Joshua POV
==========
Selesai juga menanam bunga mawar ini. Selin suka mawar, terutama yang warnanya putih. Jadi selepas kuliah tadi, aku segera kemari untuk menanam satu mawar. Rencanaku sih, menjadikan tanah milik pribadi ini kebun mawar.
Lahan ini berada tidak jauh dari rumahku, tepatnya hanya beberapa ratus meter dari halaman belakang rumah. Ya, tempat ini sudah dikelilingi pepohonan mangga. Dari awal keluargaku ingin membangun taman pribadi, lengkap dengan kolam yang masih kering terbengkalai di pinggirku ini. Seharusnya kalau jadi, di tempatku berdiri ini akan ada gazebo, kemudian ada banyak tanaman mawar mengelilinginya, lalu ada jalan setapak, dan kolam ikan hias.
Ah romantis..
Sayangnya sekarang masih gundul, tidak ada tanaman apapun kecuali yang sudah kutanam barusan.
"Bagaimana menurutmu, Jim? Rencanaku cukup brilian bukan? Kita akan punya taman romantis!" Ucapku sambil membuang sarung tangan berkebunku ke tong sampah.
"Jelek," jawab Jimmy malah fokus pada sarung tanganku, dia lalu memberitahuku, "Shua, aku malas sebenarnya mengingatkanmu terus.. tapi tolonglah, itu ada darahnya, Bodoh !"
Aku sudah paham maksudnya. Dari tadi aku juga melihat sarung tangan berkebunku. Tapi karena terlalu banyak kugunakan mengeruk tanah, jadinya darahnya sebagian sudah menyatu dengan gundukan bunga mawarku.
"Sudahlah, nggak ada yang kemari," kataku memperhatikan sekeliling hanyalah pohon mangga, "lagipula di sekeliling sini juga sudah ditembok, ini halaman belakang rumah kita."
"Lagian kau ini bego banget, tadi kubur aja sekalian!"
"Nanti kukuku kotor kalau tidak ada sarung tangannya..."
"Kau mau kotor-kotoran sekarang atau masuk penjara?"
"Takut banget sih, Jim?"
"Bukan takut, ini namanya belajar cerdas."
"Ya sudahlah," aku menyerah, lagipula Jimmy sudah mau bicara denganku karena kami tadi bermain bersama. Dia tidak mungkin membiarkanku dalam masalah. Pasti kalau dipancing sedikit, sifat perhatiannya padaku akan kembali muncul.
Aku mencabut pohon mawar yang sudah kutanam susah payah. Sedikit kugali lumayan dalam karena akarnya panjang sekali.
"Jadi ingat permainan kita dulu ya." kataku tersenyum.
Jimmy menjawabku dengan sedikit bergurau, "Ini sih bukan permainan."
"Tapi tetap seru'kan?"
"Shua, tapi kau yakin mau beritahu Selin tentang kita?"
"Dia kemarin ngintip punggungku, Jim."
Dia menyeringai, "Oh, nakal banget."
Aku tertawa mendengarnya, "Pengennya sih jarinya kuputus satu kemarin, tapi dia nangis lagi. Aku jadi bingung. Kenapa dia selalu menangis? Sebenarnya kenapa kau suka dengannya, Jim?"
"Entahlah, menurutku dia cantik."
"Kurasa aku juga mulai menyukainya, tapi bukan karena dia cantik. Aku bahkan tidak tahu cantik itu bagaimana?"
"Suka tapi karena apa?"
"Ah, seperti tidak paham saja, dia'kan nurut dan mendengarkanku."
Giliran dia yang menertawakan jawabanku. Saking kerasnya tawa yang dikeluarkan, aku sampai kesal. Dia jarang sekali menertawaiku. Lebih sering mengataiku karena aku mengesalkan.
"Apa? Selama ini tidak ada yang mendengarkanku, wajar aku suka melihat orang yang dengan tenang duduk dan menuruti perintahku," kataku kemudian.
Tapi Jimmy masih menahan tawa kepadaku, "Oke, terserah kau sajalah ya, cepet kuburan itu barang bukti."
Aku sudah sampai di ujung akar juga rambut seseorang. Segera saja kutaruh sarung tangan di atasnya, lalu kupendam kembali bersama bunga mawarku. Dengan begini tujuanku selesai dan Jimmy tidak akan ngomel seperti emak-emak kembali.
"Selesai'kan?" Tanyaku.
"Beres, begini dong, kita ini bermainnya selalu bersih, Shua. Jangan menyusahkanku, walaupun aku saudara kembarmu, aku tetap lebih tua," jawabnya tersenyum.
"Ya, kakak Jimmy Putra Hadinata."
Dia tertawa lagi, "Ingat ya, jangan membentakku lagi. Aku benci dibentak, apalagi olehmu. Kau tidak akan bisa mengendalikan dirimu jika aku tidak ada."
"Aku tahu, aku tahu."
Dia menyeringai padaku.
Tetap saja ada yang mengganjal pikiranku, "Tapi masa iya kepala orang mengandung nutrisi?"
"Kau tahu tidak kenapa kuburan tanamannya subur?"
"Oh.." aku paham, "Oh begitu.."
"Nah, jangan salah, mereka yang mati memberikan kehidupan untuk tumbuhan ini. Jadi anggap saja pengganti pupuk."
Aku tersenyum mencium bunga mawar yang hampir setinggi dadaku ini. Setidaknya beberapa Minggu lagi, tumbuhan ini akan mulai bercabang dan berbunga. Semoga saja aku tidak malas merawat.
"Aku harap Selin tidak tahu ya," kataku.
"Kasih tahu aja, biar histeris kayak dulu waktu kita bunuh kakak ipar sialan itu."
"Oh, apa ini? Nostalgia?"
"Sudahlah, Shua, mendung ini. Mending pulang ya, pacar kita sedang menunggu di luar rumah."
"Darimana kau tahu?"
"Dia'kan penakut. Menebak isi pikiran orang sepertinya itu mudah' kan?"
"Oh iya, sebaiknya kita tidak perlu banyak mengobrol di depan Selin. Catatan ponselnya banyak sekali melakukan kontak dengan psikiater. Dia pikir kita gila. Aku'kan pengen ketawa terus jadinya."
"Ah, benar, kita bicara secara rahasia seperti biasa."
Kami selalu mengobrol di dalam pikiran kalau sedang merencanakan sesuatu atau berada di sekeliling banyak orang. Walaupun aku urakan, aku tidak mau dianggap gila karena bicara sendiri. Nanti mereka kira aku bicara dengan syetan.
Haha, tawa Jimmy memenuhi kepalaku. Dia ini selalu tahu jalan pikiranku. Apa yang kudengar, apa yang kulihat, apa yang kurasakan, apapun, hanya dia yang memahaminya.
Aku berjalan santai menyusuri jalan setapak menuju pintu belakang rumahku. Semakin mendekati halaman, maksudku pemakaman liarku, semakin terlihat semak belukar. Sebenarnya disini itu harusnya tidak aman, banyak ularnya. Hanya saja semenjak tinggal disini, aku dan ayahku dulu sering membantai mereka. Jadi entah masih ramai atau tidak. Sejauh ini, aku tidak pernah melihatnya. Pacarku sering mengintaiku di sekitar, dia tidak tahu kalau tempat ini sarang ular.
Kulihat makam tiga anggota keluargaku sudah mulai menyusut. Baguslah, sebentar lagi juga hujan. Air akan membuat permukaan tanahnya merata dengan cepat. Disini juga mulai berumput. Jimmy benar, manusia memang nutrisi bagi tumbuhan.
Sebelum aku membuka pintu rumah, aku melirik sekilas mereka bertiga. Aku sedih sekali mereka mati. Aku ingin mereka bangkit kembali, hidup bersamaku.
"Dengan begitu bisa kubunuh lagi! yeeahh!!" Kataku menyoraki ucapanku sendiri sambil masuk rumah. Dulu mereka kubunuh secara spontan. Tentu saja aku menyesal membunuh orang secara tiba-tiba. Harusnya dulu kusekap dulu.
"Hei.. kendalikan dirimu.." bisik Jimmy.
Aku tersenyum padanya, "Iya, iya, aku tidak akan menggila kok. Hanya saja sensasi saat melewati kuburan mereka, rasanya terbakar, seolah-olah aku tidak bisa mengendalikan seluruh iblis dalam tubuhku. Ah, senangnya kalau mereka hidup lagi."
"Shua!" Panggil Jimmy mulai risih.
"Oh, maaf, maaf, kakak Jimmy."
Aku paham. Kalau terlalu mengingat ini dan itu, aku akan menggila kembali. Aku pernah sekali saja, kelepasan merasakan sesaknya pikiranku. Saat aku tidur, aku seolah ditelan 'sesuatu'. Kata Jimmy, itu adalah ambang batas kesadaranku sebagai Joshua. Kalau aku melewati kegilaan itu, artinya aku benar-benar akan dikuasai 'jiwa' yang sedang mengantri di dalam diriku.
Oh, tapi aku bersungguh-sungguh, aku tidak gila. Aku sedang menahan diri agar tidak gila. Jimmy selalu menarikku agar tetap sadar bahwa aku ini Joshua.
Syukurlah, saat kamj sedang berjalan mendekati pintu depan rumah, aku melihat Selin yang duduk di kursi teras. Hatiku jadi tenang melihatnya.
"Selin? Ngapain kamu disini?" Sapaku saat kubuka pintu rumah, "rumah ini tidak pernah dikunci, kenapa kamu tidak masuk?"
"Aku takut," sahutnya ragu-ragu.
"Ayo masuklah," pintaku sambil menunjuk langit yang sudah gelap sekali, rintik hujan sudah mulai terjadi.
Semoga bunga mawarku tambah subur..
"Shua.." dia berdiri dan masih bimbang saat ingin melangkah masuk ke rumah.
Aku meyakinkannya, "Sayang, aku tidak akan menunjukkan mata pisau kalau kamu tidak rewel. Kamu tahu, aku ini gampang pusing."
Dia akhirnya mengikutiku masuk. Ribet sekali, padahal juga sudah terbiasa berada disini.
Aku mulai tersenyum padanya saat pintu rumahku sudah ku tutup. Lalu mengingatkannya pada sesuatu, "Bukankah tadi kamu kusuruh menyiapkan makanan? Karena kamu tidak melakukan perintahku, apa yang harus kulakukan?"
Oh, tidak, dia lupa.
Wajahnya langsung ketakutan. Beneran lupa ternyata. Perasaan takut berlebih memang membuat seseorang menjadi pelupa.
Kalau dia kuikat, nanti siapa yang masak?
Jimmy sudah mulai resah karena aku berniat memaafkannya begitu saja. Dia sangat suka melihat Selin menderita. Aku suka juga, tapi perutku sudah berteriak.
"Maaf, Jim, main-main hukumannya istirahat dulu, aku lemah saat lapar," bisikku untuk Jimmy yang mulai kesal di kepalaku.
Selin mulai waspada karena mendengarku memanggil Jimmy, "Shua.."
"Cepat buatkan aku sesuatu," perintahku.
Kilat mulai terlihat menyambar-nyambar, sementara petir mulai terdengar menggelegar di telingaku. Lalu dilanjutkan oleh hujan deras. Padahal ini masih siang, mendadak rumahku jadi petang begini.
Selin melihat keluar jendela dengan wajah ketakutan. Saat aku meliriknya, dia mulai sadar dan berlari ke dapur tanpa mengatakan apapun.
Mungkin dia juga takut halilintar. Banyak banget ketakutannya?
"Mungkin semacam trauma, pandangan matanya sama persis seperti kau saat melihat ayah biadabmu itu," sindir Jimmy menertawaiku.
"Omong kosong," balasku.
•°•°•°•°•°•°•°