Chapter 11

1093 Kata
Anne pergi ke galeri seni milik Tante-nya yang bernama Addy. Wanita itu meneleponnya dan mengatakan ada pertemuan penting mengenai pameran dan festival yang akan diadakan sebentar lagi. Anne juga baru sadar bahwa dia secara tidak tanggung jawab, melalaikan pekerjaannya selama menjaga Ariekhsa. "Hai, Tante." Anne tersenyum dan memeluk sekilas Addy. "Ya ampun, kemana saja kamu?" canda wanita itu sambil membalas pelukannya. "Maaf aku tidak kemari beberapa hari ini." Addy mengangguk memaklumi dan mulai mengajak Anne untuk pergi ke ruangan rapat di lantai dua galeri itu. Awalnya galeri seni ini hanya sebuah tempat di tengah-tengah pertokoan yang saat itu dikelola sendiri oleh Addy. Namun semakin lama, galeri tersebut mulai berkembang dan kini berpindah tempat ke sebuah bangunan megah tiga lantai. " ... apa perlu membuat anggaran dana tambahan? ..." " ... oh baik, dapat dimengerti." Rapat mereka berjalan dengan lancar. Posisi Anne sebagai bawahan sekaligus tangan kanan dari Addy. Walaupun dia adalah keponakan Addy sendiri, tapi dia bekerja di sana sesuai dengan kemampuannya dan tidak ada 'priviledge' yang didapatkan hanya karena hubungan darahnya dengan Addy. "Anne, ingin makan siang bersama?" tawar Addy pada keponakannya setelah rapat mereka selesai. Anne mengangguk. Mereka pergi ke kafe yang tidak jauh dari lokasi galeri itu, dan selagi menunggu pesanan mereka, Addy mengajak keponakannya itu berbincang. "Ah, iya. Tante menemukan lukisan ini secara tidak sengaja." Addy mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan foto dari sebuah lukisan sederhana yang ia maksud. Anne memerhatikannya dengan seksama. Hatinya terasa sakit dan sedih di saat yang bersamaan saat tahu lukisan apa itu. Lukisan yang ditunjukkan oleh Addy adalah yang ia buat bersama Gavrilla beberapa tahun yang lalu. Saat itu, Anne mengajak sahabatnya untuk berkunjung ke galeri seni Addy. Di galeri seni itu terdapat ruangan khusus untuk melukis dan Anne melukis bersama Gavrilla. Gambarnya cukup sederhana. Hanya siluet dua gadis yang sedang menatap langit senja yang sangat cantik di pinggir danau. Anne hanya tersenyum pedih. Lalu, saat sadar dia terlalu terbawa perasaan, Anne menarik napas dalam-dalam dan memberikan lagi ponsel milik tantenya. "Apa aku bisa mengambil lukisannya, Tante?" Addy mengangguk. "Tentu saja, itu milikmu. Tante akan memberikannya saat di galeri nanti, okay?" Anne mengangguk setuju. "Terima kasih." Suasana hatinya menjadi tidak menentu. Dia terdiam sambil kembali mengingat memorinya bersama Gavrilla. Perubahan sikap Anne yang tiba-tiba disadari oleh Addy yang membuat wanita itu sedikit merasa bersalah karena menunjukkan foto lukisan itu di waktu yang kurang tepat. "Kamu pasti sangat merindukannya." Anne mengangguk tanpa ragu. "Setiap saat. Dia adalah satu-satunya sahabat yang pernah aku punya. Dia sangat mengerti aku, Tante. Kehilangannya seolah ... membuat aku sedikit menyesal." Addy mengeryitkan dahinya. "Kenapa, Anne?" Dia mengulurkan tangannya untuk menggenggam tangan Anne yang ada di meja. "Entahlah, aku hanya berpikir ... seandainya aku menghabiskan lebih banyak waktu dengannya." Anne tersenyum masam. "Anne, kamu sudah menjadi sahabat terbaik yang dia miliki. Jangan menyalahkan diri kamu sendiri atas sesuatu yang tidak bisa kamu kontrol." Addy mengusap punggung tangan Anne, bermaksud menenangkan keponakannya. "Oh iya, apa Ariekhsa baik-baik saja?" Anne terdiam. Dia menatap Tante-nya dengan tatapan heran sekaligus terkejut. "Mama memberitahu sesuatu pada Tante?" Addy tertawa kecil. "Maaf, Anne, tapi sepertinya kami semua tahu itu." Anne menghela napas pelan. Benar juga, keluarganya memiliki ikatan yang dekat dan erat, tidak heran jika setiap yang dia lakukan kemungkinan akan diketahui oleh keluarga besarnya. Anne mengusap tengkuknya, tanda bahwa dia sedang gugup. Entahlah, dia hanya takut Tante Addy berpikir macam-macam tentangnya. "Dia baik-baik saja, Tante. Aku berencana untuk mengunjunginya sepulang dari sini." Anne berujar pelan dan sedikit ragu. Rencana awalnya adalah mengunjungi Ariekhsa lebih dulu sebelum berangkat bekerja, namun Addy sudah menghubunginya pagi-pagi buta dan mengatakan bahwa mereka ada rapat penting. Addy menganggukkan kepalanya. "Jaga dia dengan baik, Anne. Saat kamu sudah berniat untuk membuatnya merasa baik-baik saja dan melupakan fakta bahwa Gavrilla sudah tiada, maka kamu harus memastikan dia benar-benar tidak apa. Tante awalnya terkejut saat kamu nekat melakukan itu, hanya saja ... Tante juga tidak dapat memarahi kamu karena Tante tahu kamu punya alasan baik di belakang ini semua." Ucapan Addy sedikit membuatnya tenang. Setelah Elizabeth yang semalam mengatakan padanya bahwa semua akan baik-baik saja, kini Addy juga berhasil menenangkannya. Anne tersenyum pada Addy. "Terima kasih, Tante." Addy mengusap pipi Anne dengan lembut, seolah Anne adalah anaknya sendiri. "Kamu sangat keras kepala. Sepertinya kamu harus tahu bagaimana paniknya Ibu kamu saat tahu bahwa kamu merencanakan sesuatu yang berisiko seperti ini. Dia datang ke rumahku dan menceritakannya dengan terburu-buru di depan Tante Adele dan Tavie. Astaga, Anne, kami ingin tertawa melihatnya tapi kami tidak kuasa melakukan itu." Addy mencoba mencairkan suasana yang tiba-tiba terasa sedih. Anne tersenyum kecil. Ibunya memang menolak idenya itu mentah-mentah tapi lama-kelamaan Anne bisa  merasakan bahwa Zee akan selalu ada dengannya. "Aku membuatnya khawatir, ya?" "Kami semua selalu mengkhawatirkan kamu, itu karena kami menyayangi kamu, Anne." Addy kembali membuatnya tenang. "Jika ada apa-apa atau kamu butuh bantuan, tolong beritahu Tante, ya." Anne mengangguk tanpa ragu. * Sepulang dari galeri seni, Anne sempat mengunjungi toko kue dan membelikan black forest untuk Ariekhsa. Dulu, Gavrilla pernah mengatakan pada Anne bahwa tunangannya itu sangat menyukai black forest, dan karena itu pula Anne berinisiatif untuk membelikannya satu. Rumah Ariekhsa terlihat sepi ketika Anne datang sore itu. Dia membuka pagar rumah pria itu dan melihat Ariekhsa sedang duduk di pelataran rumah dengan buku novel di tangannya. Anne tersenyum kecil, dia selalu senang melihat Ariekhsa, walaupun jantungnya berdegup sangat kencang sekarang. "Hai," sapanya saat berdiri di dekat Ariekhsa. Pria itu menoleh padanya dan mengangguk. "Katanya kamu akan datang pagi ini." Anne bisa mendengar nada protes dari ucapan Ariekhsa yang semakin membuatnya ketar-ketir di tempatnya. "Hm ... maaf, ada pekerjaan mendadak tadi." Anne tersenyum tidak enak hati pada pria itu. Dia duduk di bangku yang ada di sebelah Ariekhsa. "Aku membelikan kamu ini. Kamu sangat suka black forest, Ariekhsa." Ariekhsa menatap bingkisan itu untuk beberapa detik sebelum menerimanya. "Terima kasih," ujarnya, walaupun dia tidak pernah tahu bahwa dia menyukai kue itu. Anne mengangguk. Dia memerhatikan Ariekhsa dengan tatapan memuja ketika pria itu tidak sadar bahwa sedang diperhatikan. "Bagaimana harimu, Ariekhsa?" Ariekhsa menoleh padanya dan mengendikkan sebelah bahunya. "Biasa saja. Tadi aku mencoba memasak nasi goreng dan ternyata salah memasukkan bumbu, aku kira aku memasukkan garam, ternyata bukan." Anne tertawa kecil. "Memangnya apa itu?" "Gula." Anne tidak dapat menahan tawanya. "Apa? Ariekhsa, gula dan garam bentuknya sangat berbeda." Ariekhsa mengulum senyum tipis. "Aku tahu. Entah kenapa aku keliru tadi. Amnesia seharusnya tidak membuat aku keliru gula dan garam, bukan?" Anne kembali tertawa. Dalam hatinya, dia senang bukan main menyadari bahwa Ariekhsa sudah tidak terlalu sungkan padanya dan banyak bercerita padanya. "Lalu, apa lagi?" Dan cerita mereka mengalir begitu saja. ***  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN