•Part 7•

1283 Kata
Joshua POV ========== Malam ini, Selin sayangku sedang berada di rumahku. Dia memasak dengan raut wajah tegang. Padahal aku hanya memandanginya dengan duduk manis di meja makan. Aku menyukainya, maksudku makanannya. "Jim, aku tidak mau seranjang dengannya, kau'kan paham, aku tidak bisa tidur kalau ada orang lain di sebelahku," Bisikkan pada Jimmy. Saudaraku ini malah bercanda, "Tidak masalah, tinggal merem saja." "Ah! Diamlah." "Lihat, lihat, dia seksi loh, Shua!" "Ya, dia'kan seleramu." Aku berhenti mengobrol dengan Jimmy karena pacar tercinta kami itu menoleh sekilas dengan tampang ngeri. Dia selalu risih saat aku berbicara dengan saudaraku. Dasar pacar jahat. Tapi dia tidak mau berkata apapun padaku. Diam seribu bahasa, hanya suara penggorengan yang memenuhi telingaku dari tadi. Membosankan. "Kenapa kamu tidak bicara, Sayang? Aku ini butuh teman bicara. Tapi kumohon bicaralah yang baik-baik, jangan menyinggungku. Mungkin puji aku atau semacamnya? Oh atau katakan cinta padaku seperti biasa," godaku kemudian. Dia masih menyibukkan diri dengan menggoreng omelet. Aku jadi ingin menggodanya terus, "Ya walaupun hanya ucapan di bibir saja, melihatmu tertekan saat mengatakannya itu menyenangkan." "Bisakah kamu berhenti mengancamku?" Pintanya menoleh padaku, lalu memohon lebih serius, "Tolonglah, jangan libatkan keluargaku." Sebagai ganti atas ucapannya yang memohon itu, kuberikan senyuman indahku padanya sambil membalas, "Ya ampun, aku dipandang seperti pembunuh berantai." Setelah jeda beberapa saat, aku bergurau pada saudaraku lagi, "Jim, pacar kita melihatku seperti ini lagi, pandangannya sama seperti kakakkm sialan itu." Jimmy mendukungku, "Sudah kubilang, kau terlalu lembut padanya! Orang sepertinya kalau dibiarkan, akan menusuk kita dari belakang!" Selin mulai kelihatan gelisah. Ia menyudahi masaknya, lalu menghidangkan omelet spesial kepadaku seraya membentak, "Apa maksudmu! Aku hanya minta agar kamu menjauhi keluargaku, cukup aku saja yang kamu ancam, tidak masalah. Jangan sentuh ibuku!" Kulihat pandangannya mulai menyebalkan. Ada banyak jenis manusia di dunia ini. Tapi semuanya selalu menatapku dengan sorot mata yang sama. Antara benci, jijik, marah, kasihan, semua itu melebur menjadi satu ditujukan kepada diriku. Aku berdiri dan mendekati gadis tercintaku ini, kubisikkan sesuatu padanya, "Semua orang selalu memandangku tidak berguna, jahat, cuek, pembawa sial, tapi memanfaatkanku dan berniat membuangku setelah puas diinjak-injak." Sejak kecil aku tidak mau kelihatan lemah, Jimmy tidak suka aku terlihat seperti laki-laki pecundang yang bisanya menangis saat dihajar orang. Tidak mungkin. Prinsip Jimmy, 'Lebih baik mati, ketimbang mengalah. Lebih baik membunuh ketimbang dihina.' Sebagai saudara kembar yang kompak, aku setuju pada semua prinsip hidupnya. Kami itu satu, meskipun pikiran kami berbeda, pada akhirnya kami bisa satu tujuan. Mungkin karena aku terlalu lama terjebur dalam ingatan masa laluku, Selin mulai terlihat khawatir, maksudku takut. Dia sok bertanya, "Kamu ini kenapa, Shua? Aku tidak mengerti tentangmu ataupun keluhanmu yang semakin hari semakin aneh. Jika kamu ingin menceritakan tentang dirimu, baiklah, aku akan mendengarkan.. sebenarnya ada apa denganmu? Kenapa kamu sampai tega melakukan semua ini?" "Kamu fokus pada tindakanku? Kenapa kamu tidak fokus pada bagaimana perasaanku? fokus padaku, jangan fokus pada perbuatanku. Kenapa orang sepertimu, orang yang hidupnya lancar-lancar saja selalu fokus pada tindakan buruk orang lain?" Dia mundur beberapa langkah dariku sembari berusaha menenangkanku, "Baiklah, Shua, tolong hentikan. Aku akan mendengarkan, jadi ceritakan padaku, ada apa?" "Jika kuceritakan, apa kamu bersumpah demi nyawamu tidak akan pernah membocorkan semua masalahku dan meninggalkanku?" Aku mendekatinya dengan seringaian tak lepas dari bibir. Jimmy mendadak membentakku, "Shua, jangan bodoh!" "Jim, dia berniat mendengarkanku!" Balasku. "Tujuan kita memacarinya bukan untuk menjadi bagian dari hidup kita! Kita hanya butuh kesenangan bukan lawan bicara!" "Diamlah!" "Kau yang diam!" Aku terdiam mendengarkan makian Jinny di kepalaku. Aku berusaha untuk tidak membalasnya karena pertengkaran kami akan semakin menjadi-jadi. Aku takut mendengar suara-suara lain yang ikut campur. "Shua?" Panggil Selin hendak menyentuh pundakku. Aku meresponnya dengan menjauh dan membentaknya, "Jangan sentuh aku!" Entah. Jimmy sepertinya sudah diam. Tapi aku masih sedih. Hampa. Aku tidak tahu perasan apa yang perlahan memenuhi benakku ini. Apa karena aku berniat menceritakan mengingat masa laluku? Selin kelihatannya sangat cemas, "Fine.. aku sadar kamu, mungkin.. butuh sesuatu." Apa wajahku sangat mengkhawatirkan? Aku memandangnya serius, "Apa, kamu juga menganggapku gila? Hanya karena aku lebih suka diam di kamar, hanya karena aku bicara dengan saudaraku? Hanya karena aku membunuh para b******k itu? Apa.. kamu akan melaporkanku? Atau menyebarkan berita tentangku pada semua orang? Lalu membuatku dipandang gila kemana-mana? Silakan, aku selalu dilihat seperti orang gila.." Dia kebingungan, "Shua, kenapa kamu tiba-tiba.." "You know what? I will kill you," ancamku dengan suara rendah. Aku sadar kalau aku sekarang sedang tersenyum padanya. Padahal hatiku terasa sedih, mengapa aku tersenyum? "Shua.." Aku tertawa untuk menenangkan wajahnya yang ketakutan hebat. Kusentuh dagunya yang lembut itu, "Oh, jangan takut begitu, anggap saja barusan aku sedang bersandiwara. Hebat bukan? Semakin hari tingkat kegilaan ku semakin tinggi, aku tidak tahu, semacam ada suara.." Ucapanku kuhentikan sesaat karena kepalaku mulai terasa pusing, rasanya seperti ada putaran angin didalam, lalu berkabut dan ada petir. Aku melanjutkan, "Oh, suara iya, bisikan selain dari Jimmy, Aku merasa banyak sekali bisikan yang muncul satu per satu. Kamu tahu rasanya berada di lift sesak? Itu yang kurasakan sepanjang waktu." Kutambahkan penjelasanku agar semakin memperparah suasana ketakutan Selin, "Aku ingin membenturkan kepalaku, tapi sedetik kemudian, aku tersadar ah.. aku hanya perlu bahagia untuk melepaskan stress ini.. tapi kemudian aku sendiri tidak tahu sebenarnya kenapa aku tertekan.. padahal mereka bertiga sudah mati!" Lalu kuancam kembali, "Oh, demi kuburan ibuku yang entah ada dimana, aku harus membunuhmu karena kamu mendengarku terlalu banyak bicara, lagipula instingku mengatakan kalau kamu ingin memanggil polisi lagi." Selin ingin berlari, tapi tangannya kucengkeram erat. "Lepaskan aku, Shua!" Jeritnya. Aku berbisik di depan wajahnya, "Main kejar-kejaran lagi yuk, aku beri waktu sampai sepuluh deh, kalau ketangkep, kupotong tanganmu ya? Terus main lagi sampai kamu jadi beberapa bagian." Dia ingin menjerit, tapi mungkin kerongkongannya kering karena saking paniknya. Sudah tahu bakalan begini, dia masih mau terperangkap denganku di rumah ini. Sudah tahu aku gila, dia masih mau bersamaku kemari. Oh, tidak, aku tidak tahu sedang senang, marah, sedih, kasihan jatuh hati atau apa ini. Tapi aku merasa tidak enak jika ada orang asing keluar dari rumah ini setelah mendengarku mengoceh panjang lebar barusan. "Jim? Tidak masalah 'kan aku membunuhnya? Maaf, dari awal aku lebih ingin dia pergi ketimbang berpacaran dengannya," ucapku pada Jimmy. Tapi dia tidak menjawab. Aku jadi sedih, "Ah..ah, Jimmy sedang kesal padaku." "Shua, aku mohon, jangan lakukan apapun padaku!" Seru Selin dengan suara bergetar. Kukeluarkan tangannya sambil menghitung, "Satu.." Selin menggelengkan kepala, "Tidak!" "Dua.." aku mulai mendekati laci pisau-pisau di dapurku. Akhirnya dia mulai berlari ke pintu depan. Sayang, seribu sayang, aku sudah menggembok semua pintu dan jendela. Aku punya firasat akan berpesta malam ini, jadi kulakukan semuanya. Ternyata benar. "Tiga!" Teriakku mulai menemukan pisau daging bekas milik ayahku. Benda ini masih baru, belum pernah dipakai. "Empat.. Lima.. Enam.. tujuh... Delapan.. Sembilan.." "SEPULUH!" Lalu kekejar kekasihku yang sedang kebingungan membuka semua pintu sampai memecahkan jendela. Tapi walaupun pecah, dia tidak akan bisa keluar karena jerujinya. Ternyata ujung-ujungnya dia berteriak, "TOLONG!!" Tidak perlu waktu semenit, aku mencengkram tangannya, lalu kubisikkan, "Disini itu sepi, kalau kamu diam, tidak akan kupotong deh.." Dia benar-benar gemetaran, takut, bahkan langsung ambruk lemas saat melihat pisau daging di tanganku. Dia memejamkan matanya sambil menunduk padaku di lantai. Dia akhirnya menghamba padaku setelah aku sedikit serius. Ya kemarin-kemarin aku terlalu baik padanya. "Ah! Shua! Hentikan!" Pintanya menangis. "Bukankah kemarin kamu ingin mati?" Heranku sambil berjongkok dan menaikkan dagunya, "buka mata dong, lihat aku dan katakan kamu ingin mati seperti kemarin. Aku serius ini, kalau kamu mau mati, sekarang saatnya." Dia membuka matanya sambil  menggelengkan kepala, "Akan kulakukan apapun, jangan bunuh aku!" Mendengar ucapannya yang pasrah begini, hatiku jadi luluh. Kubuang pisau dagingnya, lalu kuanggap kepala, "Suasana hatiku itu seperti bunglon, menyesuaikan kondisi. Mendengarmu tulus seperti ini, matamu jadi sayu tidak seperti sedang membenciku, entah mengapa hatiku jadi tenang lagi." Aku memeluknya, "Aku ingin tahu rasanya dicintai, jadi bisakah kamu memberikanku itu. Dadaku hampa sekali. Jujur saja, aku tidak suka menyiksa siapapun, tapi ada saat bagiku dimana melihat orang yang hidup bahagia tersiksa itu menyenangkan." Kudengar dia masih sesenggukan di dadaku. Aku menyarankannya, "Jadi mulai besok, sebaiknya jangan membuatku marah atau mengejekku atau menolakku, aku khawatir nantinya benar-benar tidak sengaja memotong tanganmu yang lembut ini. Pasrah, nurut saja seperti ini, karena kamu tidak akan tahu bagaimana suasana hatiku nanti." Dia mengangguk singkat. °°°°°°°°
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN