Ruzayn menatap wajah Rasyad sesaat, ada keraguan yang muncul di hatinya setelah mendengar ucapan Rasyad barusan, namun ia memantapkan hatinya lagi jika langkah yang ia ambil adalah benar.
“Maafkan aku Pa! Aku akan tetap menikah dengan Anaya!” ujarnya mantap.
“Apa kamu sekeras kepala ini?” tanya Rasyad kecewa.
“Maafkan aku, aku telah berjanji pada Oma sebelum ia meninggal. Aku tidak bisa mengabaikan janji itu,” ucap Ruzayn lemah.
Ruzayn memang sangat dekat dengan Wenny-Mama Rasyad, sewaktu kecil Wenny yang mengasuh dan membesarkan Ruzayn hingga Ruzayn berumur tiga tahun. Setelah Lyra kembali, Ruzayn tetap dekat dengan Wenny meskipun ia dibesarkan oleh Lyra.
“Ini peringatan papa yang terakhir, jika kamu tetap pada keputusanmu ... setelah ini ... papa tidak mau tau dengan urusan pernikahanmu,” ancam Rasyad.
“Aku mengerti, Pa! Aku tidak akan melibatkan Papa dan Mama.”
Rasyad mendengkus, anak itu benar-benar keras kepala dan penuh percaya diri. Bahkan kelembutan Lyra tidak bisa merubah apa yang diinginkannya.
“Baiklah, lakukan apa yang menurutmu benar! Jika kamu meminta pengertian dan dukungan, maaf ... kami tidak bisa memberikannya.” Rasyad mengucapkan kata tersebut dengan berat. ‘Tapi kami akan selalu mendoakan kamu, semoga kamu bahagia dengan segala keputusan yang kamu pilih.’ Rasyad melanjutkan ucapannya di dalam hati.
*
“Tidak bisakah kamu bersikap sedikit lebih baik di depan orang tua Ruzayn? Mama benar-benar malu melihat sikapmu tadi,” ujar Rumi berang.
“Aku hanya berbicara apa adanya, Ma! Kenapa Mama membesarkan masalah?” jawab Anaya dengan santai.
“Apa adanya? Yang kamu ucapkan itu bisa saja menyakiti hati mereka. Apa kamu tidak bisa membawakan diri? Bagaimana jika kamu berada di posisi mereka, lalu kamu mendengar calon istri anakmu berkata seperti yang kamu katakan tadi? Hah?”
Anaya bangkit dari duduknya, “Kenapa juga aku harus memikirkannya? Aku dan mereka Tidak sama!” ucap Anaya sambil memberi penekanan di kata ‘tidak sama’. Lalu ia meninggalkan Rumi dan masuk ke kamarnya.
Rumi menelan ludah melihat kelakuan anaknya. Tadi, ia melihat langsung perubahan wajah orang tua Ruzayn ketika mendengar Anaya berkata ‘tidak mungkin mereka menolak kita’. Kata-kata itu mungkin telah melukai harga diri mereka. Jika Rumi berada di posisi mereka, ia pasti juga akan merasa demikian.
“Jangan terlalu dipikirkan.” Barend datang menghampiri dan duduk disamping Rumi.
“Anaya memang anak yang suka berbicara terang-terangan. Mereka pasti bisa memahaminya,” ujarnya menenangkan.
“Aku kecewa dengan sikapnya. ia seperti anak yang tidak pernah diajarkan sopan santun,” ucap Rumi.
“Nanti kita bicarakan lagi dengannya tentang ini. Ayo kita istirahat, ini sudah hampir larut malam,” ajak Barend.
“Tidak, aku mau melihat Shan dulu. Tadi badannya sedikit panas,” tolak Rumi.
“Shanaya demam?” tanya Barend.
“Iya, tapi aku sudah mengompres dan meminta Bi Yati untuk memberinya obat jika ia sudah bangun.”
“Ayo kita lihat sama-sama,” ajak Barend.
Kedua orang tua itu masuk ke kamar Shanaya, mereka melihat Shanaya yang sedang tidur dengan pulas. Handuk yang digunakan Rumi untuk mengompres sudah tidak ada lagi, mungkin sudah di simpan kembali oleh Bi Yati, begitu pikir Rumi.
Rumi meletakkan telapak tangannya di kening Shanaya, ia bernafas lega.
“Mungkin karena ia kecapean saja. Badannya sudah tidak panas lagi.”
“Hhmmm, emosinya juga sering terkuras sejak kepergian Mama. Perubahan udara juga bisa membuat dia demam. Kamu jangan terlalu khawatir.” Barend menenangkan istrinya, kemudian ia mengajak Rumi untuk keluar dari kamar tersebut dan membiarkan Shanaya beristirahat dengan tenang.
“Ayo kita ke kamar, jangan sampai tidurnya terganggu karena kehadiran kita di sini.”
Sementara itu ... di dalam kamarnya Anaya tersenyum senang. Tidak ada hal yang tidak pernah ia dapat, ia merasa beruntung telah di lahirkan dari seorang ayah yang bernama Barend Aldof Van Nijenhuis dan seorang Ibu berdarah jawa, Rumi Mahiswar.
Baginya, terlahir di keluarga ini adalah berkah yang sangat luar biasa yang di berikan oleh Tuhan. Dan dia akan memanfaatkan semua berkah tersebut untuk memenuhi semua yang ia inginkan, tanpa terkecuali ... semua yang Anaya inginkan!
Anaya duduk di depan meja rias dan mengambil kapas serta pembersih make up. Cairan itu ia tuangkan ke kapas sampai basah, lalu kapas tersebut ia usapkan ke wajahnya untuk membersihkan make up tebal yang ia pakai ketika menemui orang yang sangat ia inginkan itu. Sekali lagi Anaya bangga dengan kecantikannya, perpaduan darah Belanda dan Indonesia membuat ia tampil lebih menarik di banding temannya yang lain.
“Gue sudah tidak mebutuhkan ini lagi,” gumam Anaya seraya membuka dress yang ia pakai.
Dress tersebut langsung ia lempar ke keranjang kain kotor yang berada di sudut kamarnya, lalu dengan santai ia menuju kamar mandi untuk membersihkan wajah dengan facial wash di wastafel. Setelah itu Anaya meraih baju tidurnya dari dalam lemari dan berbaring di kasur dengan ponsel di tangan.
Kabar bahagia ini akan ia bagikan dengan sahabat-sahabatnya di grup chat yang mereka punya.
[Woiiii ... sebentar lagi gue akan married.]
Baru saja deretan kata itu ia kirim di grup chat mereka, beberapa teman Anaya tampak mulai mengetik di tampilan atas grup chat tersebut.
[Hah? Lu akan married? Gue gak caya.]
[Lu dah siap tunduk sama lelaki? Poor ... hahaha.]
[Siapa? Siapa cowok itu? Gue penasaran!]
[Daebak!! Gue sudah menunggu hari itu.]
[Gue penasaran dengan lakinya. Siapa?]
Anaya membiarkan pesan-pesan tersebut masuk ke room chat mereka, ia tidak berniat membalas dan memberi tahu dengan siapa ia akan menikah. Biarlah ini akan menjadi kejutan untuk mereka nanti.
Tidak berapa lama, ponsel Anaya berdering. Nama seseorang yang dekat dengan dirinya akhir-akhir ini muncul di tampilan layar.
“Andre? Ada apa ia menelepon malam-malam begini?” Kening Anaya berkerut. Dengan malas ia menjawab juga panggilan tersebut.
“Ada apa?” ujarnya dengan suara yang ketus.
“Lu mau married? Dengan siapa?”
Anaya menjauhkan ponsel dari telinganya, ia kembali melihat nama yang menelpon. Benar, yang menelepon adalah Andre. Tapi dari mana pria itu tau kalau ia akan menikah?
“Tau darimana lu?” ujar Anaya sengit.
“Gak penting! Sama siapa?”
“Yang jelas bukan sama lu.”
“Apa maksud lu? Jadi lu anggap apa hubungan kita selama ini?” protes Andre di seberang sana.
“Just have fun.” Anaya menjawab dengan santai.
“Just have fun? Lu gak nyadar, Yi? Sejauh itu lu bilang kalau kita hanya bersenang-senang? Ck ....”
“Ya, gue sama lu hanya bersenang-senang. Lu aja yang menganggap kita ada hubungan. Karena sekarang gue akan menikah ... lu gak usah menghubungi gue lagi! Anggap aja kita gak pernah bertemu, Gue gak kenal sama lu dan sebaliknya. Paham!”
Anaya langsung memutus percakapan tersebut. Ia melemparkan ponselnya ke kasur. Percakapan barusan telah membuat moodnya memburuk. Siapa yang berani mengatur hidupnya? Bahkan orang seperti Andre pun tidak boleh mengatur hidupnya meskipun pria itu telah mengetahui setiap inchi bagian tubuhnya.
Just have fun, mereka hanya bersenang-senang selama ini. Tidak pernah ada komitmen yang terucap dari bibir Anaya maupun Andre. Pria itu saja yang menganggap spesial hubungan mereka hanya karena dia dan Anaya telah beberapa kali tidur bersama.
Bagi Anaya, Andre bukan siapa-siapa. Dia hanya seseorang yang masuk ke dalam hidup Anaya yang memberikan sedikit kesenangan. Bagi Anaya, Ruzayn lah segalanya. Ya ... hanya Ruzayn yang bisa masuk ke dalam hidupnya. Tidak ada yang lain.