Bertemu untuk Berpisah

2000 Kata
Hasan sepertinya sudah menebak bahwa Nuke akan segera memutuskan pembicaraan mereka setelah tahu siapa yang meneleponnya. Nuke terdiam dan mengatur nafasnya dengan baik agar tidak emosi dan salah menjawab jika Hasan menyampaikan sesuatu padanya. "Aku masih di sini silahkan jika ada yang mau disampaikan," jawabnya. "Aku ingin mengajakmu makan di luar jika kamu bisa, karena aku ingin minta maaf sebab tiba-tiba aku menghilang tanpa kabar," pinta Hasan. Nuke merasa malas menanggapi permintaan Hasan. Rasa kecewa dan takut dibohongi masih terasa di hatinya. Lagipula pria ini adalah lelaki beristri, begitu pikir Nuke. "Hmm.. aku sebenarnya tak masalah makan di luar, hanya saja aku habis tak masuk dua hari karena sakit jadi minggu ini pasti sibuk sekali karena banyak yang harus aku selesaikan, " sepertinya alasan ini cukup baik buat menolaknya, begitu pikir Nuke. Hasan menerima alasan Nuke, tapi ia tetap ingin berusaha untuk bertemu lagi mungkin di lain waktu meski tidak di minggu ini. Akhirnya mereka menyelesaikan percakapan. Nuke pun segera kembali ke meja kerjanya. Pandangan matanya memang ke layar komputer tapi pikirannya sungguh menerawang jauh memikirkan hubungannya dengan Andi dan tiba-tiba Hasan datang kembali ingin bertemu yang menurut Nuke tidak ada yang perlu dijelaskan lagi. Hari ini adalah minggu ketiga di bulan Desember, setelah dua minggu sebelumnya Nuke bertemu dengan Andi. Romantisme yang terjadi di Hutan Pinus seakan tak semudah itu hilang dari kenangannya. Meski ada keraguan untuk bertemu lagi, namun rindu pada Andi seperti sulit untuk dihindari. "Nduk, hari ini bude minta kamu tak usah ke toko. Pulihkan kesehatanmu dulu. Bude ingin kamu kembali sehat dan ceria. Atau mungkin kamu dapat mengerjakan hobimu. Dulu bude pernah melihat kamu melukis. Kenapa tidak kamu lanjutkan? Tak usah kamu pikiran soal toko karena teh Rina yang cuti kan sudah kembali," begitu jelas bude saat sedang sarapan dengan Nuke. Nuke masih berharap hari ini bertemu dengan Andi. Banyak hal yang ingin ia tanyakan pada Andi yang selalu saja lupa ditanyakan saat mereka bertemu. Memang benar kata bude, ia masih perlu istirahat karena setelah sakit, Nuke mendapat kerjaan yang cukup banyak karena menjelang akhir tahun. Nuke juga mengingat kegemarannya melukis. Ia merasa tidak ahli melukis hanya suka saja mencoba bermain dengan peralatan lukis dan bereksperimen menciptakan hal baru. "Baik bude, aku sepertinya masih perlu istirahat. Badan masih linu enaknya pergi pijat sepertinya," jawab Nuke. Bude pun menawarkan untuk memanggil si ninik urut yang biasanya sering bude panggil kalau membutuhkan jasa pijat di rumah. Nuke pun setuju dan bude segera mengambil telepon genggamnya untuk menghubungi ninik urut. Sekitar satu jam kemudian ninik urut tiba. Sebenarnya nama asli ninik urut adalah nik Ani. Namun nama terkenal di kampungnya adalah ninik urut. Mungkin karena dia termasuk tukang pijat senior yang paling tua. Biasanya dia diantar oleh asistennya setiap akan memijat di perumahan. Entahlah benar atau tidak, menurut beberapa orang yang sering memakai jasanya, ninik urut memiliki indra ke enam kalau bahasa anak muda sekarang itu indigo. Katanya pernah ia membantu menyembuhkan orang yang ketempelan makhluk halus dengan memberikan pijatan yang membuat makhluk halus di tubuh pasiennya keluar. "Neng, di lantai saja pijatnya lebih enak," ninik urut berkata sambil membantu menyiapkan alas tidur untuk Nuke di lantai. Nuke berbaring telungkup sudah siap untuk dipijat. Pijatan ninik urut memang pas. Tidak pelan namun dibadan tidak terasa sakit. Mulai dari telapak kaki, betis, paha kemudian naik ke tubuh bagian belakang terlebih dahulu. Biasanya saking enaknya pijatan ninik urut, Nuke akan tertidur dan benar saja ia pun sudah tertidur. Entah karena begitu rileksnya hingga Nuke tertidur dan bermimpi. Nuke melihat sebuah mobil sedan putih berhenti di depan rumah bude. Nuke mengenali mobil tersebut. Itu mobil Andi. Angin bertiup sejuk dan menggerakkan tirai di jendelanya dengan lembut. Suasana pun tampak cerah. Nuke masih melihat ke luar dari jendela ruang tamu. Andi keluar dari mobilnya dan menghampiri pintu pagar. Ia pun melambaikan tangan pada Nuke yang tampak di jendela. Nuke pun membuka pintu ruang tamu kemudian menghampiri Andi yang masih berada di pagar. Andi kembali meraih tangan Nuke dan mengajaknya pergi. Mereka memasuki mobil putih itu dan melaju di jalan. Nuke saat itu merasa bahagia karena bertemu kembali dengan Andi. Tak terasa mereka bercakap-cakap di mobil hingga tiba di sebuah pantai dengan pasir yang bersih dan ombak berkilauan diterpa cahaya matahari. Nuke akhirnya keluar dari mobil kemudian segera berlari ke pantai. Nuke melepaskan sepatunya dan berlari ke arah ombak yang bergulung kecil. Sudah lama ia merindukan pantai. Andi membawanya ke tempat indah ini rasanya begitu menyenangkan. Nuke pun tersadar dia pergi bersama Andi. Nuke pun menengok ke belakang, dilihatnya Andi menatap dirinya sambil tersenyum. "Burung camar, kamu rindu ke pantai kan?" Begitu teriaknya dari pinggir pantai. Tiba-tiba terdengar suara burung yang bersahutan bersama kawanannya terbang rendah di atas laut. Ini sepertinya burung camar yang dimaksud Andi. Burung camar pun kembali mengangkasa bersama kawanannya. Nuke memutar balik tubuhnya dan berjalan mendekati Andi. "Aku juga merindukan laut dan rindu akan keluargaku," jelas Andi sambil tangannya membersihkan pasir yang menempel di wajah Nuke. Nuke pun menepiskan butiran pasir yang menempel pada tubuhnya. Andi mengajaknya duduk di pasir. Nuke pun mengikutinya duduk di samping Andi. Mereka melihat ombak yang seperti saling berkejaran dan pecah menghilang saat menyentuh bibir pantai. Andi pun bercerita tentang kenangan indah masa kecilnya dimana ada pantai tak jauh dari desa neneknya. Mereka kalau berlibur akan berjalan menuju pantai dari rumah nenek dan bermain bersama. Andi mengungkapkan keinginannya untuk membawa Nuke ke sana jika Tuhan ijinkan. Nuke menatap Andi dan menyandarkan tubuhnya pada bahu Andi. Nuke berterima kasih pada Andi karena telah membawanya ke pantai ini. Sedikit ia merasa rileks dari kelelahannya. Seketika Andi membalikkan tubuhnya ke arah Nuke sambil memeluk Nuke, ia merebahkan tubuh Nuke perlahan ke atas hamparan pasir. Tubuh Andi perlahan mendekati tubuh Nuke. Jantung Nuke berdegup kencang merasakan kehangatan yang tiba-tiba menyentuh dirinya. Andi mulai mendekatkan wajahnya ke arah Nuke dan bibirnya mulai mendekati bibir Nuke. Sesaat kemudian semuanya terhenti tatkala terdengar suara dari arah belakang Andi. "Hentikan anak muda. Waktumu sudah habis. Jangan kamu ganggu gadis ini jika kamu mencintainya tulus. Lepaskan dia," suara nenek tua terdengar jelas ditelinga Nuke. Sekilas Nuke melihat wajah ninik urut sedang berada di belakang tubuh Andi yang siap untuk menimpa tubuh Nuke. Apa yang dilakukan ninik urut di sini? Begitu pikir Nuke. Andi saat itu mengangkat tubuhnya dan memandang ke arah ninik urut. "Jangan bingung anak muda. Kamu harus tahu kemana kamu semestinya pergi tapi tolong antar pulang gadis ini dulu, sebab keluarganya menunggu dia," ucapan terakhir ninik urut seperti mengagetkan Nuke dan membuat dirinya terbangun. Nuke tersadar dirinya baru saja bermimpi. Saat ini ia masih diurut oleh si ninik. "Neng, jadi gadis harus pintar jaga diri ya. Jangan mau dirusak lelaki. Apalagi lelaki jadi-jadian," tiba-tiba ninik urut berkata memecah kesunyian dengan diakhiri tertawanya yang parau. Nuke tak bercerita soal mimpinya pada ninik. Hanya keanehan yang dirasa mengapa ada ninik urut yang memarahi Andi dimimpinya. Benar-benar mimpi aneh di siang bolong rasanya. Akhirnya setelah memberikan bayarannya kepada ninik urut, Nuke pun mengantar ninik hingga pagar. Rupanya asisten ninik sudah menunggu. Ninik pun meninggalkan rumah bude. Nuke berjalan sambil masih mengingat akan mimpinya yang aneh sambil masuk kembali ke dalam rumah. Nuke kembali ke kamarnya setelah makan siang bersama bude. Memang hari ini saatnya ia banyak beristirahat. Setelah makan, bude pun pamit karena harus ke toko. Bude berpesan jika Nuke akan meninggalkan rumah harus menghubungi bude terlebih dahulu. Nuke mengiyakan sambil menemani bude ke pintu dan menguncinya. Di dalam kamar, Nuke termenung mencoba mengingat kata-kata Andi maupun ninik urut di mimpinya. Menurutnya, mimpinya kali ini sudah semakin aneh. Mimpi pertama bersama Andi adalah saat orang tuanya yang telah meninggal menghentikan dirinya yang akan menikah dengan Andi. Kemudian mimpi hari ini ada beberapa kejanggalan termasuk salah satunya kedatangan ninik urut yang memaki Andi saat ingin mencium Nuke. Tubuh Nuke terasa nyaman setelah diurut, ia pun kembali terlelap namun kali ini tak ada Andi di dalam mimpinya. Nuke terbangun karena merasa pandangan matanya makin gelap. Rupanya hari sudah malam, entah jam berapa ini karena lampu kamar masih belum ia nyalakan. Nuke bangkit dari tidur siangnya dan mulai berjalan menyalakan lampu. Mulai lampu kamar hingga ia keluar dan mengecek lampu di luar kamarnya. Keadaan rumah masih gelap menandakan bude masih belum pulang dari toko. Dilihatnya jam dinding di kamar tengah. Hmm.. sudah jam setengah 7 malam rupanya. Nuke berjalan ke arah jendela. Ia mengamati jalanan yang tampak sepi hanya beberapa motor dan kendaraan roda empat yang lalu lalang. Suasana sudah semakin gelap dan tampaknya lampu jalan di dekat rumahnya pun tidak cukup terang untuk menerangi wilayah itu. Dalam kegelapan malam yang sunyi, Nuke merasa ada yang mengamatinya dari pepohonan yang berada di lapangan depan rumahnya. Ia menyadari itu seorang pria. Tapi pria itu tak bergeming dan hanya memandang Nuke dengan diam. Nuke merasa itu Andi tapi kalau memang benar kenapa dia tidak datang ke rumah saja. Namun Nuke ingat pesan bude untuk di rumah saja dan harus meneleponnya jika akan pergi. Nuke menutup kembali tirai jendela. Baru beberapa langkah Nuke berjalan ke arah ruang tengah, terdengar suara ketukan di pintu. Nuke terdiam sejenak, ia berpikir apa benar yang dilihatnya adalah Andi dan sekarang pria itu mengetuk pintu rumah. Tapi cepat sekali dia berjalan dari lapangan hingga sudah sampai di depan pintu rumah. Nuke segera menghampiri pintu saat terdengar ketukan lagi yang sedikit lebih keras. "Ya, siapa ya? Sebentar," serunya. Terdengar suara bude dibalik pintu, "ini bude nduk, aku pikir kamu ketiduran. Aku lupa bawa kunci, sepertinya tertinggal di meja riasku" bude rupanya dan ia menjelaskan pada Nuke yang sudah membukakan pintu. Nuke melihat lagi ke arah lapangan tadi dimana ia melihat sesosok yang mengamatinya diantara pepohonan. Namun kali ini orang tersebut tidak ada. Sepi karena gerimis mulai turun. "Ada siapa nduk? Kamu lihat apa?," tanya bude yang melihat Nuke masih di posisinya semula tak bergeming dan memandang ke luar. Nuke tak menceritakan apa yang sempat dilihatnya, ia hanya bercerita bahwa hujan mulai turun deras dan beruntung bude Sari sudah berada di dalam rumah. Bude kemudian beranjak ke kamar mandi dan meminta Nuke menyiapkan makan malam yang sudah dibelinya tadi di rumah makan dekat toko. Terkadang bude memang membeli makanan dari luar karena tak sempat masak lagi di rumah karena kelelahan. Malam itu Nuke berdoa untuk keselamatan dirinya dan bude. Tak lupa ia mendoakan arwah orang tuanya agar tenang di surga. Tiba-tiba di tengah permohonan doanya, teringat akan Andi. Apa yang harus ia doakan untuk Andi? Nuke mengatakan agar Andi dapat bahagia selalu dimana pun ia berada. Nuke pun mengaminkan doanya. Nuke sadar memang dirinya tak tahu keberadaan Andi. Bahkan ia tak tahu apa-apa soal Andi, yang ia tahu Andi adalah teman masa kecilnya dan Nuke merasa nyaman bersamanya. Keesokan harinya saat makan siang di kantin, Nuke dan Linda saling berbicara. "Mbak Nuke, bagaimana kabar cowok di bawah pohon itu?" goda Linda. "Siapa maksudmu Lin? Jangan bercanda kamu," sahut Nuke. "Siapa lagi lah mbak. Dia, cowok yang membuat mbak Nuke dikatakan berhalusinasi," jelas Nuke. Nuke menjelaskan bahwa sudah lama ia tak bertemu lagi dengan Andi. Hanya melalui mimpi saja mereka bertemu. "Nah kan mbak. Jangan-jangan benar ini hanya mimpi. Jangan terlalu lama bermimpi mbak, bahaya untuk kesehatanmu," kata Linda menasehati Nuke. Sebelum Nuke membalas omongan Linda, ia merasa telepon genggamnya bergetar. Dilihat telepon genggamnya muncul nomor telepon tak dikenalnya. Nuke mendiamkan saja dan tidak mengangkat telepon itu. Sampai akhirnya giliran Linda yang harus mengangkat telepon dari kekasihnya. Linda pun pamit meninggalkan Nuke karena ingin bicara dengan kekasihnya di luar. Kembali teleponnya bergetar kali ini ada pesan singkat yang masuk. "Hi Nuke, ini aku Hasan. Aku ingin mengajakmu makan malam minggu ini, apa kamu bisa?" inilah pesan singkat dari Hasan. Nuke menjanjikan nanti malam setelah meminta ijin pada bude, ia akan mengabari Hasan. Saat makan malam bersama bude, Nuke bercerita mengenai Hasan dan ajakannya untuk makan bersama Sabtu ini. "Nduk, bude menyerahkan keputusannya padamu. Namun berhati-hatilah dan jaga dirimu baik-baik. Jangan sampai terlena atau malah emosi. Selesaikan dengan baik masalah kalian. Jangan lupa minta dia jemput dan antar kamu pulang agar bisa pamit pada bude," jelas bude Nuke pun memberitahukan Hasan bahwa ia diijinkan bude dan menyampaikan pesan bude.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN