Chapter 22

1095 Kata

Regan terdiam pagi itu. Ucapan Anne yang menyinggung soal masa lalunya membuat dia tidak bisa tenang. Rasa bersalah yang Regan coba untuk pendam selama ini kembali muncul ke permukaan. Dalam hati, dia bertanya-tanya, apa dulu dia memang seburuk itu hingga anaknya kembali dapat membahasnya? Kopi panas yang disuguhkan oleh istrinya sedari tadi belum ia sentuh sama sekali karena sibuk melamun. Entah bagaimana masa lalu itu kembali membuatnya gagal fokus. “Regan, ayo dimakan.” Zee kembali menghampirinya dan kini dengan piring sarapan di tangannya. Wanita cantik itu mengeryitkan dahinya saat melihat suaminya diam saja sejak tadi. Zee mengeryitkan dahinya heran. “Apa kamu dengar aku, Regan?” Regan bergeming. Membuat Zee yakin pasti ada sesuatu yang mengganggu suaminya. Untuk itu, dia menghamp

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN