bc

Dosen Idola, Majikanku

book_age16+
393
IKUTI
3.2K
BACA
HE
teacherxstudent
age gap
fated
friends to lovers
kickass heroine
drama
sweet
lighthearted
campus
city
childhood crush
secrets
like
intro-logo
Uraian

"Loh, Pak Imam ternyata majikanku ...."

Anisa yang selalu ceria dan sering mendekati dosennya itu terpuruk sejak papanya dipenjara atas tuduhan korupsi. Ia berubah menjadi pendiam karena malu. Bahkan, hidupnya pun berubah 180 derajat.

Gadis yang biasa hidup mewah itu kini menjadi pembantu. Namun, siapa sangka rumah tempatnya bekerja justru rumah milik dosen yang ia sukai. Namun, saat tinggal di rumah itu Anisa baru sadar bahwa dosennya sudah punya tunangan.

Bagaimana kelanjutan kisah mereka? Apakah dosen itu akan memilih Anisa sebagai istrinya atau tunangannya?

chap-preview
Pratinjau gratis
Dosenku Idolaku
"Eh, ada calon imam aku," ucap Nisa, genit. Anisa merupakan anak seorang pejabat. Usianya baru menginjak 22 tahun, saat ini ia sedang kuliah semester 7. Ia merupakan anak yang cantik, ceria dan sangat supel. Sehingga banyak mahasiswi membencinya karena banyak pria yang mengaguminya. "Nis, lo mah bikin gue malu aja," bisik teman Anisa, yang bernama Ali. "Mau ke mana, Pak?" tanya Anisa sambil senyum-senyum. Ia tak menghiraukan temannya itu. "Mau ke ruang dosen," sahut Imam, datar. Imam adalah dosen yang disukai banyak mahasiswi. Ia merupakan dosen yang cool dan tampan. Penampilannya pun begitu berkarisma. Salah satu mahasiswi yang begitu gencar mendekatinya adalah Anisa. Setiap Anisa mendekatinya, Imam selalu jengah. Sebab jika berhadapan dengannya, Anisa selalu berubah menjadi genit. Padahal di depan cowok lain, Anisa bersikap biasa saja. "Mau aku temenin gak, Pak? Siapa tau Bapak butuh temen ngobrol," tanya Anisa, nakal. "Saya bisa sendiri," jawab Imam, kesal. Ia malu diperlakukan seperti itu di depan umum. "Bener, nih? Nanti nyesel lho, Pak," tanya Anisa lagi. "Anisa, tolong jaga sikap kamu, ya!" ucap Imam, tegas. "Ups! Sorry. Ya udah kalau sekarang gak mau gak apa-apa. Kan masih ada lain waktu. Namanya juga usaha, cepat atau lambat, pasti akan membuahkan hasil. Iya kan, Pak?" tanya Anisa sambil menaik turunkan alisnya. Imam hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Anisa. Ia kesal karena gadis itu selalu hilang kendali setiap kali berhadapan dengannya. Ia pun berlalu meninggalkannya. "Nis! Lo masih gitu aja, sih? Gak lihat tuh Pak Imam kesel?" tanya Ali. "Oya? Emang kesel, ya? Bukannya seneng?" Anisa seolah tidak mau tahu akan perasaan Imam. "Hiih, lo mah susah dibilangin. Udah yuk, mending ke kantin!" ajak Ali. Teman lelaki yang bersamanya merupakan mahasiswa satu angkatan yang cukup dekat dengan Anisa. Mereka sudah lama kenal dan sering satu kelas. Sehingga cukup akrab. "Emang lo beneran suka sama Pak Imam?" tanya Ali. "Menurut lo?" sahut Anisa. "Iya gue tau, sih. Cuma kenapa lo lebay banget kalau ketemu dia? Emang gak bisa yang anggun dikit apa?" tanya Ali, lagi. "Enggak, Li. Sebenernya tiap ketemu dia tuh hati gue berdebar-debar. Jantung gue rasanya kayak mau meledak. Dan cuma dengan over akting kayak tadi gue bisa nutupin rasa gugup ini," ucap Anisa, serius. "Emang sedalem itu, ya?" tanya Ali, heran. Ia sudah seperti reporter. "Gitu, deh. Gue juga bingung kenapa makin hari malah makin cinta sama dia. Sebenernya gue juga gak yakin bisa dapetin dia. Ya lo tau sendiri, kan. Dari dulu sampe sekarang dia masih dingin aja sama gue," jelas Anisa. "Tapi gak apa-apa, deh. Bentar lagi juga gue lulus. Semoga setelah lulus dan gak ketemu lagi sama dia, perasaan gue ini bisa ilang, hehe," lanjutnya. Ali yang sempat kesal melihat tingkah Anisa pun tak menyangka bahwa gadis itu memiliki sisi lain. Ia pikir Anisa sengaja ingin membuat Imam kesal. Namun ternyata hal itu hanya demi menutupi kegugupannya. "Ya udah, gue doain semoga lo bisa cepet move on, deh," ucap Ali. "Lo mah doanya gitu. Orang tuh harusnya doain biar gue jodoh sama dia, kek!" ucap Anisa, kesal. "Hehehe, sorry." Sore hari, Anisa pulang ke rumahnya. Ia mengendarai mobil seperti biasa. Sebagai anak pejabat tinggi, Anisa memiliki fasilitas yang lebih dari cukup. Sehingga ia tidak pernah hidup kekurangan. Namun, saat tiba di rumah Anisa dikejutkan dengan kondisi rumahnya yang sudah berantakan itu. "Assalamualaikum," ucap Anisa, panik. Ia pun mencari papahnya. "Bi, Papah di mana?" tanya Anisa. Saat itu ia melihat ART sedang bersama adiknya. Ia merupakan anak piatu, sehingga saat ini hanya papah dan adiknya yang ia punya. Dalam kondisi seperti itu, papahnya lah yang paling Anisa khawatirkan. "Non, yang sabar, ya," ucap Bibi. "Ada apa sih, Bi?" tanya Anisa, panik. "Papah ditangkap KPK, Non. Sekarang semua aset di rumah ini disita. Bahkan mobil yang Non pakai pun akan segera diambil," jelas Bibi. Deg! Sontak saja kaki Anisa terasa begitu lemas. Tak pernah terbayangkan sosok yang menjadi panutannya akan ditangkap secara tidak terhormat oleh KPK. Selama ini Anisa sangat yakin bahwa papahnya adalah orang yang baik. Lelaki yang selalu mengayomi itu baru berusia 43 tahun karena dulu beliau menikah muda. Meski begitu, ia merupakan sosok idealis yang selalu memberi contoh baik bagi anak-anaknya. Sehingga Anisa tidak percaya bahwa papahnya telah melakukan kecurangan. "Bibi tau kan Papah seperti apa? Gak mungkin beliau melakukan hal itu, Bi," lirih Anisa. "Iya, Non. Bibi percaya. Tapi mau bagaimana lagi. Mereka sudah menemukan bukti dan langsung menangkap Bapak," jelas Bibi. Anisa menarik adiknya secara perlahan. "Kamu jangan takut, ya! Mbak yakin Papah pasti bisa bebas," ucap Anisa, sambil mengusap kepala adiknya. Saat ini pikiran Anisa sedang kosong. Ia bingung harus berbuat apa karena hanya papahnya yang selama ini ia andalkan. 'Seandainya Mamah masih ada, pasti aku gak akan selemah ini,' batin Anisa sambil berurai air mata. Ia menangis dalam diam karena tidak ingin adiknya ikut bersedih. "Kamu di sini dulu sama Bibi, ya! Mbak mau beresin pakaian," ucap Anisa pada adiknya. Rumah mereka sudah dipasang tanda penyitaan. Sehingga ia sadar bahwa saat ini dirinya harus meninggalkan rumah tersebut. "Non, pakaian Non dan Den Fatih sudah Bibi bereskan di koper itu," ucap Bibi sambil menunjuk dua buah koper besar. "Maaf jika ada yang kurang. Tapi cuma itu yang bisa Bibi selamatkan," ucap Bibi. Ia tak tega melihat kondisi anak majikannya tersebut. "Iya gak apa-apa, Bi. Tapi mungkin untuk sementara Bibi istirahat di rumah aja dulu. Aku sama Fatih biar cari kostan aja," ucap Anisa. Meski Bibi sempat menolak. Akhirnya sore itu mereka berpisah. Sambil membawa koper dan adiknya yang masih berusia 12 tahun itu, Anisa berjalan tanpa arah. 'Aku harus pergi ke mana?' batinnya. Saudara orang tuanya berada jauh di kampung, sehingga tidak mungkin ia pergi ke sana. "Kamu duduk di situ dulu, ya! Mbak mau ada perlu," ucap Anisa. Ia menyuruh adiknya duduk di trotoar. Kemudian dirinya mengecek saldo rekening. "Alhamdulillah masih ada sisa sedikit. Lumayan buat beli makan sama nyari tempat berteduh," gumam Anisa, pelan. Selama ini ia menabung dengan mengumpulkan logam mulia. Namun semuanya disita oleh KPK. Sehingga hanya sisa uang jajannya yang masih ada di rekening. "Kita nyari tempat nginep dulu, ya! Nanti Mbak cari kerja buat biaya hidup kita," ucap Anisa. "Aku juga bisa bantu kerja kok, Mbak," sahut Fatih. Ia tidak ingin kakaknya susah sendiri. "Jangan, dong! Kamu kan masih sekolah, kalau Mbak kan kuliahnya udah mau selesai, jadi waktunya agak bebas. Udah pokoknya kamu sekolah yang bener biar Papah gak kecewa, oke?" pinta Anisa. Fatih pun mengangguk. Keesokan harinya, Anisa dan Fatih sudah mendapat tempat tinggal. Kostan kecil yang ia sewa selama sebulan. Beruntung pemilik mau bermurah hati, sehingga mengizinkan Anisa untuk membayarnya separuh dulu. Saat ini, kelas sudah dimulai. Namun Anisa yang merupakan mahasiswi teladan itu tidak hadir. Sehingga menjadi perhatian Sang Dosen. "Anisa ke mana?" tanya Imam yang kebetulan mengajar di kelas Anisa. "Papahnya kan ketangkep KPK, Pak. Mungkin lagi sibuk nyari tempat tinggal," celetuk mahasiswi yang membenci Anisa. Ia sangat puas melihat Anisa mendapat musibah. Deg! Baru kemarin ia mengabaikan Anisa, Imam tak menyangka gadis itu akan mengalami kemalangan. 'Kasihan sekali dia,' batinnya. Entah mengapa hati Imam merasa perih saat membayangkan bagaimana nasib gadis itu. Selama jam kuliah berlangsung, Imam terus memikirkan Anisa. Ia khawatir gadis itu tidak memiliki tempat tinggal. 'Sepertinya aku harus mencari dia,' batin Imam.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Beautiful Pain

read
13.6K
bc

Revenge

read
35.6K
bc

Oh, My Boss

read
387.0K
bc

MY LITTLE BRIDE (Rahasia Istri Pengganti)

read
19.3K
bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
41.1K
bc

Penghangat Ranjang Tuan CEO

read
33.9K
bc

Hati Yang Tersakiti

read
6.8K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook