Romantisme Hutan Pinus

2000 Kata
Akhirnya perjalanan yang sesungguhnya ke tempat indah yang dijanjikan Andi dimulai. Sepanjang perjalanan Andi dan Nuke saling bercerita mengenang pengalaman mereka saat masih kanak-kanak dulu. Nuke pun baru menyadari wangi di dalam mobil Andi sangat menenangkan seperti wangi saat kita mendatangi pesta pernikahan, kemudian kalau kita menyalami pengantin, wangi ini tercium. Ya benar, aroma Melati yang segar seperti saat kita menghampiri singgasana pengantin. Hingga tak terasa waktu terus berjalan dan sampailah mereka ke tujuan. Sebuah hutan pinus yang indah. Anehnya semua tempat wisata biasanya ramai kalau menjelang liburan tapi ini nampak sepi. Hanya mereka berdua di sana. Wangi dedaunan segar karena embun yang masih nampak di sana sini membuat mereka ingin selalu berdekatan dan bergandengan tangan. Mereka memasuki pintu gerbang hutan pinus yang bentuknya seperti bunga-bunga yang bergoyang di atas kepala mereka. Beberapa langkah mereka berjalan, Andi mencegah Nuke untuk berjalan. Kemudian Andi memasukkan tangannya pada saku celana panjangnya dan mengeluarkan kembali bunga melati Jepang. Teringat Nuke pada bude Sari setelah melihat bunga melati Jepang di telapak tangan Andi. Bude Sari yang memberitahunya nama bunga melati jenis ini. Seperti mengetahui keraguan dan kekhawatiran Nuke, Andi mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Nuke. Nuke tanpa sadar memejamkan matanya. Kemudian dirasakan kehangatan kulit bibir Andi mengulum lembut bibir bawahnya. Jantung Nuke berdegup semakin cepat. Andi mulai memeluk pinggang Nuke dan mendekatkan penuh ke tubuhnya. Nuke gemetar seketika.. Andi pun tampak sadar sudah hampir melampui batas. Ia menjauhkan bibirnya perlahan dari bibir Nuke. Namun tangannya Masih memeluk pinggang Nuke. Perlahan dilepaskannya pelukan itu. "Nuke maafkan aku, tadi sepertinya aku terbawa suasana. Semoga kamu tak marah padaku," jelas Andi. Nuke masih terdiam dan terpaku di posisi yang sama. Tak bergeming sedikit pun. Jantungnya yang tadi berdegup kencang, perlahan mulai normal kembali. Tak tahu harus berkata apa. Nuke merampas bunga melati Jepang dalam genggaman Andi dan menyimpannya di tas. Nuke tersadar suasana Hutan Pinus mulai tampak temaram karena mungkin akan turun hujan sebentar lagi. Nuke memeluk Andi dan mengatakan ia memaafkan kelancangan Andi yang baru saja menciumnya. Nuke berkata seandainya ini untuk selamanya. Diluar dugaan Andi menjauh perlahan dan melepaskan tangan Nuke dari tubuhnya. Matanya memandang Nuke pilu, entah Nuke merasa ada sesuatu yang pedih pada diri Andi. "Maafkan aku jika kebahagiaan ini bukan untuk selamanya", sepertinya itu arti tatapan Andi. Tanpa berkata lagi Andi memegang tangan Nuke dan mengajaknya kembali ke mobil. Tiba-tiba terjadi keheningan diantara mereka berdua. Andi yang tampak fokus membawa kendaraan dan Nuke yang melihat jalan di depannya yang mulai kosong. Nuke menyadari hal ini mengapa perjalanannya dengan Andi tampak banyak kejanggalan dari Hutan Pinus yang sepi hingga jalan yang tak ramai kendaraan. Nuke melirik jam tangannya, ya Tuhan ini sudah jam 7 malam, lebih baik aku langsung kembali ke rumah bude saja dan siap untuk kena marah bude. Nuke membuka suara lebih dahulu memecah kesunyian di dalam mobil yang melaju. "Andi aku akan pulang ke rumah budeku saja. Tidak jauh dari toko. Nanti aku kasih tau alamatnya." Seperti sudah tahu apa yang akan dibicarakan Nuke, Andi hanya menganggukkan kepala dan tersenyum. Tangan kiri Andi meremas tangan kanan Nuke. Lembut suara Andi mengatakan perasaannya pada Nuke," Maafkan aku telah mencintaimu dan maafkan jika aku melukai perasaanmu, burung camar." Nuke menyandarkan kepalanya yang tiba-tiba terasa berat pada bahu kiri Andi. Tak terasa Nuke tertidur. Nuke terbangun saat ia merasakan mobil Andi berhenti dan tidak terdengar suara mesin mobil. Nuke mengangkat kepalanya yang dari tadi bersandar pada bahu Andi. Nuke tampak keheranan karena ternyata ia sudah sampai di depan rumah bude. Seingatnya ia belum mengarahkan jalan dari toko ke rumah. Andi tersenyum seolah tahu yang dipikirkan Nuke dan berkata, "Kamu bergumam sambil tidur menyebutkan alamat budemu tadi." Masih kaget dan setengah mengantuk, Nuke membuka pintu mobil Andi dan kemudian menutupnya kembali setelah ia keluar perlahan. Andi meminta maaf dirinya tidak dapat turun menemani Nuke hingga ke rumahnya karena harus segera pergi. Nuke melambaikan tangan dan Andi pun membalasnya sebentar kemudian mengarahkan mobilnya di jalan hingga hilang di kegelapan malam. Aduh, bude pasti marah besar karena saat ini pasti malam telah larut. Namun betapa terkejut Nuke saat melihat kembali jam tangannya masih jam 7 malam. Nuke yakin batere jamnya harus diganti karena mati jamnya. Bergegas ia masuk ke rumah dan menyalakan lampu. Ternyata bude belum sampai rumah sebab rumah tampak gelap. Betapa kaget dirinya saat melihat ke jam dinding bahwa jam masih menunjukkan pukul 7 malam, artinya jam tangannya Tidak mati. Tidak mungkin rasanya perjalanan pulangnya tadi bersama Andi begitu cepat seperti terbang. Nuke melihat begitu banyak panggilan tak terjawab sebagian besar ada dari bude, karyawan bude dan bahkan Linda. Pesan singkat mereka bernadakan kepanikan karena Nuke tidak kembali sesudah makan siang. Nuke segera berinisiatif menelepon bude Sari dan menjelaskan bahwa ia dijemput Andi dan sekali lagi meminta maaf karena ia lupa untuk meminta ijin bude. Saat ditelepon, bude tidak berkata banyak tapi Nuke tahu dari nada suara bude dia akan marah saat kembali nanti ke rumah. Setelah Nuke menutup telepon ia pun segera mengirim pesan pada Linda bahwa ia telah kembali ke rumah bude dengan selamat. Linda yang penasaran memintanya bercerita apa yang terjadi dengannya hari ini, mengapa bude Sari meneleponnya dan menanyakan keberadaan Nuke pada Linda. Nuke hanya menjawab besok saja di kantor akan ia jelaskan karena saat ini Nuke merasa sangat lelah. Nuke pun tertidur setelah membasuh dirinya, bahkan ia melewatkan makan malam bersama bibi. Bibi yang pulang sekitar sejam setelah Nuke, hanya mengecek Nuke yang telah terlelap dan ia tak membangunkannya. Nuke malam itu sempat terbangun sebentar saat ia mendengar suara bude sedang bertelepon dengan seseorang dan tampak serius. Nuke mendengarkan dari sela-sela pintu kayu karena penasaran bude Sari seperti menyebutkan namanya beberapa kali. "Iya mas, aku sudah mengingatkan anak itu tapi dia seperti sedang gandrung dengan seseorang dan aku tak yakin ada benar orangnya sebab menurut pegawaiku ning toko pernah melihat Nuke bicara sendiri mas. Takutnya dia stress kasihan karena kehilangan orang tuanya atau karena keinginannya untuk memiliki pasangan belum terwujud," begitu keluh bude pada seseorang yang akhirnya Nuke mengenali lawan bicara bude sebagai om Wandi, merupakan sahabat bude yang berada di Yogya. Waktu itu Nuke dikenalkan bahwa ia seorang psikolog. Tapi yang jelas kalau bude sampai menceritakan Nuke pada orang itu artinya seolah Nuke sedang bermasalah di mata bude. Nuke kembali ke tempat tidurnya dan kesal akan semua ini. Kenapa harus ini yang ia alami. Nuke pun terlalu lelah untuk membela diri dan menjelaskan kepergiannya kali ini pada bude. Nuke pun kembali tertidur. Nuke malam itu bermimpi kembali ke Hutan Pinus bersama Andi dengan suasana Hutan yang terang dan bunga-bunga tampak bermekaran di sebuah taman di tengah Hutan Pinus. Nuke mengenakan gaun pengantin putih panjang dan ditangannya memegang buket bunga yang banyak sekali melati Jepangnya. Buket itu pun wangi sekali. Ia melihat Andi dengan tampilan gagah mengenakan jas hitam dan kemeja putihnya dengan dasi sebagai aksesoris menambah kegagahannya. Inikah pesta pernikahan yang kutunggu? Begitu pikir Nuke. Nuke dan Andi berjalan ke altar yang dihiasi penuh bunga berbagai jenis. Harum bunga melati menambah semerbak wangi altar itu. Ada seorang pastor yang berdiri di depan mereka dan Andi berada di samping kanan Nuke. Namun beberapa saat kemudian suasana yang terlihat sakral itu berubah menjadi teriakan kepanikan. Nuke merasa tubuhnya ditarik kebelakang dan dijauhkan dari Andi yang masih di altar dan menatap Nuke dengan tatapan sedih. Nuke menengok ke belakang, ia ingin mencari tahu siapa yang menariknya tadi. Betapa kaget Nuke melihat bapak dan ibunya yang ternyata telah menjauhkan dirinya dari Andi. Bapak tampak sedih dan Ibu berkata tegas sambil menatap tajam pada Nuke, "Kamu tidak boleh menjadi istrinya. Kalau kamu masih sayang bapak dan ibu, segera jauhi dia." Nuke terbangun kaget dengan sekujur tubuh penuh keringat. Dipegangi dahinya sendiri dan terasa panas dan ia merasa tubuhnya mulai demam. Nuke melirik ke samping kanannya dan melihat Bude sibuk mengkompres dahinya dengan air dingin. Nuke masih tampak lemas, serasa tenaganya hilang seketika karena demam yang ia rasakan. Nuke berusaha berkata lirih pada budenya, "Bude... Maafkan Nuke yang membuat kesal dan kecewa bude dalam beberapa minggu ini." Bude tersenyum dan menanggapi perkataan Nuke, "Nduk, orang tua macam bude dan orang tuamu pasti kepingin anaknya bahagia. Kadang kami cerewet karena ya ini, kami tidak mau kamu sakit apalagi luka hatimu, nduk." Tiba-tiba keluar bulir-bulir air mata dari pelupuk mata Nuke. Teringat ia akan ibu dan bapaknya. Banyak nasehat mereka yang memang banyak benarnya. Kadang Nuke karena merasa sebagai anak jaman Now sering membenarkan pendapatnya sendiri dan menilai pendapat orang tuanya terlampau kolot. Hari itu Nuke tidak bekerja. Bude Sari menjadi sibuk merawat keponakannya yang sakit itu. Bude memasak bubur dan menyuapi Nuke sambil memberikan obat demam. Rencananya jika sore hari Nuke tidak membaik, maka bude akan membawanya ke rumah sakit. Beruntung, panas badannya mulai mereda sejak Nuke meminum obat penurun panas yang kedua kali. Saat Linda dan beberapa teman kantornya datang menengok sepulang kerja, keadaan Nuke sudah lebih baik dan bisa duduk bersandar pada tempat tidurnya. "Nak semua ayo ke ruang tengah sebentar minum teh hangat dan ada singkong dan ubi," bude menjamu teman-teman Nuke setelah beberapa menit mereka berada di kamar Nuke untuk melihat keadaan Nuke. Semua tampak bersemangat dan menerima ajakan Bude untuk minum teh sore dan makan cemilan yang disiapkan bude. Hanya Linda yang masih duduk dekat Nuke dengan wajah penasaran. "Ayo mbak Nuke, ceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi kemaren. Kenapa kamu menghilang?" tanya Linda setelah dia berduaan saja dengan Nuke. Nuke tersenyum karena merasa Lucu melihat wajah penasaran temannya itu. Akhirnya Nuke pun menceritakan kisahnya dengan Andi dan awal pertemuan dirinya dengan sahabat lamanya, Tika, ketika ia berkunjung ke toko bude. Linda tampak serius mendengarkannya dan terkadang terlihat mimik kaget saat mendengarkan Nuke bercerita. "Mbak, ada perkataan bude saat mencarimu kemarin, yang cukup mengganggu pikiranku. Bude bilang mbak mungkin stress sehingga merasa bertemu dengan seseorang tapi sebenarnya tidak. Apa seseorang yang dimaksud bude itu mas Andi dalam cerita mbak tadi?" tanya Linda. "Sepertinya demikian, bahkan semalam kudengar dia bicara dengan temannya seorang psikolog tentang kecurigaannya terhadap sikapku. Tapi Andi itu nyata Lin. Aku merasakan genggaman tangannya bahkan mencium aroma parfumnya." Jelas Nuke lagi. Nuke pun mengangguk mendengarnya,"aku percaya dirimu tidak bohong mbak, tapi ada beberapa hal tak masuk akal salah satunya adalah kalau Andi berniat serius denganmu maka seharusnya dia menemui budemu. Aku cuma takut kamu dipermainkan saja, seperti dulu kejadianmu dengan Hasan yang tiba-tiba menghilang. Pembicaraan mereka terpaks harus dihentikan karena ada beberapa teman yang masuk dan menawarkan bergantian menjaga Nuke supaya Linda dapat minum teh dan makan cemilan di luar. Akhirnya teman-teman Nuke berpamitan. Mereka harus istirahat juga sebab besok harus kerja. Tampaknya Nuke masih belum sembuh benar, ia masih belum masuk esok hari. Linda masih memberikan kode dengan mengedipkan mata kanannya pada Nuke yang maksudnya Nuke harus melanjutkan lagi ceritanya di lain waktu. Nuke hanya tersenyum menanggapinya. Ada rasa malas untuk membahasnya lagi. Nuke hanya memikirkan apa maksud dari mimpinya yang terlihat orang tuanya sangat tak setuju pada hubungannya dengan Andi. Seakan dimimpi itu Nuke tak diberi kesempatan oleh orang tuanya untuk menjelaskan dan mengenalkan Andi sebagai sahabat masa kecilnya pada ayah dan ibu. Setelah dua hari Nuke istirahat akhirnya ia kembali bekerja. Linda masih mendekatinya untuk cerita lagi soal dirinya dan Andi. Nuke menolak halus dengan alasan dia sibuk harus merekap semua kerjaannya yang tertunda selama dua hari dirinya tak masuk kerja. Saat sedang serius bekerja tiba-tiba Nuke merasakan telepon genggamnya bergetar karena Nuke membuatnya menjadi mode getar jika ada telepon atau pesan masuk. Tidak ada nama penelepon muncul di situ. Artinya ini orang baru atau tak dikenal. Malas rasanya angkat karena Nuke takut ini penelepon iseng. Namun Nuke akhirnya memutuskan untuk menjawabnya. Nuke pindah ke ruang rapat yang kosong untuk menjawabnya jika telepon genggamnya bergetar kembali. Dan benar saja telepon tersebut bergetar kembali setelah beberapa menit Nuke menunggu. Terdengar suara pria di seberang sana: "Hallo, benar ini Nuke kan?" begitu tanyanya. Nuke tidak segera memutuskan telepon itu sebab sepertinya ia kenal suara itu. Nuke mengiyakan si penelepon bahwa ini memang nomor teleponnya. Nuke tanya balik siapa yang meneleponnya. "Nuke jangan kamu tutup telepon ini, aku harus menjelaskan sesuatu. Aku Hasan," seru pria itu agak terbata-bata.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN