"Nggak. Itu nggak mungkin!" Semua mata tertuju ke arah datangnya suara. Nadien. Gadis itu tampak pucat dan ketakutan. Hal tersebut membuat Andrea semakin yakin jika yang diucapkan pria tadi benar. "Jadi semua ini benar? Kamu yang membuat Vania selalu dapat masalah?" Andrea. Andrea tampak menuntut jawaban atas pertanyaannya. Ia tak peduli dengan Nadien yang baru saja meneteskan air mata. Asal gadis itu tau, hati Andrea jauh lebih sakit darinya. Ia benar-benar kecewa. Gadis yang ia anggap manusia paling sempurna sekaligus penghuni pertama di hatinya itu ternyata tega melakukan hal se-licik itu. "Apa sih yang ada di kepala kamu saat melakukan hal itu? Apa salah Vania sampai kamu sejahat itu? Hah?" marah Andrea. Nadien menatap Andrea penuh luka. Ini pertama kalinya bagi Nadien menerima amara

