Regan mendengus kasar. Emosinya membuncah saat mengingat kejadian di kantornya tadi. Alhasil saat di rumah, dia melampiaskannya pada Zee dengan menceritakannya dengan menggebu-gebu. Zee tidak melakukan hal lain selain duduk di samping Regan dengan secangkir teh panas di tangannya. Sesekali dia menenangkan Regan dengan mengusap lengan pria itu atau menawarkan minuman hangat untuk suaminya. "Dia benar-benar keterlaluan. Aku yakin dia juga membujuk Anne untuk keinginannya." Wajah Regan sedikit memerah, entah karena lela atau karena emosinya. "Sudah aku katakan, keluarga itu tidak lain hanyalah benalu. Aku tidak tahu bagaimana Anne bisa berhubungan dengan putranya, Zee." Regan meraup wajahnya dengan kesal. Zee mengangguk. Mencoba paham akan posisinya. "Aku akan mencoba bicara pada Anne agar

