Joselin POV
==========
Untuk pertama kalinya, aku malah tenang saat memasak di dapur ditemani Shua. Sekarang hujan petir, suaranya sangat menggangguku. Bukan hanya itu, lampu dapur rumah ini sedikit gelap. Jadinya saat seluruh jendela ditutup begini, lalu suara gemuruh terus menerus terjadi, suasana sedikit mencekam. Aku mulai takut ketiga keluarganya bangkit lalu membuka pintu belakang sini.
Apa yang kupikirkan?
Shua mulai mengomel di belakangku, "Sayang, jangan melamun, ayamnya nanti gosong loh. Kalau gosong, aku akan memaksamu memakannya sampai tulangnya. Semuanya. Oh.. sekalian sama penggorengannya.."
"Duduk saja sana.." pintaku sedikit risih dengan hembusan napasnya di telingaku. Entah hanya perasaanku atau tidak, aku mencium bau tanah di sekitarnya.
Tidak.. tidak terjadi apapun..
"Kukira kamu butuh bantuan," ucapnya mulai duduk di kursi meja makan, "begini, begini..aku anak rumah tangga loh. Aku bisa masak dan pekerjaan pembantu lainnya."
Aku melanjutkan gorenganku.
Dia kembali berkata, "Selin, aku tidak suka diacuhkan begitu."
"Iya, aku juga anak rumah tangga," balasku.
Egois, iri, tidak suka dibantah, tidak suka diacuhkan, suka seenaknya sendiri, sombong, dia paket lengkap.
"Ceritakan tentang dirimu saat masih ada di rumah kumuh itu, Selin," ucapnya membuatku muak.
Aku ingin memukulnya dengan penggorengan yang kubawa. Tapi aku tetap menahan diriku. Setelah kutaruh makan siangnya di piring, kuberikan padanya. Lalu kubalas ucapan sadisnya itu, "Aku beruntung, berkat rumah kumuh itu, aku tumbuh menjadi orang baik."
"Dengan keluarga palsu? Bagaimana perasaanmu?" Tanyanya mulai makan, sepertinya dia tidak sedang memancing emosiku.
"Seru, aku punya banyak kakak dan adik," kataku sambil duduk di depannya.
Dia memperhatikan raut wajahku, "Bohong. Oke, bagian beruntungnya jujur. Tapi bagian serunya bohong."
Tahu apa dia?
"Selin, aku sepertimu. Anggap saja begitu," ucapnya seolah membaca jalan pikiranku. Dia melanjutkan, "Aku tidak punya ibu, ayah kandungku mati saat aku masih kecil, aku lupa wajahnya bagaimana, mungkin sepertiku. Lalu aku punya kakak perempuan yang wajahnya itu seolah berkata 'Hei, bunuh aku dong'. Ya itu saja keluarga kandungku."
Aku merinding lagi...
Aku ingin bertanya lebih lanjut, tapi dia pasti tidak mau menjawabnya. Alhasil, aku hanya tersenyum tipis sambil berkata, "Oh, iya, kita sama."
"Kan, kita yatim piatu. Tinggal bersama keluarga palsu. Oh, mengerikan sekali. Setidaknya Ibu Sarah-mu baik hati. Adik-adikmu juga lumayan.. tidak membosankan. Tapi aku paham perasaanmu kok, walaupun kamu dibesarkan disana, kamu tidak pernah merasa menjadi anaknya Ibu Sarah, bukan?"
Aku terdiam.
Dia benar, maksudku dalam artian, aku hanya tidak mau menambah kesulitan ibu asuhku. Dia selalu mengasuh banyak anak. Datang dan pergi, begitu setiap tahun. Jadi aku tidak mungkin egois, sedikit-sedikit minta perhatiannya. Lagipula aku sudah lulus SMA, semua anak asuh yang sudah lulus sekolah, tidak seharusnya berada di sana lagi.
Aku memalukan..
"Kamu tahu orangtua kandungmu tidak?" Tanya Shua bernada serius.
Aku tidak pernah menceritakan hal ini kepada siapapun. Lucunya, orang yang kuberitahu ini malah seorang Joshua, "Ibu Sarah mengatakan kalau orangtuaku meninggal dunia saat insiden kapal tenggelam, saat itu aku masih bayi dan juga ikut. Tapi aku selamat karena ibu kandungku menyerahkanku pada nelayan yang membantu evakuasi. Lalu akhirnya, aku dititipkan ke rumah asuh Pertiwi. Selesai."
"Wah, baik sekali ibu kandungmu. Aku harap ibuku juga begitu.."
"Kamu berharap.."
Dia menyelaku, "Andai ibuku juga tenggelam, aku ingin ikut ke dasar laut."
Sebaiknya aku tidak mengatakan apapun.
"Bercanda, Selin Sayang," ucapnya menertawai mimik wajahku. Dia menepuk kursi di sebelah kirinya, "kemarilah, duduk di sebelahku."
Aku masih waspada.
"Aku hanya ingin makan bareng denganmu. Masa aku makan, kamu cuma diam melihatku. Aku tidak setega itu, Sayang," dia menegaskan.
"Sebenarnya aku sudah memakan roti tadi," kataku kelepasan sembari pindah tempat duduk. Aku lupa kalau orang ini tidak suka saat aku menolak ataupun memberi alasan.
Aku menoleh ke arah wajahnya yang mendadak benci lagi.
Dia melirikku sambil menyendok satu suapan untukku, "Kamu lapar 'kan? Iya'kan? Ya?"
Aku memakannya sebelum dia membuatku muak.
"Oh iya, aku berencana membuat kebun untuk kita. Besok libur'kan, ayo ikut aku belanja bunga dan alat-alat berkebun, kamu mau'kan?" Dia bertanya dengan menyunggingkan senyuman manis.
Memangnya aku punya pilihan lain selain 'iya?
"Iya, tumben kamu punya kegiatan..." Kataku terhenti karena takut menyinggungnya.
Dia menatapku senang, "Aku tahu kamu suka bunga, Selin. Mawar putih, iya'kan?"
Ngeri... Dia tahu apapun yang kusukai..
"Boleh kutahu kenapa kamu menyukainya?"
Kenapa ya?Aku tidak punya alasan spesifik, kenapa? Kurasa aku hanya suka karena cantik dan putih itu menarik. Tapi kalau ditanya dari kapan aku menyukainya, jawabannya mungkin dulu waktu aku masih di bangku selah dasar, itu bunga pertama yang menarik perhatianku.
"Selin?" Panggilnya.
"Aku hanya mengingat-ingat, aku memang suka warna putih. Dulu itu bunga yang cantik di antara bunga-bunga yang terlihat di.. dimana ya.. intinya ada banyak anak yang membawa bunga, aku juga, dan ketimbang bungaku yang berwarna ungu, aku lebih suka warna putih," Jawaku panjang lebar. Oh, aku tidak menyangka menjabarkannya sampai serius seperti ini. Padahal tadi aku hanya ingin menjawab, 'karena warna putih itu cantik'.
Dia tersenyum padaku, "Lihat, aku ini sebenarnya baik dan perhatian kalau kamu nurut padaku. Jangan kayak kemarin-kemarin, kamu seperti binatang liar. Kalau begini'kan, aku tenang. Butuh berapa Minggu ya untuk menjinakkanmu begini, setidaknya aku bisa menahan diri sehingga tubuhmu masih utuh."
Aku hanya menunduk.
"Baiklah, kamu habiskan saja, aku mengantuk. Aku ingin tidur sore. Jangan ganggu aku, jangan masuk kamarku. Kamu terserah maumu. Tapi jangan keluar rumah," perintahnya seperti aku ini budaknya saja.
Setelah mencium kepalaku, dia segera pergi meninggalkanku. Karena takut, aku segera membuang sisa makanannya, mencucinya secara kilat, lalu pergi ke ruang tamu. Setidaknya d ruangan depan adalah yang paling terang, aman dan jauh dari pintu belakang.
Sore ini, di luar gelap sekali. Hujan masih deras, udara di sekitarku juga makin lama makin dingin. Pantas saja bayi itu ingin tidur, hawanya sangat mengantukkan disini. Tapi meninggalkan seorang gadis sendirian di rumah angker sedikit berlebihan. Setiap menit aku harus mengawasi ke berbagai arah. Memang aku tidak terlalu mengenal keluarga, tapi aku mengenali wajah mereka.
Saat aku tidak sengaja melamun di meja kaca Shua, kulihat rak bawahnya banyak majalah dewasa yang bertumpuk dan berserakan. Tadinya aku tidak ingin merapikannya, malas banget. Tapi aku melihat ada pinggiran foto disela salah satu lembar majalah.
Aku mengambilnya dan melihatnya. Memang sebuah foto lama berukuran kecil yang menunjukkan keluarga Shua. Seorang pria bertubuh lumayan kekar yang jelas ayah tirinya, lalu wanita dewasa berpenampilan tomboy bersama suaminya yang perutnya sudah mirip tong.
Anehnya, bagaimana bisa mereka bertiga dibunuh dengan mudah. Apalagi pria ini, aku pernah sekali melihatnya, dia tidak jauh beda dengan di foto. Fisik ayah tiri Shua sudah mirip guru olahragaku saat SMA.
Dia kalah dengan anaknya?
Tapi yang lebih membuatku penasaran, sebenarnya kenapa dengan mereka semua? Shua sangat membenci mereka. Mungkin ayahnya jahat, tapi masa' kakak kandungnya juga dibunuh? Dia kerasukan?
Aku pun menyimpan foto itu ke dalam saku celanaku.
Drrtt...drrttt...
Ponselku bergetar. Sejak berpacaran dengan Shua, tidak ada yang berani mengirimkan pesan padaku. Tapi mendadak aku mendapat pesan w******p:
Dia mengirimkan judul buku yang kemarin ditunjukkan Shua padaku. Jelas aku penasaran, tapi sayangnya Melly tidak membalasku. Dasar sialan.
•°•°•°•°•°•°•°•°