•Part 11•

759 Kata
Joshua POV ========== Aku menjejak punggung Elvan yang sudah ambruk di lantai, "Aduh! Sakit banget bego!" Dia kira kepalanya dipukul itu tidak sakit apa. Untung tidak ada yang melihat perlakuanku pada si sialan dan temannya yang sok bijak ini. Mereka berusaha membiusku sekarang malah tepar di atas lantai berdua. Tapi ngomong-ngomong, mereka sedang menyandera Selinku. Aku harus segera menghampirinya atau dia akan di-anu banyak orang. Harusnya tidak masalah, tapi aku merasa marah sekarang. Aku tidak pernah marah pada hal seperti ini sebelumnya. Apa karena tadi aku berusaha dibuat pingsan? Dia kira siapa aku? Aku kebal obat bius seperti itu, ayahku terbiasa membiusku! Tapi rasanya tetap sakit kalau tengkorak dipukul pakai tongkat bisbol begini, Sialan! Kalau saja tidak ada hukuman setelah membunuh, sudah kupecahkan kepalanya tadi. Kalau dia melakukannya lagi, akan kuhajar sampai mati di tempat sepi. Kukubur sekalian. Sekarang Selin.. Tongkat bisbol di tanganku ini sudah cukup untuk sekedar mengatasi bocah-bocah berandalan yang beraninya main ramai-ramai itu. Berani sekali menyentuh pacarku. Aku membuka pintu kamar yang kudengar ada suara berisik tadi. Instingku mengatakan kalau ada gadis cantik membutuhkan pertolongan. Ya, maka pangeran ini datang. "Selin, pangeran Shua datang!" Seruku sambil masuk ke kamar itu. Oh, Selinku sedang terikat dengan lima laki-laki melingkarinya. Mereka sudah siap main, aku pernah melihat adegan ini di situs porno. "Hayo, hayo, kalian mau ngapain pacarku?" Tanyaku sambil menghancurkan lampu meja dengan tongkat bisbol di tanganku ini. Kuberikan mereka senyuman semanis mungkin untuk mengurangi ketegangan. Mereka mulai waspada dan bersiap mengambil apapun untuk menyerangku. Tapi kebanyakan ketakutan padaku. Ya, iyalah, siapa oranng normal yang mau melawanku? Memangnya alasan mereka membenciku kenapa? Karena mereka payah! Aku selalu menang secara fisik melawan siapapun! Mereka payah! Ha, ha, lemah! Mereka tidak tahu kalau aku ini sudah hidup barbar sejak kecil! "Kenapa kau yang datang!" Bentak Gavin yang membungkam mulut pacarku. Dia ini teman sekelasku yang paling loyal dengan Elvan. Kemana-mana selalu berdua, seperti spongebob dan Patrick. Wajar saja kalau dia marah melihatku muncul disini. "Kuhitung sampai tiga deh, kalau kalian mau berjongkok dan membiarkanku melepaskan pacarku, kumaafkan, kalau tidak, kupukul dengan benda ini.." kataku mulai maju selangkah. Tapi ternyata semuanya menyerangku bersamaan. "Shua!" Teriak Selin panik. "Padahal ini pesta, kenapa ujung-ujungnya malah seperti ini?" Heranku sambil menghadapi para berandalan kecil ini. Aku heran, yang senior saja tidak berani menyentuhku, ini teman Elvan kok junior semua ya. Tangan mereka terlalu lembut untuk melawanku. Rasanya aku berdosa memukul kepala mereka satu per satu dengan tongkat ini. Bercanda dong! Ini baru pesta, kupukul mereka secara membabi buta. Setiap kali mereka berhasil memukul wajahku, aku semakin bersemangat membalasnya. Aku tidak puas hanya menjatuhkan mereka semua, aku memukul mereka sampai mereka muntah darah. Semuanya hanya berada di bawah kakiku. Kalau saja Jimmy ada, dia akan memujiku habis-habisan! Jim! Lihatlah ini! Aku menumbangkan lima orang sekaligus! Mereka tergeletak seperti pecundang. Ya, pastinya Jimmy menertawaiku. Mana mungkin kagum pada prestasi memukuli bocah-bocah seperti mereka ini. Kalau saja tadi ada seniorku, pasti lebih seru. "Shua! Lepaskan aku!" Teriak Selin. Aku jadi lupa dengannya karena terlalu asyik menginjak kepala Gavin ini. Setelah menendang perutnya sampai dia tidak sanggup bicara, barulah aku mendekati kekasihku itu. Lalu melepaskan tali yang mengikatnya. Eh, entah mengapa ada perasaan aneh melihatnya begini.. "Menurutku kamu terlihat menarik terikat seperti ini, lain kali kita coba berdua ya?" Ucapku tertawa. Tapi ketimbang mempedulikan perkataanku, dia malah memelukku sambil menangis ketakutan. Dia memelukku erat sekali, aku sampai bingung perasaan apa ini. Rasanya aku merinding. Sejak berpacaran denganku, dia lebih memilih terikat tali ketimbang menyentuhkan tubuhnya padaku. "Aku.. aku, aku takut," katanya terbata-bata, "aku.. aku tidak mau.." "Oke, oke, santai saja. Aku disini, aku tidak mungkin bisa dibius dengan mudah." Dia semakin menangis sampai aku bingung harus bagaimana. Biasanya saat dia menangis itu karena ketakutan padaku, tapi ini, aku menyelamatkannya dari ketakutan yang lain. Perasaan apa ini.. Aku merasa dadaku sesak.. Jimmy? Bicaralah padaku, aku bingung.. Jimmy.. "Aku ingin pulang, Shua, ayo pulang," ucap Selin masih ketakutan. Apalagi saat dia menatapku dengan dua bola mata sendunya. Dia sama sekali tidak ketakutan padaku, dia bergantung padaku. "Ya, ayo pulang.." kataku keluar begitu saja. Karena dia masih gemetaran, aku menggendongnya keluar dari kamar ini. Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku. Rasanya aku malah membiarkan diriku menuruti permintaannya. Saat dia sedih begini, hatiku juga sesak sekali. Bahkan aku menyesal tidak membunuh orang-orang yang menakutinya tadi. "Selin, maafkan aku.." lagi-lagi ucapanku keluar tanpa kusadari. Aku sampai kaget sendiri, sejak kapan aku minta maaf? Hah? Aku minta maaf? Kenapa? Selin menanggapinya dengan memegang erat kemejaku, "Kita pergi saja dari sini. Aku.. aku tidak mau bertemu mereka semua.." "Iya, aku tidak akan membiarkanmu berdekatan dengan geng-nya Elvan lagi," oh, sudahlah, aku bicara tanpa persetujuanku terus. Terserah. Mungkin aku merasa aneh sedang menyelamatkan seseorang. Lalu pikiranku meracau dan akibatnya ngoceh tidak jelas. Tidak akan membiarkanmu berdekatan dengan geng-nya Elvan lagi? Hah? Apa yang sudah kukatakan? °°°°°°
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN