Chapter 13

1121 Kata
“Benturan di kepalanya membuat dia kehilangan ingatan di masa lalunya. Amnesia Retrograde dan disertasi psikologis traumatis. Ingatannya akan kembali perlahan seiring dengan terapi yang dijalani Pak Ariekhsa. Hanya saja, prosesnya memang membutuhkan waktu dan terkadang jika kilasan-kilasan itu muncul, pasien tidak siap.” Penjelasan dokter yang menangani Ariekhsa itu membuat Anne terpaku diam. Kedua tangannya saling tertaut dan membuatnya gugup setengah mati. “Tapi, dia akan baik-baik saja, bukan?” Dokter Gio mengangguk. “Pak Ariekhsa belum menjalani terapi-nya lagi. Saya sangat menyarankan beliau menghadiri setiap sesi terapi secara teratur.” Anne baru sadar jika Ariekhsa tidak terlalu peka terhadap keadaannya sendiri. Sejak pulang dari rumah sakit, pria itu seolah merasa bahwa kondisinya baik-baik saja walaupun pada kenyataannya tidak. “Baik, Dokter. Terima kasih.” Anne tersenyum dan pamit dari ruangan Dokter Gio. Matanya bergerak-gerak liar untuk mencari Ariekhsa. Akhirnya setelah kejadian semalam, Anne memilih untuk membujuk pria itu agar mau dibawa ke rumah sakit sehingga mereka bisa mematikan pria itu baik-baik saja. "Ariekhsa." Anne memberikan senyuman lembut pada pria itu ketika sudah menemukannya. Ariekhsa hanya menoleh sekilas dengan tatapan tidak bersemangat. "Apa kata dokter?" tanyanya malas. Suasana hatinya memburuk sejak tadi malam, dia terus saja mencoha untuk mengingat kilasan tersebut namun nyatanya nihil. Kepalanya malah semakin sakit ketika dia memaksakan dirinya. Anne tersenyum dan mengambil tangan Ariekhsa untuk membuat pria itu lebih nyaman. "Kamu baik-baik saja," ujarnya pelan. "Hal itu normal, memang begitu prosesnya. Hanya saja, kamu harus teratur dan rajin mengikuti terapi, Ariekhsa. Setidaknya terapi akan membuat kamu lebih nyaman dan tidak kaget seperti kemarin." Walaupin begitu, Anne merasakan jantungnya berdebar. Terlalu takut jika Ariekhsa cepat mengetahui memori masa lalunya dan mengetahui bahwa dia bukanlah Gavrilla. Ariekhsa menghela napas malas. "Tapi ... aku tidak suka ada di sini, Gavrilla. Aku tidak nyaman." Anne tertawa kecil. Dia menghela napasnya melihat tingkah Ariekhsa. Ternyata, pria dingin ini juga bisa mengeluh dan merengek seperti anak kecil. "Untuk kesembuhan kamu sendiri, Ariekhsa." Ariekhsa berdecak pelan. "Apa kamu mau menemani aku selama menjalai terapi?" Anne melihat tatapan memohon dari Ariekhsa. Tidak, dia tidak salah lihat. Ariekhsa memang ingin dia berada di sisinya. "Pasti." Genggaman tangan mereka terasa lebih erat dari sebelumnya. Membuat Anne sedikit khawatir jika degup jantungnya terdengar oleh Ariekhsa saking kencangnya. * Keseharian Anne berubah sejak Ariekhsa sadar dari koma-nya. Sepulang kerja, dia selalu menyempatkan untuk menengok Ariekhsa, ataupun sebelum bekerja hanya untuk memberikan kue atau camilan untuk pria itu. Hal itu juga disadari oleh kedua orang tuanya dan membuat Regan semakin tidak suka pada Ariekhsa dan keluarganya. Dia merasa anaknya benar-benar dimanfaatkan. Sayangnya, Anne tidak sadar akan itu karena dia terlalu cinta pada Ariekhsa Cleon. "Anneliese." Anne yang sedang menyiapkan camilan untuk Ariekhsa pagi itu, menoleh pada ibunya yang menghampirinya. "Sepulang dari galeri, kamu tidak perlu ke rumah Ariekhsa, ya. Ada perayaan perusahaan keluarga Zendra, Anne," terang ibunya sambil mengusap rambut anaknya dengan lembut. "Aku sudah berjanji untuk makan malam bersama dengannya, Mama." Setelah setuju untuk menjalani terapi, Ariekhsa semakin ingin ditemani oleh Anne. Sungguh! Anne tidak mengada-ngada. Pria itu ingin Anne selalu datang ke rumahnya. Mereka juga sering berbincang soal Ariekhsa 'yang dulu' agar memudahkan pria itu dalam mengingat. "Sayang, Sydney juga akan datang jauh-jauh dari Skotlandia. Apa kamu tidak ingin menemuinya?" Oh sial. Anne lupa bahwa sepupu yang paling dekat dengannya akan datang malam ini, yang itu berarti semua keluarga besarnya akan berkumpul. Anne tidak sampai hati jika harus melewatkan momen itu. "Bagaimana?" desak Zee. Setidaknya dengan Anne yang datang malam ini, putrinya itu akan rehat sejenak dari kegiatannya menjadi baby sitter untuk pria itu. "Baiklah. Aku akan datang." Anne tersenyum. Zee menghembuskan napasnya lega. "Terima kasih, Anne." Tetap saja walaupun Anne tidak bisa mengunjungi Ariekhsa sepulang bekerja, dia tetap pergi ke rumah pria itu paginya dengan membawa camilan. Anne selalu mendapati Ariekhsa sedang membuka album foto yang diberikan Anne ataupun membaca novel-novel karangannya. "Anne, ayo. Kita terlambat." Malam ini, sesuai dengan perjanjiannya dengan Zee, Anne ikut hadir di acara keluarganya. Acara yang diadakan oleh Zendra dan Tavie Wijaya ternyata bukan hanya sekadar acara perayaan perusahaan, tapi juga pesta perayaan kehamilan Sydney, sepupunya, yang menikah dengan seorang bangsawan dari Inggris bernama Louis MacMillan. Benar saja apa yang dikatakan oleh Zee, bahwa mereka terlambat, karena setibanya di sana, sudah banyak orang yang hadir, terutama keluarga besarnya. Ayahnya langsung melipir untuk menghampiri sepupunya yang lain, sementara ibunya juga bergabung dengan Tante Addy dan Adele, Elizabeth dengan tidak sopannya langsung menghampiri stand makanan dan membawa bermacam-macam dessert. "Hei!" Anne terkejut ketika pundaknya ditepuk dengan kasar. Ketika dia menoleh untuk memarahi siapapun yang berhasil membuatnya kaget, dia mendapati Kanaya sedang tersenyum jahil padanya. "Dasar," cibirnya malas. Kanaya Wijaya adalah anak dari Tante Addy dan sangat dekat dengannya. Anne, Kanaya, dan Sydney seperti tiga bersaudara yang tidak bisa dipisahkan. Jarak umur mereka yang tidak jauh juga menjadi faktor kenapa mereka bisa sangat dekat. "Sombong sekali kamu, Anne. Jarang menemuiku." Kanaya melingkarkan tangannya di lengan Anne dan mengajaknya berjalan. Kebiasaan Kanaya; selalu tebar pesona pada tamu-tamu yang hadir di acara keluarga mereka. "Aku banyak sesuatu yang diurus." Biasanya mereka sering sekali menghabiskan akhir pekan bersama. Namun semenjak Sydney diboyong suaminya ke Skotlandia, Kanaya yang juga bekerja rodi, dan Anne yang harus selalu bersama Ariekhsa, membuat waktu mereka menjadi menipis. Kanaya tersenyum jahil. "Jadi, bagaimana rasanya berdekatan terus bersama Ariekhsa? Astaga, aku ingat dulu kamu selalu menggerutu karena tidak bisa dekat-dekat dengan pria itu. Katanya kamu; jantungku selalu ingin lompat rasanya hanya dengan menatapnya dari jauh." Kanaya mengikuti gaya bicara Anne dan membuat wanita itu sebal. "Hentikan!" Lalu mereka tertawa bersama. Anne dan Kanaya pergi ke bar kecil yang ada di sana dan memesan minuman beralkohol rendah. Kanaya mulai menceritakan kesehariannya pada sepupu yang jarang sekali ia temui. "... dan dia sangat menyebalkan! Bagaimana mungkin namaku tidak dicantumkan di laporannya?! ..." Anne tertawa melihat Kanaya yang selalu menggebu-gebu saat bercerita. "Apa kalian tidak merindukan aku?" Perbincangan mereka terhenti ketika seorang menginterupsinya. Keduanya hampir bersamaan menoleh ke belakang dan melihat Sydney MacMillan berdiri di sana. "Oh God, I miss you!" Kanaya berlari dan akan memeluk sepupunya itu, namun lebih dulu pundaknya ditahan oleh seorang pria di samping Sydney. "Tolong perlahan saja, istriku sednag hamil." Itu Louis MacMillan, suami Sydney yang sangat menyebalkan untuk Kanaya, walaupun pria itu sebenarnya tidak melakukan kesalahan apapun. Kanaya berdecih dan melepaskan cekalan Louis. Dia tetap memeluk Sydney yang kini perutnya sudah membesar mengingat kandungannya sudah menginjak lima bulan. "Apa kamu tidak bisa tinggal di sini saja, Sydney?" rengek Kanaya sambil tetap memeluk Sydney. Hal itu membuat Sydney dan Anne tertawa. "Hai, Sydney." Anne ikut memeluk wanita itu dengan rasa rindu. "Oke, bisakah kalian berhenti? Istriku bisa sesak napas jika dipeluk begitu, kasihan dia dan anakku." Lagi-lagi Louis membuat Kanaya dan Anne mendengus sebal. "Dan bisakah kamu enyah saja?!" seloroh Kanaya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN