Terima Kasih atas Kenangan Denganmu

1509 Kata
Kereta dari Bandung telah memasuki stasiun Gambir sudah hampir pukul sebelas malam. Nuke turun dari gerbong kedua. Nuke hanya membawa ransel dengan isi baju seadanya dengan botol minum di samping tas ranselnya. Sudah lebih dari tiga tahun, Nuke tidak menginjak kota ini. Apalagi stasiun Gambir sudah lebih lama lagi ia tidak pernah datang ke tempat ini. Terakhir pulang dari Ibu kota negara ini ke Bandung, Nuke bersama bude pergi dengan bus kecil. Nuke melihat ke sekeliling tempat ia turun. Diikutinya para penumpang lainnya yang turun melalui tangga. Dalam keadaan sedikit mulai mengantuk dan lelah Nuke masih mencari jalan keluar stasiun untuk naik ojeg online menuju penginapan yang sudah dipesan Tika tak jauh dari stasiun. Kala kebingungan mencari jalan keluar stasiun, tampak stasiun mulai menyepi. Masih ada beberapa penjual makanan yang masih membuka tokonya. Namun banyak yang sudah menutup tokonya. Sehingga suasana tampak lebih senyap hanya tampak beberapa muda mudi yang makan dan minum di sana. Tiba-tiba Nuke melihat seorang pemuda memakai kaos kerah berwarna putih dengan memakai pakaian dan juga topi berwarna serba putih serta masker yang juga putih menutupi hidung dan mulutnya. Pemuda tersebut menegurnya dan memberitahu Nuke sambil menunjuk ke arah pintu keluar. Awalnya Nuke meragukan pemuda tersebut, namun Nuke juga melihat petunjuk bertuliskan keluar. Sehingga setelah berterima kasih, Nuke pun tergesa menuju kepintu keluar. Dilihatnya masih banyak kendaraan di jalan. Sebelum benar-benar melalui pintu keluar tersebut, Nuke menengok ke belakang mencari sosok pemuda tadi yang ternyata sudah tidak terlihat. Nuke mengeluarkan telepon genggamnya dan memesan ojeg online menuju penginapan yang dimaksud. Tidak lama Nuke menunggu dan kendaraan pun tiba. Ternyata perjalanan sangat singkat, tempat yang dituju hanya perlu waktu 20 menit menempuhnya. Setelah beberapa sesaat mengurus di lobby, Nuke pun segera menuju kamarnya. Kamar yang strategis karena dekat dengan lift dan tangga. Suasana kamar pun terasa nyaman dan cukup bersih. Setelah Nuke bersih-bersih dan siap beristirahat, dia mengirimkan pesan ke bude dan Tika bahwa dirinya telah tiba di penginapan. Ucapan syukur karena Nuke sudah tiba dengan selamat diungkapkan oleh bude dan Tika. Mereka juga sekaligus menyarankan Nuke untuk segera tidur supaya dapat menghilangkan penat yang dirasakan sepanjang perjalanan tadi. Tika juga sudah dalam perjalanan dari Surabaya. Kemungkinan jam 7 pagi dia pun sudah sampai di stasiun Gambir. Alarm di telepon genggam Nuke berbunyi menandakan sudah jam 6 pagi. Rencana hari ini sangatlah banyak sehingga ia merasa harus sepagi mungkin bersiap-siap. Dirapikan selimut di atas kasurnya. Dia pun mengecek jam di telepon genggam, sudah Lima belas menit berlalu dari jam enam pagi. Sebelum mengambil pakaian ganti Dan mandi, Nuke membuat secangkir kopi untuk menyegarkan badannya. Karena masih panas, Nuke mengambil sendok pengaduk Dan mencicipi kopinya tersebut. Nuke segera masuk ke kamar mandi dan selama sepuluh menit ia mandi dan bersiap-siap. Nuke sudah rapi sambil menunggu kedatangan Tika, ia meminum kopinya yang mulai berkurang panasnya. Tangan kirinya sambil memegang telepon genggamnya. Tak lama berselang dari dia menghabiskan kopinya, Nuke mengecek ada obrolan yang masuk ke teleponnya. Benar saja itu dari Tika yang menyampaikan bahwa ia sudah dalam taksi menuju ke penginapan. "Nuke aku sudah di taksi menuju tempatmu ya. Kamu tunggu di lobby kita makan dulu. Baru nanti menjelang jam 10 kita ke rumah keluarga Andi," begitu isi obrolan singkat yang dikirim Tika. Nuke pun hanya mengetik kata "ok" kemudian mengunci pintu kamar dan segera turun ke lobby penginapan menggunakan lift. Beberapa saat Nuke menunggu di lobby, ia melihat sosok yang dikenalnya masuk saat pintu otomatis terbuka. "Tika...", panggil Nuke sambil berjalan cepat menemui sahabatnya. Mereka pun sailing berpelukan. Tika pun segera menggandeng Nuke sambil menarik tas trollynya ke arah sebuah ruangan tak jauh dari tempat penerima tamu. Rupanya Tika sudah sangat mengenal penginapan ini hingga ia tahu dimana tempat mereka akan sarapan. Di depan pintu ada seorang karyawati yang menanyakan nomor kamar mereka kemudian Nuke menyebutkan dan akhirnya mereka masuk menempati satu meja dengan dua kursi yang masih kosong di pojok ruang makan itu. "Nuke aku senang menginap di sini kalau dengan keluarga karena ada gratis sarapan pagi buat berdua. Lumayan makanannya," begitu cerita Tika memulai percakapan sambil mengajak Nuke mengambil makanan yang sudah disiapkan. Sambil menikmati sarapan, kedua sahabat ini kembali membahas tentang pengalaman aneh Nuke. Nuke pun bercerita tentang komentar bude atas peristiwa tersebut. "Yah memang banyak kejadian di muka bumi ini yang tidak bisa dijelaskan dengan pikiran manusia. Tapi aku bersumpah padamu Tika, apa yang kualami sangat nyata dan bukan halusinasi. Semoga kamu juga bisa bertemu Andi terakhir kali sepertiku, Tika," kata Nuke sambil tertawa yang disambut dengan gelengan kepala Tika. "Aduh, jangan aneh-aneh lah kamu Nuke. Semoga memang itu hanya halusinasimu karena kamu kangen ketemu Andi saat itu," begitu pula ungkap Tika. Nuke juga mengingatkan sahabatnya jika nanti bertemu dengan Kak Heni atau pun keluarga Andi, jangan sampai keceplosan menceritakan apa yang dialaminya. Selesai sarapan masih sekitar jam delapan pagi. Nuke dan Tika kembali ke kamar mereka sambil membawa koper trolly milik Tika. Di kamar double bed itu Tika duduk di satu kasur yang Masih rapi belum digunakan. Sementara Nuke di kasur sampingnya. Jarak kasur mereka hanya dipisahkan oleh meja kecil dengan hiasan lampu cantik di atasnya. "Aku sudah pesan kamar ini sampai besok Nuke. Kita keluar sekitar jam dua belas siang. Besok kita jalan-jalan dulu ke Pasar Baru sebelum ke Gambir ya." seru Tika yang juga mengingatkan untuk memesan tiket pulang besok malam. " Tiket balik sudah aman kok. Sudah sana kamu mandi dulu biar tak terburu-buru kalau jam 10 kita akan ke rumah Andi," sahut Nuke sambil merebahkan diri ke kasur Dan menonton tv di depan kasurnya. Tika pun beranjak dari kasurnya dan segera mengambil perlengkapan mandinya kemudian segera beranjak ke kamar mandi. Terdengar bunyi air yang jatuh dari shower. Beberapa saat kemudian Tika keluar kamar mandi sudah dengan baju untuk pergi. Nuke menunggu Tika memakai make up di wajahnya sambil menonton televisi. Sudah pukul sembilan ternyata, terdengar suara dari telepon genggam Tika. Rupanya suami Tika dan anaknya menanyakan apa Tika telah sampai dan bertemu dengan Nuke. Mereka pun menyapa Nuke lewat telepon video. Sekitar pukul setengah sepuluh Nuke dan Tika kembali bersiap untuk pergi ke rumah keluarga Andi. Tak lupa Tika mengirim kabar pada Kak Heni bahwa dirinya dan Nuke sudah di Jakarta dan akan berangkat menemuinya untuk mengikuti acara 40 hari Andi nanti malam. Rencananya juga siang nanti mereka pun akan ke tempat peristirahatan terakhir dimana Andi disemayamkan. Sesaat sebelum keluar kamar, langkah Nuke terhenti seperti ada yang lupa dan membuatnya kembali masuk ke kamar dan membuka resleting depan tas ransel yang berisi pakaiannya. "Ada apa? kamu ketinggalan sesuatu?,"tanya Tika pada Nuke. Nuke mengiyakan dan menunjukkan benda yang dibungkusnya dengan tissue. Nuke pun mengunci pintu dan memasukkan kunci ke tas kecilnya. Tika yang penasaran dengan benda di tangan Nuke berusaha melihatnya. "Ini bunga melati Jepang yang pernah diberikan Andi. Aku akan mengembalikan ke pusaranya," begitu jawab Nuke sambil membuka tissue pembungkusnya. Tika sempat terlihat terkejut dan memilih untuk tidak berkomentar. Sepertinya Tika memang mengira bahwa sahabatnya ini memang berhalusinasi. Kemudian Nuke memasukkan melati tersebut ke dalam tas mungilnya. Jarak dari penginapan ke rumah Andi pun tak jauh dari penginapan. Mereka juga melalui sekolahan tempat mereka dulu belajar bersama. Nuke juga melihat rumah yang pernah ia tempati dulu bersama keluarganya sudah dihuni dan direnovasi oleh pemilik baru. Akhirnya sampailah mereka di rumah keluarga Andi. Banyak perubahan di rumah itu hampir Nuke tak mengenalnya lagi. Terlihat beberapa tamu teman-teman mereka juga hadir sehingga tanpa direncanakan mereka seperti mengadakan acara reuni. Kak Heni pun mempersilahkan tamu untuk mencoba kue-kue, buah-buahan dan minuman di ruang tamu. Mereka pun sailing berbincang dan mengenang tentang Andi. Ada beberapa album foto yang tampaknya disiapkan oleh keluarga untuk dilihat para tamu. Ada foto-foto Andi bersama keluarga semenjak ia kecil hingga sekarang Dan foto-foto saat upacara pemakamannya. Ada beberapa hal yang buat kaget Nuke. Di salah satu album foto terdapat foto Andi bersama beberapa teman sepertinya saat itu di tahun dimana wabah covid-19 melanda. "Ini Andi kan Kak?," tanya Nuke pada Kak Heni sambil menunjuk ke foto sesosok pemuda berpakaian serba putih dengan kaos putih berkerah dan masker yang menutupi wajah beserta topi berwarna putih juga. Kak Heni pun mengiyakan pertanyaan Nuke. Bahkan ia menceritakan bahwa foto itu diambil memang saat wabah terjadi dan kaos putih berkerah merupakan pakaian kesukaan Andi. Nuke pun terdiam, pikirannya kembali mengingat sosok pemuda di stasiun saat Nuke baru tiba. Pemuda yang membantunya menunjukkan jalan keluar stasiun. Sosok pemuda itu mirip Andi seperti di foto dan Nuke pun mengingat sosok tersebut hilang hanya dalam beberapa saat saja. Andi masih datang membantunya, begitu pikir Nuke. Ia pun menyimpan kenangan itu dalam hatinya dan tak mau bercerita pada keluarga Andi. Terima Kasih sudah pernah ada dalam hidupku, Andi. Beberapa teman banyak yang sudah pulang hanya tersisa beberapa saja karena rumah mereka jauh sama dengan Nuke Dan Tika. Rencana mereka pun ingin pergi melayat ke pemakaman bersama dengan Nuke dan Tika. Sekitar jam dua belas siang Kak Heni mengajak para tamu untuk makan siang. Beberapa anggota keluarga juga masih sibuk di dapur memasak untuk keperluan acara selamatan nanti malam. Saat makan tersebutlah Kak Heni mengisahkan peristiwa tragis yang menimpa Andi saat dalam perjalanan mereka ke Bandung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN