Joshua POV
==========
Sudah malam dan masih hujan. Bukannya reda, malah semakin deras. Padahal tadinya aku ingin jalan-jalan sebentar keluar rumah mumpung aku sudah berpakaian rapi. Tapi sepertinya aku memang terjebak di dalam kamar. Kulihat Selin-ku sedang merapikan buku-buku di meja. Sudah sejam dia membersihkan kamarku.
Aku pun bertanya pada Jimmy di dalam kepalaku:
Hei, Jim, itu pacar kita mau diapain?
Terserah, aku sedang malas berpikir sekarang, aku tidak peduli apapun, aku hanya ingin bersantai saja.
"Selin sayang, tidurlah kalau kamu mengantuk, besok kita berangkat pagi," kataku menepuk ranjang sebelahku.
Dia mendekatiku dengan gelisah, "Shua.."
"Ada apa?"
"Apa aku harus disini terus?"
"Iya."
"Bajuku ... barang-barangku ... " Ucapannya ragu-ragu saat sudah duduk di tepi ranjang, menoleh ke arahku sesaat, "maksudku, aku tidak mungkin tinggal disini setiap hari. Aku ... semuanya tidak ada."
Aku berpikir sejenak. Lalu kuberikan solusi, "Ya sudah besok bawa kemari sekalian. Jangan khawatir, semua akan tetap terkendali."
"Shua. Kita tidak ada hubungan. Aku tidak mungkin tinggal berdua denganmu terus. Sehari, dua hari tidak masalah, terus itu malah mengundang kecurigaan. Aku tidak mau kalau sampai terjadi kesalahpahaman yang terjadi atas apa yang kita lakukan. Itu tidak ..."
"Tidak ada yang peduli dengan itu disini, Selin, tidak ada yang peduli sekalipun kamu telanjang di depan rumah, tidak ada yang peduli, paham?" potongku sambil meremas bahunya yang lunak ini, "berhentilah membuat alasan setiap kali kamu ingin bebas dariku. Semakin lama membuat alasan, aku semakin muak. Aku sedang tidak mau berdebat, jadi bisakah kamu menurut saja?"
"Itu bukan.. alasan.."
"Aku menyelamatkanmu loh, Selin, aku bahkan sudah berkata tidak berniat membunuhmu lagi. Kamu.. mau cari gara-gara?" Tanyaku mulai menyentuh kulit lehernya.
Aku pasti mencekiknya kalau dia menjawab hal yang tidak kusukai. Tidak usah hidup kalau cuma menjadi beban pikiranku. Jujur saja, aku tidak butuh orang yang sama saja dengan orang lain.
Dia menghela napas sambil menurunkan tanganku dengan lembut, "Maaf. Maafkan aku.." berbeda dengan caranya meminta maaf sebelum-sebelumnya, kali ini, dia kembali pasrah.
"Jadi kamu tidak akan mencari alasan?"
"Tidak, besok kita mampir ke tempatku ya untuk mengambil koper bajuku. Boleh'kan?"
Aku tersenyum, "Tentu saja," kuelus rambut pacarku ini dengan hati-hati, "kamu boleh memegang pipiku, Selin."
Dia melakukannya dengan cepat.
Syukurlah dia sudah mulai terbiasa dengan segala ucapanku yang merupakan perintah. Apapun yang kuinginkan, apapun yang kukatakan, selama dia menurutiku, aku rasa aku akan tenang.
Palingan jadi obsesi ini, parah kau, Shua, hati-hati, ucap Jimmy dalam pikiranku sehingga mengganggu momen romantisku.
"Shua?" Panggil Selin.
Aku fokus padanya lagi, "Ada apa?"
"Tidak, tidak.."
"Yakin? Kamu mau tanya apa? Aku tidak akan marah kok."
Tapi dia hanya bisa menunduk tidak berani memandangku. Sampai-sampai aku harus menaikkan dagunya.
Aku tersenyum padanya, "Sayang?"
"Tidak jadi, Shua."
"Oke, aku paham," kataku mencium keningnya. Di banyak situs mengatakan kalau ciuman ini pertanda rasa sayang. Tentu saja aku akan mencium dahinya sebanyak yang kusuka. Aku menyayanginya.
Aku mengelus rambutnya kembali lalu bertanya dengan lirih, "Kamu mau tidur, nonton televisi atau melihat kondisi makam belakang? Aku khawatir tanahnya ambles karena kelamaan keguyur hujan, tangan-tangannya nanti kelihatan.. oh, mungkin sudah jadi tulang.."
Dia malah membisu.
"Selin?" Panggilku seraya menepuk lembut pipinya.
"A..aku.. aku tidur."
"Oh, sebenarnya aku tidak begitu mengantuk karena tadi tidur, tapi ya sudahlah kamu tidur saja, aku mau nge-game saja.." ucapku sambil minggir sejenak untuk mengambil laptop dimeja samping ranjang. Semenjak hidup sendiri, aku punya waktu banyak untuk sekedar bermain game.
Selin mulai merebahkan dirinya, menyelimuti diri dan berbalik membelakangiku. Aku membiarkannya. Lagian aku tidak mau seseorang menggangguku bermain game. Kusandarkan punggungku, lalu kupangku laptop ini dengan bantuan bantal.
Karena aku terbiasa sendirian, maka aku sudah tidak memakai headphone atau semacamnya untuk mendengarnya efek musiknya. Malam ini waktunya menuntaskan misi perburuan Zombie. Aku suka game seperti World War Z atau bunuh-bunuh lainnya. Ada sensasi memuaskan saat melihat kepala mereka hancur.
"Shua.." panggil Selin berbalik padaku.
Mau bagaimana lagi, Volume laptopku 100%.
Dia bangun dan bersandar pada tumpukan bantal. Kelihatannya dia cukup resah sehingga tidak mau tidur. Entah gelisah atau takut aku potong urat nadinya tiba-tiba.
"Ada apa?" Tanyaku.
Dia menjawab dengan senyuman, "Tidak. Aku akan tidur barengan denganmu saja."
Aku kembali melanjutkan game-ku, "Selin Sayang, tidak perlu khawatir, aku tidak akan memutilasimu. Perasaanku sedang tenang sekarang."
"Bukan begitu," ucapnya menatapku, "aku hanya tidak mengantuk."
"Buatlah sesuatu yang hangat untuk diminum, itu akan memudahkanmu tidur."
Dia melirik keluar jendela kamarku yang kelambunya hanya setengah tertutup, "Masih hujan."
"Sayang, kita ada di dalam rumah."
"Maksudku aku takut. Suara hujan cukup menakutkan. Dapurmu juga menakutkan. Lagipula aku tidak mau minum apapun."
"Oh, kalau kusuruh, kamu menolak?"
Dia malah merengek padaku, "Shua, aku mohon, aku sungguh takut."
"Akan kubuatkan bagaimana?"
"Hah?" Dia menjadi kaget setengah mati.
Aku menaruh laptopku, "Kamu mau?"
Dia sepertinya tidak mau menjawab tidak, jadi langsung membalasku, "Boleh.."
"Kubuatkan s**u coklat untukmu," kataku kemudian sambil turun dari ranjang, "hati-hati kalau sendirian, ayahku sering kesini semasa hidupnya."
Aku pun keluar kamar.
Kudengar langkah kakinya langsung mengejarku. Lalu memanggil namaku, "Shua.. Shua.. tolong jangan tinggalkan aku!"
"Padahal aku sering bilang, tidak ada yang namanya hantu, Selin."
"Ada! Kalaupun tidak, pasti jin atau syetan atau semacamnya! Aku.. aku pernah melihat penampakannya di YouTube!"
"Kurasa aku harusnya lebih kamu takuti ketimbang hantu."
"Emmm... Aku.." dia mulai waspada dengan jarak kami.
Aku tertawa melihat reaksinya. Dia seperti ketakutan pada semua hal. Padaku? Pada hantu? Pada Elvan? Pada hujan? Apa-apaan gadis ini? Semakin lama dia semakin rusak. Tapi aku lebih suka begini, aku tidak suka kalau Selin terlalu barbar. Aku memang kasar, setidaknya pasanganku harus lembut. Itu namanya seimbang.
Kasihan juga ya, beban pikirannya tambah banyak. Makanya aku, si pacar, sedang melakukan permainan agar dia tidak bosan dan mikir melulu. Besok lusa mungkin akan dimulai sebuah permainan masa kecilku yang berjudul:
Pencarian bangkai
Dengan korban pertama:
Arvin, Tehnik Informatika, SMT 2
Shua, harusnya judulnya itu pencarian mayat, bangkai kan untuk binatang, mendadak suara Jimmy terdengar di kepalaku.
Bodoh amat, Jim, aku bukan ahli bahasa.
Juga jangan terbawa suasana, Shua, ini sedikit berbahaya loh, kau main-main dengan polisi nanti, awas kena getahnya.
Tidak masalah. Aku suka yang lengket-lengket.
Eh, dia malah tertawa mendengarku membalasnya seperti itu. Memang kalau sudah otak m***m, omongan bisa merambah kemana-mana. Kadang pikiran saudaraku itu memang kebalikan dariku.
•°•°•°•°•°•°•°•