Andrea menjambak rambutnya frustasi. Tubuhnya memutar seratus delapan puluh derajat, membelakangi Nadien. Menghindari kontak mata dengan satu-satunya lawan bicaranya itu. "Kamu harus perjuangin dia, Ndre! Dia layak kamu perjuangkan. Dan kamu juga layak bahagia." ujar Nadien. "Kamu bisa bicara seperti itu karena kamu tidak pernah ada di posisiku saat ini, Nadien." balas Andrea sengit. Nadien kembali mendekati Andrea dan menuntun lelaki itu untuk kembali duduk ke sofa. "Aku memang nggak pernah di posisi kamu, tapi setidaknya aku pernah ada di posisi Vania." Jawaban itu berhasil membuat Andrea bergeming. Ia menatap Nadien dengan tatapan sendu. Kisah mereka yang telah lalu kembali bergentayangan di ingatan Andrea. Gadis berambut dark brown itu memandang lelaki di hadapannya dengan mata ber

