Joselin POV
==========
Shua mulai gila lagi. Aku langsung tahu saat kubuka mataku, tanganku sudah terikat tali. Aku pun duduk di lantai dan kulihat dia tidak ada di kamar ini. Kakiku tidak diikat, mungkin berpikir efek tidurku masih lama. Memang benar, rasanya tubuhku lemas sekali, kelopak mataku juga ingin terus terpejam.
Tapi tidak boleh! Aku harus bangun.
Kulihat jendela kamarnya yang tertutup rapat. Dari semua jendela, hanya disini saja yang tidak terpakai dan jeruji. Aku punya kesempatan kabur. Namun untuk membukanya tanpa suara pastinya sulit. Kalau dia mendengar, aku pasti mati kali ini.
Aku pun berdiri dan berusaha mencari gunting di laci meja. Tentu saja cukup sulit karena aku harus menoleh ke belakang sampai leherku sakit untuk melihatnya. Butuh waktu cukup lama sampai aku mendapatkan pisau lipat. Untuk memutuskan tali di tanganku juga sangat menyusahkan. Shua sangat kasar mengikatku. Pergelangan tanganku sampai lecet parah.
Dia sudah gila!
Tepat setelah talinya terpotong, terdengar bunyi langkah kaki diluar kamar. Aku langsung mengunci pintunya dengan buru-buru. Otomatis dia pasti mendengarnya.
"OH!! Selin-ku sudah bangun?" Bentaknya sambil menggedor pintunya, "Hebat! Sudah mulai terbiasa dibius ya Sayang? Biar kutambah dosisnya!"
Aku mengambil laptopnya dan langsung ku hantaman pada kaca jendela yang tingginya sepundak ini. Cukup tinggi. Aku menggeser meja agar dapat menjangkaunya. Panik sekali rasanya, dadaku sampai sesak. Terlebih lagi karena suara makian Shua yang menjadi-jadi dan kenop pintu sudah mulai rusak.
Dia memang sudah gila..
"AH!! TAHU GINI KUPATAHKAN KAKIMU, SELIN!" Bentaknya makin marah.
Aku menaiki meja bersamaan dengan hancurnya kunci pintu. Saking takutnya, aku tidak berani menoleh pada Shua. Aku berpegang pada pinggiran jendela yang masih terdapat pecahan kacanya. Rasa sakit akibat goresannya sangat tidak sebanding dengan ketakutanku mendengar suara Shua.
Saat hendak melompat, aku baru sadar Shua sudah berdiri di sampingku. Dia menjambak rambutku dan memaksaku masuk kamar kembali.
Dia berteriak dengan wajah seakan menghitam karena amarah, "TURUN!"
Aku menarik rambutku dan menjejak dadanya. Saat dia lengah, aku melompat begitu saja ke tanah. Sudah tidak peduli walaupun beberapa pecahan kaca memang masih menancap di kulit seluruh tubuhku.
"TOLONG!" Jeritku berlari menjauh dari rumah ini.
Shua terdengar ikut melompat dan mengejarku seraya terus berteriak, "Diam, Sayang! Nanti ada yang dengar!"
Aku menyusuri pepohonan samping rumah menuju ke jalan depan. Selama ini aku tidak pernah menang saat berlari darinya. Dia tahu-tahu sudah berada beberapa langkah dariku padahal aku sudah nyaris kehabisan napas. Orang yang melihat tanganku penuh darah begini pasti sangat histeris.
"Tolong!" Jeritku.
Shua malah semakin marah, "Ngapain kamu minta tolong! Aku pacarmu! Kamu gila ya!"
Saat aku sudah berada di halaman depan, kulihat ada sebuah mobil hitam yang pintu belakangnya dibuka laki-laki seusiaku asing. Dia melambaikan tangannya padaku sambil berteriak, "Kemarilah, aku menolongmu, Selin!"
Dia mengenalku?
"SELIN!" Bentak Shua.
Tidak ada pilihan lagi, aku segera menaiki mobil itu. Tapi tanganku berhasil disambar oleh Shua yang wajahnya tidak kukenal itu lagi. Dia murka. Tapi laki-laki asing ini juga menarikku. Mobilnya sudah dijalankan.
"AAHHHH!! Ini mengerikan! Aku bisa jatuh!" Bentakku tidak karuhan sambil menjejak Shua kembali, "LEPASKAN AKU! DASAR GILA!"
Dia baru mau melepaskanku. Lalu berhenti dan menatapku menjauh. Samar-samar kudengar dia memanggilku, "Selin?"
Apa dia berhenti menarikku karena kupanggil 'gila'?
Aku memeluk diriku sendiri yang ketakutan. Sedangkan laki-laki ini menutup pintu mobilnya. Kemudian menenangkanku dengan menepuk bahuku.
"Hei, hei, tenang-tenang," katanya kebingungan. Dia menyentuh telapak tangan kananku yang sobek karena kaca tadi, "biar kulihat.."
Aku menarik tanganku, "Jangan.. Jangan sentuh aku."
Dia mengangkat tangannya untuk menenangkanku, bahkan memundurkan posisi duduknya, "Oke, oke.. jangan berontak, kami disini menolongmu."
"Siapa kamu? Siapa kalian?" Tanyaku mulai melihat sopir yang ternyata seorang gadis berpenampilan feminim yang tubuhnya jauh lebih kecil dariku. Tapi caranya mengemudi sangat liar, kecepatannya terbilang ngebut.
"Kami temanmu'kan? Mmm.. kampus..", jawab laki-laki itu mengulurkan tangan, "Namaku Ben, itu Christa, kami mahasiswa semester 4 Tehnik sipil di kampus kita, U.E.S," Menunjuk si gadis sopir.
Kampusku? Mereka mahasiswa di kampusku?
Aku memberikan tatapan menyelidik pada mereka, "Siapa kalian ini? Apa Gavin.. Elvan, menyuruh kalian menculikku lalu.."
Mereka berdua malah menertawaiku.
"Menculik?" Christa mengulang kataku dengan nada sindiran, "memangnya kami memberimu permen tadi? Kamu sendiri yang naik kemari.."
Ben menjelaskan, "Kamu lupa pada kami ya, Selin? Maaf, Maaf, maksudku, gedung fakultas kita memang jauh, lagipula kami ini mahasiswa sore, jelas tidak akan bertemu dengan kalian para mahasiswa pagi."
"Sebentar lagi sampai, Guys!" Ucap Christa membelokkan arah mobilnya memasuki gerbang perumahan, "jangan khawatir, Selin, ini ke rumahku dan disana tidak ada pria-pria berotot yang akan menjebloskanmu ke mobil untuk dijual ke luar negeri."
Dia menertawai dirinya sendiri.
Aku memandangi mereka berdua, "Aku tetap tidak paham kenapa kalian tahu-tahu.."
"Ya, kami saat itu melihat insiden kamar mandinya di gedung fakultasnya Joshua. Jangan salah, kami ada perlu dengan dosen, jadi kebetulan saja ke kampus pagi hari," potong Ben menjelaskan, jeda sebentar, lalu melanjutkan, "mengerikan ya, apalagi melihatmu dibungkam oleh Joshua. Jadi kami tahu pasti kamu diapa-apain. Saat kami berniat menyelamatkanmu dan aku hampir keluar mobil, kebetulan sekali, kamu keluar dengan berdarah-darah begini."
"Kamu kenal Shua?"
"Tentu saja, kami satu sekolah dasar, iya'kan?" Ucap Ben menyeringai pada Christa.
Christa tertawa, "Si gila sialan itu? tentu saja kenal. Aku mulai percaya pepatah bilang, 'orang jahat itu sulit mati'. Walaupun aku sudah berdoa sepanjang malam agar dia mati, buktinya dia tidak mati-mati."
Ben menggelengkan kepala sambil menatapku, "Jangan khawatirkan Christa, dia masih dendam pada Joshua karena anjingnya dibunuh dulu. Padahal cuma anjing."
"Hei!" Bentak Christa meliriknya tajam, "bukan anjing saja!"
"Maaf, maaf, Ta."
Anjingnya dibunuh?
Christa menghentikan mobilnya di depan halaman depan salah satu rumah yang entah di blok apa ini, "Oke, sampai! Ayo keluarlah kalian.. itu lukamu, ikut aku, biar kuobati."
Aku turun dan mengikuti perintahnya. Setelah perasaan tenang begini, rasa perih di seluruh kulit tanganku mulai terasa. Kalau saja tadi aku tidak sepatu, pastinya kakiku sudah tertancap kaca juga.
•°•°•°•°•°