Ancaman Andre

1115 Kata
Shanaya duduk di teras samping rumah sambil membolak balikkan brosur beberapa universitas besar. Barend baru saja menitipkan brosur tersebut pada Rustam untuk di berikan pada Shanaya supaya gadis itu bisa memilih sendiri kampus yang ia suka untuk melanjutkan kuliahnya. Beberapa menit kemudian, Anaya datang menghampiri dan ikut duduk di samping Shanaya. “Gue denger, lu sakit, Shan?” tanya Anaya berbasa basi. Shanaya tersenyum kecil mendapat perhatian kecil dari Anaya. “Hanya kecapean saja,” jawab Shanaya lembut. Gadis itu memang selalu berkata lembut dan hampir tidak pernah membesarkan suaranya jika berbicara. “Sayang sekali lu gak bertemu sama calon suami gue,” ujar Anaya lagi. Kemudian perhatiannya beralih pada brosur yang ada di tangan Shanaya. “Lu mau kuliah lagi, Shan?” Anaya bertanya heran. “Iya, aku bosan jika hanya duduk-duduk di rumah. Aku ingin melakukan sesuatu, punya kesibukan, punya aktivitas yang berarti supaya tidak bosan.” “Lu bisa aja bersenang-senang. Jalan-jalan ke berbagai tempat, Lu kan belum mengunjungi banyak tempat di Jakarta ini. Bagaimana kalau kita keluar malam ini, mumpung gue belum merid,” ajak Anaya. “Aku gak suka keluar malam, Ayi,” jawab Shanaya jujur diikuti dengan tatapan memelas. “What?! Gak suka keluar malam? Oh ... ayolah Shan, Lu itu bukan anak kecil yang harus di pingit di dalam rumah. Sekali gue ajak lu keluar, maka gue yakin lu akan ketagihan, gimana?” Anaya tetap berusaha untuk mengajak kembarannya itu keluar rumah tapi ia tetap mendapatkan jawaban yang sama, Shanaya masih saja meggelengkan kepalanya. Sikap Shanaya itu membuat Anaya meremehkan Shanaya, ia menganggap adik kembarnya itu terlalu kolot dan kampungan. “Ya udah, gue mau keluar. Ntar bilang sama Mama ya kalau gue pulang malam.” Anaya kemudian beranjak, ia berjalan menuju garasi mobil lalu memencet tombol on di remote yang ia pegang. Tidak berapa lama, ia pun keluar dari rumah mewah itu dengan mobil putih kesayangannya. Anaya melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, sesekali ia menggoyangkan kepala mengikuti alunan musik yang terdengar dari tape mobil. Jenis musik disco yang di gemari Anaya membuat gadis itu selalu berenergic dan selalu terlihat bersemangat di setiap keadaan. Tiiin ... tiiin .... Anaya melirik melalui kaca spion, suara klakson mobil tersebut tentu sudah menganggu konsentrasinya dalam mengemudi. Sebuah mobil hitam tampak memberi kode melalui lampu mobil yang di kedipkan. Anaya tau pasti siapa pemilik dan pengendara mobil hitam tersebut. Dengan gusar, ia meraih handphone yang terletak di dashboard, dengan satu tangan ia membuka kunci otomatis handphone dan melakukan panggilan telepon pada seseorang yang telah mengikutinya di belakang. “Gue mau ngomong,” Andre langsung berbicara ketika panggilan Anaya terhubung. “Gue gak mau. Tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan, semuanya sudah selesai.” “Gue tunggu di tempat biasa, jika lu gak datang ... jangan salahkan gue, jika video ini akan tersebar.” Andre memutuskan panggilan, lalu ia mengirimkan sebuah video ke nomor Anaya. Setelah itu, ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia membunyikan klakson mobil ketika melewati mobil putih Anaya lalu berbelok ke arah kanan ke tempat biasa ia dan Anaya bertemu. Anaya tidak mengacuhkan isi pesan dari Andre, ia terus melajukan mobilnya menuju apartemen Nita. Hari ini mereka janjian akan ke nigh club bersama untuk merayakan pertunangan Anaya. Mereka akan kumpul dulu di apartemen Nita, setelah itu baru bersama-sama ke nigh club. Sebelum sampai ke apartemen, ia membawa mobilnya ke sebuah mini market. Anaya hendak membeli beberapa cemilan dan minuman kaleng guna menemani mereka ketika bercerita nanti di tempat Nita. Lalu ia mengambil ponsel yang tadi ia letakkan di dashboard setelah dia berbicara dengan Andre tadi. Di layar benda pipih itu terlihat notifikasi pesan dari Andre, selintas ia melihat isi pesan singkat terakhir dari Andre melalui layar atas ponselnya. [Gue tunggu 15 menit lagi!] Anaya mengernyit, ia menjadi penasaran dengan video yang di kirim oleh Andre. Dengan lihai, jemarinya membuka pesan Andre setelah mendownload video berdurasi dua belas menit tersebut. “b******k!” ujarnya gusar. Benda pipih yang tidak bersalah itu terlempar ke pinggir jok mobil. Lalu Anaya memutar cepat mobilnya menuju ke tempat dimana Andre sudah menunggunya. Berbagai umpatan keluar dari bibir gadis itu, pertanda ia sangat kesal dengan apa yang barusan ia lihat. “Awas lu kalau sampai video itu tersebar,” umpat Anaya. Suara decitan ban mobil beradu dengan jalan di area depan ‘Milk Shop’. Anaya tergesa-gesa turun dari mobilnya dan berlari menemui Andre yang sudah menunggunya di dalam sana. Ia tidak memedulikan panggilan tukang parkir yang meminta untuk memarkirkan mobilnya dengan benar karena posisi mobil Anaya miring dan menghalangi pengunjung lain yang akan keluar nanti. “Lu mau apa?” serang Anaya ketika ia berada persis di depan Andre yang sedang menikmati milk shake yang sudah tinggal setengah gelas. Andre terlihat santai dan tidak memedulikan Anaya yang sedang marah, pria kurus itu kemudian mendongak dan memberi kode dengan dagunya supaya Anaya duduk di kursi yang ada di depannya. “Lu mau apa? Hah?!” Gadis berkata gusar sembari menarik kursi kemudian mendudukkan bokongnya di sana. “Lu masih bertanya?” ujar Andre. “Kan gue sudah bilang kalau hubungan kita sudah berakhir. Lu belum paham?” geramnya dengan wajah yang memerah. “Lu pikir bisa segampang itu pergi dari gue? Hah? Setelah semua yang kita lakukan bersama? Sial!” “Ya kalau gue udah gak mau lagi sama lu kenapa lu maksa-maksa? Dengar ya! Gak ada yang bisa ngatur-ngatur gue harus sama siapa, termasuk lu!” “Oh ya? Hahaha ....” Andre tertawa, kepalanya ia gelengkan sebagai tanda ia menyayangkan Anaya yang tidak juga tau siapa dirinya. “Termasuk ini?” ujar Andre kemudian sembari mengangkat ponselnya ke udara. “Dengan sekali tekan, video ini akan terkirim ke sosial media. Gue gak perlu menjelaskan seperti apa nasib lu setelah ini.” Pria itu lalu menyimpan ponselnya ke dalam saku bajunya. Ia lalu meraih gelas yang ada di depannya dan meneguk habis isi di dalam gelas tersebut. “Apa mau lu?” tanya Anaya. “Lu!” jawab Andre singkat. “Gila!” “Ya, gue memang gila. Gue tunggu di apartemen jika lu mau video ini di hapus.” Andre bangkit dan berjalan melalui Anaya. Setelah beberapa langkah, ia kemudian berbalik dan berkata. “Oh ya, sekarang ... gue gak mau menunggu lama.” “b******k!” Anaya mengambil gelas kaca yang telah kosong dan melemparkannya ke punggung Andre yang sedang berjalan ke luar. Prang! Gelas kaca tersebut membentur kursi dan menimbulkan suara yang berisik karena pecahan kaca berserakan di lantai. Andre menoleh, dengan santai ia mengeluarkan dua lembar uang seratus ribu dari dalam saku bajunya dan memberikan uang tersebut pada pelayan yang kebetulan berada di dekatnya. “Tolong bersihkan pecahan kaca itu, gadis itu sedang tidak waras,” bisiknya pada pelayan tersebut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN