Nuke dan Khrisna sama-sama senang akan dipersatukan kembali di Australia setelah dua tahun tak bertemu. Mereka telah menjadi sahabat sejak pertemuan pertama kalinya di stasiun Gambir saat akan kembali ke Bandung.
Saat itu Nuke mendatangi rumah keluarga Andi untuk mengirimkan doa bagi Andi setelah 40 hari kematiannya.
Banyak misteri yang tak terpecahkan kala itu. Keanehan terjadi saat Nuke dipertemukan dengan Andi beberapa kali di saat sebenarnya Andi sudah meninggal dunia. Serta dirinya dan Tika yang bertemu dengan Andi di pemakaman seolah mengucapkan terima kasih sambil melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan dan kemudian menghilang.
Langit cerah di kota Melbourne, Australia. Suasana masih cukup sepi di pelataran kampus ABU (Australian Business University). Beberapa mahasiswa dan mahasiwi tampak asyik jogging dan menikmati udara pagi sambil ngobrol dan sarapan di taman kampus.
Sudah seminggu Nuke berada di asrama kampus (dormitory) tempat ia tinggal sampai ia menyelesaikan kuliahnya nanti. Nuke sangat bersyukur telah mengenal Khrisna. Karena Khrisna telah memberikan informasi dan arahan untuk mewujudkan niatnya kuliah kembali dengan program beasiswa di luar negri.
Khrisna sudah lebih dahulu berangkat ke Melbourne sekitar dua tahun lalu. Maka sejak itu pun Nuke belajar dari Khrisna untuk ikut persiapan lulus test beasiswa dan memenuhi kelengkapan yang diperlukan.
Mereka pun mengambil kuliah yang sama untuk program Bachelor of Business Administration. Program setingkat sarjana di Indonesia.
Program beasiswa ini sangat menguntungkan karena mereka sekolah ke luar negeri tanpa biaya. Bahkan ada subsidi khusus untuk asrama bagi mereka yang mau tinggal di dalam kampus.
Khrisna memang berasal dari keluarga yang cukup mampu sehingga ia memilih untuk menyewa kamar asrama di dekat apartment om dan tantenya tidak jauh dari kampus. Adik perempuan ibunya bernama Kristin menikah dengan pria warga negara Australia bernama Andrew, Khrisna memanggilnya sebagai uncle Andrew. Mereka belum dikaruniai anak padahal sudah sepuluh tahun pernikahannya.
Kamar Nuke berada di lantai 2. Udara sangat cerah, terdengar cuitan burung-burung dari dalam kamarnya. Nuke selesai sarapan dan sambil minum kopi ia menikmati udara yang cerah dari jendela kamarnya yang terbuka lebar.
Tiba-tiba terdengar dering bel sepeda dari arah bawah.Nuke sedikit mengeluarkan kepalanya dari jendela untuk melihat siapa yang datang.
"Khrisna... hi...," teriak Nuke setelah melihat siapa yang membunyikan bel sepeda. "Tunggu aku turun ... 5 menit."
Khrisna pun mengangguk dan membunyikan bel sekali lagi tanda setuju.
Minggu ini kuliah memang belum mulai. Beberapa mahasiswa hanya mempersiapkan diri seperti mencari tempat tinggal, mendaftar ulang, atau mulai meminjam buku ke perpustakaan.
Begitu Nuke mendarat di Australia, ia menjangkau Khrisna dan mereka memang merencanakan melakukan perjalanan akhir pekan untuk mengejar waktu yang hilang dengan menjelajahi pedesaan Australia yang indah.
"Gimana Khrisna?" sapa Nuke setelah ia berada di samping sepeda Khrisna. "Apa kita jadi pergi ke Yarra Valley?"
Khrisna menoleh dan tersenyum, "Tentu dong sayang. Rencana besok kita ke sana. Aku sudah dapat pinjaman mobil dari uncle Andrew. Tapi hari ini mari kita coba sepedamu putar-putar kampus."
Wajah Nuke tampak sangat senang. Yarra Valley merupakan salah satu tempat wisata yang ia inginkan untuk kunjungi. Hanya 1,5 jam dari kota Melbourne. Yarra Valley merupakan tempat terkenal dengan kebun anggur, restoran, dan pemandangan pegunungan yang indah. Di sana mereka juga dapat naik balon udara.
Nuke segera menaiki sepeda kuning yang baru dibelikan oleh kekasihnya itu.
"Terima kasih sayang," katanya saat berada di atas sepeda. Khrisna menggodanya sambil meletakkan jarinya ke bibirnya seolah meminta Nuke untuk menciumnya sebagai tanda terima kasih.
"Huh porno", seru Nuke sambil memukul pundak Khrisna kemudian mengayuh sepeda mendahuluinya. "Ayo jalan".
Khrisna pun tersenyum dan kembali mengayuh sepedanya hingga sejajar dengan Nuke. Mereka melalui pepohonan dan taman kecil dengan bangku-bangku yang nyaman. Mereka keluar dari gerbang kampus dan mengelilingi daerah di sekitar kampus.
Tak disangka sudah sekitar 10 menitan mereka mengayuh sepeda sambil menikmati udara yang sejuk. Khrisna memimpin di depan dan mulai mengajak Nuke memutar di Carlton Garden dan melanjutkan hingga mencapai asramanya di Grattan Street. Mereka segera memarkir sepeda mereka di tempat yang disediakan dan menguncinya.
Ini kali kedua Nuke datang ke asrama Khrisna. Mereka memasuki. ruang tamu dan ruang makan kemudian menyapa beberapa mahasiswa yang sedang ngobrol dan duduk.
"Hi Khrisna and Nuke, let's have breakfast here," seorang wanita berambut pirang panjang yang sudah mengenal mereka menyapa.
Khrisna dan Nuke melambaikan tangan dan tersenyum."Thanks Deena, we had breakfast."
Khrisna membuka pintu kamarnya yang cukup nyaman di dalamnya. Sebuah tempat tidur ukuran queen serta meja belajar dan lemari baju yang besar. Sepertinya ini kamar termahal di asrama ini.
Nuke mengambil gelas dan mengisinya dengan air. Kemudian mengambil kursi dan duduk sambil meminum air di gelasnya. Khrisna mengambil kaos dan mebawanya keluar kamar untuk menggantinya di toilet.
"Aku ke toilet sebentar ya ," ucap Khrisna pergi keluar kamar sambil membawa pakaian ganti. Dan Nuke mengiyakan.
Hingga jam makan siang mereka menghabiskan waktu ngobrol dan menyaksikan tv di kamar. Khrisna pun mengajaknya bermain Games PS yang dibawanya dari Indonesia.
Setelah lelah bermain, Nuke ingin istirahat sejenak dan menelepon bude. Sementara Khrisna bermain PS sendiri. "Bude, apa kabar?"terdengar suara bude menyahut,"Oalah cah ayu... baik bude. Kamu gimana di sana? Apa sudah mulai kuliahmu?" tanya bude.
Selama kurang lebih lima menit Nuke dan bude berbicara di telpon. Nuke juga menyampaikan bahwa ia bersama Khrisna. Terdengar suara Khrisna ikutan menyapa bude.
Nuke tidak bisa tidak memperhatikan seberapa banyak kekasihnya telah berubah. Khrisna yang dulu riang dan suka berpetualang sekarang memiliki rasa kedewasaan dan ketenangan tentangnya. Dia tampak lebih fokus dan didorong, dengan keyakinan yang tenang bahwa Nuke akan aman bersamanya.
Mereka memang bertujuan untuk menikah, namun karena peraturan beasiswa mereka tak boleh sedang menikah atau hamil. Sehingga sebagai mahasiswa yang baik, Khrisna dan Nuke harus mengikutinya. Mereka pun wajib bersabar hingga 4 tahun lagi sampai Nuke selesai kuliah.
Khrisna berkata dengan wajah serius, matanya dipenuhi dengan pengertian. "Aku senang perjalananku hingga ke Melbourne dapat memberikan ide baik untukmu mendapatkan beasiswa juga. Aku percaya bahwa kita semua memiliki kekuatan untuk membentuk nasib kita sendiri, dari mana pun kita berasal atau hambatan apa yang kita hadapi."
Percakapan mereka tak terasa hingga jam 2 siang, Nuke dan Khrisna berbagi cerita tentang petualangan dan impian masa lalu mereka untuk masa depan. Tiba-tiba perut mereka mulai terasa lapar, mereka memutuskan untuk memasak makanan di dapur. Dibukanya kulkas kecil ada beberapa bahan makanan yang bisa dimasak siang itu.
Khrisna memasak nasi terlebih dahulu sebelum mereka ke bawah untuk memasak di dapur. Nuke memasukkan bahan-bahan untuk dimasak ke kantong besar. Rencana ia mau membuat cap cay dan menggoreng ayam.
Saat ke bawah menuju dapur mereka tidak melihat siapa pun di sana. Sepertinya karena sudah jam dua sebagian dari mereka ada yang masuk kamar dan mungkin ada yang jalan-jalan sebelum kuliah dimulai.
Nuke dibantu Khrisna memotong bawang putih, sayuran, ayam dan bakso. Saat Nuke mencuci sayuran sudut matanya sekilas melihat seorang wanita muda duduk di sebuah kursi dekat ruang makan.
Sempat sedikit terkejut, Nuke segera memastikannya dengan memalingkan wajahnya ke arah sana. Memang dilihatnya seorang wanita yang mungkin berusia lebih muda dari dirinya memakai gaun panjang putih berenda sedang duduk dan matanya mengarah pada sebuah buku yang dipegangnya. Wajahnya pucat bersih dan fokus pada buku.
Tampaknya Khrisna tidak memperhatikan Nuke yang memandang ke arah gadis itu karena sibuk memotong bahan makanan mereka.
"Sayang... ini sudah kupotong," katanya memanggil Nuke.
Nuke pun segera menghampiri Khrisna dan mulai menyelesaikan masakan. Wangi harum bumbu mulai tercium. Dan akhirnya hampir selesai masakan yang mereka siapkan.
Nuke segera meminta Khrisna untuk mengambil nasi di kamarnya karena mereka akan makan di ruang makan. Sesaat Khrisna ke atas, Nuke teringat kembali pada gadis yang dilihatnya. Sambil membawa beberapa masakan yang sudah matang ke meja makan, matanya mulai mencari keberadaan gadis tadi. Namun sepertinya tidak ada gadis itu.
Khrisna sambil membawa panci berisi nasi ke ruang makan tampak bingung akan sikap Nuke," Sayang kamu lagi cari apa kok liat sana sini?"
Tampak kaget oleh pertanyaan Khrisna kemudian Nuke menjawab," Ah kamu bikin kaget, itu tadi aku lihat cewek bule di sini duduk. Hmm.. tapi aku baru lihat hari ini. Aku tidak kenal, sepertinya saat aku kemari waktu itu dia tidak ada."
Khrisna menggodanya dan tertawa,"Jangan-jangan bukan manusia seperti temanmu Andi." Wajah Nuke kesal mendengar candaan Khrisna.
"Khrisna jangan kamu buat bercandaan orang yang sudah meninggal. Aku tidak suka," seru Nuke ketus.
Khrisna pun meminta maaf dan membantu Nuke menata meja kemudian mereka pun makan bersama. Nuke sempat melirik sekali lagi ke tempat wanita tadi duduk tapi ia tidak menemukan wanita tadi.
Nuke menghabiskan hari itu bersama Khrisna. Mereka serasa melepas kerinduan karena dua tahun mereka tak bertemu. Pada malam hari mereka pun bergabung dengan teman-teman Khrisna untuk berbincang di ruangan lain. Kembali Nuke mencari sosok wanita yang tadi siang ia lihat namun saat hampir semua penghuni berkumpul ia tidak melihat wanita itu lagi.
Selesai makan malam bersama, Nuke pun kembali ke tempat tinggalnya diantar oleh Khrisna. Mereka kembali naik sepeda menuju arah kampus. Udara malam mulai dingin. Tadi Khrisna sempat meminjamkan jaketnya sehingga Nuke tidak merasa terlampau dingin saat mengayuh sepeda menembus gelapnya kota Melbourne.