Jejak Digital

1191 Kata
Masih dengan emosi yang meyelimuti diri, Anaya memasuki basement apartemen dan memarkirkan mobilnya di space kosong yang tersedia di area tersebut. Dengan langkah besar ia menuju lift dan memencet tombol 9 dimana unit Andre berada. Suara dentingan berbunyi, pertanda lift sudah sampai di lantai yang dituju. Anaya buru-buru keluar dari lift dan langsung menuju unit Andre. Tidak mau menunggu lama, gadis berambut panjang itu memencet deretan angka yang sudah ia hafal juga sebelumnya karena ia sudah sering keluar masuk unit tersebut. “Apa?!” ujar Anaya sambil berkacak pinggang. Ia melihat Andre sedang duduk santai sambil memegang toples berisi kacang almond. Kedua kakinya ia angkat ke meja dan begoyang-goyang menandakan suasana hati yang sedang senang. “Duduk,” ujar Andre tanpa melihat pada Anaya. “Gak akan!” “Kalau begitu apa kita langsung ke kamar? Seperti biasanya?” Andre berdiri dari duduknya dan menghadap pada Anaya. “Kenapa kau merekamnya?” serang Anaya. “Kau?” Kening Andre berkerut karena Anaya memanggilnya dengan sebutan kau. Setelah itu, ia tersenyum sinis dan memilih mengacuhkan sebutan tersebut dan mengikutinya. “Aku pikir suatu saat aku akan membutuhkannya, dan ternyata .... dugaanku benar. Rekaman ini sangat membantu!” Andre menjawab pertanyaan Anaya. “Serahkan padaku.” Anaya menengadahkan tangannya. “Kau pikir bisa segampang itu?” “Kau mau berapa?” Anaya bertanya dan melipat kedua tangannya di d**a. “Uang? Kau pikir aku tidak punya? Hah?!” sanggah Andre. “Jangan sombong! Rekaman ini tidak akan bisa kau ganti dengan uang!” lanjut Andre. “Apa yang kau mau?” teriak Anaya. “Yang jelas bukan uang.” Andre berlalu masuk ke kamarnya yang di ikuti oleh Anaya. “Apapun itu akan aku berikan asalkan kau hapus videonya.” “Hahahaha .... kau pikir jejak digital mudah untuk di musnahkan?” Andre tertawa lebar lalu mendudukan dirinya di pinggir ranjang. “Ayolah honey, kenapa sekarang kau malah jual mahal? Hah? Bukankah kita sudah sering melakukannya?” ajak Andre. “Sekarang aku sudah tidak mau lagi bersenang-senang dengan dirimu, paham?” elak Anaya. “Hahaha .... aku jamin kau tidak akan pernah melupakan aku meskipun kau menikah dengan pria itu!” Seketika Andre merebahkan tubuhnya di kasur, ia tidur telentang sambil memegangi ponselnya. Pria itu membuka rekaman video dan menyetelnya dengan suara yang sangat keras hingga terdengar jelas desahan suara Anaya di video tersebut. “b******k!” Anaya berjalan mendekat dan mengambil paksa ponsel Andre. Secepat kilat pria itu menghindar dan menjauhkan tangannya dari Anaya. “Tidak segampang itu, Honey?” ujarnya. “Jika kau mau rekaman ini aku hapus hingga tak bersisa lagi, maka kau harus menuruti semua yang aku pinta,” lanjut Andre. “Apa itu?” tanya Anaya. “Tinggal bersamaku selama satu minggu ini dan layani semua kebutuhanku,” ucap Andre tegas. “Kau gila. Mana mungkin aku bisa tinggal dan menginap di sini.” “Okay! Tidak masalah jika kau tidak mau. Tapi jangan salahkan aku jika pernikahan kau batal gara-gara video m***m ini sampai ke tangan calon suami mu. Hahahaha ....” Anaya mengerang, wajahnya memerah karena kesal dengan sikap Andre. “Akan ku bunuh kau jika sampai itu terjadi,” gumam Anaya. “Benarkah? Sebelum itu terjadi maka aku pastikan kau akan mati terlebih dahulu karena gagal menikah.” Pria itu berkata dengan santai seolah tidak takut dengan ancaman yang Anaya lontarkan. Ia kembali merebahkan tubuhnya di kasur dan menjadikan kedua tangannya sebagai bantal. “Tunggu apa lagi? Ayo berbaring di sini, di sampingku.” “Aku tidak bisa bermalam,” ujar Anaya lemah. “Papa pasti akan mencariku jika sampai aku tidak pulang,” lanjutnya. Andre tidak memedulikan ucapan Anaya, ia menulikan pendengarannya. Dan Anaya tau jika tawaran Andre tidak bisa ia tolak. Anaya tidak tau jika Andre merekam kegiatan mereka, dan menjadikan rekaman tersebut sebagai ancaman hingga membuat Anaya tidak berkutik. Keinginan terbesar Anaya adalah menikah dengan Ruzayn, dan jujur saja Anaya merasa takut jika Ruzayn sampai melihat rekaman tersebut dan membatalkan rencana pernikahan mereka. Sekarang Anaya tidak bisa berbuat banyak selain menuruti semua keinginan Andre. “Bagaimana jika kau tidak menghapusnya setelah ini?” tanya Anaya lagi. “Aku berjanji tidak akan menampakkan diri lagi di hadapanmu setelah kau menuruti apa yang aku minta hari ini. Dan rekaman ini ... aku jamin kau tidak akan pernah melihatnya bahkan aku jamin kau akan melupakannya dan tidak pernah tau jika kita pernah main bersama.” Anaya melihat raut serius di wajah Andre. Lalu ia melangkah pelan ke arah pria itu, mengikuti semua yang pria itu mau dan berharap setelah ini ia akan bebas dari ancaman dan hidup bahagia bersama Ruzayn tanpa di ganggu oleh Andre atau siapapun itu di masa lalu. ** Shanaya bersiap-siap di kamarnya. Sore ini ia akan mengunjungi Barend di kantor, mereka akan makan malam bersama sambil membicarakan perihal kampus yang akan Shanaya masuki. Gadis itu memilih mengenakan dress floral bergaya vintage dengan sepatu berhak sedang tanpa motif serta sebuah tas tangan mungil untuk melengkapi tampilannya agar terlihat santai dan ringan namun tetap elegan. Setelah merasa puas dengan penampilannya, Shanaya kemudian keluar kamar dan menemui Rustam yang sudah menunggunya di luar. “Ma, aku pergi dulu ya,” pamit Shanaya pada mamanya. Rumi sedang berbicara dengan Rustam selagi menunggu Shanaya keluar kamar. “Hati-hati ya, Sayang,” ujar Rumi sambil tersenyum. “Mama yakin gak ikut makan malam bersama kami?” tanya Shanaya lagi. “Tidak! Ini waktu untuk kalian berdua dengan Papa. Mama di rumah saja sambil menunggu Ayi pulang,” jawab Rumi. “Baiklah, kalau begitu aku berangkat dulu.” Shanaya berpamitan pada Rumi dengan mencium kedua pipi wanita tersebut. Rumi membalasnya serta memberikan pelukan kecil pada puterinya. Rustam membukakan pintu mobil untuk Shanaya ketika gadis itu sudah melangkah menuju mobil. Setelah anak majikannya itu masuk ke dalam mobil, ia menutup kembali pintu dan berjalan mengitari menuju pintu mobil di kursi pengemudi. “Pak Rustam jadi bolak balik kantor dan rumah gara-gara aku, ya?” ujar Shanaya di perjalanan menuju kantor. “Gak kok, Non. Kenapa Non berfikir seperti itu?” jawab Rustam. “Pagi tadi di suruh Papa antar brosur lalu Bapak kembali lagi ke kantor, sekarang pulang lagi ke rumah untuk menjemput aku. Padahal aku bisa naik taxi ke kantor Papa.” “Hehehe, ini kan sudah menjadi tugas saya, Non. Lagian saya tidak merasa di repotkan kok!” jawab Rustam sembari tersenyum kecil. “Papa itu di kantor seperti apa, Pak?” tanya Shanaya mengalihkan pembicaraan. “Maksud, Non?” Rustam bertanya lagi karena merasa bingung dengan pertanyaan Shanaya. “Dia pemarah atau gimana? Suka jaga image atau gila kerja?” tanya Shanaya. “Owh, kurang tau juga, Non. Saya kan hanya sopir, tidak pernah ikut Bapak ke dalam. Tapi yang saya dengar yang gila kerja itu calon suaminya Non Ayi!” “Calon suami Ayi?” “Iya, calon suami Non Ayi. Non belum tau? Kan kemaren pernah makan malam di rumah.” Rustam menjelaskan. Shanaya menggeleng lemah, “Aku tidak ikut makan malam waktu itu, Pak!” “Barangkali Non nanti bisa bertemu dengannya di kantor,” ujar Rustam lagi. Shanaya tersenyum kecil menanggapi ucapan Rustam. Ia cukup penasaran dengan sosok calon suami kembarannya itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN