•Part 13•

1021 Kata
Joshua POV ========== Selin ada di rumahku. Sebenarnya aku tidak mau diganggu siapapun, tapi rasanya aku juga tidak mau sendirian, maksudku kesepian. Aku ingin seseorang dekat denganku, bicara denganku sekarang juga. Jadi setelah makan malam, aku memaksa pacarku berada di posisi seperti kemarin. Oh, kusuruh dia duduk di kasurku, sedangkan aku menjadikan pahanya bantal. Lalu dia harus membelai rambutku sepanjang malam nanti. Aku akan sadar kalau dia berhenti melakukannya. Tubuhku ini sensitif saat ada atau tidak adanya sentuhan. "Kamu akan menemaniku'kan, Selin Sayang?" Tanyaku sambil mengelus lututnya yang masih terbalut celana hitam. "I..iya," dia ragu-ragu. Seperti kemarin juga, sentuhannya pada rambutku seperti melayang. Apa dia setakut itu padaku? Padahal aku tidak akan melakukan apapun. Tepatnya, aku sedang tidak ada keinginan. Ada saat dimana aku sangat suka melakukan sesuatu, ada saat aku senang menginjak tubuh orang seperti kemarin, ada saat aku merasa merenungi alasanku masih hidup. Masih belum kutemukan. Jadinya sekarang, aku mencurahkan isi hati pada Selin, "Aku tidak tahu apa yang sedang kupikirkan sekarang, Sayang. Tolong usir perasaan gundahku." Dia malah bertanya, "Kamu masih belum mau menceritakan apa yang terjadi padamu?" "Tidak ada apa-apa, Jimmy mendengarku.. hanya saja dia malas bicara denganku.." "Maksudku, apa yang sebenarnya keluargamu lakukan padamu sampai kamu seperti ini?" dia berani memotong perkataanku. "Selin, aku hanya bicara apa yang ingin aku katakan, kamu tidak perlu bertanya," tegasku sambil meliriknya sekilas. Aku bisa merasakan ketakutannya saat mata kami bertemu. Tapi, benar juga, ini bisa jadi permainan. Aku dan Jimmy sangat suka permainan. Saat kami masih anak-anak, kami terbiasa menyembunyikan bangkai binatang peliharaan teman-teman sekolah kami, membuat mereka menangis berhari-hari, mencarinya kemanapun, tapi pada akhirnya hanya kami yang tahu kuburannya. Itu sih saat kami kecil, kalau sudah dewasa begini, bukankah ada yang lebih seru? Pikiranku dipenuhi ide-ide brilian, senyumanku juga baru saja terbentuk, sayangnya sentuhan tangan Selin membuat semuanya buyar. Dia malah menarik kerah kemejaku seolah ingin mengintip lebih jauh. Mungkin dia melihat sesuatu di area punggungku. Suaranya menjadi serius, "Shua.. kenapa dengan.." Aku bangun sambil menyambar pergelangan tangannya dan membentaknya, "Sudah kubilang berkali-kali! Jangan menyentuhku!" Dia mulai kesakitan. Suaranya mulai berubah panik, "Aku hanya.. aku hanya..." Aku memang berniat mematahkan tangannya. "Shua.. Shua!" Panggilnya sambil memberikanku tatapan serius. Dia benar-benar antara ketakutan dan marah padaku. Aku melepaskannya, "Jangan menyentuh bagian tubuhku kalau tidak kusuruh, sentuh rambutku, hanya rambutku.. paham?" Dia mengangguk lemas. "Apapun yang kamu lihat, lupakan. Jangan pernah berusaha mengintipku lagi," pintaku sambil kembali tiduran di pahanya lagi. Aku menambahkan, "Aku akan sadar kalau kamu berani menyentuhku lagi." "Maaf, aku hanya cemas tadi," ucapnya kembali mengelus rambutku. Hah? "Kamu cemas padaku?" Heranku, "Hah? Aku berkali-kali berusaha mencelakaimu loh.." Tentu saja itu konyol.. Ia menegaskan, "Shua, aku tidak sepertimu, Oke. Aku masih punya hati." "Kamu benar, Selin Sayang, saking kosongnya hatiku, setiap hari aku hanya merasakan hampa," balasku bernada gurauan. Walaupun kenyataannya aku serius. Karena dia berkata jujur, aku tidak akan marah mendengar ucapan jahat barusan. Tapi pasti dia berpikir buruk setelah melihat sesuatu tadi. Padahal dia hanya melihatnya sedikit, pandangan apa yang akan dia berikan padaku saat melihat seluruh tubuhku? Ah, Selin Sayang terlalu lunak.. "Kamu baik-baik saja'kan?" Tanya Selin sedikit membuatku tenang. Itu adalah pertanyaan pertama yang kudengar seumur hidupku. Serius. Baru kali ini ada yang bertanya keadaanku. Wah, rasanya aneh saat orang bertanya keadaanku.. Kalau boleh jujur, aku tidak pernah merasa baik. Tapi Jimmy benci saat aku memeliharanya sisi lemahku. Seperti sekarang, sedang dalam pangkuan seseorang. Mau bagaimana lagi, aku nyaman begini. "Aku baik," jawabku. Karena dia masih diam, aku bertanya, "Kamu besok kuliah'kan? Bersamaku? Kita berangkat seperti biasa?" "I..iya." "Bagus. Sekarang aku tidak akan kesepian lagi." "Kenapa..kenapa kau.. tidak ikut kegiatan mahasiswa saja jika kamu kesepian.." tanya gadis ini dengan terbata-bata. Mungkin dia sedikit tertekan bertanya hal semacam itu pada orang sepertiku. "Tidak ada yang menyukai kehadiranku. Malahan aku takut jika melakukan kekerasan pada mereka. Kamu sadar'kan kalau seluruh kegiatan kahasiswa itu pasti diisi oleh mereka yang punya karakteristik berbeda dariku? Seingatku aku mendapat surat peringatan keras karena terlalu sering skorsing." "Kamu terlalu banyak di-skors, Shua. Perbaikilah sikapmu, kamu tidak perlu menghajar orang hanya karena itu padanya, Shua. Setiap orang punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Maaf jika ucapanku menyinggungmu.. aku hanya.." Kusanggah ocehannya yang sok suci itu, "Selin-ku sudah berubah? Bukankah kamu inginnya aku masuk penjara? Kalau aku baik, nanti keinginanmu tidak terkabul dong?" Dia membisu. "Oh, apa karena aku menyelamatkanmu, kamu sedikit memberikanku kepercayaan?" Tanyaku sambil tersenyum. Tentu saja aku tersenyum pada kebodohan gadis yang dulunya selalu membuatku marah. "Aku berterima kasih karena sudah menyelamatkanku.." "Apa aku.. tidak kamu salahkan? Karenaku, kamu dibenci'kan?" "Aku tidak terlalu suka menyalahkan orang. Apalagi jika itu kamu. Kalau aku marah padamu, pasti kamu akan menancapkan pisaumu ke leherku'kan?" Aku tertawa mendengar ucapannya yang sedikit berani kepadaku. Rasanya seperti mendengar suara Selin yang kukenal. Dia pasti sedang diliputi kebimbangan karena sikapku. Dia menambahkan dengan nada sendu, "Aku sungguh berterimakasih, Shua." Mendadak aku merasa pelipisku kejatuhan tetesan air. Saat aku mendongak, kulihat dia sedang menangis. Tertawaan otomatis lenyap dari bibirku. Aku sering melihatnya menangis, tapi kali ini lagi-lagi ada perasaan aneh menggeliat dalam dadaku. Jangan membuatku merasa aneh begini! "Kenapa kamu menangis? Aku tidak melukaimu'kan?" Tanyaku sambil bangun kembali dan memperhatikan raut wajahnya yang semakin sedih. Dia mengusap air matanya, "Tidak apa-apa. Aku hanya merasa takut membayangkan kalau kamu tidak datang waktu itu," ia mendekap dirinya sendiri dan kulihat gemetaran sedikit. Kenapa dia sangat takut begitu? "Jangan khawatir, itu'kan tidak terjadi," kataku mengerutkan dahi. Berlebihan sekali. Napasnya menjadi tidak karuhan menurutku. Dia kemudian tersenyum palsu padaku dan mengangguk, "Iya. Aku hanya takut saat melihat wajah mereka lagi di kampus. Aku..aku takut. Aku masih tidak percaya Elvan.." Mungkin dari tadi dia memang memikirkan hal itu. Melihatnya yang ketakutan begitu, aku jadi penasaran satu hal. Sebenarnya aku tidak peduli juga. Tapi semakin kulihat dirinya, semakin aku ingin tahu. "Kamu masih Virgin ya?" Tanyaku. Dia mengangguk. "Oh.." Oh, begitu.. "Sekalipun tidak, aku tidak mau!" Dia menatapku dengan takut. Entah mengapa, pandangan itu seolah lebih takut pada gengnya Elvan ketimbang padaku. "Kamu lebih takut diapa-apain Elvan Dkk daripada kubunuh?" Tanyaku menyelidik. "Tentu saja!" Dia mulai gemetaran lagi, "aku mau.. aku harus pindah kampus mungkin.. aku.. aku.. melaporkan mereka ke polisi atau.." Aku menyelanya, "Santai saja." Dia memberikanku pandangan takut, "Shua, mereka.." lalu menutupi wajahnya karena mungkin terlalu bingung. Tanganku bereaksi sendiri dengan mendekapnya. Seperti yang kulakukan kemarin itu. Aku benar-benar sedang melakukan hal yang biasa dilakukan oleh seorang pasangan. Aku merasa jijik saat membelai rambutnya begini. Tapi kalau tidak kulakukan, dadaku menjadi sesak. Padahal aku yang ingin ditenangkan, kenapa aku yang malah menenangkannya malam ini? Ah, Selin harus diperbaiki. Aku merasa dia sedikit rusak... •°•°•°•°•°•°•°•°
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN