On Mission - 5

1259 Kata
Hari pertama Ann sebagai seorang bodyguard. Mereka tengah menuju kantor V Corp dengan menggunakan mobil milik Zack. Sebuah mobil Bugatti Chiron melaju dengan sangat cepat di jalanan kota Sydney. Perjalanan menuju kantor milik Zack memang cukup memakan waktu untuk jarak tempuhnya. Saat melewati hutan menuju kota Sydney, mereka diikuti oleh dua buah mobil berwarna hitam. Dua buah Chevrolet Camaro mengikuti mereka, dan saat keduanya sampai di samping mobil milik Zack, Ann langsung menginjak pedal rem hingga membuat mobil yang dikendarai berhenti secara mendadak. Sementara itu, dua mobil yang mengejar mereka kini berbalik arah dan melaju. Dua orang yang duduk di bangku depan menodongkan senjata pada mobil milik Zack itu. “Hei Tuan! Apa mobil ini memiliki daya tahan terhadap tembakan?” tanya Ann. Zack melirik pada dua mobil yang kini ada di hadapannya. “Satu goresan, kau akan menerima akibatnya.” Mendengar ucapan Zack, membuat Ann mengurungkan niatnya untuk menabrakkan diri pada dua mobil di hadapannya. Tetapi bukan Ann jika langsung menyerah hanya karena sebuah gertakan dari sang klien. Ann justru semakin mempercepat laju mobil itu, hingga dua mobil yang ada di hadapannya memilih memutar kemudi untuk  menghindari tabrakan. “Yess!” seru Ann. Ann memutar kemudinya, lalu membuat mobil itu berjalan mundur. “Apa yang kau lakukan?” tanya Zack. “Aku sedang bermain bersama dua tikus.” Ann mengeluarkan tangannya dari jendela, dengan memegang shotgun M-4 Super 90 ia menembaki lawannya. Sementara Zack sudah terbiasa pada situasi seperti , ia hanya menggelengkan kepalanya melihat kinerja Ann. Senjata milik Ann tepat mengenai kepala pengemudi mobil Chevrolet Camaro itu. hingga akhirnya kemudinya berbelok dan menabrak sebuah pohon besar. BRAK BOOM Ann mengembalikan posisi mobil hingga menghadap ke depan. Dan mereka melaju hingga sampai di sebuah gedung yang menjulang tinggi dengan lambang V pada atap gedung. Gedung yang memiliki tiga puluh lantai itu terlihat sangat megah dan juga kokoh. Pada setiap lantai memiliki persenjataan yang canggih, itu karena V corp bergerak pada bidang teknologi persenjataan yang dibantu oleh Darren, dari keluarga Camorra. V Corp memiliki beberapa senjata baru yang menjadi pusat perhatian beberapa pedagang asing di dunia. Senjata ciptaan Darren itu memiliki beberapa sensor sensitif, bukan hanya dapat melacak suhu panas, senjata itu bahkan bisa membidik dari jarak jauh. Cara mengaktifkan senjata itu juga cukup menarik, dengan meneteskan darah pemiliknya pada bagian pengenal, maka senjata itu bisa langsung digunakan. Zack turun dari mobilnya yang berhenti di basement. Ya, Pria itu tidak pernah menggunakan pintu utama sebagai pintu masuknya. Zack menggunakan lift khusus yang ada pada basement. Di depan pintu lift, sudah menunggu seorang wanita cantik dengan paras seperti seorang model. Ia adalah Kaelan, anak dari kolega Caroline. Kaelan adalah wanita yang sudah menjadi jodoh Zack selama satu tahun ini. Ia bisa menikahi Zack jika sudah lulus dari kuliahnya di Universitas Harvard. Sementara Zack hanya menanggapi dengan santai keinginan ibunya, meski hal itu tidak akan pernah terjadi. Karena Zack tidak ingin menikahi wanita yang tidak ia suka atau tidak bisa mengambil hatinya. “Zack, kau sudah datang. Aku kira kau akan datang lebih siang,” sapa Kaelan. “Aku ada meeting pagi ini, untuk apa kau datang kemari?” tanya Zack. “Aku merindukanmu, Zack.” “Tuan, meeting akan dimulai dalam beberapa menit,” ujar Ann tiba-tiba. “Siapa wanita ini, Zack?” tanya Kaelan. “Dia bodyguard baruku.” “Syukurlah.” Kaelan terlihat lebih lega saat Zack mengatakan status Ann di sana. Mereka akhirnya memasuki lift bersama. Lalu lift itu bergerak naik menuju lantai dua puluh lima. Selama di dalam lift, Kaelan tidak melepaskan Zack. Tangannya terus melingkar pada lengan Zack, dan kepalanya bersandar pada bahu pria itu. Beberapa menit setelah itu, pintu lift kembali terbuka dan mereka keluar dari sana secara bersama. Berjalan memasuki ruangan Zack, Ann terlebih dahulu berjalan di depannya. Memastikan keamanan Zack adalah hal utama untuk Ann saat ini. “Silakan masuk, Tuan.” Zack meletakkan tas kopernya di atas meja kerja, lalu ia mengambil laptop miliknya yang ada di atas meja. Zack kembali berjalan keluar dengan diikuti oleh Ann. Sementara Kaelan menunggu mereka di dalam kantor itu. “Tuan, apa dia tidak apa jika ditinggal di dalam sana?” “Kenapa? Apa kini kau mengkhawatirkan Kaelan?” “Ada seorang pria sedang membidik kearah gedung ini. aku curiga ia akan menembak mu dari sana,” jelas Ann. Belum sempat mereka masuk ke dalam ruang meeting yang ada di lantai dua puluh, sebuah tembakan memecahkan kaca pada ruangan samping yang berada tepat di sisi kiri kantor Zack. “Sialan!” umpat Zack. Ann meraih tubuh Zack untuk menunduk dan berlindung di bawah meja. Ann berlari menuju ruang kantor Zack dan menemukan Kaelan sudah terbunuh. “Ahh … Sial! Aku terlambat. Semoga saja Tuan Zack tidak memarahi aku tentang hal ini.” Ann kembali menemui Zack yang masih bersembunyi. “Tuan, maaf … wanitamu tidak bisa aku selamatkan. Dia sudah terbunuh sejak kita keluar dari ruangan itu,” jelas Ann. “Hah … Mommy pasti akan memarahi aku karena hal ini.” “Tuan, sebaiknya kau menunda meeting pagi ini.” “Tidak bisa, karena aku sudah dua kali menundanya karena hal ini.” Mendengar ucapan Zack, sepertinya Ann perlu melakukan penyelidikan terhadap beberapa orang yang akan datang pada acara meeting hari ini. “Aku akan selalu berada di dalam ruangan meeting, jangan menolak.” Mendengar nada suara Ann yang mulai serius, Zack hanya mengangguk. Lalu … dari earphone kecil yang terpasang di telinga kanannya, ia menyuruh beberapa orang untuk membereskan mayat Kaelan di sana. Berita duka kini tersebar di seluruh penjuru Negara, karena Kaelan adalah anak dari orang penting di Negara itu. Zack masih tetap melanjutkan meetignnya, dengan ditemani oleh Ann sebagai pelindung dirinya di dalam ruangan itu. Ada enam orang yang datang, dan ada satu pria yang dikenal oleh Ann di sana. Pria itu adalah keluarga dari Balthazar. Aimar De Bhaltazar adalah adik dari pemimpin Balthazar. Ia seorang pria mapan, dengan tinggi yang mencapai 185 cm, dan memiliki rambut bergelombang. Aimar adalah tangan kanan Raymond, karena tanpa adanya Aimar, Raymond tidak akan bisa menjalankan semua rencananya. Tidak ada hal aneh yang terjadi saat meeting berlangsung. Hingga semua selesai, dan Aimar justru menarik Ann untuk berbicara dengannya. “Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Aimar. “Aku sedang bekerja.” Mendengar jawaban Ann, Aimar terdengar tidak begitu menyukai posisi Ann saat ini. “Kau bisa dalam bahaya jika bersama pria itu,” ujar Aimar. “Aku tidak peduli, bahkan aku sudah membunuh orang suruhanmu tadi pagi.” “Beruntung penembak itu tidak salah target.” “Apa? Jadi … kalian memang ingin membunuh Kaelan?” “Itu permintaan istri baru perdana menteri. Aku hanya menjalankan pekerjaan saja, Sayang.” “Cih! Berhenti memanggilku dengan sebutan itu, Aimar!” “Ann, jika kita menikah, aku ingin kita hidup damai tanpa adanya hal seperti ini lagi, apa kau bersedia?” tanya Aimar. “Tidak. Aku lelah dengan semua omong kosongmu! Kau sudah memiliki Dara.” “Ayolah, bagaimana jika aku menceraikan Dara?” “Bodoh! Aku tidak akan pernah mau menikah dengan manusia bodoh seperti dirimu.” Ann melangkah pergi dari pintu darurat. Wanita itu kini berjalan menghampiri Zack yang sudah bertemu dengan perdana menteri. Ann melihat seorang wanita yang dimaksud oleh Aimar beberapa saat lalu. “Tuan … sebaiknya kau menjauhi perdana menteri.” Mendengar bisikan Ann, Zack mengambil langkah mundur dan ia berpamitan untuk segera pulang ke mansionnya. Bersama dengan Ann yang menjaganya dari semua bahaya, Zack kini terlihat berbeda dari beberapa saat lalu. “Tuan, apa yang terjadi?” tanya Ann. Tidak menjawab, Zack justru memeluk Ann dengan erat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN