•Part 14•

1066 Kata
Joselin POV ========== Memangnya aku punya pilihan? Aku harus kembali berkuliah dan sebisa mungkin memperhatikan setiap wajah di sekitarku. Ini paranoid. Aku tahu, malahan semakin kupikir, aku juga butuh bantuan psikiater. Dalam pikiranku, jika seandainya seorang Shua, Joshua sialan itu, tidak datang, siapa yang akan menolongku? Tidak ada. Aku tidak percaya Elvan punya pemikiran seperti ini. Gavin yang biasanya berpikir realistis juga ikut mendukungnya. Lalu siapa wajah-wajah yang tidak kukenal itu. Tatapan mereka tidak mau kuingat. Tapi selalu muncul! Mereka lebih buruk ketimbang Shua yang menggila dengan membawa pisau. Arrrghhh!! Shua menepuk pundakku, "Selin Sayang, ada aku, nanti kalau kamu diculik, santai saja ya, ponsel kamu dari awal sudah kupasang pelacak. Jadi nanti kamu langsung pulang saja, kalau kulihat rute perjalananmu bukan ke rumahku.." memberikanku senyuman manis, "kamu yang kukejar. Akibatnya sudah paham'kan?" Selalu saja mengancam... Kami berjalan memasuki gedung fakultas yang sudah ramai mahasiswa kelas pagi lainnya. Seperti biasa, mereka memperhatikan kami. Bukannya menyapa, palingan mereka menyebarkan gosip lagi. Tunggu sampai mereka tahu aku pulang ke rumah Shua. "Nanti, aku akan pulang telat, jadi pastikan membuatkan makanan untukku banyak sekali. Aku rasa sepulang nanti, aku lapar sekali," kata Shua kembali. Apa maksudnya? Aku tidak sengaja bertanya, "Kamu mau kemana?" "Bekerja," jawabnya dengan senyuman. Lebih baik aku tidak bertanya lebih lanjut. Satu-satunya hal yang kutahu kalau dia bilang bekerja, pekerjaannya'kan cuma itu. Aku tidak iingin ikut campur urusan kriminalnya lagi. Walaupun ini memuakkan, tapi aku sadar dia melindungiku. Dia mulai mengingatkanku pada rutinitas kami saat sudah berada di lantai dua, "Selin sayang, mana perlakuan manismu?" Aku tersenyum dan melingkarkan tanganku pada lengannya. Banyak mahasiswa lain artinya banyak tingkah romantis. Saking seringnya melakukan ini, aku sampai terlalu terbiasa sekarang. "Kayaknya banyak yang iri dengan kita sejak kusebar banner di Website kampus tentang kedekatan kita, kita memang cocok ya, nama kita saja seperti sudah ditakdirkan bersama, serasi, Joshua dan Joselin," katanya sengaja dikeraskan agar didengar. "Ya, Sayang," sahutku. Meskipun sudah terbiasa, lidahku terasa mengering setiap kali memanggilnya 'Sayang'. Aku tidak boleh menentang, tidak boleh, tidak boleh. Saat sudah di ambang pintu kelasku, aku langsung membelai pipinya sambil berpesan, "Sampai nanti, aku menyayangimu." Dia menatapku lama. Tidak biasanya. Tatapan matanya juga seakan melunak padaku. Kurasa aktingnya terlalu berlebihan. Anehnya, dia malah mencium punggung tangan kananku. Bahkan Elvan tidak pernah bersikap over-romantis di depan publik sampai seperti ini. "Aku sangat menyukaimu.." ungkapnya sedikit membuatku gerah kembali. Caranya mengatakan itu sama persis seperti kemarin. Ada perasaan ragu-ragu dalam diriku. Dia seperti bukan Shua. "Shua, tolong lepaskan tanganku," bisikku saat kulihat teman sekelasku mulai risih memperhatikan adegan sinetron ini. "Oke, sampai nanti!" Ucapnya dengan riang. Lalu pergi meninggalkanku untuk keluar gedung menuju fakultasnya kembali. Seperti biasa, sikapnya menjadi arogan, main dorong siapapun yang berdiri menghalanginya berjalan. Bahkan kudengar dia membentak sana-sini. "APA LIHAT-LIHAT!!" Suaranya masih terdengar di telingaku meskipun aku sudah masuk kelas. Aku langsung duduk di kursi paling depan yang kosong. Kurang lima menit mata kuliah pertama dimulai, tapi memang untuk kasusku, lebih baik terlambat ketimbang datang kepagian. Oke, mereka mulai membicarakanku ya.. Lalu ada yang berani mengajakku bicara, "Sel, bener itu kemarin ada pesta, kamu diundang? Terus--terus gimana? Kudengar pacarmu mukulin Elvan ya?" Siapa lagi kalau bukan temanku, Melly. Dari semua yang ada disini, hanya dia yang terang-terangan memusuhiku. Kalau tidak begini, bukan kelas namanya. Aku menoleh, semuanya menunggu jawabanku. Kalau mengingat sikap Shua yang barbar, pasti berita yang menyebar seperti itu. Tapi mendengar nama 'Elvan' membuatku nyaris gemetaran lagi. Aku menghela napas untuk menenangkan diri. Lalu kujawab, "Shua dipukul, jadi itu pertahanan diri." "Oh, begitu ceritanya. Memang kalau cerita dari sudut pandang orang waras dan orang gila itu beda ya, orang-orang waras kemarin bilangnya begitu soalnya, maaf ya Selin.." sindirnya tertawa diikuti beberapa temanku yang lain. Sementara sebagian memalingkan wajahnya saat kulirik. Aku membalikkan badan. Kalau kuladenj, sudah pasti lebih parah sindirannya. Syukurlah aku tidak mudah diprovokasi. Dia dekat dengan Gavin dan seniorku yang lain, tentu saja dia pasti membela mereka. Lagipula siapa aku di matanya? Gadis matre yang mencampakkan seseorang di muka umum. Oke, orang waras akan membenciku setengah mati. Kalau aku orang terkenal, sudah pasti aku juga akan di-bully di dunia maya. Mereka cuma berani menyindirku disini karena tidak ada Shua. Ya, mereka takut Shua. Itulah sebabnya, aku hanya dipandang benci tapi tidak berani terang-terangan menghina. Tapi karena ini juga, aku hampir mengalami hal yang mengerikan. Tadinya sepulang kuliah ini, aku ingin mengunjungi beberapa alamat psikiater yang kutemukan di situs internet. Namun, ancaman Shua terus terngiang di kepalaku. Tetap siapa yang mau sendirian di sebuah rumah bekas pembunuhan, sedangkan dia tidak tentu pulang kapan. Apa yang harus kulakukan? Apa kutaruh saja ponselku di rumah sedangkan aku pergi? Tapi kalau ketahuan.. Aku berdiam diri di kelas sampai semua teman sekelasku pergi. Mereka berpikir aku sedang menunggu Shua menjemput. Bahkan Melly menyempatkan diri melemparkan sebuah remasan kertas padaku. Saat kubuka, ada tulisan tangannya yang berbunyi: ° Nih, hubungin kalau butuh uang, Om siap membantu 021××××××× ° Oke, dia semakin hari semakin merendahkanku. Aku tidak tahan diperlakukan seperti ini. Aku sangat ingin membalasnya. Tapi masalah dengan Shua saja belum selesai, pikiranku tentang Elvan juga belum hilang, apa aku harus merespon ini juga? Setelah membuang kertas ini, aku segera pergi keluar. Mungkin lebih baik aku berdiam diri di kursi teras rumah Shua saja sampai dia pulang. Walaupun kawasan rumahnya itu jalanan sepi, setidaknya pasti ada yang lewat kalau masih siang. Saat aku berjalan keluar gedung, beberapa mahasiswa masih nongkrong di taman. Aku masih waspada dengan sekitarku. Kalau orang-orang kemarin berani mendekatiku lagi, aku akan berlari ke kantor polisi saat ini juga. Untungnya, aku berjalan melewati jalan setapak menuju gerbang keluar kampus tanpa ada yang mengikuti ataupun memperhatikanku. Hingga kemudian ada dua mahasiswi melewatiku sambil mengobrolkan sesuatu yang cukup mencuri perhatianku. "Kak Gavin bisa datang lusa?" "Tadi kutanyakan sih bisa." "Terus si Arvin?" "Dia tadi ngga jawab, dia malah buru-buru keluar kelas sambil ketakutan, diam di kamar mandi ngga keluar-keluar, serem banget." Nama Gavin jelas hanya satu kemungkinan di kampus ini. Sudah pasti dia. Aku melihat kemana-mana untuk memastikan dia tidak ada. Mungkin saja kedua mahasiswi ini temannya. Mulai sekarang aku harus membawa semprotan cabe atau Stun gun. Tapi nanti Shua berpikir itu untuk melawannya lagi. Ya, aku pernah menyemprotnya dengan larutan cabe, dia malah kegirangan padahal matanya pedih. Akibatnya dia merantaiku berjam-jam. Aku tidak mau.. °•°•°•°•°•°•°•°•°•°
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN