Setelah kejadian dirinya yang tidak sadarkan diri tiba-tiba di pesta pernikahan Linda, Nuke lebih banyak merenung dan melakukan introspeksi diri. Bude pun menjadi sosok penguat bagi dirinya. Bude seperti mengetahui kerisauan hatinya. Nuke pun tenggelam dalam pekerjaannya dan membantu bude di toko.
Hari minggu pagi yang cerah ini merupakan hari indah bagi Nuke untuk mengambil waktu berlibur sambil membantu bude di tokonya.
Sudah seminggu lebih dirinya seperti lupa akan cerita tentang Andi. Bude pun tidak pernah membahasnya lagi. Bude seperti menyadari bahwa kisah tentang Andi bukanlah hal yang menyenangkan bagi keponakan kesayangannya ini.
Hari masih cukup pagi untuk membuka toko. Namun karyawan bude sudah tiba dan bersiap-siap terlebih dahulu. Seperti biasa Nuke akan datang terlebih dahulu kemudian bude akan menyusulnya setelah ia bebenah di rumah.
Nuke pun tiba di depan toko bude dengan ojek onlinenya. Seorang karyawan bude langsung menghampiri Nuke dan menemuinya di pintu toko.
"Mbak Nuke, tadi ada yang telepon ke toko bilangnya teman mbak Nuke," jelas salah satu karyawan bude Sari.
Nuke pun mengernyitkan dahi. Dia bayangkannya beberapa orang yang mungkin mencari dirinya tidak melalui telepon genggamnya.
"Ini mbak, dia meninggalkan nomornya." lanjut pegawai bude sambil menyerahkan secarik kertas bertuliskan nomor telepon genggam seseorang.
"Makasih teh, yang cari aku laki-laki atau perempuan?, " tanya Nuke dengan dijawab perempuan oleh si teteh.
Nuke meletakkan tasnya di meja. Kemudian mengambil telepon genggamnya. Dia kemudian mulai menyimpan nomor telepon genggam itu.
Nuke belum sempat menghubungi nomor tersebut karena para pembeli mulai berdatangan. Menjelang jam makan siang pun bude datang sambil membawa rantang yang berisi makan siang untuk dimakan beramai-ramai di toko.
Bude pun meminta Nuke dan pegawainya untuk lebih dahulu makan siang di belakang. Sementara bude menggantikan mereka di depan.
Setelah selesai makan siang, Nuke beristirahat sejenak sambil mengambil telepon genggam dari kantong jeansnya. Para pegawai bude meminta ijin untuk keluar lebih dahulu dan menemani bude. Tinggal Nuke sendiri yang fokus ke telepon genggamnya sambil mencari nomor telepon yang tadi dia baru simpan tanpa nama.
Nuke menekan nomor tersebut dan mene leponnya. Terdengar suara wanita di seberang sana berkata halo. Nuke kemudian memperkenalkan dirinya dan menanyakan siapa orang yang mencarinya ini. Namun terdengar dari nada suaranya, Nuke seperti pernah mengenal suara wanita ini.
"Nuke, ini aku Tika. Maafkan aku baru me nghubungimu. Aku sempat kehilangan nomormu sebelum kusimpan di telepon genggamku.” begitu penjelasan Tika yang akhirnya berhasil menghubungi nomor telepon toko bude dari plastik bekas oleh-oleh yang dibeli Tika sesaat sebelum ia tak sengaja akan menggunakannya untuk membawa barang.
Nuke menyambut gembira perjumpaannya kembali dengan Tika. Mereka sempat berbicara hanya sebentar karena dilihatnya Bude sudah ke belakang untuk beristirahat dan Nuke harus kembali ke depan.
Mereka pun berjanji untuk berbincang lagi nanti malam. Rasa rindu akan bertemu kembali dengan Tika membuat Nuke semangat hari ini. Nuke pun cerita pada bude bahwa Tika telah berhasil bicara dengannya. Bude pun merasa bahagia melihat wajah Nuke yang tampak cerah karena telah bertemu dengan sahabatnya kembali.
Hari itu seperti biasa toko bude tetap ramai pengunjung. Namun karena libur National sudah usai, keramaian di minggu ini tidak seramai musim liburan yang lalu. Nuke membantu bude hingga jam 7 malam saat toko tutup sementara karyawan bude pun sudah pulang semenjak selesai maghrib.
Bude tampak menghitung uang dari kasir sementara Nuke merapikan jualan. Sambil sesekali matanya memandang keluar. Maghrib telah lewat namun suasana masih tampak terang. Lembayung senja tampak menghiasi sore itu. Semburat warna oranye dan ungu di langit menambah indah warna langit senja kala itu.
Bude menepuk bahu Nuke lembut," Ayo Bude sudah selesai. Hari ini cerah karena tidak hujan. Lihat langit senja begitu indahnya mengingatkan kita harus bersyukur selalu kepada Yang Esa karena kebaikanNya pada kita yo nduk," seru bude dengan dibalas anggukkan Nuke.
Akhirnya mereka menutup toko dan Nuke dibonceng bude melaju dengan sepeda motornya kembali ke rumah.
Mereka membersihkan diri kemudian mempersiapkan makan malam. Makanan dihangatkan dan Nuke juga membuat dadar telur untuk mereka. Nuke pun melahap dengan nikmat makanan yang mereka siapkan bersama. Sambil mereka menyaksikan acara televisi dan mengomentari berita di televisi.
Nuke pun terkadang tertawa karena mendengar komentar bude yang lucu menanggapi berita di tv. Mereka berdua mengomentari hal-hal lucu bersama. Kesederhanaan yang mereka rasakan tapi membuat mereka bahagia.
Nuke pun mulai dapat merelakan banyak hal yang terjadi pada dirinya. Ia mulai merapikan kembali jalan hidupnya sesuai dengan cita-cita awalnya. Nuke sebenarnya ingin dapat kuliah kembali karena merasa pendidikan yang ia miliki masih kurang. Ia ingin terus menambah wawasan dan ilmu pengetahuan dimana saja.
Bersyukur bude masih ada baginya. Mengarahkan dirinya yang seringkali galau karena masa mudanya. Meski orang tuanya tak ada. Tapi Nuke merasa bude adalah orang tua terbaik baginya saat ini. Bude seperti selalu mengerti jika dirinya butuh untuk berpikir dan bude selalu memberikan nasehat disaat yang tepat.
"Nduk, piye. Tika jadi menghubungimu?", tiba-tiba bude mengingatkan Nuke pada Tika.
"Oh iya bude. Saya hampir lupa mau ngobrol sama dia malam ini" sahut Tika.
Tika membantu bude merapikan meja makan kembali kemudian mencuci piring-piring dan gelas-gelas kotor.
Bude masih menonton tv di ruang tengah sementara Nuke pamit untuk beristirahat di kamarnya karena akan ngobrol dengan Tika.
Nuke duduk di kasurnya dengan memegang telepon genggamnya. Dicari nama Tika di sana. Nuke mengirim pesan dahulu dan bertanya apa Tika bisa dihubungi?
Sejenak Nuke menunggu terlihat Tika tampaknya sedang mengetik pesan.
"Nuke, tunggu tiga puluh menit lagi ya. Aku sedang menidurkan anakku. Nanti aku hubungi kamu terlebih dahulu ya." sahutnya. Nuke pun mengetik ok.
Sambil menunggu Tika, Nuke pun menghibur dirinya dengan menjelajahi dunia maya. Dicarinya beberapa berita terkini yang menarik peratiannya. Kemudian beralih ke pilihan lagu-lagu favorit dari penyanyi yang disukainya.
Beberapa menit berlalu tanpa terasa. Malam pun semakin larut. Suara televisi di ruang tengah sudah tak terdengar sepertinya bude pun sudah lelah Dan masuk ke kamarnya untuk beristirahat. Nuke masih sabar menunggu Tika sambil mengecek akun media sosialnya. Dia pun mencoba mencari Tika di akun tersebut. Ada beberapa nama yang mirip dengan Tika tapi ternyata beda fotonya. Agak ragu Nuke untuk memasukkan akun tersebut ke media sosial pribadinya.
Tak sadar waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Nuke merasa matanya semakin berat dan beberapa Kali ia menguap. Wah ngantuk sekali ia rasa mungkin karena lelah juga bekerja seharian.
Sebelum akhirnya ia tertidur, Nuke masih sempat melirik nomor Tika. Namun rasa kelelahan tak dapat ditahannya. Ia pun tertidur.
Nuke pun sudah terlelap tak mendengar lagi saat Tika meneleponnya. Dua kali Tika mencoba menghubungi kemudian menyapa lewat obrolan namun Nuke sudah berada di alam mimpi.
Tika menyadari hal itu, ia pun mengirim pesan. "Nuke maaf ya kamu menunggu aku lama ya. Anakku tadi agak rewel tidak mau langsung tidur. Selamat tidur ya. Besok kalau kamu senggang hubungi aku ya. Kita ngobrol ketik dulu saja kalau belum bisa berbicara langsung."
Malam semakin tinggi Dan berganti hari. Hari baru telah berganti. Bunyi alarm di pagi hari pun membangunkan Nuke. Nuke terkejut dan langsung teringat akan Tika. Ia segera mengecek telepon genggamnya.
"Ya ampun Tika telepon dan mengajak ngobrol tapi karena kelelahan aku sudah tertidur," begitu kata dalam hati Nuke. Diliriknya jam di dinding telah menunjukkan pukul 06.05. Saatnya ia harus bangun mandi dan membantu bude menyiapkan sarapan.
Nuke keluar dari kamar mandi dan melihat bude masih sibuk di dapur. "Sini bude, Nuke bantu. Saya kebetulan sudah selesai mandi kok." seru Nuke menawarkan bantuan.
"Yo nduk, taruh dulu handukmu baru bantu bawa makanan ini ke meja makan ya. Usahakan sarapan di rumah jangan jajan terus," begitu sahut bude.
Saat sarapan pagi bersama bude teringat bahwa semalam Nuke berniat ngobrol dengan Tika. Bude pun menanyakan tentang itu.
"Belum sempat ngobrol bude, Tika sibuk menidurkan anaknya eh saya pun ketiduran semalam. Nanti sajalah kalau saya sudah senggang saya ajak dia bicara lagi." begitu penjelasan Nuke.
Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan jam tujuh pagi. Nuke ingin sampai di kantor tepat waktu karena ada beberapa hal yang harus ia kerjakan di pagi hari sebelum mulai bekerja.
Jalanan Masih belum ramai serta udara pun terasa sangat sejuk di Senin pagi yang cerah ini. Nuke sempat membetulkan posisi jaketnya Karena udara terasa dingin di ojeg online yang ia tumpangi.
Nuke tiba sebelum jam delapan pagi beberapa rekan kerjanya juga sudah mulai berdatangan. Sebagian dari mereka ada yang masih menikmati sarapan pagi. Bahkan ada juga yang minum kopi dan roti di meja kerja masing-masing.
Tampak Linda pun sudah datang dan sedang sarapan pagi di ruang kerja mereka.
"Mbak Nuke, ayo coba roti panggang buatanku nih. Sarapan dulu jangan langsung kerja," begitu candanya. Mungkin karena dilihatnya setelah Linda menyapanya, Nuke langsung bergerak membawa beberapa amplop dokumen untuk dikirimkan .
"Iya sebentar Lin aku harus kirim pagi ini takut terlewat sama kurir kantor. Penting soalnya lagi ditunggu klien," seru Nuke.
Setelah kesibukan di pagi hari tersebut, Nuke kembali ke kursinya dan meletakkan tubuhnya.
"Sudah mbak? Aman dokumennya?" begitu tanya Linda sambil mendekatkan roti panggang ke meja Nuke.
"Aman Lin, untung tepat waktu kalau tidak kurir pagi keburu jalan. " sahut Nuke sambil mencicipi roti panggang buatan Linda dan ditutup dengan meneguk teh hangat di mejanya.
Beberapa saat kemudian baik Nuke dan Linda tampak sibuk dengan komputer mereka. Hanya sesekali mereka melakukan pembicaraan di telepon.