Lembaran Baru Hidup Nuke

1375 Kata
Kak Heni akhirnya mengisahkan bahwa saat kejadian mereka berangkat bertiga dengan mobil pribadi. "Jadi saat itu yang pergi ke Bandung, aku, Andi dan sepupu kami yang memang berasal dari Bandung untuk membantu jadi penunjuk jalan kami. Rencana saat itu, Andi ingin mencari tempat tinggal yang akan ia gunakan selama bertugas di sana. Selepas dari rest area Andi mengeluh tubuhnya lemas. Saat itu akhirnya sepupu kamilah yang menggantikannya membawa kendaraan. Aku meminta Andi duduk di bangku tengah sementara aku yang di depan menemani sepupu yang membawa mobil," Kak Heni berhenti sejenak dan meneguk segelas air. Tampak jelas diwajahnya terlihat kesedihan yang mendalam. Kak Heni lalu melanjutkan kisahnya, "Kemudian sesaat setelah memasuki kota, kami yang melihat Andi sedang posisi tertidur mulai merasa ia mengeluarkan suara dengkuran yang aneh. Kemudian aku melihat ke bangku tengah dan kulihat posisi Andi sudah seperti lemas dan tertidur pulas namun mendengkur dengan suara aneh. Aku berusaha memanggil namanya berkali-kali namun ia tetap dengan posisinya yang tak sadarkan juga. Aku meminta mobil berhenti di pinggir yang aman karena aku mau berusaha membangunkannya dan duduk di bangku tengah bersamanya. Sedikit kugoyang-goyang tubuhnya dia pun tak bergeming bahkan suara dengkuran pun mulai tak terdengar. Aku tidurkan kepala Andi di pahaku serta meminta sepupuku segera mencari rumah sakit terdekat. Namun memang sudah takdir tampaknya bahwa Andi akan meninggal, pihak rumah sakit pun menyatakan bahwa nyawanya sudah tak tertolong." Kak Heni menghentikan cerita tentang kepergian Andi sambil masih berurai air mata. Nampak Tika, Nuke dan teman-teman Andi turut mengusap mata dan pipi mereka. Nuke pun mengelus lembut pundak Kak Heni untuk menenangkan dirinya. Kak Heni pun mengangguk dan berkata bahwa ia telah mengikhlaskan kepergian adiknya. Sekitar jam dua siang Kak Heni, Nuke dan juga Tika bersama beberapa teman dan kerabat pergi mengunjungi pusara Andi yang tak jauh dari tempat tinggal mereka. Hanya Lima belas menit dari rumah keluarga Andi dengan kendaraan. Ada sekitar delapan orang yang mengunjungi tempat peristirahatan terakhir Andi untuk terakhir kali. Nuke dan Tika membeli beberapa bungkus bunga tabur dan air mawar sebelum memasuki area pemakaman. Begitu pula beberapa teman mereka ada yang membeli beberapa bungkus bunga tabur. Posisi tempat peristirahatan Andi sangat strategis dan mudah dikenali. Wangi bunga melati merupakan tanda yang memudahkan mereka menemukan lokasi nya. Tika mulai menyadari kebenaran dari cerita sahabatnya. Bunga melati... dimana-mana... Dan di sana ada banyak tanaman bunga melati Jepang seperti yang diperlihatkan Nuke padanya. Tika mulai menarik lengan baju Nuke dan memberi kode bahwa di tempat itu banyak bunga melati. Nuke tersenyum dan bergumam bunga melati Jepang. Saat itu posisi mereka sedang melingkari pusara Andi. Sehingga Kak Heni sedikit mendengar gumaman Nuke. "Nuke tahu bunga melati Jepang? Iya kami tanam disamping pusara Andi dan Ibu kami karena wangi bunga melati sangat disukai Ibu dan Andi," begitu penjelasan Kak Heni yang menyadarkan mereka bahwa pusara Ibu Andi dan Andi memang berdampingan. Nuke pun menaburkan bunga melati Jepang yang telah mengering yang diambil dari kantong celana jeansnya juga mendoakan kedamaian jiwa Andi di surga yang indah. Tiba-tiba saat rombongan akan berpindah mengunjungi pusara Ibu Andi, Nuke melihat Tika terdiam berdiri mematung dengan wajah pucat pasi sambil tangannya memegang kencang pundak Nuke yang mulai menunduk dan akan jongkok. Nuke membatalkan niatnya untuk jongkok bersama lainnya karena melihat Tika yang bersikap aneh. Semua yang ada disitu seperti tidak menyadarinya. Tika memandang ke arah tak jauh dari posisi pusara Andi tempat mereka tadi menabur bunga dan mengirimkan doa. Pada posisi yang dilihat Tika tepat berada di belakang posisi mereka tadi jongkok dan mengirim doa untuk Andi, Nuke pun melihat sosok yang sangat dikenalnya. Nuke menyadari bahwa keanehan sikap Tika, karena ia sedang melihat Andi saat ini. Nuke melihat sinar terang di sekeliling Andi yang wajahnya sedang melihat ke arah pusaranya sendiri dengan wajah muram. Andi seperti merasa bahwa ada yang memperhatikannya. Ia pun memalingkan wajah ke arah Nuke dan Tika, namun kali ini dengan wajah tersenyum. Terlihat dari bibirnya menggumamkan kata terima kasih kepada mereka. Nuke memeluk sebelah lengan Tika karena ia khawatir akan reaksi tak terduga Tika karena kaget. Andi sempat melambaikan tangan kepada mereka sebelum akhirnya membalikkan badannya dan berjalan menuju tembok pemakaman kemudian akhirnya menghilang menjadi sebuah asap putih tipis yang terbang ke angkasa. Nuke berusaha kembali menyadarkan Tika untuk mengikutinya jongkok dan mengirim doa untuk Ibu Andi bergabung dengan yang lainnya. Tika membisikkan ke telinga Nuke dan dibalas dengan anggukkan Nuke," Aku lihat Andi. Kamu juga kan Nuke?" Hari itu rombongan beserta Nuke dan Tika kembali ke rumah Andi. Nuke dan Tika berpamitan dan meminta maaf pada Kak Heni yang selalu menemani mereka karena tidak dapat tinggal hingga acara malam selesai. Sepanjang perjalanan dari rumah Andi tampak Tika dan Nuke saling berdiam diri. Sesampai di penginapan mereka secara bergantian segera mandi dan membersihkan diri. "Nuke, gantian sekarang aku yang mandi. kamu jangan keluar ya, di sini saja tunggu aku," ujar Tika yang tampaknya belum bisa melupakan peristiwa tadi siang. Nuke mengiyakan sambil tertawa. Ia pun menunggu Tika mandi sambil menyaksikan televisi. Mereka pun akhirnya pergi ke luar penginapan untuk membeli makan malam dan membawa kembali ke kamar mereka. Saat makan malam, Nuke memulai pembicaraan dengan menceritakan hal-hal lucu yang mereka alami di masa sekolah. Nuke berusaha mengalihkan topik jika Tika mulai akan membahas tentang Andi. Nuke sadar peristiwa yang tadi dialami Tika bukanlah hal mudah untuk ia pahami. Sama dengan pertemuan dirinya beberapa kali dengan seseorang yang telah meninggal dunia. Nuke dan Tika bercerita hingga larut malam dan akhirnya tertidur karena lelah. Keesokan harinya, Nuke dan Tika menyempatkan diri berbelanja oleh-oleh dan menikmati suasana kota Jakarta hingga jam 4 sore. Mereka pun berpisah karena Tika akan berangkat lebih dahulu ke Surabaya dan Nuke menyusul dengan kereta malam ke Bandung. Beberapa jam menunggu kereta sendirian di stasiun memang membosankan. Nuke pun menghibur diri dengan melihat media sosial pada telepon genggamnya. "Wah cuaca cerah sekali. Boleh saya duduk di sini?" tiba-tiba ada seorang pria yang menghampiri Nuke dan meminta ijin untuk duduk di sampingnya. Nuke mempersilahkan pria tersebut yang memperkenalkan diri bernama Khrisna. Ternyata ia juga menunggu kereta dengan tujuan yang sama dengan Nuke. Rumahnya tak jauh dari toko bude rupanya. Tak lama kemudian kereta yang ditunggu pun tiba. Semua penumpang termasuk Nuke dan Khrisna segera naik ke gerbong. Tak disangka posisi duduk mereka tidak terlampau jauh masih di satu gerbong yang sama. Khrisna melihat tidak ada penumpang lain yang duduk di samping Nuke. Ia pun berinisiatif untuk duduk di samping Nuke dan mereka saling bercerita sehingga membuat perjalanan Nuke malam ini tidak membosankan. Khrisna bercerita bahwa ia dari menghadiri pesta pernikahan temannya di Jakarta. Nuke pun bercerita tentang reuni singkat dengan sahabat-sahabatnya sekaligus berziarah ke tempat sahabatnya yang sudah tiada 40 hari yang lalu. Tampaknya Khrisna adalah teman bicara yang menyenangkan sehingga perjalanan Nuke terasa cepat dan tidak melelahkan. Tak lupa mereka bertukar nomor telepon genggam. Khrisna pun berbaik hati menawarkan untuk mengantar Nuke setelah tahu Nuke berencana untuk pulang sendiri. Khrisna menitipkan kendaraan beroda empat di stasiun. Setelah ia membayar biaya penitipannya. Khrisna pun melaju dengan mobilnya mengantarkan Nuke. Bude menyambut Nuke di depan pintu rumahnya. Karena hari sudah larut maka Khrisna langsung berpamitan dengan bude dan Nuke. Hari berganti hari, hingga sudah setahun lebih sejak meninggalnya Andi. Nuke bersiap-siap dengan dua koper dan tas ransel di punggungnya. Nuke masih menunggu taksi di ruang tamu. Bude tampak masih terisak seperti berat untuk berpisah dengan keponakan tercinta. "Bude, Nuke hanya pergi sebentar saja. Setiap menjelang libur Nuke akan pulang ya, bude," pamit Nuke pada budenya. "Nduk, hati-hati di negeri orang. Australia jauh sekali dari sini nduk. Pintar-pintar jaga dirimu. Tapi bude yo bangga karena kamu berhasil dapat beasiswa sekolah ke sana," bude memeluk Nuke erat hingga tiba taksi online yang dipesan Nuke. Nuke pun berusaha menguatkan hati karena merasa berat meninggalkan bude sendiri. Namun ini merupakan kesempatan berharga demi cita-citanya. Nuke melambaikan tangan pada bude dari dalam taksi online. Dalam pesawat Nuke sempat mengecek telepon genggamnya sebelum ia matikan. "Nuke sayang, aku tunggu kamu di Aussie. Aku jemput di bandara cari aku ya. Aku juga sudah urus untuk dorm kamu nantinya. Congrats sayang akhirnya kamu menyusul mendapat beasiswa ke sini. Kamu pasti berhasil sayang. Kita berhasil bersama." "Iya sayang tunggu aku. Sebentar lagi pesawat berangkat aku akan matikan teleponku, see you soon, Khrisna." balas Nuke dengan diiringi senyum bahagia. Dimatikan telepon genggamnya setelah terkirim pesan singkatnya untuk Khrisna.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN