Joshua POV
==========
Orang normal pasti menganggapku gila kalau aku bicara dengan saudara kembarku. Padahal kami itu berbeda. Dikira aku bicara sendiri artinya aku gila? Tidak. Jimmy punya pikiran sendiri. Bahkan aku sendiri tidak tahu pikirannya.
Jimmy sering bicara denganku secara tiba-tiba. Dia itu hidup dan ada di dalam diriku. Orang lain saja yang tidak mengerti ini. Tidak ada yang paham. Tidak ada yang tahu, sekalipun ketiga anggota keluargaku yang sudah terbang ke neraka itu.
Ke psikiater? No way.
Maksudnya, aku harus duduk diam dan menceritakan masalahku pada orang asing? Palingan dia memberiku obat lalu memintaku untuk kembali ke realita bahwa Jimmy itu tidak nyata.
Jahat sekali, iya 'kan Jim?
Ya, Shua, orang normal pasti berpikir kita tidak normal.
Jimmy itu nyata. Seriusan. Dia menemaniku semenjak aku menyadari lebih baik aku tidak usah lahir kalau punya keluarga seperti ini. Maksudku, seperti ketiga keluargaku yang sudah kukubur.
Saking ngerinya perbuatan mereka padaku, aku masih trauma meskipun mereka sudah mati. Sial sekali. Kepalaku terasa mau pecah kalau mengingat hari-hariku bersama mereka. Jimmy benar, harusnya kubunuh mereka sejak dulu. Sekarang aku sudah sangat menyesal.
Aku gila karena mereka.
Tapi tidak masalah sih, dengan begini otakku semakin terbuka. Menjadi seperti orang kebanyakan itu sudah terlalu mainstream, sedangkan menjadi diriku yang error' ini terasa menyenangkan. Cowok normal lainnya main ke klub, minum-minuman keras, pacaran, hangout.
Bagaimana denganku? Aku lebih suka diam di rumah, melakukan hal kriminal di dunia Maya sehingga tabunganku semakin menumpuk, lalu entahlah, mempersulit hidup pacarku.
Mungkin karena selama 19 tahun hidupku terkurung di situasi keluarga ini, cara berpikirku menjadi tidak karuhan. Aku tidak tahu cara menikmati hidup. Aku tidak tahu kenapa seseorang menyukai alkohol yang rasanya seperti muntahan. Aku tidak tahu kenapa orang menyukai wanita telanjang.
Aku bersyukur, Jimmy selalu menenangkan jiwa tidak terkontrolku. Kalau saja dia tidak ada di sampingku, mungkin aku sudah membunuh siapapun yang kutemui. Rasanya tanganku ingin menghancurkan apapun jika perasaan galauku kumat.
"Mungkin tidak ada salahnya nongkrong di kafe depan kampus, Shua?" Ucap Jimmy padaku.
Aku mengangguk setuju, "Ya, kepalaku juga pusing kalau sendirian di rumah hari Minggu begini."
"Ajak pacar tercinta kita," saran Jimmy lagi. Aku tahu dia sedang tersenyum saat mengatakan ini. Tentu saja aku paham niatnya hanya untuk mengerjai gadis itu.
"Tentu. Dia tidak berguna kalau tidak bisa diajak kemana-mana. Kurasa kalau Minggu, dia libur kerja part-time'kan.."
"Tapi bukankah dia suka bantu-bantu di rumah asuhnya?"
Aku tersadar, "Sial, benar juga, kita kesana saja dulu. Sekalian kenalan sama adik-adiknya. Lumayan'kan kalau dia nakal lagi, ada bahan ancaman?"
"Boleh juga, dia'kan makin hari makin berani sama kita."
"Ayo langsung pergi, percuma saja kalau dia dihubungi dulu, masa iya, pacar sendiri nomornya diblokir, jahat banget'kan?" Candaku tertawa bersama dengan Jimmy.
Aku segera bersiap-siap, berdandan rapi khusus untuk kencan mingguan, lalu kuambil kunci motorku dan berangkat.
°°°
Tidak sampai lima belas menit aku berada di jalan. Kecepatanku dalam berkendara sudah seperti pembalap. Sejak dulu aku sudah berdoa agar mati di jalan. Tapi ya kalau aku mati, penderitaan ku selesai dong. Takdirku bilang, "Mana boleh begitu, susah dulu sampai tua terus mati."
Sial. Memang trauma itu sulit sekali hilang dari kepalaku. Kemanapun, apapun yang kulakukan, kepalaku hanya diisi oleh wajah-wajah para b*****t itu. Padahal aku sudah mengubur mereka, kenapa kenangannya masih membuatku ingin mati.
Aku bukan tipikal pecinta bunuh diri. Tidak. Tidak. Bunuh diri itu dosa. Kalau bisa mati secara alami. Tapi Jimmy bilang kita akan menikmati hidup setelah keluargaku mati. Nah, sekarang aku sedang mulai menata hidupku lagi.
Pertama-tama berpacaran dengan Selin.
Gadis ini punya sifat bertentangan denganku. Dia 100% punya pemikiran normal, baik hati, pintar, dan suka menolong. Bahkan dia terbiasa menjadi ibu bagi beberapa anak di rumah asuh ini. Luar biasa. Aku tidak menyangka aku akan mendapatkan mainan sepertinya.
Dia sangat sempurna. Tidak heran Elvan selalu memujinya kemana-mana. Tapi sekarang dia memakinya dimana-mana. Kasihan sekali pacarku, sudah cantik, baik, tapi diejek melulu. Aku sebagai pacar sangat bangga.
Rumah asuhnya sangat kumuh, sempit, aku benci berada disini terlalu lama. Baunya juga tidak nyaman untuk hidungku. Bedak-bedak bayi terasa bertebaran di setiap sudut ruangan.
Kulihat pacarku sedang bermain dengan beberapa balita di dalam kamar bermain anak. Caranya memperlakukan mereka sangat baik, berbeda denganku. Entah mengapa aku sedikit benci melihatnya. Dia selalu memandangku hina, sementara penuh cinta pada siapapun.
Apa karena aku dia anggap gila? gila apanya? Aku bisa berhitung, aku bisa berpikir.. artinya aku waras..
"Ngapain kamu disini?" Tanya Selin menoleh padaku.
"Ngajakin nge-date," jawabku tersenyum.
"Aku lebih suka disini ketimbang denganmu."
Aku tertawa lirih mendengar tanggapannya, "Lah, memangnya aku sedang bertanya ya?"
Dia melototiku, lagi dan lagi, kemudian menghampiriku sambil menegaskan, "Aku.. muak padamu!"
Kulihat telapak tangannya yang kulukai masih tertempel plester. Tapi kelihatannya sudah kering lukanya. Aku sontak menggodanya, "Aku ini pemaksa, maaf, Selin. Pacarku cuma kamu saja, ngajak siapa lagi aku?"
Karen dia tidak menjawabku, aku mengancamnya dengan nada candaan, "Kalau kamu nolak, nanti ada luka baru loh hayo.."
Well, aku serius mengatakannya, cuma aku tidak mau sok-sok tampang garang didepannya..
Toh, dia paham. Dia langsung mendorong tubuhku dan pergi mendahuluiku sambil bertanya dengan ketus, "Mau kemana lagi sekarang!"
Aku mengikutinya sambil tertawa puas, "Kafe saja ya, depan kampus kita itu, biasanya Elvan'kan nongkrong disana. Sekalian pamer kemesraan seperti biasa. Hidupku tidak tenang kalau tidak membuat resah seseorang."
"Asshole."
Saat kami hendak keluar rumah, ada seorang wanita paruh baya sedang menggendong bayi. Dia menyapa kami dengan senyuman, "Selamat pagi.."
Aku menanggapinya dengan ramah, "Pagi, Bu, saya pinjam Joselin dulu ya."
Tidak kenal juga siapa..
"Eh, ini pacar kamu, Sel, Nak Elvan, bukan? Akhirnya kamu bawa kemari, dikenalin sama Ibu gini dong," ucap wanita itu sedikit membuatku risih saat melihatku penasaran.
"Nama saya Joshua, Bu, Nak Elvan itu sudah mantan," sahutku sembari tertawa lirih.
Sontak saja Selin dan Ibu-ibu itu saling berpandangan sesaat. Lalu kompak menatapku. Sepertinya mereka berdua sering membahas Elvan. Kalau pacar baik ya memang harus dipamerkan.
"Oh, iya, Saya itu ibu asuhnya dulu, panggil saja Bu Sarah," kata wanita itu tersenyum padaku.
"Sudahlah, Bu, Selin pergi dulu, tolong jangan membahas Elvan lagi," kata pacarku seraya menyeretku agar segera meninggalkan rumah asuh ini.
Padahal aku ingin lebih mengenal wanita itu. Apalagi setelah tahu ternyata dia ibu asuhnya. Pastinya kalau kuancam, Selin langsung menyembahku. Dia tidak akan berani lagi menipuku dan berusaha membuatku kesal.
Oke... Nanti saja kucari tahu, sekarang kencan dulu..
°°°°°°°°