Chapter 12

1070 Kata
Anne masih ingat hari-hari setelah dia sadar bahwa dia sudah jatuh pada pesona Ariekhsa Cleon. Rasa ingin mendekati Ariekhsa terlalu kuat hingga Anne takut jika pria itu akan menghindarinya jika dia nekat melakukan itu. Anne hanya bisa   menyukai Ariekhsa dalam diam. Di beberapa kesempatan seperti acara besar kampus, Anne sering kali mendapati Ariekhsa di tengah kerumunn. Pria itu hanya memiliki sedikit teman, bisa dihitung jari, jadi sulit bagi Anne untuk mengetahui informasi lain soal pria itu. Bagi Anne dulu, bisa melihat Ariekhsa dari kejauhan saja sudah lebih dari cukup. Hingga akhirnya, Gavrilla memiliki keberanian lebih besar dari Anne. Gavrilla dan Ariekhsa bertemu secara tidak sengaja di kafe dekat kampus mereka dan wanita itu mengajaknya berbicara lebih dulu. "Kami memiliki ketertarikan yang sama pada buku, Anne." Itu yang diucapkan Gavrilla saat menceritakan pertemuannya dengan Ariekhsa. Respon Anne saat itu persis seperti sahabat yang bahagia ketika tahu temannya dapat 'berkencan' dengan pria tampan. Anne tersenyum, menggoda Gavrilla, dan tentu saja mendukung sahabatnya itu. Sayangnya, Anne sakit hati bukan main. Dia belum memulai sama sekali, tapi Gavrilla sudah selangkah lebih maju darinya. Namun pada akhirnya, Anne tidak dapat menyalahkan wanita itu, apalagi marah pada Gavrilla, karena memang Anne sendiri yang tidak mengatakan perasaannya sejujurnya. "Gavrilla?" Anne terlonjak hebat saat tiba-tiba Ariekhsa yang ada di sampingnya menepuk pundaknya. "I-iya?" tanyanya dengan gugup. Dia dan Ariekhsa memutuskan untuk memasak makan malam karena pria itu mengatakan bahwa dia lapar, sementara nasi goreng yang dimasaknya sama sekali tidak layak makan. Anne yang payah dalam urusan dapur, hanya bisa membuatkan telur dadar seadanya untuk Ariekhsa, untunglah pria itu tidak protes sama sekali. "Ada apa?" "Kamu melamun." Ariekhsa mengatakannya dengan tenang. "Awas gosong," ujarnya lagi ketika Anne hanya menatapnya dengan bodoh tanpa melanjutkan kegiatan memasaknya. Anne kembali tersentak dan dengan gugup dia mematikan kompor itu. Astaga, sepertinya berada di dekat Ariekhsa akan terus membuatnya senam jantung. "Apa kamu selalu bersikap seperti ini dulu?" Anne melirik Ariekhsa sekilas sembari menyimpan telur buatannya di piring. "Apa?" "Gugup. Kamu selalu bersikap tegang di sampingku. Kadang-kadang, tidak sering," jelas Ariekhsa. Percayalah, pria itu mengatakannya dengan wjah tidak berdosa seolah pertanyaannya itu tidak akan membuat atmosfer di antara mereka menjadi canggung. Ah, ternyata sikap Ariekhsa yang datar tidak berubah sama sekali. Anne tertawa sumbang. "Tidak, astaga kenapa kamu mengatakan itu?" ujarnya sambil menghadiahi pukulan pelan di lengan Ariekhsa. Dan ... beberapa detik kemudian Anne sadar bahwa dia sudah melakukan hal yang salah. Bukannya mencairkan suasana, Anne makin memperkeruh kecanggungan yang ada. Sial. Apa Gavrilla dulu juga seperti ini? Kenapa rasanya sulit sekali membuat Ariekhsa dan dirinya merasa terhubung. Alhasil Anne hanya menunduk malu dan menghindari tatapan dari Ariekhsa. "Ayo kita makan," ajak pria itu dan mengambil duduk di hadapannya. Anne menganggukkan kepalanya dan mengikuti Ariekhsa. Mereka duduk berhadap-hadapan dengan kecanggungan yang sangat terasa. Astaga, padahal sore tadi mereka masih bisa bercerita panjang tanpa merasa kikuk. "Gavrilla, apa orang tua kamu tahu hubungan kita?" tanya Ariekhsa di tengah-tengah makan malam mereka. Gerakan Anne berhenti. Dia terdiam sejenak, mencoba memilah kata yang benar agar tidak menimbulkan kecurigaan. "Iya. Tapi, mereka belum sempat menjenguk kamu, Ariekhsa. Mereka sering menitipkan salam untukmu." Anne memberikan senyuman manis pada Ariekhsa. Astaga, dia belum membayangkan apa yang akan terjadi jika Ariekhsa bertemu dengan kedua orang tuanya. Tidak. Pria itu tidak boleh bertemu Mama dan Papa! Ariekhsa hanya mengangguk seadanya. Sepertinya dia juga belum siap atau belum ingin bertemu dengan orang tuanya. Mereka kembali melanjutkan makan malam dalam diam. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Hingga tiba-tiba sendok yang dipegang oleh Ariekhsa jatuh dan menimbulkan bunyi nyaring. "Ariekhsa, apa kamu baik-baik saja?" tanya Anne khawatir. Dia segera bangkit dari duduknya untuk menghampiri pria itu. Ariekhsa memejamkan matanya dan memegangi kepalanya. Seolah dia benar-benar kesakitan. Dia meringis pelan. "Sakit, Gav," rintihnya. Dia tertelungkup di atas meja makan dan masih memegangi sebelah kepalanya. Anne panik. Dia takut terjadi apa-apa pada pria itu karena kondisinya yang belum stabil. Karena itu, Anne memapah Ariekhsa untuk masuk ke kamarnya dan menidurkannya di ranjang. "Kamu ingin aku panggilkan dokter?" Ariekhsa menggeleng. Dia memilih untuk berbaring miring menghadap Anne. "Tidak, tetap di sini saja," ujarnya. Anne terdiam menuruti permintaan Ariekhsa. Sementara itu, sekelebat memori datang menghampiri Ariekhsa seperti kaset rusak. *** "Aku suka black forest. Dulu, Ibuku sering sekali membuatkannya untukku," ujar wanita itu dengan senyuman indah terpatri di wajahnya. "Oh iya, bagaimana dengan kamu? Apa kamu suka?" Matanya sangat indah untuk dipandang. Binar yang ada di manik mata itu membuat pria yang ada di hadapannya tidak pernah bosan untuk melihatnya. Pria itu hanya mengangguk. "Iya." Ini kencan kedua mereka, tapi dia masih tidak pandai untuk membawa diri. Rasanya pria itu merasa gagal dan kaku. Untungnya, wanita di hadapannya itu cukup handal mencairkan suasana. "Syukurlah, setidaknya ada satu kesamaan lagi di antara kita. Kamu tahu, semenjak Ibu dan Ayah tiada, tidak ada lagi yang membuatkan aku kue ini, dan aku bisa membuatkannya untuk kamu. Bagaimana?" Pria itu tidak sampai hati untuk menolak tawaran tersebut. "Boleh," ujarnya singkat. Bukankah ini juga pertanda yang bagus? Dengan begitu dia akan lebih sering bertemu dengan wanita ini! "Great!" Wanita itu tertawa renyah. Matanya terlihat ikut tersenyum ketika dia tertawa, membuat pria di hadapannya terpaku memandangi wajah cantiknya. Saat itu juga, dia sadar bahwa perasaan yang dia miliki memang nyata. *** Ariekhsa tersentak ketika mendapatkan bayangan itu. Dirinya seolah berada di sana, dengan seorang wanita yang tidak bisa ia ingat wajahnya. Wajah wanita itu masih samar, dan ketika memori itu berhenti, wajahnya memudar. "Ariekhsa, apa yang terjadi?" Ariekhsa bangkit dari tidurnya dan bersandar di kepala ranjang. Beberapa kali dia menarik napas dalam-dalam, mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri. "Sepertinya, aku sudah mulai mengingat memoriku yang hilang, Gav." Jantung Anne seolah berhenti detik itu juga saat mendengarnya. "A-apa?" Tidak. Tolong jangan secepat ini. Anneliese seolah langsung lupa bahwa tujuan awalnya memang untuk membuat Ariekhsa ingat, dengan risiko bahwa sejalan dengan itu, wajah asli Gavrilla akan kembali muncul di permukaan. "Jantungku berdebar, dan perlahan memori itu muncul. Masih samar. Kepalaku sangat sakit saat itu datang tiba-tiba." Ariekhsa mengeryitkan dahinya dan dia menoleh pada Anne dengan panik. "Gavrilla, apa ini normal? Apa memang begini prosesnya?" Anne menggigit bibir bawahnya. Dia sendiri tidak tahu, bahkan tidak memikirkan hal itu. Anne terlalu fokus menyembunyikan semua fakta tentang Gavrilla. "Kamu akan baik-baik saja, Ariekhsa." Anne memberanikan diri untuk memeluk pria itu dengan erat. Dia naik ke ranjang Ariekhsa dan memeluknya, membuat Ariekhsa memejamkan matanya merasakan ketenangan yang diberikan oleh tunangannya. "Gav, aku takut." Sialnya, hati kecil Anne juga berucap hal yang sama. ***  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN