Bab 45 wp 30

1075 Kata

Setelah beberapa minggu menjalani perawatan intensif di rumah sakit, akhirnya hari yang dinanti tiba. Regan diperbolehkan pulang. Pagi itu, langit tampak cerah, seolah ikut menyambut kepulangan lelaki yang baru saja bangkit dari koma. Angin bertiup lembut, menggerakkan dedaunan, dan burung-burung berkicau seakan menyuarakan harapan baru. Di dalam mobil, Renatha duduk di samping Regan, sesekali menatap wajah putra sulungnya dengan mata berkaca-kaca. “Pelan-pelan ya, Mas… jangan dipaksakan. Kalau capek bilang,” ucap Renatha lembut sambil menggenggam tangan Regan. “Iya, Bun…” jawab Regan lirih. Suaranya masih lemah, tapi ada sedikit cahaya yang mulai tampak di matanya—meskipun belum mampu menyembunyikan luka batin karena Aquila belum juga ditemukan. Di rumah, Rain dan Revan telah bersiap

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN