•Part 10•

1003 Kata
Joselin POV ========== Lusa pun datang. Ini yang kutakutkan. Pergi berdua dengan Shua ke sebuah acara yang dipenuhi mahasiswa kampus kami. Kalau di kampus mereka tertib karena masih takut dengan sistem skorsing, disini sudah jelas pem-bully-an akan terjadi terang-terangan. Dan ya.. baru aku masuk bersama Shua ke dalam halaman belakang rumah Elvan, kami langsung disoraki layaknya pasangan tersialan yang pernah ada. Kebetulan kami datang paling telat, di saat kolam renang sudah ramai, setiap meja di taman sudah penuh, baru kami muncul. Memang tidak terlalu padat, kemungkinan hanya dari kelas Elvan dan Shua, lalu beberapa adik-adik kelasnya. Aku sangat bersyukur dia tidak mengundang orang dari fakultasku. "Woa! Rumah mantanmu besar juga ya, Sayang, pantes dulu kamu mau pacaran dengan dia, kaya ternyata, lumayan ya.." kata Shua semakin membakar api amarah beberapa teman sekelasnya sendiri. "Shua, hentikan," pintaku. Dia malah meminta dengan manja, "Sayang, rapiin kemejaku.." Apanya yang dirapikan? Kemeja hitamnya sudah terkancing rapi, celananya juga bersih, sepatunya kelihatab baru. Bahkan di antara yang lainnya, dia yang paling persiapan pesta disini. Tapi aku menurutinya dengan mengibaskan kemeja depannya sedikit. "Makasih sayangku.." katanya tersenyum sambil menyentuh daguku dengan lembut. Dia mendekatkan wajahnya berniat untuk menciumku. Aku segera melepaskan diri darinya, "Shua.." Dia malah tertawa. Lalu menertawai semua mahasiswa temannya sendiri, yang menatapnya dengan kebencian. Dia pun bertanya, "Hei, kenapa? Dengerin dong musiknya, ngapain kalian memeprhatikanku dengan pacarku? Iri ya? Jomblo sih, mana paham beginian.." Mereka langsung berbalik dengan jijik. "Kurasa tidak akan ada yang menyukaimu," bisikku. Dia membalas bisikanku, "Dari dulu tidak ada yang menyukaiku, tenang saja. Kalau ada yang suka, aku malah takut. Jangan-jangan hanya ingin memanfaatkanku saja." Aku risih mendengarnya. "Kecuali kamu sih, mungkin kamu boleh kok menyukaiku, tapi akibatnya akan bertanbah berat ya," tambahnya tersenyum kecil. Siapa juga yang menyukaimu.. "Terserah kamu saja, yang penting kamu hati-hati," pintaku lembut. Mana mungkin aku mengatakan hal buruk padanya. Suaraku saja kubuat serendah dan sehalus mungkin agar suasana hatinya tetap bahagia. Kulihat Elvan dalam pakaian kasualnya menghampiri kami dengan membawakan dua gelas jus. Lalu menyerahkannya pada kami dengan memberikan sambutan, "Nikmati saja sepuas kalian disini." Shua bertanya, "Ini pesta apaan sih?" Aku menerima jusku dan segera meminumnya. "Pesta suka-suka saja, pool party biasa. Kemarin aku menang futsal," jawab Elvan seperti tidak mau menoleh padaku. "Oh, kukira pesta kalau kau sudah move on dari pacarku," sindir Shua sambil memelukku di depannya. Elvan memaksakan senyumannya, "Iya, itu juga bisa. Anggap saja begitu." Shua menatapku dengan senyuman lebar, "Dengar itu, Sayang, dia move on darimu, jadi kalau dia ngajakin kamu ketemuan, jangan mau. Aku tahu kamu masih kasihan padanya makanya mau bertemu, tapi kamu sudah punya aku." Darimana dia tahu aku ketemuan dengan Elvan! Elvan pun juga kaget, "Oh.." dia melirikku tajam, "oh, kamu cerita padanya ya.." Shua yang menjawabnya, "Iya dong, dia'kan pacarku.." Aku hanya menelan ludahku untuk membasahi kerongkonganku yang mendadak kering karena suasana sekitarku sekarang. Meskipun cuaca pagi ini cukup cerah, halaman belakang Elvan yang sejuk karena dipenuhi banyak pepohonan, rasanya aku masih kepanasan disini. "Tidak perlu malu, Elvan, aku paham rasanya sakit hati," ucap Shua bernada sindiran dengan ekspresi muka tengah menahan tawa, "sesekali bersedih kan tidak masalah ya'kan? Masa bahagia terus?" Elvan langsung membanting gelas yang dibawanya, lalu segera memukul wajah Shua tanpa kusadari. "Ah!" Aku mundur dengan panik. Beberapa orang juga kelihatan menghindar. Apalagi saat kedua orang ini mulai saling memukul. Mereka saling mencengkram, mengumpat, memukul, menendang. Sementara aku hanya bisa gemetaran tidak bergerak. "Hentikan!" Pintaku, "Shua! Hentikan!" "Bunuh saja dia, El!" Seru temannya yang mulai disambut meriah oleh yang lain. Beberapa mahasiswi pun juga mendukungnya, "Ayo, El! Hajar! Masukin ke kolam!" "Ayo!" "Hajar! Terus!" "Cepat!" Tapi kenyataannya, Shua malah tertawa dengan riang gembira. Dia berbalik memukuli Elvan sampai dia terjungkal ke pinggiran kolam renang. Saat dia mulai bertindak berlebihan seperti menendang perutnya, beberapa teman Elvan mendorong tubuh Shua agar menjauh. Lalu ternyata ada orang 'waras' yang melerai, "Sudah, ayo ke dalam dulu, sebentar, Joshua!" Bentaknya sambil mencengkeram bahu Shua, lalu menyeretnya masuk bersama Elvan, "sebentar, Elvan, kita bukan anak SMP!" Aku langsung ikut masuk ke dalam. Tapi ketika aku berlari mengikuti mereka, tiba-tiba seseorang membungkam hidungku. Aku memberontak, tapi lengannya kuat sekali. Ada aroma manis yang perlahan membuat kepalaku pusing dan pandanganku berkunang-kunang. °°° Rasanya sakit sekali! Saat kubuka mataku, aku sudah dalam kondisi tangan telah terikat pada pinggiran ranjang sebuah kamar asing. Benar, aku sedang terbaring dengan beberapa teman Elvan mengintariku. Oke, sekitar lima orang disini. Aku tidak bisa berpikir jernih sekarang karena mereka melihatku dengan benci. Tidak mungkin. Ucapan Shua tidak mungkin terjadi. Mereka tidak akan melakukan apapun padaku. Saking takutnya, aku sampai sedikit kesulitan bernapas. "Dia sudah bangun tuh.." ucap cowok yang paling dekat denganku, bertubuh paling kekar dan tinggi. Dia adalah teman dekat Elvan, Gavin. Satu-satunya yang kukenal di antara mereka. Yang lain menimpali, "Lama banget." "Kita mulai?" "Nunggu Elvan dululah, bentaran." "Kalian mau apa!" Bentakku tidak sabar, "lepaskan aku!" "Tenang, tenang, pasti dilepaskan kok, santai," kata Gavin mulai duduk di tepi ranjang sambil membelai rambutku. "Mau apa kau!" "Mau kamu." Jawabannya hanya tertawaan dari teman-temannya. Aku menggelengkan kepala, "Tunggu sebentar, Vin! Jangan lakukan apapun padaku!" "Tidak kok, kata Gavin, "cuma nyentuh sedikit saja.." "Kau sudah gila!" Bentakku, "tidak mungkin, ini bukan idenya Elvan! Tidak! Lepaskan aku!" "Ngomong-ngomong, sudah diapain aja sama di berandal sialan itu? Kalau sudah sering diapa-apain, biar nanti kami tidak terlalu berdosa.." Aku terpaksa berteriak karena panik, "TOLONG!! SHUAA!!" Satu-satunya namanya gadis terlontar dari bibirku malah nama itu. Satu-satunya yang ingin kumintai pertolongan malah dia. "SHUAA!!!" Jeritku kembali. Mereka berlima malah tertawa terbahak-bahak. "Hei, pacarmu pasti sudah pingsan noh, dibius tadi.." kata Gavin membungkam mulutku. Kali ini aku merasa lebih ketakutan ketimbang diancam pisau daging oleh Shua. Tidak mungkin. Seseorang, tolong aku. Tidak mungkin Elvan.. Gavin berbisik padaku, "Jangan nangis dong, Selin, masa belum mulai udah nangis." Kalau sampai mereka menyentuhku, aku akan bunuh diri setelah ini ... aku bersumpah ... aku tidak mau hidup. Aku tidak mau hidup kalau semua itu terjadi padaku, tidak akan pernah, tidak akan mau. Tidak akan pernah aku mau hidup. °°°°°°
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN