Setelah Vincent tertidur dengan nyenyak, Regan dengan hati-hati membaringkan sang putra ke dalam box bayi. Sentuhan lembutnya di kepala bayi mungil itu mengiringi langkahnya keluar kamar. Di luar, seorang wanita telah lama menunggunya. Sekilas raut wajah Regan tampak menyesal—ia sungguh merasa tak enak hati karena telah membiarkan seseorang menunggu begitu lama. “Maaf, kamu harus menunggu lama,” ucap Regan tulus. “Tidak apa-apa, Pak. Ini juga kesalahan saya yang datang di akhir pekan,” jawab sang wanita dengan senyum ramah. Wajah cantiknya tampak seumuran dengan Regan, tapi ada ketegasan dan kesopanan dalam tutur katanya. “Jadi, ada kepentingan apa sampai kamu datang menemui saya di hari libur seperti ini?” tanya Regan tanpa basa-basi. “Begini, Pak. Klien kita dari Amerika ingin menemu

