Akan Tetap Menikah

1109 Kata
Anaya memuji sendiri penampilannya yang tampak lebih seksi dengan menonjolkan bahunya tapi tidak terkesan berlebihan seperti dress yang biasa ia kenakan ke night club bersama teman-temannya. ‘Selera lu bagus juga, Shan!’ gumam Anaya sambil mematut penampilannya di cermin. Lalu Anaya melanjutkan merias diri dengan melakukan sedikit touch up di wajah, karena tadi sebelumnya ia sudah memoles berbagai cream. Tidak lupa Anaya menambah lipstik di bibirnya. “Non Ayi ....” Yati memanggil Anaya sambil mengetuk pintu kamar. “Ya, Bik!” “Tamunya sudah datang, Non,” seru Yati dari luar kamar. Bergegas Anaya membuka pintu kamar, “Eh, Bik! Bagaimana penampilan gue?” tanya Anaya sambil memutar tubuhnya. “Cantik, Non!” jawab Yati. “Bajunya gimana? Keren gak?” “Bagus, Non. Lebih bagus baju Non yang ini dari yang sebelumnya.” “Maksud Bibik apa ngomong seperti itu? Bibik mau bilang kalau selera gue jelek, selera Shan bagus, gitu?” Anaya berang mendengar pendapat Yati. “Ah, sudahlah! Gak penting juga nanya pendapat Bibik. Gue keluar dulu! Jangan lupa rapiin kamar gue,” perintah Shan, kemudian ia berjalan melenggang menuju ruang tamu. Yati memperhatikan anak majikannya dari pintu kamar, kemudian ia masuk ke kamar nona muda itu sembari mengurut dadanya. Pandangannya menyapu ke seluruh ruangan yang tampak berantakan itu. “Kebiasaan, Non Ayi tidak pernah rapi dan jorok,” omelnya. Namun ia tetap melanjutkan tugasnya seperti yang telah di perintahkan. Anaya langsung mengambil tempat duduk di depan Ruzayn. Di seberang meja kaca sana, Ruzayn sudah duduk bersama kedua orang tuanya. “Ayi, gak salaman dulu sama Om dan Tante?” ujar Rumi. “Salaman itu gak terlalu penting, Ma! Yang penting sebentar lagi mereka akan tetap menjadi besan mama.” Anaya menjawab santai. “Ayi, beri salam dulu,” perintah Barend. Mendengar instruksi Papanya, Anaya kembali berdiri dan mengulurkan tangannya pada Lyra dan Rasyad. “Nah ... Pak Rasyad, Bu Lyra. Ini Anaya, putri kami. Tujuan saya mengundang makan malam ini adalah untuk memperjelas permintaan saya pada Ruzayn, anak Bapak dan Ibu. Beberapa minggu yang lalu, saya pribadi telah berbicara dengan Ruzayn tentang kesediaannya untuk menikahi Anaya.” “Jujur, saya sangat bangga dengan anak Bapak. Ruzayn seorang pekerja keras, dan dia satu-satunya orang kepercayaan saya di kantor. Saya ingin memperkuat hubungan ini dengan menjadikannya menantu.” Rasyad dan Lyra tersenyum kecil mendengar penuturan Barend. Mereka masih berharap jika Ruzayn berubah pikiran. “Saya sudah bicara dengan Papa dan Mama, Pak! Beliau tidak keberatan.” Ucapan Ruzayn membuat semua mata melihat ke arahnya. “Kamu sudah yakin, Nak?” bisik Lyra. Ruzayn memicingkan matanya. “Ma, kita sudah bahas ini sebelumnya, please don't ask again,” balas Ruzayn juga dengan berbisik. “Ya, jelaslah! Mana mungkin mereka menolak kita, Pa!” cetus Anaya. Sontak semua mata memandang pada Anaya, gadis itu malah merasa heran karena semua orang menatapnya. “Why? Apa gue salah bicara?” tanyanya sambil mengangkat bahu dan kedua tangannya. “Kamu tidak boleh berbicara seperti itu,” ujar Rumi. “Kenapa? Bukankah ini faktanya? Mana ada orang yang mau menolak menikah dengan dengan keluarga Barend dan berbesan dengan Papa. Iya kan, Pa?” tanya Anaya manja. Barend tersenyum kecil mendengar penuturan putrinya, dalam hati ia merasa malu kalau Anaya terang-terangan berkata seperti itu di depan Ruzayn dan kedua orang tuanya. Tapi di dalam hati Barend juga membenarkan apa yang Anaya ucapkan. Sementara Ruzayn mendengkus mendengar celotehan Anaya, jika bukan karena ada misi terselubung yang akan ia lakukan, ia tidak akan sudi menikah dengan gadis sombong dan tidak beradab, persis seperti yang sering Lyra ucapkan padanya. “Maafkan Ayi ya, Pak, Bu, Nak Ruzayn.” Rumi berkata dengan mimik menyesal. Ia merasa malu dengan kelakuan anaknya. Rasyad dan Lyra tersenyum kecil menanggapi permintaan maaf dari Rumi. Lyra rasanya tidak sanggup berlama-lama di rumah itu, ia ingin pulang secepatnya ke rumah. Berlama-lama di sana membuat nafas Lyra terasa sesak. Apalagi Rasyad, ia sangat menyayangkan pilihan Ruzayn. Demi ambisi merebut kembali harta keluarga mereka, Ruzayn serasa mempermalukan keluarga dengan sikap gadis pilihannya itu. Dan apa yang dilakukan Ruzayn? Kedua tangan Ruzayn terkepal erat di bawah meja. Rahangnya mengeras. Dendam di dalam hatinya semakin membara mendengar hinaan yang di ucapkan Anaya. ‘Lihat saja nanti, kau tidak akan pernah mengecap rasa bahagia setelah menikah denganku,’ ujar Ruzayn di dalam hati. * Lyra melempar tas tangan yang ia bawa ke rumah Barend tadi ke kasur. Tas itu menjadi tumpahan kekesalannya semenjak mereka keluar dari rumah Barend. “Biarkan saja anak itu yang urus sendiri masalahnya, kita tidak usah ikut campur lagi setelah ini,” ucap Rasyad menenangkan. “Bagaimana tidak ikut campur jika mereka terus nampak sampak kita?” Lyra menjawab perkataan suaminya. Rasa amarah masih menguasai hatinya, karena dari awal dia memang tidak suka dengan Anaya. “Apakah pijitan ini bisa menenangkan? Hmmm?” Rasyad memijit lembut kepala Lyra dari belakang, Lyra memejamkan matanya menikmati tekanan refleksi yang diberikan oleh Rasyad. Dia memang membutuhkan itu sekarang, setidaknya pijitan ini bisa meringankan kepalanya yang terasa berat. “Sudah lebih baik?” Rasyad menghentikan kegiatannya. Lyra mengangguk. “Aku mau mandi dulu, Abang mau dibikinkan kopi?” tanya Lyra. “Biar abang bikin sendiri, kamu pergilah mandi,” jawab Rasyad. Sepeninggal Lyra, Rasyad menemui Ruzayn di kamarnya. Ia mau membicarakan sesuatu yang serius dengan anaknya itu. “Setelah ini, apa kamu masih akan tetap melanjutkan rencana pernikahan ini?” tanya Rasyad. Ruzayn yang sedang berdiri mematung di balkon kamarnya berbalik menatap Rasyad yang sudah berdiri dengan tangan yang dilipat di d**a. “Tentu, Pa! Aku sudah melangkah maju dan tidak akan mungkin untuk mundur lagi.” Ruzayn menjawab sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana yang ia pakai. “Kamu tidak pikirkan perasaan kami?” tanya Rasyad lagi. “Aku sedang memikirkannya ... barusan!” Rasyad mendengkus, ia membuang nafasnya. “Lalu setelah memikirkan apa yang kami rasakan kamu tetap melanjutkan rencana bodoh itu?” “Pa ... ini bukan rencana bodoh. Rencana ini sudah aku siapkan bertahun-tahun yang lalu. Sewaktu oma masih hidup. Aku hanya minta pengertian dan dukungan dari Mama dan Papa. Tolonglah!” “Apa kamu yakin, kamu tidak akan menyesal menjadikan dia istrimu?” “Tidak!” jawab Ruzayn cepat. “Nak, dengar! Mama dan papa pernah salah langkah. Pernikahan bukan permainan yang bisa kita buat sesuka hati kita. Pernikahan adalah janji kita pada tuhan, kalau kita akan memikul tanggung jawab tentang segala sesuatu hal yang menyangkut hidup istri kita. Semua, tanpa terkecuali!” Ruzayn menatap wajah Rasyad sesaat, ada keraguan yang muncul di hatinya setelah mendengar ucapan Rasyad barusan, namun ia memantapkan hatinya lagi jika langkah yang ia ambil adalah benar. “Maafkan aku Pa! Aku akan tetap menikah dengan Anaya!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN