Kisah Sedih Pangeran Melati Merah Muda

1508 Kata
Pertemuan kembali Nuke dan Tika akhirnya membuka banyak hal tentang Andi. Hal yang tidak masuk akal pun termasuk yang membuat Nuke tak habis-habisnya berpikir tentang kebersamaan dirinya dan Andi yang kurang lebih selama empat mingguan. Belum lagi mimpi-mimpi yang dialami Nuke bersama Andi membuat kisahnya tampak semakin membingungkan. "Akhirnya kita bisa bicara lagi Nuke. Maaf ya nomor yang kamu kasih ke suamiku di secarik kertas saat itu sepertinya tercuci dan hilang karena berada di kantong celana suami," jelas Tika pada Nuke. "Tak apa yang penting kita akhirnya bisa bicara lagi. Berarti sudah kehendak Tuhan kita bisa bertemu meski cuma melalui telepon," sahut Nuke. "Aku sebenarnya berharap kita bisa reuni bersama teman-teman sekolah dulu. Pasti senua sudah berubah bentuk hahaha lucu-lucu," lanjut Tika. Nuke pun tertawa dan mereka membahas mengenai hal-hal lucu jaman mereka masih sekolah. Keluguan masa kecil yang masih membekas diingatan mereka. Mereka membicarakan juga beberapa guru yang baik, galak serta yang menjadi favorite mereka. Nuke pun teringat kisah Andi sebagai seorang siswa berprestasi dan juga termasuk sosok yang keren serta banyak yang ingin dekat dengannya. Awalnya Nuke tak sadar saat ia menceritakan Andi beberapa saat tidak terdengar suara dari seberang sana. Seperti sambungan telepon mendadak terputus. "Halo Tika, apa kamu Masih dengar suaraku?" tanya Nuke akhirnya. Terdengar suara Tika perlahan. Lemah. Seperti ada hal berat yang membuatnya sungkan untuk berkata-kata. "Nuke maafkan aku. Karena aku tak memiliki nomormu, aku jadi terlambat mengabarkan berita ini padamu!" sahut Tika beberapa saat kemudian. "Ada apa memangnya?" tanya Nuke. "Aku sempat bertemu Andi saat di Jakarta. Bahkan kami makan bersama dengan anggota keluarganya. Aku ada kerjasama dengan Kak Heni, dia kakak Andi," begitu Tika memulai penjelasannya. Nuke mendengarkan penjelasan tersebut dengan sangat antusias. Dia terdiam dan sesekali mengiyakan penjelasan Tika. "Saat pertemuan itu, Andi sempat menanyakan dirimu Nuke. Bahkan ia menanyakan nomormu dan nama akun media sosialmu. Namun saat itu aku tidak tahu. Aku hanya minta dia coba cari melalui nama lengkapmu. Aku pun menceritakan padanya tentang kepergian orang tuamu Dan tempat tinggalmu di kota Bandung bersama bibimu." lanjut Tika yang sempat diikuti dengan jawaban dari Nuke. "Benarkah, Andi mencariku di media sosial? Wah sudah lama aku tidak cek permintaan pertemanan. Nanti aku coba cek,"sahut Nuke. Sesaat Tika terdiam. Dia seperti membiarkan lawan bicaranya berbicara. Terdengar aneh memang mengapa Tika yang awalnya berharap dapat menjodohkan kembali Nuke dengan Andi malah tampak tak antusias. "Nuke, maafkan sekali lagi kalau aku kesannya hanya membuatmu ge-er akan kelanjutan hubunganmu dengan Andi. Karena senua hanya tinggal impian,"lanjut Tika. "Sudah kuduga. Ternyata dia ada wanita lain kan, Tika? Saat kami bertemu, dia hanya ingin mempermainkan aku hingga semuanya berakhir di minggu lalu. Dia meninggalkanku di pesta pernikahan temanku?" Nuke berkata sambil meluapkan kekesalannya. "Apa maksudmu Nuke? Kalian pernah bertemu kapan? Sebab terakhir aku bertemu Andi sekitar 40 hari lalu, dia masih mencarimu. Memang saat itu dia cerita akan pindah ke Bandung tapi kalian tidak mungkin ketemu, Nuke. " jelas Tika keheranan. Sempat ia merasa Nuke halusinasi atau kenapa cerita yang aneh. "Tika aku sudah bertemu Andi. Ya, kurang lebih sebulan ini. Dia memang di Bandung. Dan menurutku sikapnya tidak baik. Dia meninggalkanku dengan penuh kebingungan pada akhirnya." kembali Nuke menjelaskan kisah pertemuan dirinya dengan Andi hingga pertemuan terakhir mereka di pesta pernikahan Linda. Saat Nuke menjelaskan, Tika tampak tertegun dan hanya berkata "apa..apa... tak mungkin..." selama beberapa kali. Diakhir penjelasan Nuke, tiba-tiba Tika menajaknya melakukan telepon dengan menggunakan video. "Nuke aku bisa bertelepon dengan video sehingga kita bisa sailing melihat?" begitu tanya Tika dan diiyakan oleh Nuke. "Nuke aku sangat kenal keluarga Andi. Tadi aku cerita kalo aku ada kerjasama dengan Kak Heni. Kamu masih ingat Kak Heni kan? Dia kakak kandung Andi dan mereka masih tinggal di rumah keluarga bersama Andi. " Tika menjelaskan sambil melihat ekspresi wajah Nuke. "Nuke aku mencoba menjelaskan soal Andi perlahan karena aku tidak mau membuatmu terkejut dengan berita kelanjutannya dari Andi. Tapi cerita pertemuanmu dengan Andi malah sekarang membuatmu kaget setengah mati." jelas Tika dengan ekspresi wajah kaget. "Kamu mau menjelaskan bahwa aku terlambat dan dia sudah dengan yang lain kan Tika?" begitu tanya Nuke. Masih melalui pembicaraan video, Tika berkata dengan tegas dan Kali ini reaksi Nuke kaget dan benar-benar terdiam mematung menatap layar telepon genggamnya. "Nuke dengarkan baik-baik lanjutan ceritaku. Andi orang baik. setahuku tak ada wanita lain selain kakak dan almarhum ibunya. Dia memang mencarimu karena mungkin sedang mencari pasangan untuk dia ajak serius. Namun....," tiba-tiba ucapan Tika terhenti sejenak. "Aku tak menyadari malam itu merupakan pertemuanku dengan Andi yang terakhir. Aku sempat menyaksikan saat dia melihat-lihat media sosial dan beberapa kali menunjukkan foto dan bertanya apa benar itu kamu. Dia serius ingin mencarimu karena memang aku katakan kamu saat ini tinggal dengan bude di Bandung. Yang kutahu memang rencana dari kantornya dia akan dipindah ke cabang yang di Bandung. " Tika melanjutkan ceritanya sambil menghela napas. "Cuma aku baru dengar Nuke, setelah beberapa hari aku sampai di rumah kalau Andi sudah meninggal sekitar sebulan lalu Dan tak mungkin dia bertemu sama kamu kan? Coba jawab aku?" jelas Tika menyelesaikan cerita pertemuan ya dengan Andi untuk terakhir kali. Nuke setengah berteriak dengan nada tak percaya dan menghempaskan tubuhnya hingga terduduk di tempat tidurnya. Terdengar suara ketukan bude di pintu. Bude ikut kaget karena sempat mendengar teriakan keponakan kesayangannya. "Nduk... Nuke.. kamu ndak kenapa-kenapa to?" begitu tanyanya bingung. Nuke meletakkan telepon genggamnya sebentar di kasur kemudian membuka pintu untuk menyenangkan budenya. "Oh maaf bude kalau aku berisik. Lagi ngobrol sama Tika," begitu jelasnya disambut dengan anggukkan bude tampak lega. Nuke pun menutup pintu dan bergerak cepat kembali ke kasurnya sambil mengambil telepon genggamnya. "Tika... kamu masih di sana? Apa maksudnya dia meninggal? Aku bertemu dia beberapa Kali dalam beberapa minggu terakhir ini. . " suara Nuke tampak bingung. "Aku tidak bisa menjawab misteri yang kamu alami sama Andi. Tapi hal ini benar adanya. Dalam beberapa hari lagi kematian Andi sudah 40 hari. Aku juga tidak tahu pasti kejadiannya. Namun yang kudengar bahwa Andi mengalami serangan jantung saat dalam perjalanan ke Bandung. Saat itu ada Kak Heni dan sepupu mereka tapi terlambat sampai di Rumah Sakit sudah tidak bernyawa. Kamu dapat mendengarkan kisahnya dari Kak Heni. Atau kita berangkat ke Jakarta biar bisa sekaligus melihat ke pemakaman Andi?" Tiba-tiba Nuke menjadi terdiam seribu bahasa. Pandangan matanya kosong masih menatap layar telepon genggamnya. Ia pun tak menyadari telepon genggamnya sudah terjatuh ke kasur. Diangkat kedua kakinya kemudian ditekuk ke depan d**a dan dengan kedua tangan merangkul kakinya setelah itu diletakkan kepalanya di atas kedua lututnya. Tika sadar kalau sahabatnya perlu waktu untuk mengerti semua hal yang ia sampaikan. Tika mengetik yang terakhir pada telepon genggam sebelum beristirahat malam itu,"Aku tahu Nuke ini berat buat kamu.Apalagi ada misteri tak terjawab yang kamu alami. Kuatkan hatimu dan bersiaplah kita ke Jakarta kalau bisa lusa untuk menghadiri langsung acara 40 harinya Andi." Nuke tak sadar dirinya tertidur lemas. terlalu banyak hal yg mengagetkan telah didengarnya. Sehingga tubuhnya terasa lelah. Keesokan harinya adalah hari Sabtu yang biasanya Nuke sudah bersiaplah Dari pagi akan pergi ke toko bude. Namun sepertinya hari ini akan menjadi hari yang panjang buatnya karena ia memutuskan untuk tinggal di rumah. Nuke minta ijin pada bude dan menceritakan apa yang telah disampaikan Tika padanya semalam. Bude tampak terkaget-kaget mendengarnya. "Bude percaya kan padaku. Aku tidak berhalusinasi. Bahkan aku sempat simpan bunga melati nerah muda itu."Nuke berusaha menegaskan kembali apa yang dialaminya dengan Andi adalah sebuah realita. "Nduk, bude percaya kamu. Bahkan seperti ada firasat-firasat juga yang membuat bude sempat melarang kamu bertemu nak Andi tanpa ijin. Namun terkadang itulah misteri kehidupan ini. Bude pun ndak bisa menjawab apa yang sebenarnya terjadi padamu? Mungkin kamu memang bertemu ruh nak Andi hanya untuk berpamitan. Kalau begitu adanya, ikhlaskan dalam hatimu dan jangan lagi dipertanyakan ya nduk," bude menjawab tanya dalam diri Nuke sambil memberi pelukan hangat yang membuat Nuke menjadi agak tenang. "Bude, Nuke mau minta ijin supaya Nuke bersama Tika akan ke Jakarta menemui keluarga Andi dan mengikuti upacara 40 hari kematian Andi. Kalau diperbolehkan besok sore saya berangkat bude." Nuke meminta ijin bude untuk berangkat ke Jakarta. Bude pun mengijinkan keponakannya pergi ke Jakarta untuk memberikan penghormatan terakhir pada Andi. Nuke pun memberikan kabar pada Tika untuk segera bersiap ke Jakarta. Tika juga rencananya akan berangkat besok sore dari Surabaya dengan kereta api sedangkan Nuke dari Bandung berangkat pada malam harinya. Sabtu malam Nuke pun bersiap-siap akan barang bawaannya. Tak lupa ia membungkus bunga melati merah muda dari pemberian Andi yang rencananya akan ia kembalikan ke tempat pemakaman Andi. Malam itu pun Nuke sempat menelepon Tika untuk merencanakan kegiatan apa saja yang akan mereka lakukan di Jakarta. "Tika, aku berharap cerita yang kualami bersama dengan Andi jangan sampai didengar oleh keluarganya ya. Biarlah itu untuk aku simpan sendiri,"begitu ungkap Nuke yang disetujui oleh Tika. Nuke pun tak lupa meminta ijin pada perusahannya karena ia akan mengambil cuti beberapa hari. Linda dengan sigap membantu meski ia belum diberitahu siapa yang meninggal dunia. Mungkin Linda pun akan kaget jika mendengar tentang meninggalnya Andi. Seperti sudah jalan Tuhan, buat Nuke maupun Tika tidak mengalami kesulitan saat memesan tiket perjalanan mereka ke Jakarta.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN