Janji Suci

2000 Kata
Nuke melihat Linda keluar dari lift sambil tergopoh-gopoh menuju ruangan. Nuke sampai membantu membuka pintu kaca tersebut karena ia melihat temannya tampak repot dengan dus yang ia pegang dengan kedua tangannya. Linda mengucapkan terima kasih dengan tergesa-gesa dan meletakkan dus di samping mejanya. Ia tampak segera membuka komputernya untuk masuk dan pasti mencari laporan yang diminta mbak Mirna. Nuke juga ikut khawatir bahwa laporan tersebut belum siap. Nuke pun kembali fokus ke tugasnya yang sempat tertunda. Dia sengaja tak mau banyak bertanya dahulu kepada Linda alasan dia terlambat pagi ini. Karena dilihatnya Linda sibuk ke sana kemari sambil bertelepon dengan mbak Mirna. Sementara jam sudah hampir setengah sepuluh. Tampak Linda mencetak beberapa lembar kertas yang sepertinya itu laporan yang diminta mbak Mirna. "Mbak, aku ke ruangan mbak Mirna sebentar ya," begitu katanya sambil tergesa-gesa. Nuke pun menjawab dengan anggukan. Jam sembilan lebih empat puluh Lima menit, Nuke pun menuju ke ruang meeting. Linda juga sudah di sana dengan mbak Mirna. Akhirnya meeting berjalan setelah semua hadir. Sekitar jam 12 meeting pun dihentikan hingga sejam untuk istirahat makan siang. Nuke dan Linda membawa nasi kotak tersebut ke ruangan mereka untuk makan bersama. Akhirnya Nuke pun bertanya ada apa dengan Linda hari ini. Tak biasanya dia terlambat kerja bahkan sampai tak sempat menghubungi Nuke. "Mbak Nuke, aku akan menikah dengan pacarku. Maafkan karena aku tidak bercerita sebelumnya," jelas Linda. Nuke sempat terkejut mendengarnya. Namun ia merasa bahagia akan sahabatnya. Segera dipeluknya Linda. "Linda, aku turut bahagia akan rencana pernikahan kalian," sahut Nuke sambil tersenyum. Linda pun menjelaskan mengapa terlambat karena membantu sang kekasih mengambil ke percetakan karena acara mereka sebentar lagi. Linda segera membuka kotak di samping mejanya dan sempat mencari sesuatu. Rupanya kotak itu berisi undangan. Linda memberikan undangan yang terdapat nama Nuke. Nuke pun membuka plastik undangan. Tertera di depan undangan ada nama Linda dan kekasihnya. Linda Veronica dan Prasetyo Hermanto mereka akan menikah dua minggu lagi. Rencana, Linda akan membagikan beberapa undangan kepada teman-teman saat mulai meeting nanti. Ia pun mengeluarkan sekitar sepuluh undangan dan diletakkan di meja. Linda dan Nuke pun kembali melanjutkan makan siang mereka sambil berbincang. "Mbak Nuke, aku akan lamaran Sabtu ini. Aku harap mbak Nuke bisa datang ya. Aku sudah anggap mbak Nuke seperti kakakku sendiri. Kalau tidak bisa dari siang saat acara adat, datanglah malam saat acara makan malam keluarga ya mbak, " begitu ajak Linda. Nuke pun menyetujuinya. Sepertinya ia juga akan mengajak bude Sari. Karena memang Linda sudah seperti keluarga bagi bude Sari. Selesai makan mereka pun kembali ke ruang meeting dan terlihat Linda membawa setumpuk undangan. Meeting dimulai hingga jam empat sore. Nuke membantu Linda membagikan sisa undangan untuk rekan kerja mereka hingga jam Lima sore saat waktu kerja mereka selesai. Sepulang kerja Nuke langsung menyampaikan undangan Linda pada bude Sari. Bude turut berbahagia akan pernikahan Linda. Nuke pun demikian. Nuke pun mandi dan berganti baju sebelum akhirnya makan malam bersama bude. Saat makan malam bude bercerita kejadian-kejadian Lucu yang dia alami hari itu. Sepertinya bude ingin menjaga perasaan Nuke. Ia tak mau jika Nuke jadi bersedih karena Linda yang akan menikah sementara Nuke sendiri belum punya kekasih, padahal saat itu Nuke justru merasa bergembira bahwa sahabatnya akan menikah. Hari-hari menjelang pernikahan memang dapat merubah mood calon pengantin. Linda tampak bahagia setiap hari. Senyum Manis selalu tampak di wajahnya. Nuke berpikir memang layak Linda mendapatkan kebahagiaan itu. Linda begitu sabar dengan kekasihnya hingga menjelang pernikahannya. "Lin, gimana persiapanmu? Sudah beres semua? Apa ada undangan yang belum siap? Ada yang bisa kubantu?" tanya Nuke melihat sahabatnya itu sedang sibuk di mejanya mengetik dan mencetak label nama untuk ditempel ke undangan. Linda mengangguk dan meminta bantuan Nuke untuk menempelkan label yang dimaksud. Sambil mengerjakan undangan, Linda mengajak Nuke mengobrol. "Mbak, kalau aku kenal Andi teman mbak, aku akan undang dia datang. Rencana aku dan Tyo akan mengatakan pesta di alam terbuka. Jangan lupa ya mbak dress codenya warna putih." begitu jelas Linda. Nuke tersenyum saat mendengar nama Andi disebut Linda. Ide Linda dan Tyo membuat Pesta Kebun memang terdengar cukup romantis. "Tenang Lin, aku dan bude sudah mempersiapkan pakaian yang akan kami Pakai di hari bahagiamu nanti." jelas Nuke. Nuke juga membantu Linda mengantarkan undangan ke kantor ekspedisi untuk beberapa orang yang diundang dan tinggal jauh dari rumah. Akhirnya hari Sabtu pun tiba. Ini hari pertunangan Linda. Nuke dan bude berencana akan datang di malam hari karena siangnya mereka masih harus merapikan toko bude. Toko bude sangat ramai karena sudah memasuki masa liburan akhir tahun. Namun karena mereka berencana akan menghadiri pertunangan Linda, maka toko ditutup lebih awal. Sekitar pukul Lima sore mereka akhirnya beranjak meninggalkan toko dan berangkat menuju salon untuk merapikan rambut. Bude Sari terlihat rapi dengan sanggul modernnya. Sementara Nuke hanya mencuci rambut, mencatok rambut dan membuat dibagian bawah rambutnya tampak keriting. Nuke dan bude datang saat acara sedang berlangsung. Mereka mengambil tempat duduk dekat dengan keluarga Linda. Malam itu Linda tampak cantik berkebaya modern warna merah muda seragam sama dengan keluarganya. Rambut Linda disanggul modern dengan make up sederhana namun tampak cocok dengan wajah Linda yang berkulit putih bersih. Linda sempat tersenyum ke arah Nuke dan memintanya duduk lebih dekat. Nuke dan bude pun berpindah lebih dekat pada Linda. Akhirnya tibalah saat Tyo memasukkan cincin tunangan ke jari kiri Linda. Pertanda bahwa pinangan keluarga Tyo telah diterima keluarga Linda dan acara pernikahan resmi akan diadakan pada hari Minggu depan sesuai yang mereka rencanakan. Acara malam itu pun ditutup dengan doa dan makan bersama. Linda beserta teman-teman termasuk Nuke pun masuk ke kamar pengantin yang telah disiapkan. Linda harus dipingit tidak boleh bertemu Tyo hingga hari besar mereka, sehingga saat Tyo beserta keluarganya masih makan malam, Linda harus makan di dalam kamar. "Gimana perasaanmu tadi Lin? Apa jantungmu berdegup kencang?," tanya Nuke pada Linda sambil tersenyum gembira. "Mbak Nuke, iya benar aku deg-deg an padahal kami sudah latihan. Ayo mbak Nuke dan teman-teman makan dulu," jawab Linda sambil menyuapi nasi ke dalam mulutnya. Beberapa teman dan sepupu Nuke pamit untuk ikut makan. Mereka keluar kamar. Ada kakak Linda yang seumuran dengan Nuke berada di sana. Mbak Lola nama panggilan kakak Linda. Mbak Lola sudah menikah dan memiliki anak usia sekitar tiga tahun yang terlihat cantik memakai baju pesta. Linda meminta keponakannya itu memperkenalkan diri pada Nuke. Ternyata Tessa nama gadis kecil yang Lucu itu. Tiba-tiba mbak Lola berdiri dan meletakkan anaknya di kasur. "Lin, titip Tessa ya aku mau ambilkan makanan untuk kami biar kita makan bersama di sini," Nuke mengucapkan terima kasih dan me nawarkan bantuan untuk membawa makanan. Merekapun makan bersama nasi kotak yang dibawa Lola dan Nuke. Tak terasa sudah hampir jam sepuluh malam, Nuke tersadar saat bude menjemputnya ke kamar Linda. Rombongan pengantin pria juga sudah meninggalkan rumah Linda sejak jam sembilan malam. "Nak Linda, bude mau ajak Nuke pulang dulu ya. Supaya calon pengantin bisa istirahat dulu sampai minggu depan. Semoga sukses acaranya dan semua diberikan kesehatan," begitu pamit bude pada Linda. Nuke pun ikut menyalami Linda juga Lola kakak Linda. Ibu Linda pun muncul dari luar kamar, bude berbicara dan menyalami ibu Linda sambil pamit diikuti oleh Nuke. Ayah Linda sudah berpulang, sehingga untuk mempersiapkan pernikahan Linda, sang ibu dibantu oleh om Linda yang merupakan adik ibunya. Tampak lega ibu Linda karena ia akhirnya akan menikahkan anak bungsunya minggu depan. Bude Sari dan Nuke yang berboncengan naik motor bude, tiba juga di rumah. Malam semakin larut dan udara cukup dingin. Nuke segera mengganti baju dan membersihkan wajahnya dari make up yang masih menempel, sementara bude juga melakukan hal yang sama di kamarnya. Akhirnya Nuke pun tertidur. Dalam mimpinya ia bertemu ibu. Seolah Nuke lupa akan ibunya yang telah tiada. Serasa mereka berada di suatu rumah indah berlantai kayu dengan pemandangan di sekitar rumah tampak begitu indah. Nuke merasa ia duduk di kursi kayu dengan sebuah meja kecil di samping kirinya. Pemandangan di luar sana begitu indahnya. Dilihatnya ibu membawa dua cangkir teh panas yang terlihat asap mengepul di atasnya. Diletakkannya kedua cangkir tersebut di meja kecil diantara posisi duduk Nuke dan ibu. "Minumlah nduk, tiup-tiup kalau Masih panas tehnya," ajak ibu sambil tersenyum. Nuke pun mengangguk dan mengikuti apa yang dikatakan ibu. Diangkatnya pelan cangkir itu dan ditiup perlahan teh panas di dalamnya. Kemudian diseruput teh itu perlahan dan diletakkan kembali cangkirnya. "Nduk, ibu kangen sama kamu. Ibu ingin kamu bahagia. Sabar kalau jodohmu belum tiba. Niat baikmu untuk menikah sudah didengar Tuhan tapi Tuhan masih memintamu untuk bersabar sampai waktu yang tepat untukmu bersama dengan jodohmu nanti. Tentu Tuhan tidak akan memberikan yang jahat jika kita memulainya dengan niat baik," ibu seperti memberikan nasehat dan mengelus rambut Nuke dengan penuh kasih. Nuke terbangun karena mendengar suara bude membangunkannya sambil mengetuk pintu kamar. Hari ini Nuke berencana menikmati libur hari Minggu dengan mempersiapkan baju yang akan ia gunakan untuk pernikahan Linda. Rencana ia akan memakai kebaya ibu yang berwarna putih namun ada yang perlu ia kecilkan di berbagai bagian sehingga Nuke putuskan untuk pergi ke tukang jahit langganan bude Sari dekat pasar. "Nduk, bude nitip ya kamu ambilkan kebaya bude. Bude baru jahit dua hari lalu harusnya sudah jadi. Ini uangnya nduk," seru bude sambil menyerahkan uang seratus ribuan sebanyak 3 lembar pada Nuke. Nuke mengulurkan tangan menerima uang bude. Nuke pun makan pagi kemudian mandi dan bersiap hingga akhirnya berangkat menggunakan ojek. Setibanya di pasar, Nuke langsung menuju rumah penjahit yang dimaksud. Penjahit itu pun telah mengenalnya, Nuke menjelaskan apa yang ingin ia ubah pada kebaya ibunya. Kemudian dengan sigap ibu tukang jahit itu mengukur tubuh Nuke untuk memastikan ukuran pada baju kebaya nanti. Nuke juga mengambil baju bude dan menyerahkan uang bude padanya. "Bu, saya mau Pakai Minggu depan apa bisa jadi cepat?" tanya Nuke memastikan. "Hmm.. sebenarnya hanya sedikit yang harus dipermak karena kebetulan sedang tidak banyak jahitan, jadi nanti sore juga selesai. Nanti saya kirim melalui ojeg online saja neng." begitu katanya menyanggupi. Nuke pun menanyakan biaya yang harus dibayarnya. Penjahit itu menyebutkan harganya dan Nuke mengeluarkan lembaran uang Lima puluh ribu sebanyak 3 lembar. Tidak semahal biaya kebaya bude karena kebayanya hanya dipermak sedikit. Nuke terhenti pada penjual es cincau. Rasanya segar pasti membeli cincau ini, begitu pikirnya. Ia pun memesan segelas cincau dan menunggu abang penjualnya menyiapkan. Nuke pun segera meminum es cincau tersebut setelah penjualnya memberikan segelas es cincau segar padanya. Sesaat Nuke merasa mencium wangi bunga segar berada di dekatnya. Ia pun segera berdiri dan membayar minumannya yang telah habis. Dilihat ke sekelilingnya tak ada penjual bunga di sekitar tempat itu. Tiba-tiba saja ia merasakan bulu kuduknya merinding yang membuatnya segera berlalu dan memesan ojek online untuk kembali ke rumah bude. Menjelang sore hari kebaya putih Nuke sampai ke rumah. Nuke pun mencobanya. Ia tampak cantik dengan bawan batik. Tak terasa hari ini adalah hari Jum'at sudah semakin dekat ke acara pernikahan Linda. Sepulang kerja, Nuke sempatkan untuk mampir ke rumah Linda untuk menawarkan bantuan. Namun semua telah selesai dipersiapkan oleh keluarga Linda. Tiba-tiba kembali Nuke mencium aroma yang sama saat di pasar hari itu, ditengoknya di sekeliling rumah ada beberapa kumpulan bunga melati dan sedap malam yang rupanya akan dibawa untuk disematkan di lokasi pesta pernikahan Linda. Nuke pun melihat ke kamar pengantin yang sudah banyak bunga-bunga yang wangi di sana dan tergantung dalam plastik adalah kebaya pengantin yang berwarna putih begitu indahnya dengan hiasan payet emas penuh pada kebayanya. Hari Minggu pagi bude bangun lebih pagi dari hari Minggu biasanya. Ia mempersiapkan sarapan dan sempat menelepon karyawan toko untuk mengatur apa yang harus mereka kerjakan. Rencana Nuke dan bude akan ke pesta pernikahan Linda saat jam 12 siang karena pagi mereka tidak dapat hadir di akad nikah Linda. Bude masih harus mempersiapkan karyawan tokonya sebelum berangkat ke acara Linda. Setelah cukup lama di salon, bude Sari dan Nuke segera berangkat menuju Restaurant tempat pernikahan Linda. Mereka mengisi buku tamu dan memasukkan amplop yang sudah mereka persiapkan. Ruangan indoor maupun outdoor yang ditata dengan hiasan bunga-bunga putih nan mewangi menambah romantisnya suasana pernikahan Linda. Momen haru terasa saat janji suci mereka ucapkan sebagai tanda sahnya sebuah pernikahan. Kebahagiaan tampak terpancar pada pasangan baru tersebut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN