjuangan'kan? Aku ini saudaramu, Shua, walaupun kau bodoh dan mendadak obsesi pada gadis bego begini, tetap akan kubantu."
"Ayo mulai, dari siapa dulu ini enaknya?" Tanyaku berpikir beberapa orang di kepalaku.
"Lebih baik bunuh si itu, biar nggak tanggung permainan kita ya'kan? Kasih pesan juga, penasaran, bisa tidak seseorang menemukan Jimmy ini...." Saran Jimmy menyeringai, "aku benci melihat saudara bodohku dihina karena masalah cewek."
"Masih dendam?" Heranku.
"Iyalah! kita dihajar. Kau ngapain cuma mukulin kepalanya, harusnya patahkan kakinya juga!"
"Ya sudahlah, kita bunuh sekarang."
"Jangan lupa, intai dulu, Shua Bodoh, jangan main tebas kayak kakak ipar waktu itu. Aku susah lagi mikirin caranya bersihin bukti."
"Iya, Jimmy Bego."
Kami tertawa saat keluar kamar.
Aku masuk sejenak di gudang samping kamarku. Di sini sangat gelap sekalipun lampunya sudah kunyalakan. Bukan hanya itu, banyak sekali kardus-kardus berdebu berisi barang tidak berguna disini. Tadinya aku hanya ingin mengambil salah satu dari tumpukan kardus sepatu di pojokan ruangan. Waktunya pakai sepatu baru.
Setelah kupakai sepatu hitam, aku mulai mengarahkan pandanganku ke dalam kardus terbuka dengan banyak sekali alat pertukangan.
"Jim, kita pakai apa?" Tanyaku.
Dia mengangguk-angguk ketika melihat gulungan tali, "Tali saja gimana? Asalnya darimana tuh?"
"Masih baru dulunya kok, cuma udah lama banget. Kayaknya tidak ada sidik jari siapapun, seingatku belinya juga di luar kota, tidak ada bercak apapun disitu, ini juga merk pasaran dan aku yakin aman."
"Yasudah, pasang sarung tanganmu. Ayo pergi, Shua! Keburu sore! Kebiasaan lemotmu membuatku kesal."
"Tentu saja. Tapi Jimmy, kali ini apanya yang diambil?"
"Mungkin lidah? Dia'kan banyak bicara."
"Aku lebih suka mengambil matanya. Dia kebanyakan melihat pacar kita."
"Tangannya?"
"Atau telapak kaki?"
"Organ dalam saja gimana? Kita tidak pernah membedah loh, selain katak maksudku."
"Jijik, aku tidak mau."
"Yasudah congkel matanya saja."
"Pakai apa?"
"Itu alat yang biasanya buat bikin sup buah, apa itu namanya? Kau punya'kan di dapur, yang buat bulat-bulatin melon atau semangka itu loh."
"Oh, itu. Hiiihh...Sadis amat ya?"
"Sudah ayo pergi!"
Aku menurutinya. Kami pun segera meninggalkan rumah dengan beberapa alat pertukangan dalam ransel. Sebisa mungkin penampilan kami tidak serba hitam-hitam. Menurutku itu jelas mencurigakan. Lagipula, aku lebih suka kostum berwarna-warni seperti pemuda tampan lainnya.
•°•°•°•°•°•°•°•°