Joselin POV
==========
Sekarang masih jam sembilan pagi, aku harus bersama Shua lagi. Sialnya, dia mengajakku kesini, ke kafe depan kampus yang makin ramai kalau hari libur begini. Bukan hanya mahasiswa dari jurusanku, ilmu komunikasi, tapi tempat ini juga menjadi area berkumpulnya mahasiswa tehnik informatika, jurusannya Shua dan Elvan.
Menu utama disini adalah aneka bakso, dari mulai isi jamur, daging, sosis, sayuran, semuanya lengkap. Karena free-wifi, tempat ini akan selalu ramai, setiap orang ditemani laptop masing-masing. Aroma daging sudah tercium di hidungku semenjak menginjakkan kaki disini. Akan tetapi nafsuku malah turun drastis saat melihat geng-nya Elvan sudah memenuhi pojokan ruangan kafe.
"Nah, kita disini saja," ajak Shua malah memilih meja paling dekat dengan Elvan. Dia pura-pura tidak melihat keberadaan teman-teman sekelasnya itu. Setahuku Shua tidak memiliki kubu yang ingin membelanya jika dihajar massal.
Kadang aku khawatir padanya.. kadang sih.. kadang saat aku lupa kalau dia sering mencelupkan wajahku ke air.. setelah ingat, kuharap dia mati saja..
Aku duduk di kursi depannya. Pandanganku tetap lurus sebisa mungkin pura-pura kalau Elvan itu tidak ada. Mustahil memang, bagaimana bisa aku tidak melihatnya?
Dia yang selalu mencolok dari semua teman-temannya, yang paling sempurna bagiku. Wajahnya itu meneduhkan, senyumannya selalu membuatku tertegun hanya untuk mengaguminya. Tapi sekarang setiap kali kami bertatap muka, kalau tidak melengos, ya.. memberiku tatapan benci luar biasa.
Itu menyakitkan, El..
Aku ingin menangis setiap kali mata kami bertemu. Perasaanku sudah seperti ombak laut saja, tidak bisa tenang. Menyesal, gelisah, takut.
Bagaimana kalau nanti dia punya pacar lain?
Padahal kami baru juga berpacaran, baru lima bulanan. Aku sedikit menyesal karena mengikuti perintah Shua mentah-mentah. Saat itu aku sungguh ketakutan pada si gila ini. Entah apa yang harus kulakukan sekarang.
Sampai kapan aku mengikuti permainan Shua terus? apa aku harus menunggunya menyukai seseorang, lalu meninggalkanku? Atau setelah aku berhasil melaporkannya ke polisi?
Tidak ada pilihan yang bagus. Shua itu asexual, aku tidak yakin dia bisa menyukai seseorang. Aku juga gagal terus mendapatkan bukti kalau dia sudah membunuh kakak perempuannya, lalu kakak iparnya, lalu ayahnya. Rasanya ini tidak benar. Aku ingin sekali memberikan pengakuan pada polisi. Tapi mereka pasti menuduhku juga terlibat.
Aku takut.
Pikiranku terus runyam sampai-sampai aku tidak peduli makanan apa yang dipesan oleh Shua untukku sudah terhidang di atas meja. Bakso jamur dan jus alpukat. Wajahku menunduk ke meja karena aku sadar teman-teman Elvan sedang melirikku.
Shua malah menaikkan daguku, "Selin Sayang, jangan nunduk terus dong. Pandang aku.."
"Aku.." aku bingung harus menjawab apa pada manusia ini. Dia memandangku dengan lembut dan penuh cinta. Itu mungkin yang dilihat oleh orang lain. Bagiku, dia terlihat seperti rubah yang ingin menertawaiku.
"Cantik banget kamu hari ini," pujinya palsu dibuat-buat sekeras mungkin. Ia menambahkan, "nanti rada siangan kita nonton gimana?"
Karena mungkin aku sedikit lama menjawab, dia mulai berkata lagi dengan menyentuh pipiku sedikit kasar, "Nanti kita bawakan oleh-oleh juga untuk Ibu Sarah."
Ya Tuhan, dia sudah berani membawa-bawa nama Ibuku..
Dalam sekejab aku menyentuh punggung tangannya, kupegangi erat-erat. Kupaksakan senyuman di bibirku dan langsung kubalas ucapannya, "Iya, kita nonton nanti siang."
"Ini ucapan terima kasihku karena sudah senantiasa memasak untukku dan perhatian padaku. Aku sangat menyayangimu, Selin," ungkapnya memandangiku dengan senyuman bahagia tapi tatapannya tampak menertawaiku.
"Iya, tentu, aku.. juga menyayangimu.." balasku berat sekali.
Dia seenaknya merapikan poniku, menyibakkan rambutku ke belakang seolah-olah ingin puas memperhatikanku. Tidak. Dia hanya terus menerus membuat ulah sehingga Elvan marah.
BRAKK...
Akhirnya terjadi lagi, Elvan menggebrak meja. Lalu pergi begitu saja dari sini. Akhir-akhir ini sikapnya menjadi kasar. Aku tidak berani melihatnya.
"Aku pergi dulu, guys, mau futsal!" serunya bernada ketus pada teman-temannya.
Shua malah tertawa lirih.
Satu per satu teman Elvan mulai meninggalkan meja. Tindakan mereka ini mengundang perhatian sebagian pengunjung karena mereka mengelu-elukan, "HUUUHHH!!" padaku.
Ini memalukan, terutana saat melihat tatapan mereka padaku. Ibarat jika saja aku laki-laki, aku sudah babak belur di pinggir jalan.
Mungkin aku harus memikirkan cara untuk bicara dengan Elvan...tanpa membuat Shua mengancamku..
Setelah suasana sepi di sekitar kami, Shua mengeraskan tawanya. Dia cukup puas melihat mereka semua walkout akibat ucapannya.
"Seperti biasa ya, mantan pacarmu cemburuan, baper melulu hidupnya. Masalah cewek saja begini banget," ejeknya padaku sambil memukul-mukul meja karena menurutnya ini lucu sampai-sampai mangkok bakso kami bergetar. Dia terus tertawa tidak peduli sekitar.
"Kamu bisa dihajar mereka, hati-hati saja," kataku sedikit mengancam.
"Aku sih santai. Aku tidak salah, bukan aku yang merebutmu, kamu yang meninggalkannya dan memilihku. Jadi sebaiknya kamu hati-hati kalau pulang kuliah, Selin Sayang," katanya lirih sambil mencondongkan wajahnya padaku.
ARGGHHH!! aku ingin sekali mencakar wajahnya!
Dia menambahkan, "Siapa tahu kamu nanti diculik dan perkosa rame-rane. Kamu'kan terkenal bitchy-bitchy sekarang. Makanya, jangan mainin hati cowok, sadis'kan akibatnya..."
"Kamu yang membuatku begini! Aku menyesal!" Bentakku.
"Jangan menyesal putus dari Elvan untukku, menyesalkan kalau Ibu Sarah jadi kuburan di belakang rumahku," Bisiknya diiringi senyuman licik.
"Sebenarnya apa maumu? Aku sudah berjanji tidak akan membeberkan rahasiamu kalau kamu ini sebenarnya sakit jiwa. Kenapa aku harus putus dengan Elvan dan jadi pacarmu?" Tanyaku serius.
Dia memperhatikan sekitarnya. Mungkin memastikan dulu tidak ada yang menguping kami. Selepas itu, baru dia menjawabku, "Selin Sayang, aku ini benci sekali dengan mantan pacarmu dan kulihat kamu punya penampilan yang bagus. Jadi pepatah mengatakan, 'sekali menembak, dua orang mati'. Aku mendapatkanmu sekalian membuat Elvan patah hati. Akhirnya sekarang, kamu dan dia.. patah hati barengan."
"Kenapa kamu setega ini? Memangnya apa yang dilakukan Elvan padamu? Dia tidak pernah kulihat menyakitimu.."
Dia menjelaskan dengan nada datar, "Sayang, bentuk dari 'menyakiti' itu bukan hanya secara fisik. Misalnya aku, aku tersakiti jika melihat orang bahagia. Aku disini, tidak pernah merasakan kebahagiaan, lalu kenapa ada orang yang terlahir sudah bahagia dan terus bahagia di depan mataku?"
Setelah jeda sejenak, dia melanjutkan, "Contohnya Elvan. Dia dari keluarga kaya, anak tunggal, punya keluarga besar yang bahagia, pintar segalanya, populer, dicintai, dan kemudian punya pacar sepertimu. Aku yang sekelas dengannya merasa ini harus diseimbangkan.."
Tidak heran, memang ada yang salah dengan otaknya..aku tidak mengerti jalan pikirannya..
Dia menyentuh kulit pipiku kembali, "Dan aku butuh bahagia juga. Orang lain mungkin bilang, bahagia itu sederhana. Tapi bagiku, aku tidak tahu bahagia itu bagaimana? Mendapatkan uang? Tidur secukupnya?"
Lalu tersenyum padaku seolah sadar akan sesuatu seraya meneruskan ocehannya, "Oh, benar, aku merasa senang saat melihat kalian patah hati dan melihatmu kesal padaku, jadi ini mungkin yang disebut hidup bahagia.."
Dia semakin parah..
"Walaupun aku tidak tertarik padamu, Selin. Tapi kamu sangat pantas kujadikan pacar pajangan. Sejak kita berpacaran, semua langsung menyebut kita pasangan ter-hot sekampus! Aku yang mirip pangeran negeri dongeng ini akhirnya bertemu dengan Cinderella."
"Kamu benar-benar harus ke psikiater, Shua, aku mohon," pintaku sedikit tertekan dengan senyuman yang dia berikan.
Dia berpikir sejenak, kemudian menjelaskan hal yang diluar topik pembicaraan kami sekarang, "Mungkin aku harus mulai mengatur jadwal agar hidupku lebih tertata. Aku tidak mau nilai IPK-ku turun lagi semester ini. Bagaimana denganmu, Selin Sayang? Sudah semester dua, apa yang sudah kamu pelajari? Kamu jurusan ilmu komunikasi'kan? Ngapain itu? Ngoceh doang, pantes kok sukanya menasehatiku."
Kenapa aku terjebak dengannya?
Aku menjawabnya dengan lemas, "Aku tidak akan bicara lagi."
"Maaf, Sayang, aku suka menggodamu, wajahmu itu lucu sekali kalau sedang galau," katanya sambil mengelus pipiku, "padahal kulitmu mulus sekali, cantik, matamu juga jernih, tapi anehnya aku masih tidak tertarik padamu."
"Baguslah kalau begitu."
"Tapi Jimmy sangat menyukaimu, dia selalu berpikir jorok tentangmu."
Dia ini menyimpang, tolong aku.. apa yang harus kulakukan sekarang..
Karena melihatku diam saja, dia kembali berkata, "Jadi aku akan mulai menyukaimu. Kamu itu selain pacar pajangan, juga untuk latihan agar aku bisa merasakan enaknya punya pacar seperti orang lain. Sampai sekarang aku masih bingung dengan kegunaanmu selain memasak untukku."
"Aku bukan barang percobaan," ucapku tegas.
"Sayang, ingat ya, kalau ngomong sama Bebeb Joshua itu yang santun dan penuh cinta. Soalnya Bebeb Joshua ini mudah sakit hati, kamu tidak mau berakhir di bak mandi atau belakang rumah' kan?"
Terserah...
Aku menghiraukan omongannya dengan mulai memakan bakso yang sudah mulai dingin. Sekalipun dia terus menerus mengejekku, menertawaiku, menggodaku, memujiku, aku tidak peduli. Kalau aku salah menjawab sedikit, dia akan membawa nama 'Ibu Sarah' lagi.
Sesuatu... Aku harus melakukan sesuatu...
°°°°°°°°