Selama perjalanan kembali ke mansion, Ann dibuat kebingungan dengan tingkah Zack yang terlihat berbeda. Pria yang pada awalnya tidak menyukai Ann, kini seperti terkena sebuah sihir cinta. Zack dibuat kagum dengan kinerja Ann yang tepat sasaran. Sampai di depan mansion, Ann turun dan berjalan mendahului Zack untuk segera sampai di kamarnya.
Sedangkan pria yang seharusnya memarahi tingkah Ann itu, justru berjalan dengan tersenyum. Senyum itu tidak begitu lama singgah di wajah Zack. Sebuah suara teriakan kini terdengar ditelinga pria itu.
“Apa yang kau lakukan di sini? Kita harus datang pada pemakaman anak perdana menteri!” ujar Caroline.
“Aku sedang malas. Malam ini akan ada pesta bersama para pemilik saham di perusahaan.”
“Tidak baik seperti itu. kita harus menghargai perdana menteri untuk mengucapkan rasa kehilangan atas kepergian Kaelan.”
“Mom, andai saja kau tahu siapa yang membunuh Kaelan.”
“Zack, bukankah tembakan itu untuk membunuhmu?”
“Bukan, tembakan itu memang diarahkan pada Kaelan.”
“Apa?”
“Ya.”
Zack berjalan menuju kamarnya dengan malas. Sedangkan Caroline tetap pergi ke pemakaman Kaelan.
Sampai di depan kamar, Zack mendengar Ann berbicara dengan seseorang menggunakan telepon.
“Kak, apa kau melakukan misi melindungi Perdana Menteri atas perintah istrinya?” tanya Ann pada seseorang di seberang.
Zack yang mendengar hal itu kini semakin ingin tahu dengan apa yang dibicarakan Ann dengan orang di telepon itu.
“Kakak, aku tahu. Jangan khawatirkan hal itu. Lagi pula dia tidak bisa apa-apa tanpa aku disampingnya. Sepertinya keluarga Vergard memiliki pewaris yang sedikit bodoh.”
Mendengar perkataan Ann, Zack kini terlihat kesal. Ia masih menahan diri untuk tidak masuk dan menelanjangi wanita itu.
“Ayolah, Kak. Jangan buat Romanoff menunggu! Dia sangat menyukai dirimu, kau tahu itu.”
Setelah beberapa menit, percakapan Ann tidak lagi penting untuk Zack. Ia ingin pergi dari sana, tetapi sial … Ann membuka pintu dan menyadari keberadaan Zack di sana.
“Apa kau sudah puas mendengarkan?”
“Kau! K-kau mengejutkan aku!” ucap Zack tergagap.
“Kenapa? Apa kau sedang menunggu sesuatu untuk aku ucapkan?”
“Kau mengatai aku bodoh! Aku tidak terima dengan perkataan itu.”
“Benarkah? Lalu … apa yang akan kau lakukan?”
“Ka-kau!”
Ann berlalu melewati Zack. Ia berjalan menuruni anak tangga untuk menuju dapur. Ann terlihat kesal karena sebagian percakapannya pasti sudah didengar oleh Zack.
Sampai di dapur, Ann mengambil sebuah gelas dan menuangkan air ke dalamnya. Perlahan ia meminumnya, dan meletakkan kembali gelas itu ditempatnya. Ann tidak melihat seorang pelayan di sana. Entah di mana para pelayan pada jam itu. Hingga Ann memiliki pemikiran buruk, dan ia berjalan menuju area belakang mansion.
Saat Ann akan sampai disebuah pintu yang menghubungkan kamar pelayan dengan ruangan utama mansion, seseorang menarik tubuh Ann.
“Apa yang –“ ucapan Ann terhenti.
“Sstt … jangan terlalu berisik di sini.”
Zack menarik Ann untuk pergi dari sana. Hingga sampai di dalam kamar Zack, dan Ann melepaskan genggaman tangan Zack.
“Apa yang kau lakukan, Tuan?” tanya Ann.
“Di sana … adalah area terlarang. Jangan pernah kau kembali ke sana.”
“Apa? Ada apa?”
“Tidak ada, kau hanya tidak diperbolehkan ke sana kecuali pelayan, dan Mommy.”
“Aneh.”
Ann kembali berjalan keluar dari kamar itu, tetapi Zack menahan Ann untuk tidak keluar.
“Apa?”
“Ini, kenakan itu untuk pesta mala mini.”
Ann menerima sebuah gaun hitam yang begitu elegan dan cantik. Gaun hitam dengan belahan d**a yang sempurna, membuat bagian depan Ann terlihat menggoda jika dikenakannya.
“Aku tidak mau!” Ann melemparkan kembali paper bag yang diberikan oleh Zack.
“Apa? Itu adalah desain termahal yang pernah aku beli.”
“Baiklah. Sepertinya desain mahal tidak cocok untukku. Aku akan mengenakan gaun yang ada di dalam lemari saja.”
“Apa? Tidak! Kau tidak diizinkan untuk mengenakan gaun lain selain ini.”
Zack kembali melemparkan paperbag itu pada Ann. Kesal dengan tingkah Zack, akhirnya Ann keluar dengan membawanya.
Di dalam kamarnya, Ann terlihat sedang bersiap untuk pesta yang akan diadakan sebuah perusahaan besar. Ia merias dirinya di depan kaca, dengan gaun pemberian Zack, Ann bisa menyembunyikan senjatanya dibagian paha dan pinggang. Tidak hanya itu, Ann juga mengenakan jepitan rambut yang bisa ia gunakan sebagai senjata.
“Begini lebih baik.”
“Apa kau menyembunyikan senjata diantara kakimu?” Suara Zack membuat Ann terkejut.
“Ka-kau! Kenapa kau tidak mengetuk pintu?” Ann terlihat kesal dengan sikap Zack.
“Untuk apa aku mengetuk pintu di mansion milikku sendiri?”
“Setidaknya aku di sini harus memiliki privasi!”
“Kau? Kau tidak memerlukannya! Karena kau bekerja untukku.”
“Apa?”
“Nona, sebaiknya kau bergegas, karena waktunya tidak akan lama lagi.”
Zack berjalan keluar dari kamar Ann dan menutup pintu kamar itu. Jantung Ann berdetak cukup kencang saat Zack melihat dirinya sedang mengenakan gaun itu.
Akhirnya Ann berjalan keluar menuju halaman depan mansion, di sana Zack sudah menunggunya dengan tuxedo hitam. Kali ini, Zack yang memegang kendali kemudi mobil, dan Ann duduk di sampingnya.
Mobil itu berjalan menuju ke tempat pesta dilaksanakan. Di sebuah ballroom besar yang ada di kota itu. Selama perjalanan, Ann terus mengamati jalanan di sana. Hingga sampai di tempat tujuan, dan mereka bersama berjalan masuk ke dalam ballroom.
“Jangan membuat keributan.”
“Kau pikir siapa yang memicu keributan itu?” tanya Ann.
“Sudahlah.”
Tangan Ann melingkar pada lengan Zack, dan mereka masuk dengan undangan yang ada di tangan pria itu. Di dalam ballroom itu terlihat ada banyak sekali tamu penting yang Zack kenal. Mereka yang sudah mengenal Zack akan menyapa pria itu dengan ramah, sedangkan yang tidak begitu mengenal, akan memberikan tatapan penuh tanda tanya.
“Tuan Zack … selamat datang,” sapa seorang pria peruh baya dengan jas hitam dan dasi kupu-kupu.
“Tuan Mario … senang bertemu denganmu.”
Mereka saling berpelukan beberapa detik, lalu tertawa bersama saat membicarakan beberapa hal kecil. Sedangkan Ann hany terdiam sembari melihat kesekelilingnya. Tatapan mata Ann terhenti saat ia melihat seorang Balthazar ada di pesta itu.
“Siapa Nona cantik ini?” tanya Mario saat menyadari jika Zack datang dengan seseorang.
“Dia kekasihku, namanya Ann Florrest,” ujar Zack.
“Nona Ann, aku mengenal Shawn, Kakakmu. Dia benar-benar pria yang mengagumkan.”
“Terima kasih, Tuan.”
“Nona, apa kau juga bisa seperti mereka?” tanya Mario.
“Maaf, aku tidak mengerti dengan pertanyaanmu.”
“Sudahlah … abaikan saja.”
“Pesta yang menarik, anda mengundang Balthazar ternyata.”
“Hahaha, ya … karena mereka memiliki peranan di dalam bisnis ini.”
“Hmm, menarik.”
Ann terlihat masih menatap Aimar yang kini meliriknya dengan tatapan nakal. Baru saja Ann mengalihkan pandangannya beberapa detik, saat ia kembali melihat pada Aimar, ternyata pria itu telah menghilang dari tempatnya.
“Tuan, bisnis apa yang sedang ramai dikalangan anda?” tanya Ann.
“Hm … apa kau tertarik, Nona?”
“Tidak, kekasihku ini memang suka sekali bertanya, Tuan Mario. Maafkan atas pertanyaan bodohnya.”
“Tidak apa-apa, Tuan Zack. Dia datang bersamamu dan tertarik dengan bisnis, aku senang mendengarnya.”
“Kau lihat? Tuan Mario tidak keberatan jika aku mengajukan pertanyaan padanya.”
Setelah perbincangan singkat itu, akhirnya Mario pergi untuk menyapa tamu lainnya. Dan kiniZack dengan Ann duduk di sebuah sofa yang ada di ruangan itu.
“Jangan pernah bertanya lagi pada pria itu.”
“Kenapa?”
“Dia bukan pria yang akan melepaskanmu jika berhubungan dengan bisnis.”
“Hmm, menarik. Aku suka.”
“Kau gila?”
“Kau yang gila, karena sudah membawa wanita gila seperti aku kemari.”
“Duduk di sini, aku akan menyapa beberapa orang yang ada di sana.”
Zack beranjak dari tempatnya lalu mendekati beberapa orang yang sedang berbincang. Sedangkan Ann kini hanya duduk dan menikmati segelas tequilla di tangannya.
“Sepertinya kita memang berjodoh, Sayang.”
“Kau membuat aku ingin menyiramkan minuman ini ke wajah itu.”
“Seperti itukan jika kau sedang mendekati seseorang?”
“Pergilah.”
“Kau terlihat cantik dengan gaun itu. Apa pria itu memperlakukan dirimu dengan baik?”
“Bukan urusanmu, Aimar.”
“Memang bukan, tetapi aku hanya ingin memastikan, diantara kalian tidak akan terjadi apa-apa.”
“Kau sungguh gila!”