Joselin POV
==========
Bagiku buku adalah pelipur lara. Shua benar, aku kutu buku. Aku heran sejauh mana dia memperhatikanku sebelum membawaku ke dalam hidupnya. Dari caranya mendeskripsikan betapa irinya dia kepada kehidupan Elvan, aku yakin dari awal aku memang dijadikan targetnya.
Aku tidak mengerti jalan pikirannya.
Lebih baik aku memilih-milih buku di Gramedia ini. Selain komik, aku menyukai novel fantasi seperti Narnia atau serinya Lemony Snicket. Aku suka sekali membaca buku yang bercerita tentang persaudaraan dan kekeluargaan. Aku terlahir sudah menjadi yatim piatu, jadi membayangkan punya saudara kandung itu menyenangkan.
"Mau beli ini?" Dia mengagetkanku karena tahu-tahu mengambil salah satu buku dari rak. Lalu menunjukkannya padaku, sebuah buku Novel berjudul 'Kamu Besok Pasti Mati'.
Aku membalasnya dengan mengambil buku lainnya yang berjudul 'Cara Berpikir Masa Bodoh'. Kuperlihatkan judul itu tepat di depan matanya itu.
"Bodoh amat," ucapku.
"Kalau aku yang nulis, judulnya kuganti, 'Kamu Besok Pasti Mencintaiku', dengan tagline 'kalau tidak cinta, kubunuh'."
Aku jadi kesal mendengar suaranya terus menerus. Mungkin karena aku menghiraukannya, dia jadi mulai berbicara lirih dengan saudara kembarnya.
Dia sangat licik dan pandai melihat situasi sekitar. Jika tidak ada orang, dia berbicara sendiri saat membaca sinopsis novel. Tapi hebatnya, dia diam saat ada orang yang melewatinya. Aku saja tidak tahu ada orang yang hendak melewatiku atau tidak.
Berbahaya.
Mungkin karena terbiasa memperhatikan orang. Saking terbiasanya seolah paham apa yang akan dilakukan orang tersebut. Dia ini jenis manusia yang pertama kali kujumpai seumur hidupku.
Elvan, tolong aku..
"Sayang, tidak perlu gelisah terus dong, aku capek melihatmu tidak nyaman di sekitarku," katanya mengagetkanku.
"Aku ingin pulang, aku.."
"Membosankan," katanya menaruh buku di rak kembali. Lalu menyambar lenganku dengan kasar, "Ayo pulang! Karena hari ini kamu tidak memuaskanku, jadi nanti kamu tidur di rumahku dan layani aku sampai kuliah besok."
Aku melototinya sambil kutarik tanganku, "Hah?"
"Apa?" Dia menyeringai padaku, "jangan-jangan penolakan lagi?"
Bulu tengkukku berdiri seketika. Aku menggelengkan kepala, "Aku tidak mau ke rumahmu, akan kubuatkan masakan untukmu, tapi aku tidak mau searea dengan kuburan keluargamu yang kamu bantai."
Tapi dia malah mendekatkan wajahnya padaku dan menegaskan padaku, "Kamu.. tidak menolak 'kan?"
"Kenapa aku harus kesana?"
"Tadi aku dibisiki Jimmy, dia ingin tidur denganmu."
Aku terperanjat mendengar ocehan ngawurnya, "Apa... akan kulaporkan kamu ke polisi, aku tidak peduli lagi.."
Kali ini aku tidak tahan. Dia terus-terusan ingin melecehkanku. Dipikir aku ini budaknya, aku tidak bisa. Aku berjalan cepat keluar dari tempat ini.
Dia malah kegirangan, lalu menghampiriku, menatapku dengan tatapan penuh tipu muslihatnya serta berbisik, "Oke, kita lomba lagi ya? kita lihat lebih cepat mana.. aku ke ke rumah asuh Pertiwi atau kamu ke kantor polisi. Di saat kamu mengobrol dengan polisi, aku sedang mengubur Ibu Sarah dan bayi-bayi disana."
Astaga, dia serius..
Kemudian dia berlari mendahuluiku untuk keluar dari Mall ini.
"Shua! Shua!" Teriakku mengejarnya. Tapi dia terlalu cepat. Ketika dia keluar pintu Mall, aku masih berada di kerumunan pengunjung.
Saat aku sudah berada di luar gedung ini, dia sudah menghilang. Aku mulai mencarinya ke parkiran yang berada di seberang jalan. Kondisi jalan sangatlah ramai, butuh beberapa menit hanya untuk menunggu lampu hijau penyebrang jalan.
Dia menghilang, tidak ada di manapun, bahkan di basement parkiran mobil dan motor. Aku sudah berjalan lama berputar-putar disini. Ponselnya sudah kuhubungi, tapi tidak diangkat.
Jangan-jangan dia serius..
Aku langsung memesan taksi online. Penyesalan luar biasa menjalari tubuhku saat ini. Kalau sampai terjadi apapun, rasanya aku tidak mau melaporkannya ke polisi tapi akan langsung kubunuh.
Tidak boleh! Dia tidak boleh menyakiti ibuku!
Perasaan takut ini terus bertahan hingga aku sampai ke rumah asuh ibuku yang terletak tak jauh dari kampusku. Hanya sebuah rumah sederhana, tidak mengharapkan dermawan ataupun bantuan pemerintah. Tempat sosial ini benar-benar dibiayai dari kantong pribadi ibuku dan kakak-kakakku yang sudah bekerja.
Salah satu tujuanku hidupku adalah membantu mereka. Tidak mungkin hanya karena kegilaan Joshua, mereka menjadi korban. Tidak boleh. Aku tidak akan rela mereka tiada di tangan orang gila.
Saat hatiku dipenuhi kegelisahan, ternyata aku dikejutkan oleh suasana meriah di dalam rumah. Ibuku sedang duduk di ruang tamu bersama Shua dan adik-adikku yang lain. Mereka kelihatan sangat akrab.
"Kak! Kakak kok ngga bilang punya pacar?" Tanya Jio, adik laki-lakiku yang berusia 10 tahun. Dia baru setahun masuk ke dalam keluarga kami karena kedua orangtuanya tewas kecelakaan.
Adik perempuanku, Jessi, 8 tahun, menambahkan, "Namanya Kak Joshua, kayak yang nyanyi diobok-obok.."
"Iya, kak Joshua yang nyanyi.." timpal adikku juga, Joni, 9 tahun. Padahal dia ini yang paling pemalu dan tertutup, tapi kelihatan senang duduk bersama Shua.
"Heh, nakal ya, kalau kakak ini ngga suka obok-obok air tahu," gurau Shua mengacak rambut kedua adikku.
Ibuku tertawa lirih, "Kata Joshua kamu tadi ngambek ya, ngga mau ikut pulang. Kenapa sih? Akhir-akhir ini kamu kelihatan sedih terus. Cerita sama ibu."
Shua mulai tersenyum padaku, "Mau'kan ya?"
"Mau apa?" Tanya ibuku heran memandangi kami berdua.
"Oh, saya minta dimasakkan sesuatu, Ibu, saya dengar dari teman kampusnya, dia ini pintar masak," jawab Shua jelas sekali lihai berbohong.
Ibuku malah melirikku dengan sedikit menggoda, "Memang, Joselin ini memang calon istri idaman. Sejak kecil sudah rajin bersih-bersih dan jago memasak."
Shua tampak mengeluarkan ekspresi malu palsunya, "Aduh, saya jadi bangga ini, Bu Sarah."
"Ciyee.. ciye... Ciye..."
Ketiga adikku kompak menyorakiku. Wajah mereka sangatlah polos. Aku berharap tidak ada yang akan tumbuh menjadi sosok mengerikan seperti orang yang duduk di sebelah mereka.
Aku akhirnya mengangguk pada Shua, "Baiklah."
"Oh, akhirnya aku tidak ditolak lagi," ucap Shua memberikanku senyuman lebar.
Kurasa malam ini, aku harus membawa stun gun, semprotan merica atau semacamnya. Aku tidak mau kejadian awal berpacaran dengannya terulang lagi. Dia bisa saja menggila lagi.
°°°°°°°°