•Part 18•

689 Kata
Joselin POV ========== Esoknya, aku mulai jalan-jalan dengan Shua seperti biasa saat libur. Kurasa kondisi kejiwaannya tidak terlalu mengkhawatirkan. Buktinya dia tidak membentak-bentak, mengancam atau semacamnya sarapan tadi. Bahkan cukup tenang sampai sekarang kami melihat-lihat berbagai macam bunga, bibit pohon dan perlengkapan berkebun. Aku senang berada di sekeliling tanaman begini, apalagi pemilik toko ini mengajak kami turun ke area pembibitan yang sudah pasti seperti hutan mini di samping sungai. Paling banyak disini adalah bibit mawar dan buah-buahan, terutama jeruk. Disini segar sekali, apalagi kemarin habis hujan. Walaupun sudah siang, tempat ini masih berembun. Berasa seperti berada di daerah pegunungan saja. Tidak pernah kusangka kota ini memiliki kawasan penjualan bibit tanaman seluas ini. Padahal besar disini, tapi malah pindahan seperti Shua yang mengetahui tempatnya. Aneh.. "Kebetulan aku suka warna ungu, Selin Sayang, kita beli mawar ungu juga ya.." ucapnya menunjuk ke rak yang dipenuhi pot bibit mawar berbagai warna. Bahkan ada yang sudah dicangkok tiga warna sekaligus. "Terserah kamu," sahutku. "Pilih saja," bapak pemiliknya mempersilakan. Shua mendekati bunga-bunga itu tanpa mempedulikan tanahnya yang sedikit licin dan berlumpur. Kulihat sepatunya yang tadinya putih menjadi coklat sekarang. "Kamu minta warna apa, Selin Sayang?" Dia menoleh padaku. "Terserah, putih bagus kok. Ungu juga." "Disini yang paling mahal apa, Pak? Yang bibit bunga, jangan pohon, di rumah saya sudah kebanyakan pohon," tanya Shua mengarahkan pandangannya pada bapak ini. "Paling mahal ya.. kalau dibeli semuanya," gurau bapak ini malah tertawa kepada kami. Bapak bisa aja.. Kalau Shua kambuh, bapak langsung ditenggelamin ke sungai loh Pak.. Aku ikut tersenyum mendengar candaannya. Shua malah mengejutkanku, "Ya sudahlah, Pak, saya beli mawar ini semuanya, bisa nganterin tidak?" Ada ratusan mawar berbagai warna di hadapan kami dan dia seenaknya bilang beli semuanya. Bukan hanya aku, bapak yang tadinya tertawa sempat tersedak kaget juga. "Tapi saya tidak bayar Cash ya, Pak. Biar saya transfer, jadi silakan di total, saya tunggu diluar," kata Shua langsung mengajakku naik ke atas kembali. Kami pun duduk di kursi pengunjung yang kosong tepat di teras toko utama perlengkapan berkebun ini. Setelah beberapa menit hanya terdiam, aku bertanya padanya, "Buat apa?" "Buat apanya?" "Buat apa beli banyak?" "Buat taman." "Itu ratusan loh." "Iya. Terus kenapa? Jimmy suka warna merah, aku ungu, kamu putih, jadi beli aja semuanya. Lagipula halaman belakang rumahku itu luas." "Maksudku.. sebentar-sebentar, kamu juga tidak tahu harga satuannya berapa, dikali berapa ratus, habis berapa kamu?" Bukan berarti aku khawatir pada keuangannya, mustahil.. dia ini penipu.. Dia memandangku paham, "Aku memang tidak bertampang kaya seperti Elvan, Sayang. Tapi aku bahkan sanggup membeli keperawananmu, tinggal sebut angka." "Itu bukan barang dagangan." "Makanya jangan meremehkan orang." "Aku tidak meremehkanmu." Kudengar dia menghela napas panjang yang lega, "Ah, aku ingin membersihkan kolamnya nanti, terus lusa mulai merancang Gazebo-nya." Ini Shua'kan? Kenapa dia peduli dengan taman? Karena aku memperhatikannya, dia bertanya, "Kenapa?" "Tidak." "Jatuh cinta?" Aku mendelik, "Hah?" "Oh iya, aku sedikit penasaran. Apa yang membuatmu menyukai Elvan?" "Kenapa membahasnya!" Bentakku kesal. Tapi langsung kututup mulutku dan memalingkan pandangan. Dia akan marah padaku.. Belum sempat berpikir, wajahku dipalingkan kembali padanya. Apa kubilang, dia memberikanku tatapan benci. Tidak peduli dimanapun, padahal sekarang kami ada di pinggir jalan raya ramai, dia seolah ingin membunuhku. Dia mulai menekan suaranya padaku, "Selin Sayang, aku sangat..benci..mendengar..suara keras yang ditujukan kepadaku!" Kurasakan kukunya mulai menancap di kulit rahangku. Aku menenangkannya, "Shua, aku marah pada Elvan, bukan padamu.." "Jika kamu marah pada seseorang, jangan membentak padaku," katanya masih melirikku tajam. "Karena kamu membahasnya." "Aku hanya bertanya." Dia sangat egois. Aku lelah harus bagaimana lagi. "Oke, Aku menyukainya... karena dia baik, humoris, penyayang, dan pandai, tapi aku sangat kecewa padanya sekarang." "Bukan karena dia kaya?" "Aku tidak tahu dia kaya sebelumnya." "Ah, kamu mengecewakanku, Selin. Kukira kamu menyukainya karena dia handsome dan rich." "Bisa kita tidak perlu membahasnya?" "Apa dia mengetahui tentangmu? Masa lalumu? Kesukaanmu? Apa yang kamu benci? Apapun itu?" "Tidak. Aku juga tidak mengetahui tentang masa lalunya hanya saja kami mengetahui sekedar makanan favorit atau seperti itu." "Oh, tapi pada akhirnya menyakitimu ya.." "Shua.." "Ya walaupun belum sempat sih. Salahmu juga sebenarnya, oh, salahku juga," dia mulai melantur aneh seperti biasa, menertawai dirinya sambil memberikan pandangan puas padaku. "Aku hanya mau melupakan kejadian ini." "Tapi, Sayang. Kamu harusnya paham, dari awal dia bukan jodohmu. Dari awal kalian tidak saling kenal, berbeda dengan kita yang memang sudah ditakdirkan saling mengenal dari dulu." Aku memperhatikan wajahnya yang seperti menyimpan banyak sekali rahasia, "Apa maksudmu?" Dia hanya tersenyum. Tidak ada masalah, pasti dia sedang menggodaku seperti biasa. Membuat guyonan dengan raut wajahku. Lalu menertawakannya dengan Jimmy di kepalanya yang gila itu. Tidak ada masalah. Terserah. •°•°•°•°•°•°•°•°
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN