•Part 12•

1004 Kata
Joselin POV ========== Aku berdiam diri di rumah asuh ibuku selama beberapa hari. Rasanya aku tidur, tidak ingin kuliah untuk sementara dan sampai dipecat oleh toko tempatku bekerja sampingan. Pikiranku masih belum bisa menyingkirkan tatapan mereka, tawa mereka, lalu pergelangan tanganku juga masih sakit. Entahlah, ini sungguh mengerikan ketimbang perlakuan Shua. Mereka serius ingin melakukan sesuatu padaku. Bahkan Shua yang selalu berkata kasar padaku tidak berniat sama sekali melakukan hal senonoh. Tubuhku terus gemetaran, aku menderita insomnia selama beberapa hari belakangan. Ibuku sampai berusaha berbicara denganku. Dia mengetuk pintu kamar ini sambil bertanya, "Selin? Kamu makannya makin tidak teratur loh. Makan siang dulu, sudah hampir jam tiga sore ini." "Aku tidak lapar," sahutku menyembunyikan diri di balik selimut. Sebenarnya aku tahu ini egois, kamar ini sudah bukan milikku. Karena aku tinggal disini, adikku jadi ngungsi. Tapi kalau aku pulang ke kostan, aku takut dihampiri Elvan dan Gavin. "Ini ada Joshua mampir." Shua? Kenapa dia kesini lagi? Aku tidak mau bangun dari sini, tapi aku sadar dengan siapa tengah menjalin hubungan. Lebih baik keluar menemuinya. Dia sedang duduk santai di ruang tamu dengan membawa banyak sekali kantong belanjaan. Dari mulai kantong plastik, kertas, ataupun kulihat ada yang memiliki brand. "Sayang, kamu sedih kok tidak kelar-kelar, bolos melulu, lebay banget," katanya tersenyum padaku. Lalu menunjukkan barang belanjaannya, "ini, kubelikan semua untukmu." Ibuku terlihat menahan senyum, "Kamu dibelikan burger tuh, makan dulu sana, ibu mau ke belakang ya." Setelah ibu pergi, aku duduk di sebelah Shua. Pandangan mataku tidak bisa lepas dari tumpukan belanjaan di meja ini. Aku kemudian melirik Shua, "Apa-apaan ini?" Shua memberikan kardus burger padaku, "Makanlah dulu. Kata Ibu Sarah, kamu tidak rutin makan beberapa hari ini." Aku menerimanya, "Aku.." "Karena kamu sedih, aku jadi masak sendiri, sendirian, kesepian, Jimmy pun hanya sesekali menjawab ucapanku. Menyebalkan sekali." "Lalu apa ini?" Tanyaku sambil mengintip ke dalam salah satu kantong plastik, ternyata baju, "Baju?" "Iya," jawab Shua menunjukkan semua belanjaannya padaku. Dari mulai sepatu branded, tas, baju-baju, celana, bahkan rok pendek, aksesoris seperti gelang dan gantungan kunci, lalu beberapa novel keluaran terbaru. "Aku membaca tips dari internet, jika cewek menangis atau bersedih berikan barang-barang ini," lanjutnya. Aku tersenyum padanya. Mungkin dia ini hanya kesepian. Aku jadi percaya kalau sebenarnya dia itu ada kemungkinan baik. Semenjak tidak bicara dengan Jimmy, kurasa dia lebih tenang. Tapi tentu saja aku masih tidak boleh berpikir bahwa dia akan seperti ini terus. Kewaspadaanku turun sedikit bisa membahayakanku ataupun keluargaku. Jujur, aku tidak mau menerima barang-barang ini. Aku yakin uangnya berasal dari tindakan kejahatan. Tapi kalau aku menolaknya dan menasehatinya seperti kemarin-kemarin, dia pasti memberikanku tatapan jahat lagi. "Terima kasih," ucapku sambil mulai memakan burger darinya. Harus kumakan, harus kulakukan apapun keinginannya agar terus tersenyum seperti ini. Dia kelihatan puas sambil mengelus rambutku dengan lembut, "Aku benar-benar senang melihatmu nurut, Selin. Selama ini tidak ada yang menuruti ucapanku." Karena kamu egois.. "Mikirin apa sih? Ngga suka ya sama pemberianku? Kenapa kok tidak langsung melihatnya?" Tanya Shua mulai curiga aku masih diam saja. "Aku suka," jawabku sontak mengambil satu kemeja yang berada di salah satu kantong belanja. Warnanya biru muda kesukaanku, ukurannya juga cocok denganku. Aku mulai memperhatikan seluruh belanjaannya yang ternyata dominan warna biru, bahkan sepatunya juga hitam dengan garis biru. Kenapa dia sangat mengerti seleraku? Aku memandanginya dengan heran. Dia malah tersenyum, "Kamu suka'kan? Aku ini penggemarmu kok, tenang saja. Aku akan tahu apapun tentangmu dengan mudah." "Sekali lagi terima kasih." "Maukah kamu memakainya besok ke kampus. Kuliah dong, Selin Sayang. Aku kesepian tahu. Rasanya ke kampus itu isinya patung semua." Kampus.. aku mulai khawatir dengan keselamatan kami.. "Shua, apa mereka tidak mengganggumu?" Tanyaku serius. "Tenang, mereka pura-pura tidak tahu. Semua yang datang ke pesta juga tidak tahu ada insiden ini, Sayang. Semua baik-baik saja. Kalau mereka berniat melaporkanku ke polisi karena tindak kekerasan, maka aku akan melaporkan mereka dengan tindak asusila pada kekasihku tercinta. Maafkan aku membuatmu dibenci sampai seperti ini." jawabnya seraya membelai pipiku. "Entah kenapa aku mulai menyukaimu," tambahnya sedikit menakutiku. Dia sadar'kan? dia Shua'kan? Aku takut kalau dia sedang berhalusinasi kembali.. "Aku menyadari ucapanmu kemarin-kemarin itu, mungkin kamu benar, aku kesepian. Walaupun aku bersama siapapun, aku tetap merasa hampa. Keinginanku membunuhmu perlahan sirna sekarang," kata Shua menatapku dengan sedih, "ke rumah, ke kampus, kemana-mana, sendirian.. kamu tidak ada dimana-mana.. rasanya aneh." Pasti ini hanya karena dia tidak bicara dengan Jimmy.. "Shua.." panggilku menurunkan tangannya, "aku akan mendengarkanmu kalau kamu ingin bicara sesuatu. Kamu terlalu memendam masalah sehingga menjadi seperti ini. Aku.. aku merasa kamu hanya tidak percaya siapapun selama ini.. ini bukan karena kamu menyukaiku, tapi kamu sudah membuka hatimu untuk bicara denganku." "Aku akan lebih sering kesini kalau begitu.." katanya. "Sebenarnya aku masih bingung, aku tidak mau tinggal disini. Tapi aku takut sendirian di tempatku." "Tinggallah di rumahku, aku punya kamar lain, bekas kamar kakakku, kalau kamu mau ke kamar itu sih. Tenang saja, tidak ada yang namanya hantu." "Tapi.." "Aku bukan Elvan atau Gavin, Sayang. Aku tidak suka menghukum gadis cantik sepertimu di atas ranjang.. Aku lebih suka kejar-kejaran." Tidak mungkin, aku tidak mau tinggal dengannya.. Aku menggelengkan kepala, "Maaf, aku tidak.." kuhentikan ucapanku karena dia mulai melototiku. Dia menampakkan raut wajah marah, kecewa sekaligus tidak percaya kembali padaku. "Shua.. aku hanya tidak mau pisau dapurmu mengarah ke.." tambahku harus kuhentikan juga karena tangannya mulai mengepal seolah berniat mencekikku. Ya Tuhan, aku tidak tahu sebenarnya kemana lagi aku merasa aman? "Iya, aku lebih baik ke rumahmu.." kataku menyerah. Dia menjadi tersenyum kembali. Serius, dia seperti anak kecil yang kalau tidak dituruti pasti akan memberontak. Lalu setelah di-iya-i langsung sumringah begini. "Bagus! Dari awal aku ingin mengajakmu kembali ke rumah! Lalu kita bisa tinggal berdua seterusnya! dan hal-hal lainnya." Mungkin aku harus mulai mencari nomor seorang psikiater. Kalau memang Shua tidak mau berhadapan dengan dunia medis. Setidaknya aku ingin konsultasi menghadapi orang sepertinya. Aku khawatir dengan kondisi kejiwaannya. "Tenang saja masalah pisaunya, aku tidak akan melukaimu," bisiknya padaku, jeda sesaat dan menambahkan dengan tegas, "kalau nurut denganku. Sungguh, jadi jangan takut apapun, aku ini bukan orang jahat kalau menyangkut tentangmu." °°°°°°
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN