•Part 8•

834 Kata
Joselin POV ========== Entah apa yang kupikirkan semenjak kemarin. Tapi yang pasti aku tidak tidur semalaman hanya untuk memastikan Shua tidak bangun dari pangkuanku. Lagipula aku tidak mau dia tiba-tiba mengambil pisau lalu membunuhku. Jadinya sekarang mataku sangat ingin terlelap saat dosenku sedang menjelaskan materi. Hari ini filsafat ilmu. Jujur saja, ini pelajaran yang paling menyebalkan karena mengharuskanku berkonsentrasi penuh, apalagi jika dosennya seperti Bu Rena ini. Caranya mengajar seolah semakin membuatku mengkhayal ke pulau kapuk. Saking lelahnya, aku tidak tahu sejak kapan aku menaruh kepalaku di meja begini. Lalu memejamkan mata. "Shh! Sel!? Sel?" Panggil teman di bangku sebelah sambil menggoyangkan tanganku. Panggilannya cukup lirih karena kami memang ada di barisan tengah yang masih tergolong rawan terkena amukan dosen. Aku membuka mata dengan sedikit kaget karena temanku ini, Melly, membenciku. Dia tahu-tahu menyentuhku sekarang. Ya, walaupun kulihat raut wajahnya masih kesal. Gara-gara Shua, aku benar-benar tidak punya teman.. "Ada apa?" Tanyaku padanya. Dia menjawab, "Tadi sebelum jam masuk, Elvan kesini, mencarimu. Dia cuma berpesan, setelah jam kuliah selesai, mau ketemu di kantin. Dia menunggumu." "Kenapa tidak menghubungiku?" Heranku. "Loh, kalau aku jadi Elvan, nomormu sudah kublokir, buat apa menghubungimu," sindirnya lirih, lalu menambahkan, "katanya cuma ingin ngomong sesuatu, terserah mau datang atau tidak." Belum sempat kujawab, dia kembali menyindirku, "Ngga usah datang, nanti dipermalukan loh, Sel. Apalagi pacar barumu posesif gitu." Aku jadi tidak minat untuk bicara lagi. Kupalingkan wajahku saat dia mulai memberikanku senyuman menghina. Sejak masuk kuliah, aku memang tidak terlalu terkenal, jadi pertemananku dengannya ataupun yang lainnya tidak terlalu dekat. Tapi sekarang, malah membuatku jadi orang buangan. Kalau mengingat ucapan Shua tadi malam, entah mengapa aku sedikit merasakannya sekarang. Dia memang tengah menyeretku untuk menjadi sepertinya. Tapi walaupun aku dipandang rendah seperti ini, aku tidak ingin membenci siapapun. Lagipula aku yakin nanti bisa meluruskan permasalahan ini. Shua itu terlalu tertutup, anti sosial, sementara Jimmy-nya itu pemberontak, suka hura-hura dan kasar. Dua kepribadian berbeda yang terkadang menyatu, dia saja yang tidak sadar. Aku jadi penasaran apa masalahnya sampai menjadi seperti ini? Kenapa dengan keluarganya? Bagaimana masa kecilnya? Sejak kapan dia sudah bersama Jimmy? Kurasa dia benar-benar membutuhkan seorang psikiater. Dengan begitu, mereka akan memberikannya obat penenang untuk mengendalikan perasaannya yang baik turun itu. Tapi kalau aku menyarankannya, dia pasti tertekan lagi, lalu menyakitiku. Apalagi sekarang ini Shua tidak masuk kuliah karena malas. Entah karena kejadian kemarin atau kenapa, aku tidak tahu. Tapi sepertinya aku punya firasat dia sedang mengurung diri karena bertengkar dengan 'Jimmy'. Meskipun aku sendiri masih bingung, rasanya aku memang kasihan padanya. Sedikit.. sedikit.. dia benar, aku seperti kasihan, marah, benci, jijik kepadanya. Dia sudah membunuh orang. Seharusnya aku melakukan sesuatu. Tapi! Tapi! Tapi! Dia sangat berbahaya! Aku tidak mau mengingat pisau daging kemarin. Biasanya dia hanya mengikatku, lalu membiarkanku diam selama beberapa jam. Tapi aku baru sadar, perlakuannya jauh lebih mengerikan saat dia serius. Perasaanku campur aduk hingga kuliahku selesai. Awalnya aku ragu menemui Elvan, namun, ada sebagian dari diriku yang masih ingin meminta bantuannya. Ya, mungkin ini waktunya aku jujur padanya. Lalu kami bisa sembunyi-sembunyi mencari cara. Tapi.. "Hei.." panggil Elvan yang tidak kusadari kalau aku sudah sampai di kantin sepi ini. Kalau sudah jam pulang begini memang jarang ada nongkrong disini. Kebanyakan lebih suka ke kafe depan. Dadaku mendadak berdebar karena melihatnya. Aku masih sangat menyukainya. Rasanya sedikit canggung kalau hanya berdua seperti ini. "Duduklah, sudah kulesankan minuman," ucapnya menunjuk jus jeruk di atas meja. Aku duduk di kursi depannya. Dia tersenyum padaku dan tanpa banyak basa-basi langsung bertanya, "Katakan padaku, Sel, kamu diapain Joshua?" "Hah?" Aku tidak paham. Ini sangat ambigu.. "Ya, ada yang bilang kalau kamu sebenarnya mutusin aku karena terpaksa," terangnya menyelidik ke arahku, "mumpung dia tidak masuk, ceritakan padaku." "El.." apa harus kukatakan. Tidak mungkin. Dia tidak akan percaya juga padaku.  Apa ini tipuan? Apa yang harus kulakukan? Apa jujur saja? Disini sepi, hanya ada ibu-ibu penunggu kantin yang fokus ke televisinya.. "Sel? Aku, jujur saja. Aku masih tidak percaya kamu melakukan ini padaku, jadi kumohon, katakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Elvan tidak sabar. Dia menyentuh punggung tanganku. Aku menurunkan tangannya, "El, aku.." "Jadi memang benar. Apa yang kulakukan. Aku akan dipermalukan teman-temanku karena ketemuan denganmu," dia menatapku dengan ekspresi kecewa dan tidak nyaman. "Dengarkan aku, El. Aku mungkin butuh waktu sebentar." Ya, mungkin aku harus minta seorang psikiater untuk mengurus Shua. Baru setelah dia menjalani pengobatan, aku bebas. Mungkin itu solusi paling baik. Rasanya terlalu egois jujur saat ini. Dia melirikku tajam, "Kamu tega sekali, sudah puas? Ayo tertawa saja di depanku sekarang." Maafkan kenaifanku. "Kamu ini.." dia mulai mencengkram pinggiran meja dengan kesal, "aku sangat menyukaimu!" Amarahnya timbul kembali, "apa salahku! Aku dan Joshua? Joshua itu! Joshua! Kamu sudah gila!" Aku tidak tahu harus bagaimana. Dia memandangku dengan benci kembali. Kurasa kemarahannya memang sudah meluap-luap saat melihatku kemarin. "Elvan, sudahlah," pintaku lembut. Dia menahan diri, "Oke, katakan padaku, apa kamu menyukai Joshua yang itu?" "Iya." Dadaku sesak sekali mengatakan ini. "Oh, bagus, sekarang aku memang mempermalukan diriku sendiri," katanya berdiri dengan marah besar, "kenapa kalian tidak datang ke pesta di rumahku lusa?" "Pesta?" "Jangan khawatir, pacar barumu sudah kuundang, aku yakin dia akan datang karena kerjaannya hanya suka membuatku marah." Aku berusaha menjelaskan, "Elvan.." "Bye, makasih sudah mau bertemu dengan orang bodoh ini," katanya tidak mau mendengarkanku lagi. Menyesal adalah perasaa yang paling terasa di dalam hatiku saat ini. °°°°°°
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN