•Part 19•

1128 Kata
Joshua POV ========== Hari ini aku akan mulai tinggal bersama Selin. Harusnya dari awal begini saja. Tidak perlu aku mengawasinya terus menerus. Tinggal bersama, makan bersama, dan tidur bersama. Tidak ada yang akan mengganggu kami. Jadi ini yang mereka bilang, 'rumahku surgaku'. Jimmy membisikkan hal-hal buruk sepanjang waktu padaku. Sebenarnya kebanyakan bercanda, tapi memang kadang menjengkelkan di kepalaku. Maksudku aku sedang menembaki Zombie di laptopku, dia memaksaku untuk menciumi Selin. Aku tidak mau melakukannya. Jangankan melakukannya, membayangkannya saja membuatku pusing. Ciuman ya.. seingatku wanita yang pernah menciumku itu kakakku sendiri. Mungkin karena itu aku jijik jika membayangkan ciumanku sendiri. Sialan, jadi ingat lagi'kan? Shua, kau tidak ingat ya, ciuman dengan kakakmu itu lumayan, sindirnya mulai mengacaukan pikiranku. Diamlah. Ah, percayalah padaku, bibir kakakmu berbeda dengan Selin. Jim, kau ini saudaraku atau iblis yang sedang merayuku berbuat jahat? Dia mulai tertawa di kepalaku  sambil menyindir terus menerus, Oh jahat? Ya ampun kalau ciuman itu sudah jahat, kemarin kelakuan kita itu apa? Aku menahan tawa mendengarnya. Sindirannya itu yang paling masuk akal. Dasar saudara sialan, licik pula, jahat, sukanya membuatku bersenang-senang saja. Aku'kan jadi bahagia. "Shua?" Panggil Selin yang ternyata memandangku dengan kerutan di kening. Entah dari kapan dia menoleh padaku. Aku bertanya, "Apa?" Dia memakan ludah, "Kenapa kamu senyum-senyum sendiri?" "Tentu saja karena bicara dengan Jimmy.." "Kalian tidak merencanakan sesuatu padaku'kan?" Aku membelai bahunya dengan lembut, "Tenang, aku tidak sedang ingin melakukan apapun. Kamu bisa lanjutkan tidurmu. Kita besok akan mendapat kejutan heboh.. mungkin." "Kejutan?" "Jangan banyak bicara! Aku sedang malas bicara, cepat tidurlah atau kupaksa tidur." Dia membalikkan badannya lagi. °°°° Rencanaku berjalan dengan lancar. Memang seharusnya begini, sampai di kampus sudah sewajarnya ramai. Berita pembunuhan menyebar kemana-mana. Garis polisi sudah terpasang di depan gedung fakultasku. Aku dan Selin berkerumun di depan gedungku itu. Berbeda denganku, raut wajah Selin sangat ketakutan. Padahal dia tidak bisa melihat dengan jelas ke dalam gedung, dia'kan pendek. Aku bisa melihat polisi sedang memeriksa toilet mahasiswa yang ada tepat di lantai bawah samping anak tangga. Kalau di lihat dari luar memang tampak jelas. Apalagi pintunya dibuka. "Ada apa ini?" Tanya Selin bertanya pada sembarang mahasiswa. Seorang gadis menjawabnya, "Oh, itu, tadi dini hari, yang bagian kebersihan buka toilet terus ngelihat darah banyak banget, terus lapor polisi ini, katanya sih ada pesan peninggalan pelakunya.." "Pelaku? Darah?" "Kayaknya anak Informatika ada yang dibunuh, tapi mayatnya tidak ditemukan. Kayaknya loh, bisa jadi diculik juga, tadi infonya.. berdasarkan dari darah yang memenuhi dinding toilet, sepertinya itu darah milik Arvin siapa gitu.. aku sih tidak kenal. Pokoknya anak informatika semester dua." "Terus kok bisa menyangka ini pembunuhan?" "Ya.. itu karena sudah jelas kalau.." Seorang lainnya tiba-tiba memotong obrolan mereka sambil menunjukkan layar ponselnya, "Ini nih.. aku dapat foto pesannya!!" Mendadak aku dikerumuni para cecunguk sialan ini. Mereka sepertinya lupa sedang berdiri bersama siapa. Mata mereka hanya fokus pada layar ponsel yang menampakkan foto kertas berdarah dengan tulisan font Comic Sans berbunyi: IKUTI PERINTAH JIMMY CARI PISAU JIMMY, KETEMU BADANNYA CARI JIMMY, KETEMU KEPALANYA Mengerikan sekali si Jimmy ini. Selera pemilihan font-nya cukup kekanak-kanakan. Kenapa tidak memakai font TNR? Bentuknya akan lebih tegas, indah, dan formal. Percakapan penuh spekulasi mulai bermunculan di setiap bibir orang-orang asing ini. Mereka mulai menuduh seorang junior dari fakultas lain yang bernama Jimmy. Namun, berbeda dengan mereka yang kebingungan dan takut karena pertama kali melihat darah membasahi dinding seperti itu, pacarku, Selin, malah gemetaran sambil menarikku dari kerumunan. Dia sempat beberapa kali ingin bicara denganku, tapi terus menjauh dari seseorang. Bahkan terjadi berkali-kali sampai kami tiba di salah satu jalan jalan setapak yang dikelilingi pohon Cemara. "Shua.." panggilnya sambil menyentuh dadaku, meremas kemejaku sampai kusut, sebelum akhirnya memandangku takut, "Jangan bilang.. jangan bilang itu Jimmy." "Oh, bukan kok," jawabku enteng. Dia menoleh ke berbagai arah, lalu berbisik, "Shua, katakan, apa dia sudah mati.. siapapun Arvin ini.." "Kalau melihat darahnya tadi yang mengguyur di toilet, sepertinya dia sudah mati, normalnya, orang akan mati kehabisan darah," ucapku melirik ke gedung fakultasku lagi, "tapi syukurlah, berkat adanya insiden ini, kita jadi jam kosong.." kulirik pacarku kembali, "kita nge-date yuk." "Kamu... Bohong ya?" Aku menertawai raut wajahnya yang manis, "Kalau kamu mau terlibat dalam pencarian, ikuti saja perintah Jimmy. Sudah dikatakan bukan? Kalau mau nyari tubuhnya.." Dia tersentak kaget, lalu mundur menjauhiku, "Apa.. yang sudah kamu lakukan?" Aku maju mendekatinya, "Apa? Apa aku melakukan pengakuan? Tidak'kan?" "Shua, dimana Arvin?" "Memangnya kamu kenal? Wajahnya juga kamu tidak tahu. Aku juga tidak kenal, Sayang. Jangan menuduhku macam-macam dong," kataku sambil berusaha menyambar lengannya. Tapi gagal karena dia menghindarinya terus. "Shua? Kenapa?" Aku mulai memberikan rengekan manjaku padanya, "Sayang, kalau kamu melihat wajahnya, pasti kamu paham. Tapi pokoknya bukan aku yang melakukannya, jangan menuduhku dong.." Dia malah berlari menjauhiku. Seharusnya tadi dia melihat fotonya Arvin sekalian biar sadar. Aku tidak ingin mengejarnya awalnya, tapi dia memutar jalan, melangkahi area rumput taman menuju ke gedung fakultasku. Gawat, dia pasti bermulut ember. Aku berlari mengejarnya. Cepat seret dia pulang! Sudah kubilang dia tidak bisa diajak bermain!, Jimmy mulai membentak-bentak di pikiranku. Syukurlah semua mahasiswa fokus pada penyelidikan, hanya sebagian yang memperhatikan kami. Itupun karena aku menangkap Selin seperti penjahat. Aku bahkan membungkam mulutnya agar dia tidak berteriak konyol. Beberapa gerombolan mahasiswa cupu melihatku, cukup kulirik saja, mereka langsung berlarian tidak peduli. "Diam," bisikku di telinga Selin. Selin malah menggigit jariku. Dia pikir aku akan berakhir kesakitan lalu melepaskannya, giginya ini terasa seperti mainan plastik bagiku. Lembut. Aku sudah perkirakan ini akan terjadi, aku langsung memaksanya meminum air dari botol di ranselku. Perlakuanku sedikit kasar, aku tahu. Tapi tidak ada waktu lagi. Aku sedang berada di area terbuka, hanya beberapa pohon yang menutupi kami. Kalau sampai ada kelompok mahasiswa lewat lagi, mereka akan menjadi masalah. Butuh beberapa menit sampai akhirnya Selin mulai lemas. Dia memejamkan matanya. Kasihan sekali wajahnya sampai basah terkena air. Setidaknya dia tidak tersedak. Kalau dia mati, aku pacaran sama siapa? "Ayo bawa pulang!" Perintah Jimmy. Aku menggendong tubuh Selin, "Iya aku tahu." "Hei, itu kenapa!" Mendadak ada orang ternyata melihat adegan ini. Suaranya sangat kukenal itu. Benar, Gavin. Dia mendekatiku dengan waspada tinggi. Aku menghiraukannya. Kubawa Selin menuju ke gerbang belakang dari kampusku. Jalanan ini sepi karena memang tidak terpakai, terlebih lagi ada bangunan asrama terbengkalai yang jadi sarang laba-laba. Siapapun ogah melewati jalan ini. Gavin ternyata masih mengikuti, "Hei, b*****t, kau apain itu!" Aku berjalan lebih cepat. "Josh, itu Selin mau kau bawa kemana!" Bentaknya langsung menghentikan langkahku dengan menahan pundakku. Saat aku berbalik, dia kaget melihat kondisi Selin yang jelas antara sadar dan tidak. Dia masih bisa menggerakkan kepalanya tapi sudah tidak dapat bicara atau membuka mata. "Minggir, atau kuhajar seperti kemarin," ancamku. Gavin melirikku, "Kau membius pacarmu sendiri? Di area kampus? Sudah pasti, orang gila, apa perlu kupanggil polisi itu? Kurasa setidaknya aku harus membawamu ke kaprodi." "Oh, bukankah kalian pernah membiusnya?" Heranku, "lagipula ini kulakukan agar dia mau pulang tanpa banyak bicara. Aku tidak sedang berbuat kasar seperti kalian kemarin, jadi jangan ikut campur urusanku dengan pacarku." Aku menginjak kakinya, "Atau kubunuh kau!" Dia mulai mundur. Kulanjutkan langkah kakiku menyusuri jalan rusak menuju ke pintu gerbang karatan. Kali ini Gavin sudah tidak mengikutiku. Tapi aku yakin kalau tidak segera dibereskan, dia pasti mengadukannya pada seseorang. Aku benci laki-laki banyak bicara. Bereskan saja besok, saran Jimmy. Tentu, Jim, akan kubereskan segera setelah mengurus kelinci percobaanku ini, si Joselin tercinta. •°•°•°•°•°•°•°•°°•
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN