Joshua POV
==========
Berkencan, berkencan, aku tidak pernah merasakan ini sebelumnya. Berkencan dengan seorang gadis cantik. Dari mulai membuat cemburu mantan pacarnya di kafe, lalu kuajak dia jalan-jalan ke sebuah pusat perbelanjaan bernama Galaxy Mall.
Aku merasakan kehidupan normal cowok seusiaku, bergandengan tangan dengan pacar, bermanja-manja sepanjang jalan dan saling memandang penuh cinta. Sungguh membahagiakan.
Tidak juga.
Ngapain aku berkeliaran di Mall dengan orang-orang asing seperti ini? Jangankan mereka, orang yang sedang kugandeng sekarang seperti manekin, diam terus. Kalau saja dia tidak takut padaku, dia pasti meludahiku sekarang. Semuanya terlihat asing di mataku.
Padahal aku punya pacar, apa yang kurang dariku?
Dari mulai lantai satu sampai tiga, kami cuma berjalan tidak tentu arah, memandangi satu per satu toko tanpa tertarik sedikitpun untuk masuk. Setahuku cewek paling suka jika melihat ada deretan baju dan sepatu.
Tapi kenapa pacarku tidak bereaksi? Dia ini cewek'kan? Atau mungkin aku salah mengiranya cewek?
Kalau tahu nge-date ternyata membosankan seperti ini, lebih baik tadi pulang saja dan main game online bersama Jimmy. Daripada ini cuma jalan kaki mengintari lantai tiga.
"Kamu yakin tidak mau kubelikan sesuatu?" Tanyaku kepada Selin. Dia kelihatannya sangat risih sampai membuat telapak kakiku ingin menjejaknya ke pagar pembatas, biar mati sekalian terjun bebas.
"Aku tidak suka menggunakan uangmu yang hasil merampok itu," sahutnya dingin.
Aku keberatan mendengar sindiran itu, "Jangan khawatir, akan kugunakan tabungan warisan kalau kamu tidak mau kubayar dengan uang hasil kejahatan."
"Sebaiknya kamu cari kerja, aku benar-benar risih dengan kegiatanmu. Carilah uang dengan benar," katanya ogah melihatku. Dia sepertinya tersadar sesuatu, "maaf, aku lupa kamu itu siapa, orang gila mana bisa membedakan benar dan salah. Lakukan saja apapun maumu. Jangan pedulikan aku.."
"Oke, kita beli ayam goreng yuk, itu.." kataku sambil meremas lengan kanannya. Lalu kuseret dengan kasar ke tempat tujuanku. Lalu kubisikkan, "aku suka d**a dan paha goreng, bagaimana denganmu? kamu mau aku menggoreng milikmu juga di rumah nanti?"
Kurasa dia jadi sedikit takut.
"Aku, aku.. maaf," ucapnya lirih sepertinya tengah menahan napas sesaat. Dia selalu seperti ini saat sadar perlakuanku menjadi kasar tandanya aku tidak main-main.
Aku heran, apa harus kuancam dulu agar dia baik padaku?
Banyak sekali stand penjual minuman dan makanan disini, lantai tiga. Tentu saja juga banyak kursi-kursi memenuhi hampir seluruh lantai. Aku memilih meja yang paling jauh dari keramaian, tepatnya bersebelahan dengan kaca gedung. Pemandangan jalan raya macet khas kota ini cukup indah. Maksudku, aku berada di dalam gedung ber-AC melihat orang-orang kepanasan dan kelelahan di luar.
Hiburan yang menyenangkan sekali..
Saat aku ingin memesan makanan, pacar tercintaku menghentikanku, "Aku tidak lapar, kita tadi sudah makan, tolong.. aku minuman saja."
Karena dia memintanya dengan suara lembut, aku pun menanggapinya dengan halus pula, "Tentu saja, Selin Sayang. Akan kubelikan sesuatu, sebentar ya. Jangan nakal!"
Aku meninggalkannya.
Entah mengapa melihat Selin menjadi penurut, tunduk dan merasa ketakutan itu rasanya seperti diguyur hujan setelah kekeringan. Tenang dan menyegarkan. Saat wajahnya itu tertekan, aku yakin dia tidak akan menentangku. Aku dan Jimmy tidak pernah berdebat hal yang sampai membuat kami bermusuhan, jadi aku kesulitan menghadapi orang yang tidak setuju denganku.
Masalahnya hampir semua orang tidak setuju denganku. Itulah kenapa aku tidak suka bersosialisasi. Tidak penting. Aku khawatir, kalau aku tertekan karena mereka tidak setuju dengan pemikiranku, mereka akan berakhir menjadi makam-makam baru.
Tidak. Aku dan Jimmy sepakat untuk tidak membunuh lagi. Tiga saja cukup. Toh, tidak sengaja sebenarnya. Ada niatan memang, cuma terjadi begitu saja.
Kakak Perempuanku dan suaminya sangat mengganggu kuliahku, jadi mati berdua tenggelam di bak mandi. Esoknya, ayah tiriku mau 'melakukan itu lagi' padaku, jadi otomatis aku bereaksi berlebihan dengan memberinya racun tikus. Karena takut dia tidak kunjung mati, aku langsung mengiris lehernya.
Beneran tidak sengaja, Jimmy sudah paham itu, jadi dia menyarankan ku untuk segera mengubur mereka. Coba saja kalau orang lain yang melihatnya, pasti aku dikira sengaja melakukan pembunuhan berencana. Syukurlah yang mengetahui ini hanya aku, Jimmy dan pacar kami, Joselin.
°°°
Setelah membeli minuman s**u buah dan camilan berupa keripik kentang dan kentang goreng, aku segera membawanya ke meja kami. Selin tercintaku tidak pergi kemanapun, tetap tenang seperti yang kuinginkan.
"Sayang, kamu boleh kok ke kamar mandi, jangan diam melulu, nanti aku bingung, kamu masih hidup atau mati mendadak," kataku sambil duduk di kursi depannya.
Dia melirik jam tangannya, "Aku ingin pulang."
"Jangan seperti anak esde dong, kita ini anti pulang sebelum petang," sahutku mulai mengemil kentang goreng.
"Aku punya adik-adik yang lebih baik kurus ketimbang menghabiskan waktu percuma disini, Shua," katanya sedikit memohon.
"Biasanya kalau pacaran sama Elvan itu ngapain? Tidak membuang-buang waktu seperti ini?"
"Jika bersama dia, tidak ada yang namanya pemborosan waktu."
Aku menahan tawa mendengarnya, "Oh romantis banget pasti. Emang kamu biasanya diajak pacaran kemana?"
"Jalan-jalan saja ke kafe.."
"Oh, kirain jalan-jalan menjelajahi surga dunia, aku juga mau dong."
Jelas sekali dia jijik karena omonganku. Dia langsung diam sambil meminum minumannya. Mungkin karena terlalu benar, dia jadi tidak bisa bicara lagi.
"Selin Sayang, kalau punya pacar sepertimu memang sayang kalau tidak disayang-sayang," godaku sambil berusaha menyentuh dagunya. Tapi dia menghindari jariku terus. Aku sudah seperti Om-om yang sedang merayu istri muda hasil nikah paksa.
"Setelah ini kita mau apa?" Tanya Selin berusaha lembut padaku.
Aku menjawab dengan senyuman palsu, "Entahlah, kamu mau kemana? Ke bioskop ini? Atau ke toko sesuatu? Kamu'kan kutu buku, kenapa kita tidak ke Gramedia di lantai dua bawah itu?"
Dia mulai waspada, memberikanku pandangan menyelidik seolah-olah aku ini masih gila atau sudah kerasukan jin. Apa dia belum sadar kalau aku ini sebenarnya pengagum rahasianya yang baik hati?
Hampir semua hal tentangnya kuketahui, dari mulai fisiknya, sampai kesukaannya, kebiasaannya, apapun. Berbeda dengannya yang tidak akan mungkin memahamiku. Tidak ada orang yang bisa pikirannya selaras denganku, kecuali Jimmy. Kupikir setelah keluargaku mati, aku tenang hanya hidup dengan saudaraku itu, tapi dia sangat menyukai Selin. Jadi kami menyeretnya untuk hidup bersama kami.
Kasihan sekali setiap hari bertemu denganku. Kasihan sekali setiap hari melayaniku. Kasihan sekali kalau ngeselin, kubenamkan di bak mandi. Kasihan akunya kalau tidak kulakukan. Aku'kan suka memandangi wajahnya yang marah padaku.
Apa ini yang mereka sebut fetish?
Ah, tidak, aku tidak b*******h saat dia marah-marah. Aku hanya senang. Dia seperti pelawak di televisi, ingin terus kutertawakan.
"Ya sudah, ke toko buku saja kalau begitu," kata Selin membuyarkan pikiranku tentangnya.
Aku menyodorkan camilan yang kubeli tadi, "Boleh, ayo bantuin habisin dulu."
Dia mengambil kentang goreng, lalu memakannya. Jangankan memandangku, dia sedikit ogah bersentuhan dengan kulit tanganku.
"Kamu jangan irit bicara dong, Selin," godaku, "lagi mikirin sesuatu ya? Jangan-jangan nanti setelah pulang kencan ini, kamu mau nyelidiki isi komputerku lagi.."
Dia masih membisu dengan mengunyah kentang goreng.
"Percuma sayang, rencana kamu bakalan gagal terus. Aku'kan tidak bodoh. Masa iya bukti pembunuhan, bukti penipuan, semuanya masih tersimpan," tambahnya tersenyum, "sudah jangan diam melulu sambil berpikir caranya bisa lepas dariku."
Masih diam saja dia.
Aku jadi tertawa karena melihatnya yang muram begini.
°°°°°°°°