Shanaya kembali menginjakkan kakinya di Jakarta bersama Barend. Terakhir, ia kesini 8 tahun yang lalu bersama omanya. Ia juga merindukan Rumi dan Anaya, saudara kembarnya. Namun sayang, hubungannya dengan Anaya tidaklah seharmonis yang ia harapkan.
Terkadang Shanaya ingin jalan berdua dengan Ayi- panggilan Shan untuk saudara kembarnya. Shanaya ingin mengelilingi Kota Jakarta bersama-sama, namun setiap ia ke Jakarta, Ayi selalu sibuk dengan teman-temannya sehingga Shanaya lebih banyak menghabiskan waktu bersama Rumi, Mamanya. Dan terkadang, jika ada Ahmad di rumah-Ahmad adalah anak Bi Yati, Shanaya akan menemukan teman bercerita, karena Ahmad adalah orang yang bersedia mendengar semua celoteh dan cerita Shanaya. Pria itu sangat bersemangat mendengar cerita Shanaya tentang Giothoorn, kota kecil tempat Shanaya tumbuh besar di Belanda. Namun, Ahmad hanya sesekali datang ke rumah mereka.
“Papa harap kamu betah tinggal di sini,” ujar Barend ketika mobil jemputan mereka sudah keluar dari kawasan Bandara.
“Hhmmm ....” Shanaya mendehem ringan merespon ucapan Papanya. Ia terus memandang ke luar jendela, pandangannya tidak lepas pada gedung-gedung di sepanjang jalan yang mereka lewati.
Betah ataupun tidak, Shanaya akan tetap tinggal di sini bersama mereka, itu yang Shanaya ucapkan di dalam hatinya.
“Jakarta sangat jauh berbeda dengan Giothoorn. Disini banyak kendaraan dan polusi udara, hampir tidak ada orang yang berjalan kaki. Apalagi yang bepergian menggunakan perahu, itu tidak akan pernah kamu temui di sini. Hehehe ....” Barend berkata sambil tertawa kecil.
“Tapi di sini, kamu akan berkumpul lagi dengan keluargamu. Ada Papa, Mama dan Ayi. Papa harap kamu akan betah,” lanjut Barend lagi.
Shanaya menoleh, melihat pada Barend. “Tentu aku akan betah, Pa! Papa jangan khawatir," ujar Shanaya lirih.
“Bagus! Papa senang mendengarnya.” Barend mengusap lembut rambut panjang Shanaya.
Tidak membutuhkan waktu yang lama, mobil yang dikendarai oleh Rustam, sopir pribadi Barend telah memasuki kawasan perumahan elite di Kota Jakarta. Shanaya masih saja memandang sisi jalan melalui kaca jendela mobil.
“Tidak banyak yang berubah,” gumamnya.
“Tidak ada, yang berubah hanya penghuninya yang tumbuh lebih dewasa dari sebelumnya,” jawab Barend.
Shanaya memperbaiki posisi duduknya, tidak lama lagi mereka akan sampai di rumah.
“Pa, apa yang akan aku lakukan selama disini?” Shanaya bertanya pada Barend, mengingat dirinya selama di Giothoorn ada kesibukan membantu Willake mengurus peternakan.
“Apa yang kamu mau? Bekerja di perusahaan? Atau mau kuliah lagi?” Barend memberikan beberapa opsi yang memungkinkan untuk di pilih Shanaya.
“Hhhmmm ... Bekerja di perusahaan bukan keahlianku, aku tidak suka terikat dengan jadwal kerja. Mungkin opsi yang kedua, kuliah lagi. Carikan aku kampus yang cocok, aku suka beternak,” ungkap Shanaya bersemangat.
Barend membalas dengan senyuman, tentu saja ia akan mengabulkan permintaan Shanaya, bahkan jika Shanaya meminta sebuah peternakan seperti di Giothoorn mungkin Barend juga akan mencarikan lahan untuk putrinya itu.
Mobil berhenti tepat di depan teras rumah besar bercat putih yang tampak lengang, rumah Barend, rumah berlantai tiga tapi hanya dihuni oleh beberapa orang saja. Barend dan keluarga, Bi Yati dan anaknya Ahmad serta dua orang sekurity yang berjaga di pos depan. Sementara Rustam, untuk hari-hari tertentu saja ia menginap. Rustam lebih sering pulang ke rumah untuk menemui istri dan anak-anaknya meskipun ia pulang larut malam. Untuk membersihkan rumah mereka memanfaatkan cleaning service yang bekerja di perusahaan yang di jadwal datang ke rumah dan di berikan tips uang lembur diluar gaji mereka di perusahaan.
“Maaa ....” Setengah berteriak Barend memanggil Rumi. Shanaya berjalan mengikuti langkah kaki Barend, sementara Rustam membawakan barang-barang dari bagasi mobil ke dalam rumah yang di bantu oleh Ahmad.
Rumi yang masih memakai apron segera keluar setelah mendengar teriakan suaminya.
“Shanaya sayaaang ....” Rumi membuka apron yang terpasang di tubuhnya dan memberikan benda tersebut pada Bi Yati. Ia melangkah mendekati Shanaya, lalu memeluk dan mencium putri yang sudah 8 tahun tidak bertemu dengannya.
“Apa kabar, Ma?” tanya Shanaya.
“Mama sehat nak, mama sangat merindukanmu,” jawab Rumi.
“Aku juga rindu sama Mama.” Shanaya mengeratkan pelukannya. Bersama Rumi ia bisa menemukan sosok Willake. Rumi dan Willake tidak jauh berbeda, mereka berdua sama-sama wanita yang lembut dan Shanaya menyukai itu.
“Kalian ternyata datang satu jam lebih awal, Mama belum menyelesaikan cake yang mama buat untuk kamu, Shan!” ujar Rumi lagi.
“Kamu pasti salah menghitung perbedaan waktu, kami bahkan sempat delay selama setengah jam sewaktu transit di Doha,” sanggah Barend.
“Benarkah? Kamu pasti lelah.” Rumi gantian menyambut Barend. Ia mencium tangan suaminya.
“Bi, antar Shanaya ke kamarnya,” perintah Rumi.
“Kamu pasti lelah, istirahat dulu di kamarmu, Mama akan menyelesaikan cake yang sedang mama buat,” lanjut Rumi pada Shanaya.
“Kalau begitu, aku akan ikut membuat cake sama Mama. Mama tau? Duduk di pesawat membuat seluruh tubuhku kaku dan aku butuh bergerak untuk memulihkan tenagaku.”
“Baiklah, Mama senang mendengarnya. Sudah lama Mama ingin memasak bersama putri-putri Mama dan hari ini kamu mewujudkannya,” ujar Rumi bersemangat.
“Sayang, kamu bisa sendiri ke kamar kan? Aku akan menikmati waktuku bersama Shan,” ujar Rumi lagi sambil mengedipkan satu matanya pada Barend. Ia kemudian memakai kembali apron dan membawa Shanaya ke dapur.
“Ayi mana, Ma?” tanya Shanaya.
“Saudarimu itu terus saja sibuk bersama teman-temannya. Mama sangat kesepian karena Ayi pasti pulang larut malam.”
“Mama tidak bertanya, Ayi kemana?”
“Palingan juga jalan sama teman-temannya. Biasalah, Ayi dari dulu kan memang jarang berada di rumah,” jawab Rumi. “Pakai apronmu.” Ia lalu menyerahkan apron kepada Shanaya.
*
“Selamat datang, Shan! Bagaimana perjalananmu?" Anaya berdiri menyandar di pintu dapur yang menghubungkan ke taman belakang rumah mereka.
Shanaya dan Rumi sedang duduk bersama di kursi yang menghadap ke kolam ikan yang berada di belakang rumah sambil memakan cake yang tadi mereka buat.
“Lancar. Apa kabar, Ayi?” tanya Shanaya lembut.
“Seperti yang lu lihat, gue baik, bagaimana kabar lu ?” Anaya balik bertanya.
“Aku ... sudah jauh lebih baik,” balas Shanaya. “Tidak mau bergabung dengan kami? Ini cake pertamaku yang aku buat bersama mama.”
“Tidak, aku tidak suka cake,” tolak Anaya. “Papa dimana, Ma?” tanyanya lagi.
“Masih istirahat di kamar. Kamu jangan ganggu dulu,” pinta Rumi.
“Aku sudah tidak sabar menunggu Papa pulang, aku akan bangunkan Papa.” Anaya berbalik dan meninggalkan Rumi dan Shanaya.
“Ayiii ... Papamu sedang tidur.” Rumi setengah berteriak dari belakang untuk mengingatkan Anaya yang berniat membangunkan Barend.
“Papa sudah bangun, Ma!” Anaya balas berteriak. Tidak lama kemudian, Anaya datang menghampiri dengan menggandeng tangan Barend.
“Waaah, ini moment yang papa tunggu. Papa duduk bersama istri dan kedua anak Papa.” Barend mengambil tempat duduk di samping istrinya. Ia lalu memberi kode pada Anaya dengan matanya agar Anaya juga ikut duduk bergabung di sana.
“Paaa, sudah ada kabar belum?” tanya Anaya sambil menarik sebuah kursi kosong di samping saudari kembarnya.
“Belum, Papa belum berbicara dengan Ruzayn,” jawab Barend.
“Oh ya, Ma. Apa sebaiknya mereka sekeluarga kita undang untuk makan malam di sini?” tanya Barend lagi pada Rumi.
“Ide bagus, Pa! Aku akan batalkan janji kumpul sama teman-teman aku.” Anaya yang menjawab. Ia berlonjak senang mendengar ide papanya. Ia langsung memeluk Barend, hal itu terlihat asing sama Shanaya karena ia tidak pernah memeluk Barend seperti yang di lakukan Anaya.
“Shan, calon suami gua akan datang malam ini,” ujar Anaya bangga.
“Baiklah, Papa telepon mereka dan aku akan memberitahu Bi Yati kalau akan ada tamu malam ini.” Rumi bangkit dari duduknya.