Dress of Shoulder

1213 Kata
Lyra bergegas mengambil ponsel yang ia letakkan di meja bundar teras rumahnya. Ponsel tersebut baru saja berbunyi. Menjelang sore seperti ini, ia biasanya membersihkan bunga dan menyirami satu persatu tanaman yang memberikan keindahan tersebut. Entah dari kapan, Lyra menjadi pecinta bunga. Mungkin sejak hobi menanam bunga sedang menjadi trending topic di media sosial, semua teman-temannya berpindah haluan tidak hanya menjadi ibuibu yang suka arisan sana-sini tapi juga menjadi ibu-ibu pecinta bunga, termasuk Lyra sendiri. “Halo, Nak!” sapa Lyra pada Ruzayn yang ada di seberang sana. “ ...... “ “Ruzayn, apa kamu benar-benar serius?” tanya Lyra setelah ia menghela nafasnya. “ ..... “ “Mama ragu, Nak. Dia bukan ... maksud mama, banyak gadis lain yang lebih baik untuk kamu jadikan istri. Kenapa harus dia?” “ ..... “ “Baiklah, jika ini memang keputusanmu. Mama akan sampaikan pada Papamu,” ucap Lyra lagi. “ ..... “ Lyra menutup ponselnya, ia merasa heran kenapa Ruzayn bisa menjadi keras kepala seperti itu. Ruzayn biasanya patuh dan menuruti semua nasehat yang Lyra dan Rasyad berikan, tapi kalau menyangkut urusan perusahaan kakeknya yang berpindah tangan ke tangan orang lain, Ruzayn pasti akan bertindak sendiri. Padahal Rasyad sudah berulangkali mengatakan jika ia tidak peduli dengan perusahaan tersebut dan meminta Ruzayn untuk melupakan ambisinya, namun yang terjadi adalah Ruzayn semakin menggila sampai berniat menikahi putri mereka. * Ruzayn sedang mengumpulkan berkas kerja selama satu minggu ini untuk ia emailkan pada Barend. Laporan tersebut hanya berisi beberapa kerja yang sudah ia selesaikan dan langkah selanjutnya yang akan dikerjakan. Semenjak Barend menghubunginya satu minggu yang lalu dan meminta dirinya untuk menghandle jalannya perusahaan, Ruzayn merasa ia sudah menjabat sebagai CEO di perusahaan tersebut. Yoga melihat kesibukan Ruzayn dari tempat ia duduk. Sahabat sekaligus rekan kerjanya itu tampak serius jika sedang berhubungan dengan pekerjaan. Yoga tau jika Ruzayn tidak bisa di ganggu oleh apapun jika ia sedang bekerja. Makanya Yoga menunggu sampai Ruzayn selesai dulu dengan puluhan lembar kertas yang sedang dipegangnya. Ternyata Yoga salah, Ruzayn langsung mengangkat ponselnya ketika benda pipih itu berbunyi. Yoga memperhatikan Ruzayn yang berjalan sedikit menjauh ketika mengangkat panggilan telepon tersebut. Setelah panggilan itu berakhir, Yoga melihat Ruzayn melakukan panggilan lain. Karena penasaran Yoga berniat mendekat, tapi hal itu urung ia lakukan karena Ruzayn berjalan kembali ke tempatnya semula. “Sangat serius, Ma! Pokoknya Mama dan Papa harus bisa malam ini. Tuan Barend baru saja pulang dari Belanda dan ia mengajak kita makan malam.” Ucapan Ruzayn tersebut membuat Yoga menajamkan pendengarannya. “Mama sudah tau alasannya, ‘kan? Aku tidak perlu lagi menjelaskannya. Mungkin makan malam kali ini kita akan membicarakan tanggal pernikahan.” Mata Yoga membulat sempurna ketika mendengar Ruzayn menyebut tanggal pernikahan, setelah Ruzayn menutup percakapannya, Yoga langsung saja menghampiri dan duduk di kursi yang letaknya persis di depan Ruzayn. “Kau mau nikah?” serang Yoga dengan satu pertanyaan yang terlintas dipikirannya. “Kau kan sudah dengar, kenapa mesti tanya lagi?” jawab Ruzayn dengan santai. “Gila ... dengan nenek sihir itu? Kau masih waras kan Zayn?” Ruzayn mengangkat kepalanya ketika Yoga menanyakan kewarasannya. “Sangat waras!” ucap Ruzayn singkat. “Kenapa harus dengannya? Kau bisa cari putri cinderella manapun yang kau suka. Ck, jangan bilang kau gak tau jika dia suka kongkow di night club bersama teman-temannya yang gak jelas asal usulnya itu,” ujar Yoga frustasi. “I know ... i know Yogaaa. Sudahlah, pernikahan aku gak ada hubungannya dengan persahabatan kita.” Ruzayn menutup laptop dan membereskan kertas-kertas yang berserakan di meja. Lalu ia berjalan menuju mesin penghancur kertas dan memasukkan kertas tersebut ke dalam sana. “Nanti nasibmu tidak jauh berbeda dengan kertas-kertas itu jika tetap menikah dengannya,” gumam Yoga. “Semua orang tau jika dia gadis penguasa, tidak boleh di bantah dan kasar. Kau yakin dia akan jadi istri yang baik? Kau tidak berniat masuk ke dalam komunitas ‘suami takut istri’, kan?” tanya Yoga lagi. “Kau liat aja nanti. Apa aku akan masuk ke komunitas yang kau sebut itu atau tidak. Tapi yang jelas ... sampai detik ini, aku tidak berniat menjadi suami yang diperbudak istri,” ucap Ruzayn meyakinkan. “Kau cinta dia?” tanya Yoga dengan pandangan penuh selidik. “Apa diam-diam kau jatuh cinta sama nenek sihir itu?” tanya Yoga lagi. Kemudian Yoga tertawa melihat ekspresi wajah Ruzayn yang berubah menjadi tegang. “Ruzayn ... Ruzayn ... aku gak yakin hati mu yang sudah membeku selama puluhan tahun itu bisa meleleh dengan gadis itu. iya sih, dia cantik! Tapi menurut aku, she is not your type!” “Kau bisa tidak, untuk tidak mencampuri urusan pribadi ku?” tanya Ruzayn. Yoga memang sahabatnya, tapi Ruzayn tidak senang jika Yoga terlalu mencampuri urusan pribadinya. Yoga tidak tau sama sekali misi Ruzayn untuk masuk ke keluarga Barend, jadi percuma juga bagi Ruzayn menjelaskannya pada Yoga. “Calm down, Bro! Aku hanya mengingatkan jika sahabat aku ini sedang salah arah. Aku kasihan dengan hidup mu jika harus berakhir di tangan gadis itu. Believe, me! Dia gadis yang liar! Kau tidak pantas bersanding dengannya.” Yoga langsung meninggalkan Ruzayn, padahal tadi ia ingin mengajak Ruzayn untuk minum kopi dulu sebelum pulang ke rumah. Tapi niatnya jadi gagal karena berita Ruzayn akan menikahi anak pemilik perusahaan tempat mereka bekerja. Ruzayn memandangi punggung Yoga sampai menghilang di balik pintu, semua yang dikatakan Yoga adalah kebenaran. Ia sendiri sebenarnya sangat gamang menghadapi keputusan yang ia ambil ini, hidup dengan gadis liar seperti Anaya tidak pernah terlintas sama sekali dalam pikirannya. Namun demi ambisinya, Ruzayn akan tetap menikahi Anaya. * “Non Shan sepertinya sakit, Bu! Badannya panas!” Yati memberi tahu Rumi tentang keadaan Shanaya. Ia baru saja keluar dari kamar nona muda itu mengantarkan jus jeruk untuk diminum Shanaya. “Sakit? Bagaimana bisa? Tadi ia baik-baik saja,” ujar Rumi cemas. “Mungkin karena kelelahan, Bu! Habis jalan jauh tidak istirahat, malah langsung masak bersama Ibu,” ujar Yati lagi. “Bi Yati tolong selesaikan ini, ya! satu jam lagi mereka akan datang. Aku akan ke kamar Shan dulu,” perintah Rumi. Rumi masuk ke kamar Shan, ia ingin melihat kondisi putrinya. Tidak lama kemudian, ia keluar lalu menyiapkan air hangat dan handuk kecil dan membawanya kembali ke kamar Shanaya. Di saat yang sama di kamar sebelah, Anaya sedang merias diri untuk menyambut kedatangan Ruzayn. Hampir semua baju di dalam lemarinya berserakan di atas kasur, ia mencoba satu persatu baju tersebut dan selalu merasa tidak puas dengan penampilannya. Hingga ia mencoba hampir semua baju, namun ia belum menemukan yang pas untuk di pakainya malam ini. ‘Hmmm ... tidak ada salahnya gue mencoba satu pakaiannya,’ ujar Anaya di dalam hati. Anaya kemudian berjalan ke kamar Shanaya, ia membuka satu koper Shanaya dan mencari baju Shanaya yang ia rasa cocok. Pandangan Anaya beralih pada Shan yang tertidur di ranjang dengan handuk kecil yang menempel di dahinya, tapi Anaya tidak memedulikannya. Ia langsung saja keluar dari kamar Shan sambil membawa satu baju Shan bewarna putih gading dengan hiasan bunga-bunga kecil bewarna hitam. Anaya langsung mencoba model dress off shoulder tersebut di kamarnya. Anaya memuji sendiri penampilannya yang tampak lebih seksi dengan menonjolkan bahunya tapi tidak terkesan berlebihan seperti dress yang biasa ia kenakan ke night club bersama teman-temannya. ‘Selera lu bagus juga, Shan!’ gumam Anaya sambil mematut penampilannya di cermin.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN