Chapter 10

1107 Kata
"Aku pulang dulu, Ariekhsa," ujar Anne pada Ariekhsa yang sedang menatap album fotonya dan kembali melihat-lihat foto itu. Ariekhsa mendongak. Dia mengeryitkan dahinya samar pada Anne. "Sekarang, Gavrilla?" "Iya. Sudah larut malam." Anne yakin setelah ini ia akan kembali mendapatkan omelan dari orang tuanya karena kembali pulang malam hanya untuk menjaga Ariekhsa. Tapi, Anne sendiri sedikit tidak tega jika dia meninggalkan Ariekhsa sendiri. Ariekhsa menggenggam tangan Anne dan tentu saja itu membuat Anne mendapatkan serangan jantung mendadak. Ariekhsa gemar sekali membuat dia terkejut setengah mati karena tindakan pria itu. "Apa kamu akan kemari lagi?" tanya Ariekhsa dan Anne mendengar sedikit nada memohon di sana. Anne tersenyum. "Iya." "Baguslah." Anne perlahan melepaskan genggaman tangannya dari Ariekhsa dan bangkit dari sisi ranjang itu. Seharian mereka berada di kamar itu dan untungnya tidak ada perasaan canggung yang terlalu kentara. Ariekhsa sekarang sudah mau diajak berbicara panjang-lebar dengannya. Anne kebingungan ketika Ariekhsa ikut bangkit dari duduknya dan keluar dari kamarnya. Pria ini ... tidak berniat untuk mengantarnya, bukan? "Ariekhsa, kamu akan kemana?" Ariekhsa berdiri di ambang pintu rumahnya dan menoleh ke belakang tubunya dengan mengeryitkan dahinya. "Melihat kamu pulang," ujarnya dengan polos. Lagi-lagi Anne merasakan pipinya memerah karena ucapan Ariekhsa. Astaga, bisakah pria ini berhenti membuatnya mati kutu? Atau mungkin dirinya-lah yang terlalu mudah tersipu karena pria ini? "Baiklah. Sampai jumpa." Anne melambaikan tangannya pada Ariekhsa dan melangkah pergi. Tak lupa dia juga memberikan senyuman pada pria itu, yang mana Anne yakin sekarang dia terlihat konyol di depan pria itu. "Gav!" Ariekhsa berseru dan membuat Anne menoleh ke belakang, lagi. "Hati-hati!" ujarnya dan dijawab dengan acungan jempol oleh Anneliese. Astaga, Ariekhsa Cleon sangat tidak baik untuk jantungnya. * Anne sampai di rumahnya dan kali ini, anggota keluarganya belum tidur semua. Eliz ada di dapur bersama ibunya, sementara ayahnya menonton TV dengan tenang. "Aku pulang," ujar Anne pelan. "Hai," sapa Eliz sambil tersenyum padanya. "Ibu dan aku membuat pudding, Anne. Kemarilah." Adiknya itu memang senang sekali membantu Ibu mereka untuk memasak atau membuat kreasi di dapur, berbeda dengan Anne yang tidak pandai memasak sama sekali walaupun sudah diajarkan oleh ibunya. Anne mengangguk dan menghampiri adik dan ibunya. "Wah, kelihatannya enak." "Pasti, aku yang membuatnya," ujar Eliz membanggakan diri. Zee dan Anne hanya tertawa mendengarnya. Kemudian, Anne melirik ayahnya yang terlihat tidak acuh pada kehadirannya. Ayahnya itu tidak menganggapnya ada sama sekali. Anne tahu mungkin ayahnya marah karena dia tidak mendengar setiap ucapan pria itu, tapi tetap saja Anne tidak suka didiamkan. "Mama," panggil Anne sedikit berbisik. Zee mengangkat sebelah alisnya. "Apa?" ujarnya tanpa suara. Anne mengendikkan dagunya ke arah ayahnya yang kini posisinya membelakangi mereka. "Kenapa? Apa aku berbuat salah lagi?" bisik Anne. Zee menghela napasnya dan tersenyum kecil. "Tidak. Mungkin dia ada masalah di kantornya." Anne tahu bahwa ayahnya itu selalu bersikap terbuka kepada ibunya. Setiap kali ada masalah, ayahnya selalu menceritakannya pada Ibu. Jadi, Anne curiga bahwa ibunya kali ini juga menutupi sesuatu darinya. "Anneliese." Anne terlonjak ketika ayahnya tiba-tiba memanggilnya. Dia menghembuskan napas perlahan, mencoba menenangkan dirinya sendiri. Dia melangkahkan kakinya untuk pergi ke ayahnya. Eliz memberikan wajah prihatin pada kakaknya itu. Dia mengepalkan tangannya dan mengangkatnya sembunyi-sembunyi, bermaksud memberikan semangat kepada kakak perempuannya itu. Di rumahnya, mereka paling takut pada kemarahan Sang Ayah, dan sialnya, Anne selalu mendapatkan masalah dengan ayah mereka itu. "Iya, Papa?" Anne menjawab dengan sopan sambil duduk di sofa lain yang ada di pinggir ayahnya. "Apa orang tua Ariekhsa mengatakan sesuatu padamu?" tanya Regan dengan nada yang paling tidak enak yang pernah Anne dengar. "Maksud Papa? Aku tidak mengerti." Anne mengeryitkan dahinya. Dia merasa orang tua Ariekhsa tidak mengatakan apapun padanya. Regan menghela napasnya. Dia mematikan TV di hadapannya dan kini menatap Anne, mengalihkan fokusnya sempurna pada anaknya itu. "Dion, pria itu penjilat, Anne." Anneliese terkejut dengan penuturan ayahnya yang tiba-tiba. "Papa?" Kata-kata ayahnya terlalu kasar dan Anne tidak suka mendengarnya. Walaupun keluarga Ariekhsa terbilang asing untuknya, namun bukankah tetap saja tidak sopan jika mengatakan seseorang sebagai penjilat? Regan berdecak. "Dengar, Anne, pria itu mulai mencari muka pada ayah kamu ini tadi di kantor. Papa tau apa maksudnya. Pria itu juga menyinggung soal hubungan kamu dan Ariekhsa seolah itu bukanlah masalah." Anneliese mendengarkan dengan seksama. Dia masih tidak mengerti kenapa Dion melakukan itu. "Apa kamu tidak pernah berpikir kenapa Grace dan Dion sangat ingin kamu menggantikan Gavrilla?" Anne terdiam. Pikirannya kembali melayang pada Grace yang memohon padanya untuk menjadi 'tunangan' Ariekhsa. "Dia tahu apa yang dimiliki keluarga kita, Anneliese, dan memanfaatkan kondisi Ariekhsa untuk menari empati kamu." Regan tidak mengerti bagaimana bisa anaknya ini sangat naif dan percaya begitu saja kepada apa yang diucapkan oleh Grace. Sejak awal bertemu dengan Dion juga istrinya di beberapa acara perusahaannya, Regan sudah tahu bahwa kedua orang itu sangat ambisius dan ingin mendapatkan keuntungan besar. Sialnya, putri sulungnya ini malah berhubungan dengan keluarga itu. "Anne, apa kamu percaya pada Papa?" Anneliese masih gamang dengan semuanya. "Papa, hubunganku dengan Ariekhsa sama sekali tidak ada hubungannya dengan itu. Aku akan tetap membantu Ariekhsa, dan urusan Papa dengan Pak Dion, bukanlah urusan kami. Itu dua hal yang berbeda." Regan menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa di belakangnya. Ah, tentu saja, Anneliese dan sifat keras kepalanya. Dua hal yang tidak bisa dilepaskan. "Anneliese, mereka hanya memanfaatkan kamu. Nak, cinta kamu pada Ariekhsa seharusnya tidak membuat kamu menjadi terlalu naif ataupun polos seperti ini." Anne menundukkan kepalanya. "Iya, Papa. Aku akan lebih berhati-hati." Anneliese tidak ingin mendebat ayahnya malam ini. Dia terlalu lelah dan butuh waktu untuk memikirkan ini semua. Dia berpamitan pada ayahnya dan masuk ke kamarnya tanpa mengatakan apapun lagi. Di sisi lain, Eliz dan Zee saling lirik. Sedikit khawatir dengan Anne ataupun Regan. "Mama, bagaimana ini?" Eliz bertanya dengan nada kentara sekali khawatir. Zee menghela napas. Dia mengambil piring yang terdapat pudding di atasnya dan memberikannya pada Eliz. "Berikan ini pada kakak kamu. Tolong temani dia, ya. Mama akan menenangkan Papa." Baguslah. Untung saja Zee memiliki satu anak lagi yang bisa ia ajak kerja sama. Eliz mengangguk dan menaiki tangga untuk menghampiri kakaknya. Diketuknya pintu itu dan ketika Anne sudah mengizinkannya untuk masuk, Eliz menurutinya. "Aku membuatkan kamu pudding dan kamu tidak mengacuhkannya? Jahat." Eliz mencebikkan bibirnya dan mengundang tawa kecil dari Anne. "Kemari, aku ingin mencicipinya." Eliz duduk di samping Anne di sisi ranjang itu. "Kamu baik-baik saja, Anne?" Anne tersenyum. "Aku mencoba untuk baik-baik saja." Keheningan menemani mereka ketika Anne kembali memakan pudding tersebut. Sementara itu, Eliz memerhatikan Kakaknya. Sedikit iba pada Anne karena akhir-akhir ini kakaknya seolah gamang. "Katakan, Elizabeth, apa aku salah?" Eliz tersenyum kecil. "Sedikit. Tapi, aku mengerti kalau kamu melakukan itu karena mencintai Ariekhsa. Mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama jika ada di posisi kamu." Satu-satunya tugas Eliz sekarang hanyalah menenangkan kakaknya. ***  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN