•Part 9•

1003 Kata
Joshua POV ========== Kasihan sekali pacarku, Selin. Dia tetap memilih setia padaku ketimbang membocorkan rahasiaku pada mantan pacarnya. Dia kelihatan sedih melihat mantannya pergi meninggalkannya. Kenapa aku bisa tahu? Karena aku dari tadi pagi mengawasinya. Aku bukan maniak bantal, jadi ketimbang berbaring di ranjang, lebih baik mengikuti pacarku kuliah. Dia tidak tahu kalau aku selalu berada di dekatnya. Kasihan sekali. Tapi aku senang sekali, entah mengapa aku mulai bahagia melihatnya. Bukan Jimmy yang menyukainya saja sekarang. Oh, aku menyukainya. Dia sudah bertindak benar. Tadinya kukira dia seperti cewek sialan lainnya yang sedikit-sedikit mengadu. Ternyata Selin menurut padaku sekalipun aku tidak berada di dekatnya. Ya untuk sementara kukira, entah lain hari bagaimana. Jimmy juga tidak mau bicara denganku sejak tadi malam. Diakeras kepala sekali. Hanya karena kubentak, aku jadi diasingkan. Akibatnya sekarang, aku tidak punya siapa-siapa. Sekalipun banyak yang mengenali wajahku di sekitaran kampus ini, padahal aku memakai Hoodie, tatapan mereka seperti tengah melihat preman lewat. Lalu segera menghindar agar tidak diganggu. Apa aku sejahat itu? Seingatku, Jimmy hanya menyarankanku untuk menghajar sembarang orang jika sedang kesal. Oh, benar, aku ingat, aku sering memukuli kepala mahasiswa fakultas lain saat senggang. Kebanyakan yang kupilih itu yang kelihatan sok pintar, cupu dan pokoknya yang menyebalkan di mataku. Enak sekali mereka pintar, sementara aku tidak? Aku sering diskors karena ini, dulu sih, semester ini sudah tidak ada yang kupukuli. Apalagi sekarang aku punya pacar, melihatnya terikat tali dan berteriak-teriak marah sudah membuatku bahagia. Tapi sekarang aku mulai suka saat dia tenang dan menatapku dengan sayu. Maafkan aku, Selin, perasaanku selalu berubah-ubah, pikiranku juga sulit ditebak. Aku sendiri juga tidak mengerti sebenarnya apa yang kusukai darimu. Teriakanmu? Caramu menatapku? Masakanmu? Kemarahanmu? Atau pangkuanmu? Aku tidak tahu! Banyak sekali orang di kepalaku! Ah, ah, sudahlah, lusa ada pesta pribadi, aku ingin hura-hura. Elvan pasti merencanakan sesuatu padaku. Oh, mungkin dia mau menikamku ramai-ramai karena merebut pacarnya? Akan kunantikan. Aku sebaiknya bawa apa ya.. aku tidak pernah ke pesta sebelumnya. Bawa palu? Pisau? Atau linggis mungkin? Malam ini aku bisa tidur nyenyak karena Selin pulang ke rumahku. Gadis yang penurut, sejak pulang kemari, dia hanya menyunggingkan senyuman pasrah. Lalu memasakkan makanan siang untukku. Aku tidak menonton film dewasa karena Jimmy tidak mau bicara denganku. Untuk apa aku melakukannya. Dari awal aku tidak memiliki ketertarikan, rasanya hampa sekali sekalipun aku melihat tontonan itu. Jadinya sekarang aku hanya duduk bersimpu di atas ranjang, membisu selama sejam penuh. Setelah Selin datang membawa makanan, barulah aku merasa kehampaan tadi sedikit sirna. "Kamu seperti anak kecil," katanya duduk di pinggiran ranjang sambil mulai menyuapiku. Menu hari ini adalah olahan ikan, aku menyukainya. Segera saja, kulahap suapan tersebut. Sebenarnya aku tidak berniat bicara, rasanya sudah cukup melihat ada orang disampingku. Selin bertanya, "Bolehkah aku pulang hari ini?" "Ya, pulang saja.." sahutku. "Kamu mau makan apa malam ini?" "Entahlah, aku akan buat sendiri." "Kamu yakin?" "Ya." Dia kelihatannya khawatir. Aku bertanya balik, "Kenapa?" "Tidak, kamu.. kelihatan tenang hari ini," katanya ragu-ragu sambil terus memandangku. "Ya, entahlah, biasanya kalau selepas membentak-bentak seperti kemarin itu, aku jadi tenang sedikit. Jimmy juga masih tidak mau bicara denganku. Jadi, aku entahlah.." "Kurasa kamu hanya kesepian, Shua." "Aku hanya sendirian." "Kurasa sendirian dan kesepian itu berbeda. Maksudku, aku setiap hari juga sendirian, tapi aku tidak merasa kesepian karena punya keluarga asuh." Aku terdiam mendengar ucapannya itu. Dia jadi panik, "Maaf, maksudku.." Entah mengapa aku iri dengannya. Keluarga asuhnya, ibu Sarah-nya, adik-adiknya, kenapa mereka semua terlihat sangat baik? Mereka kelihatan normal, andaikan aku dibesarkan disana. Jika saja demikian, mungkin kepalaku tidak..sesesak ini. Aku mengambil piringnya dan memintanya, "Sebaiknya kamu pulang, aku ingin sendirian dan ya.. kesepian karena Jimmy tidak ada." Dia mulai menegaskan, "Jimmy memang.." Pandanganku mulai menajam saat dia berniat mengatakan hal yang paling kubenci. Aku tahu dia ingin berkata kalau 'Jimmy hanya khayalan'. "Jimmy memang sedang marah, nanti.. nanti juga akan bicara denganmu lagi," dia meralatnya untuk menenangkanku. Aku paham itu. "Pergilah sebelum aku berubah pikiran." "Baiklah," katanya mulai berdiri. Oh aku baru ingat.. "Selin," panggilku menghentikannya membuka pintu. Dia menoleh dengan waspada, "Ada apa?" "Lusa, kita ke pesta Elvan." "Mm.." dia mencengkram gagang pintunya. Lalu mengangguk, "tentu, aku sudah tahu kamu diundang kesana oleh Elvan." "Ya sudah," singkatku. Dia pun pergi meninggalkanku sendirian yang kesepian di rumah ini. Benar, sendirian dan kesepian adalah hal berbeda. Selin.. °°°° Malam ini aku melakukan aktifitas seperti biasa saat sedang terlalu insomnia yaitu melakukan peretasan. Aku sudah dilatih untuk mahir program komputer sejak kecil. Tebak siapa pelaku dibalik kesuksesanku menjadi pembobol akun bank serta penipuan Online? Oh, mereka adalah keluargaku sendiri. Tidak banyak tahu, tidak ada yang tahu kalau keluargaku ini keluarga penipu. Sejak menginjak SMP, aku sudah dipaksa melakukan pemalsuan data untuk berkas peminjaman ke bank, lalu kabur. Kemudian saat SMA, aku sudah diwajibkan mahir meretas sistem keamanan bank. Selama ini tidak pernah ada celah bagi polisi untuk sekedar mengendus. Kami selalu berpindah-pindah tempat seperti makhluk purba. Sebenarnya tabunganku sudah sangat melimpah, ditambah aku ahli waris setelah keluargaku mati. Aku tidak berkeinginan untuk melakukan pembobolan lagi. Tapi kalau sudah kebiasaan, ini malah seperti permainan untukku. "Oh! Website kampus!" Aku baru sadar kalau ada tempat yang bisa dipermainkan. Sebelum pesta dimulai, aku ingin mewarnai suasana perkuliahan besok dengan memamerkan bahwa 'Joselin milik Joshua'. Seluruh foto yang ada di website kampusku kuubah menjadi fotoku dan Selin. Lalu kata pembukanya menjadi "JOSHUA ❤ JOSELIN". Sudah seperti undangan pernikahan saja. Sengaja kubuat semeriah mungkin dengan bentuk hati biar kelihatan romantis. Dengan begini, semua orang akan semakin tahu seberapa besar cinta kami. Lagipula, aku tidak peduli dengan pendapat mereka, aku memang suka memamerkan apa yang menjadi milikku. segalanya adalah milikku, Selin adalah hartaku yang paling berharga saat ini. Ngomong-ngomong, siapapun yang mengoperasikan website kampusku, aku ingin menginjak kepalanya sekali saja. Payah sekali. Perlindungannya lemah, dan banyak sekali celah untuk diretas. Aku tidak mengerti kenapa mereka keterlaluan bodohnya. Tetapi, aku merasa kalau mungkin pihak sekolahku memang tidak terlalu peduli dan akan mengira kalau akan diretas. Iya, orang yang meretasnya sekarang adalah aku. Tujuannya hanya untuk pamer saja dan buang-buang waktu. °°°°°°
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN